Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Ranjang kedua


__ADS_3

Langit biru dihiasi awan Cirrocumulus yang menyebar sejauh mata memandang, menjadi pemandangan yang mengagumkan betapa agungnya sang pencipta, indahnya awan yang kadang kala bisa berubah menjadi warna abu-abu itu saat pesawat terbang rendah menuju Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.


Salah satu jendela menampilkan wajah seorang pria tampan yang memakai busana casual berwarna krem dipadu dengan sepatu kets berwarna putih, pria itu menatap ke arah jendela pesawat entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Anggara melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 5 sore. Pesawat perlahan terbang lebih rendah, Anggara telah memasang kembali sabuk pengaman, ia meraih sebuah majalah yang berada di kantong kursi di depannya saat ini.


Senyum miring ia tampilkan saat membuka majalah yang berisi wajah-wajah pengusaha sukses yang tentu memacu motivasi untuk lebih maju.


Salah satu gambar dalam majalah adalah wajah ayahnya sendiri. Henry Mahardika.


Anggara Mahardika, lelaki berumur 30 tahun, seorang pengusaha sekaligus calon CEO salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. Mahardika Group atau dikenal juga dengan PT Bumi Mahardika Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang Properti dan Real Estate terbesar kedua di Indonesia.


Mahardika Group mempunyai aset mencapai 59,28 triliun. Perusahaan properti yang mencakup kawasan komersial, perumahan, fasilitas umum, hotel, apartemen, mall, rumah sakit, restoran hingga lapangan golf yang membuat perusahaan ini dikenal oleh seluruh masyarakat sebagai perusahaan pengembang kelas kakap.


Salah satu bangunan yang terkenal adalah Mahardika Residence, gedung vertikal yang merupakan apartemen mewah kelas atas.


Dan unit apartemen yang paling eksklusif menempati lantai paling atas gedung Mahardika Residence. Penthouse atau griya tawang termewah yang ada di Jakarta, hanya dua unit saja, Mahardika Building Penthouse. Di sana bisa melihat pemandangan kota Jakarta secara 360 derajat. Semua kemewahan ada di sana dalam fasilitas kelas gold.


Salah satunya dihuni oleh putra dari pemilik gedung ini, tuan muda Anggara Mahardika.


Pria yang kehilangan ayahnya dua bulan lalu, ia dihadapkan dengan posisi penting dalam perusahaan, calon penerus kerajaan bisnis ayahnya.


Anggara baru pulang dari pulau Lombok, perjalanan bisnis yang ditugaskan oleh Pamannya Harun sebagai pemegang posisi kedua setelah ayahnya.


Saat berjalan keluar dari pintu kedatangan.


Pria bermanik hitam itu teringat pada sosok perempuan yang telah merenggut kejantanannya. Kalila, gadis yang ia nodai beberapa malam yang lalu. Gadis yang menjadi penyebab putusnya hubungan pertunangan dengan kekasihnya Diana.


Entah kenapa saat mengingat adegan ranjang malam itu Anggara merasa ada banyak kupu-kupu menggelitiki perutnya saat ini. Namun wajahnya kembali dingin saat mengingat adegan kekerasan yang dilakukan oleh Diana pada Kalila sebelum mereka putus.


Rasa bersalah kian membuatnya frustasi, satu sisi ia ingin bertanggung jawab namun ditolak oleh gadis itu, satu sisi lain ia memikirkan perasaan Diana yang sudah pasti terluka atas apa yang telah ia lakukan.


Hubungan pertunangan yang mendekati pernikahan kini kandas oleh kesalahan satu malam bersama wanita lain yang baru dikenalnya dua hari.


Hanya dua hari keluar kota namun rasanya terlalu lama bagi Anggara yang masih penasaran dengan sosok gadis asing yang telah ia renggut kehormatannya.


Setelah memutuskan Anggara, ternyata Diana menyesal. Dia bahkan terus menghubungi Anggara untuk meminta maaf atas sikapnya kemarin lusa.


Meski sakit hati dengan Anggara yang ia pergoki meniduri wanita pelakor di kamar hotel waktu itu, Diana mengaku khilaf telah memutuskan hubungan, ia menyesal dan ingin kembali.


