
Kalila sedang membereskan pakaian dari perjalanan bulan madu beberapa hari lalu, ia tidak berhenti tersenyum mengingat semua momen liburan kapal pesiar itu bersama Anggara.
Benar-benar menghabiskan 4 malam kebahagiaan dengan orang yang ia cintai, tidak satu momen pun terlewati begitu saja, malam penuh gairah bercinta berbagai macam gaya hingga lelah, makan berdua, menikmati semua pemandangan alam Malaysia hingga Thailand dari laut yang lepas. Semua mereka lalui dengan cinta, cinta yang berawal dari ranjang dan obat perangsang.
Ia menatap oleh-oleh yang ia siapkan untuk Ibunya dan Kania dan berencana memberikan itu nanti sore saat Anggara pulang dari kantor.
Belum juga selesai membereskan, Kalila beranjak keluar kamar karena haus, ia ke dapur mengambil minuman dari kulkas.
"Jadi benar, putraku berani menyimpan wanita simpanannya di sini!!"
Sebuah suara dingin menusuk jantung mengagetkan Kalila hingga tersedak. "Uhuk uhuk," Kalila terbatuk, ia segera berbalik badan, alangkah terkejutnya ia saat mendapati seorang perempuan paruh baya yang diyakini Kalila adalah Ibu dari suaminya.
"Ny- Nyonya?" Kalila tampak terbata dan gemetar di tempatnya berdiri, selama kenal Anggara belum sekalipun ia bertemu perempuan yang menghadirkan suaminya ke dunia ini.
Tampak Don yang berdiri di samping Nyonya kaya itu juga menatap Kalila.
Ibu Hana menyilangkan tangan ke dada, menatap Kalila dengan tatapan mengintimidasi, wajah cantik yang menakutkan bagi Kalila sekarang.
__ADS_1
"Ck, aku bahkan tidak percaya Anggara tertarik dengan perempuan seperti mu!!!" kata Ibu Hana yang masih menatap Kalila dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan bibir tersenyum miring nan mengejek.
Penampilan Kalila yang sederhana hanya memakai dress rumahan membuat Ibu Hana ingin tertawa.
"Kenapa kau berani merahasiakan semua ini dariku Don!"
"Maafkan aku Nyonya, Bos Anggara tidak boleh ada yang tahu," sahut Don menunduk.
Kalila tertunduk takut, ia meremas tangannya yang telah berkeringat karena terlalu gugup. Sampai pada Ibu Hana menduduki sebuah kursi meja makan tidak jauh dari Kalila berada.
Melirik Don dengan tajam karena kesal sebab baru mengetahui hari ini bahwa wanita itu berada di griya tawang putranya padahal telah lama.
Mendengar itu Kalila mendongak, ia menatap mertuanya lalu ia segera mengangguk dan menyusul duduk di hadapan Ibu Hana yang duduk elegan dengan tangan yang masih menyilang di dada.
Kalila kembali menunduk, tangannya di bawah meja masih berkeringat, dadanya berdegup kencang karena takut. Don yang masih setia berdiri di samping Ibu Bosnya itu menjadi kasihan pada Kalila dalam keadaan tertekan seperti ini. Ia tahu sekali bahwa kedatangan Ibu Hana mengajaknya kemari dengan niat yang tidak baik.
"Aku tidak perlu berbasa basi padamu, lepaskan putraku sebelum aku ikut campur terlalu jauh! Jangan berharap pada hal yang mustahil kau miliki, putraku adalah milikku, adalah hakku pada siapa dia akan menikah. Yang pasti bukan perempuan seperti mu!"
__ADS_1
"Diana adalah calon istri putraku, apa perempuan rendahan seperti mu memang suka merebut pria kaya dari tunangannya hingga rela menjadi simpanan hanya karena ingin hidup mewah?"
Kalila menahan airmata mendapatkan sebuah kata penghinaan terhadapnya oleh Ibu dari pria sebaik Anggara.
Kalila diam, ia tidak berani menjawab meski hati dan harga dirinya hancur seketika dari kalimat demi kalimat yang Ibu Hana utarakan, memang benar adanya ia telah merebut Anggara dari Diana.
"Mereka akan tetap menikah, ingin mundur tanpa masalah atau----" Ibu Hana berhenti sejenak.
"Atau kau sendiri yang rugi nantinya, ingatlah siapa dirimu, berkacalah di sana," tunjuk Ibu Hana pada kaca hiasan dinding yang memperlihatkan pantulan dirinya dan Kalila dari samping kiri. Kalila menoleh pada cermin besar itu, mertuanya tampak tersenyum miring seolah mengejeknya sekarang.
"Kau bisa lihat jarak sosial diantara kita! Pelakor rendahan yang hanya mengincar harta putraku."
Setelah mengatakan semuanya, Ibu Hana berdiri lalu memberi perintah pada Don agar mengantarnya pulang, meninggalkan Kalila yang duduk mematung tanpa bisa menjawab apapun.
Hari mulai senja, Anggara belum juga pulang. Kalila ingin menghubungi namun Anggara lebih dulu menelepon memberi kabar bahwa ia tidak akan pulang malam ini karena Ibunya sedang sakit hingga pria itu harus menginap di rumah utama.
"Sakit?" Gumam Kalila setelah panggilan berakhir.
__ADS_1
Kalila menjadi heran sedang Ibu Hana saja terlihat sehat dan bugar saat mendatanginya tadi. Kalila menghembus napas kasar sambil merebahkan diri di ranjang besar nan empuk itu.
Matanya menatap langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang mertuanya katakan tadi siang.