Anggara tidak langsung percaya, ia juga kesal pada Diana yang berani main fisik pada Kalila yang tidak bersalah.


"Aku akan menyetir sendiri, aku akan ke suatu tempat!" perintah Anggara pada Don sang sekretaris yang menjemputnya ke bandara.


"Memangnya Bos mau kemana? Nyonya besar sudah menunggu di rumah utama, sepertinya beliau sudah tahu bahwa Bos putus dari Nona Diana," ucap Don setelah menerima tas dari Anggara.


"Itu akan ku urus nanti, berikan kunci mobilnya! Kau bisa pulang dengan taksi." Anggara menengadahkan tangan pada sekretaris setianya itu.


Don mengalah, meski ia harus berhadapan dengan Nyonya Besar yang memberinya perintah untuk membawa Anggara pulang bertemu dengannya soal Diana dari Bandara.


"Ini oleh-oleh untukmu, jangan gusar seperti itu! Aku heran kenapa kau takut sekali dengan Mamaku?"


Anggara memberikan sesuatu dari saku celananya, lalu memberikan pada Don.


"Parfum?"


"Iya, biar kau tidak bau!"


"Apa? Ah sialan kau Bos!" rutuk Don saat pria itu menerima oleh-oleh dari bosnya.


Anggara meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta sambil melajukan mobil Land Rover New Defender V8 James Bond edition, yang ia beli tahun 2021 lalu. Mobil SUV kekar yang diproduksi hanya 300 unit saja di dunia ini Anggara beli untuk menyemarakkan film James Bond "No Time to Die" di tahun yang sama.


Iya, siapa yang tidak mengidolakan Bond 007 itu. Dan Anggara salah satu penggemar James Bond sejak kecil.

__ADS_1


Membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang, entah mau kemana namun yang pasti ia melewati hotel yang ia pernah terjebak bercinta dengan seorang gadis cantik di sana.


Anggara pikir jika ia lewat, mungkin saja ia bisa menemukan Kalila di sana. Sebab ia belum sempat meminta nomor telepon gadis itu. Anggara terus diganggu rasa bersalah, ia harus bertemu Kalila agar membahas masalah mereka, pria ini tidak suka menjadi pria pengecut.


Satu hal yang menjanggal, ia sudah menghubungi pihak PT Bima Tama guna menanyakan Kalila, tapi yang ia dapat adalah jawaban bingung dari kantor perusahaan tersebut, karena tidak ada karyawan mereka yang bernama Kalila sebagai utusan marketing untuk bertemu perusahaan yang akan memakai jasa mereka.


Anggara penasaran sekali.


"Siapa kau sebenarnya Nona Kalila?" desis Anggara yang terus teringat wajah gadis itu.


Senyumnya mengembang saat gadis yang ia bayangkan itu kebetulan melintas sedang berjalan kaki menyusuri trotoar dengan pandangan kosong.


Anggara menepi, ia bunyikan klakson hingga membuat Kalila terkejut.


"Oh, astagaaa," ucap Kalila memegang dadanya saat ia hampir menyeberang jalan.


Tubuhnya mendadak kaku saat mendapati seorang lelaki keluar dari mobil mewah itu berjalan menuju ia berdiri sambil membuka kacamata.


"Hai."


Kalila mendadak sesak kekurangan oksigen.


"Tu Tuan Anggara?"


"Aku rasa kau tidak lupa padaku, ayo!" Anggara sama sekali tidak berbasa basi lagi, ia raih tangan Kalila lalu menarik gadis itu untuk masuk ke mobilnya.


"Tuan, aku...." Kalila bingung sendiri.


"Kita harus bicara," ucap Anggara yang baru saja menyusul duduk di bangku kemudi.


Kalila benar-benar pias, ia bingung sekaligus takut. Apa ia sudah ketahuan dengan sengaja membuat putus hubungan pria itu dengan tunangannya? Kalila bertanya-tanya dalam hati, ia cemas, takut bagaimana nasibnya jika dihukum orang berkuasa ini.


"Tuan, maaf kau mau membawaku kemana? Aku mohon turunkan aku, aku tidak akan menuntut soal malam itu, ayolah lepaskan aku! Aku sama sekali tidak ingin pertanggungjawaban darimu percayalah," ucap Kalila memohon.


Anggara terkekeh, "Aku tidak akan berbuat jahat, tenanglah. Aku hanya ingin kita bicarakan soal malam itu hingga tuntas, aku benar-benar terganggu, ketahuilah aku bukan pria pengecut yang suka mempermainkan wanita, aku merasa bersalah padamu."


Kalila menatap Anggara tidak berkedip, kini ia sadar bahwa pria itu bukanlah seorang playboy. Kalila melihat sekeliling saat mobil mereka memasuki parkiran gedung tinggi nan mewah Mahardika Residence.


Kalila kembali bingung, sampai Anggara membuka pintu mobilnya dan meraih tangannya lagi untuk turun dari mobil. Entah kenapa pria itu suka sekali menggandeng Kalila seperti mereka telah lama kenal saja tanpa canggung sedikit pun. Hanya Kalila yang didera gugup dan salah tingkah sejak tadi.


Kalila hampir ternganga saat Anggara membawanya masuk ke dalam lift yang berbentuk kapsul berdinding kaca transparan, lift khusus untuk membawa mereka ke puncak gedung itu dimana Anggara tinggal di unit paling mewah disana, griya tawang milik Anggara secara pribadi.


Kalila hanya bisa menelan ludah berkali-kali seperti mimpi saja dibawa oleh lelaki asing ini ke lantai paling atas sebuah gedung Mahardika Residence yang terkenal itu.


Anggara membawa Kalila masuk, tubuh gadis itu gemetar, matanya seakan enggan berkedip saat melihat kemewahan unit Penthouse itu dari dekat, secara langsung dari bola matanya yang cokelat.


Ponselnya berdering, Tuan Harun menghubunginya.


"Tuan, maaf apa boleh aku menerima telepon?" ucap Kalila cemas.


"Tenanglah, aku tidak berniat jahat padamu. Kau boleh menelepon, aku akan mandi sebentar."


Anggara menjauh barulah Kalila menerima telepon dari Tuan Harun.


Kalila tercengang, ia diam tidak berani membantah ucapan Tuan Harun yang ternyata mengetahui ia sedang bersama Anggara saat ini. Diluar dugaan Tuan Harun malah ingin Kalila mengambil kesempatan lagi kali ini, harus menggoda dan bermesraan dengan Anggara di tempat tinggal pria itu hingga Diana akan kembali memanas saat melihat foto mereka nanti.


Dengan sebuah ancaman kecil saja membuat Kalila mengangguk setuju sambil matanya melihat Anggara yang telah keluar dari salah satu kamar di sana menggunakan handuk putih saja.


Kalila segera menutup teleponnya.


Dada gadis itu berdegup kencang, ia menelan ludah melihat pesona seorang Anggara habis mandi seperti sekarang.


"Ayo duduklah, kenapa kau diam saja?"

__ADS_1


"Maaf Tuan, untuk apa kau membawaku kemari?"


Anggara tersenyum, ia terus mendekat. Kalila terdiam mematung dalam kecemasan.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Anggara sambil meraih pinggang gadis itu dengan mesra.


"Aku? Aku Kalila Tuan, aku aku...." Kalila tergagap.


"Apa kau sengaja masuk dalam kehidupan ku atas niat tertentu?"


"Tidak, aku aku...."


"Aku tahu kau bukan dari PT Bima Tama, siapa kau sebenarnya?"


Anggara memberi tatapan intimidasi. Kalila memutar otaknya, ia ingat akan pesan Dina jika Anggara bertanya seperti itu.


"Sebenarnya, aku adalah asisten Ibu Mely yang akan bertemu denganmu waktu itu. Hanya saja Ibu Mely sedang sakit hingga aku yang diutus, aku asisten pribadinya jadi aku paham semua pekerjaannya, aku digaji Ibu Mely bukan dari PT Bima Tama. Maafkan aku untuk itu."


Kalila berdebar, mereka sangat dekat. Beruntung Anggara terdiam, ia sepertinya percaya.


"Begitukah? Kenapa tidak katakan waktu itu?"


"Maaf Tuan, bukankah aku pingsan waktu itu hingga lupa memberitahu mu bahwa aku disuruh Ibu Mely."


Anggara terdiam, ia membenarkan dalam hati. Wajah gadis polos itu tidak mungkin berbohong pikirnya.


"Baiklah, maafkan aku."


Anggara melepas Kalila lalu berjalan ke arah mini bar menenggak minuman bersoda di sana. Gadis itu bernapas kasar, ia takut sekali.


Ia hanya diam berdiri di samping sofa, karena Anggara belum menyuruhnya duduk.


Hening untuk beberapa menit, sampai Anggara kembali mendekatinya, pria itu masih betah memakai handuk.


"Kenapa kau diam saja?" Anggara mendekat memberikan satu gelas minuman untuk Kalila.


"Maaf Tuan, aku tidak minum air soda."


"Baiklah, ayolah jangan canggung. Aku membawamu kemari karena aku baru saja dari luar kota, aku lelah ingin segera mandi. Jangan takut, aku tidak akan memakanmu!" kekeh Anggara lagi.


"Duduklah!" perintahnya pada Kalila.


Gadis itu mengangguk saja, namun saat ia hendak duduk entah kenapa kakinya lemas sendiri, ia hampir terjatuh sebelum mencapai sofa. Beruntung Anggara menangkapnya dengan segera. Ini sama sekali tidak disengaja. Kalila jatuh ke sofa, Anggara menahan pinggang gadis itu hingga ia ikut terjatuh seolah menindih Kalila.


Mata mereka bertemu, deru napas saling menyapa wajah tampan dan cantik itu dalam jarak yang sangat dekat. Lama saling bertatapan, Anggara tersenyum, ia menatap mata cokelat bening itu dengan perasaan suka, indah sekali menurutnya, hidung mancung yang mungil, bibir tipis yang ia tahu rasanya itu membuat kelelakiannya menegang tanpa permisi.


"Kau cantik sekali Nona Kalila," lirih Anggara pelan, sambil menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu hingga mereka terlibat ciuman panjang tanpa penolakan dari Kalila.


Gairah seperti malam itu kembali menyapa Anggara, ia benar-benar tergoda akan tubuh gadis itu meski tertutup dress malam ini. Anggara tidak tahan, ia bangkit lalu menggendong tubuh Kalila tanpa banyak berkata-kata lagi.


Masuk ke kamar, membaringkan Kalila di ranjang besar dan empuk tanpa memisahkan tautan bibir mereka yang kian liar. Mereka terpancing kenangan satu malam yang telah mengantarkan kehangatan waktu itu, kini mereka mengulangi lagi di ranjang mewah milik Anggara.


Berpacu dengan nadi, hentakan demi hentakan kenikmatan menggema di seluruh kamar. Desah nikmat, peluh yang bercucuran tanda kepuasaan belum juga tercapai, percintaan yang panas, Kalila pasrah, ia pun menikmatinya, menikmati kejantanan Anggara yang seolah membelah jiwanya.


Sampai pada sebuah erangan panjang tanda puncak kenikmatan, Anggara kembali menumpahkan benihnya di dalam, membuat Kalila memutar otak agar tidak terjadi pembuahan, ia sedang subur sekarang.


"Ini benar-benar sial," umpatnya dalam hati, ia tidak bisa bergerak saat Anggara tidak menjauh dari atas tubuhnya.


"Kau benar-benar manis Nona Kalila, aku tidak tahu kenapa aku bisa segila ini bersama mu di ranjang kedua ini. Ayo kita menikah!"


Kalila hanya diam tanpa menyahut, ia sibuk memikirkan bagaimana mau mengambil foto kemesraan ini untuk ia kirim lagi pada Diana.


Setelah puas bercinta untuk kedua kalinya, Anggara tertidur di samping gadis itu, Kalila mengambil kesempatan, ia potret kebersamaan tanpa pakaian itu yang hanya ditutupi selimut tebal, ia kirim foto tersebut pada Tuan Harun.

__ADS_1


Setelah itu ia terpejam, ikut meringkuk menyusul Anggara menjemput mimpi.


__ADS_2