
"Kau suka?"
Kalila mengangguk, ia baru saja menjatuhkan kepalanya di dada Anggara sambil menatap pemandangan indah di hadapan mata mereka.
Berendam dalam Jaquzzi penuh bunga sambil menikmati segelas kehidupan penuh hasrat antara Kalila dan Anggara, mereka menginap di salah satu Villa termahal dan termewah di Puncak yang menayangkan lanskap alam Bogor yang menyejukkan mata.
Bercinta, jangan ditanya lagi. Dua malam akhir pekan di sana, dua insan itu tidak luput dari kemesraan satu dan kemesraan lainnya, layak pasangan suami istri. Hasrat, gairah, menyatu dengan keindahan alam yang mereka nikmati.
Sampai mereka lupa bahwa garis kehidupan diantara keduanya begitu kentara, gadis rendahan yang hanya seorang penyanyi freelance di Cafe Carita, kini mampu menguasai ranjang panas seorang pria kaya dengan derajat tinggi dalam kelas sosial, yang seharusnya akan menikah dengan wanita lain.
Kalila yang cantik dipadu dengan Anggara yang tampan dan sempurna dalam segi kehidupan, pria yang tidak banyak mengenal wanita, bukanlah seorang playboy, pria yang patuh dengan orangtua itu kini menjadi liar ketika bersama perempuan yang sengaja dibayar untuk masuk dalam kehidupannya dan sengaja merusak hubungan pertunangan dengan Diana agar tidak terjadi pernikahan diantara mereka.
Kalila menawarkan madu yang sulit untuk ditolak manisnya oleh Anggara, membuat mereka semakin terjerat hubungan terlarang sebab gairah liar yang seolah mengikat mereka pada kenikmatan semu yang kian merasuk pada kedua jiwa.
"Kalila."
"Hmmmmm," sahut Kalila yang masih enggan beranjak dari dada pria itu. Memandang jauh keindahan alam yang menenggelamkan pikirannya.
"Menikahlah denganku!"
Kalila diam, ini sudah kesekian kalinya Anggara bicara seperti itu, namun tetap membuatnya bungkam seolah tidak punya jawaban.
Kalila menyadari siapa dirinya, hanya seorang figuran yang mungkin tidak akan lama lagi mengakhiri peran setelah Tuan Harun memberi perintah. Ia tidak mau menikah dengan pria yang jelas telah ia tipu. Anggara tidak pantas menikahinya.
Wanita rendahan, miskin dan tidak berpendidikan, ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika Anggara tahu kebenarannya nanti. Terlebih sudah melibatkan pula perasaan dari hati Kalila, ia benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Rumit memang.
Kalila mendongak, ia tersenyum lalu meraih bibir Anggara tanpa membalas tawaran menikah itu. Berciuman lama, sampai Anggara melepaskan lagi lalu meraih wajah Kalila dan menatapnya serius.
"Kalila, aku serius! Aku ingin kita menyalurkan hasrat dalam hubungan yang sah. Kita tidak bisa seperti ini terus."
"Kau belum mengenalku Anggara, aku tidak pantas untukmu. Aku wanita murahan, aku sama sekali tidak pantas bersanding dengan pria kaya seperti mu, kau akan kecewa nanti."
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa menakar pantas atau tidaknya aku akan menikahi siapa, kelas sosial seperti apa, aku sama sekali tidak memandang hal itu. Aku akan menikahimu seperti seharusnya."
Kalila diam lagi.
"Percayalah, aku baru pertama kali meniduri wanita, dan kita sudah terlibat adegan ranjang sejauh ini. Kau wanita pertama yang ku nodai, dan kau harus menjadi istriku! Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan kita!"
"Kelas sosial kita sangat jauh Anggara, aku tidak berani."
"Iya, dan kau bisa merubahnya dengan menjadi istriku. Istri orang kaya dalam pikiranmu, kita bisa saling mengenal setelah menikah, aku akan mengenal keluarga mu dan kau akan mengenal keluarga ku."
Kalila terdiam sejenak, "Tentu keluarga mu tidak akan menerima menantu miskin seperti ku!" jawab Kalila menunduk.
Kini Anggara yang terdiam. Ia terbayang Ibunya, tentu saja Ibunya tidak mau ia menikah dengan orang sembarangan.
"Menjelang aku meyakinkan Mamaku soal kita, aku rasa kita bisa menikah secara diam-diam saja dulu, setidaknya kita berada dalam hubungan yang sah, tidak seperti ini."
Kalila tersenyum, "Aku rasa lebih baik kita mengukir kenangan indah saja dulu sebelum semuanya berakhir, kenangan yang ingin ingat suatu saat bahwa aku pernah berada disisi pria kaya ini," ucap Kalila dengan nada ambigu, ia menghindari kontak mata agar Anggara tidak melihat matanya yang sudah berembun.
"Aku takut pada tunangan mu!"
"Hei, kami sudah putus."
"Iya, kalian putus karena wanita murahan ini! Aku rasa dia tidak akan menyerah begitu saja," sambung Kalila yang teringat Diana mendatangi Ibunya dan menghilangkan pekerjaannya.
"Biar ku urus nanti, dan berhenti bicara soal murahan. Aku tidak suka!!! Kau masih perawan, akulah yang telah merenggut masa depanmu," kata Anggara meyakinkan.
"Aku rasa kau hanya merasa bersalah, menikah itu harus dengan cinta. Kau hanya kasihan padaku karena merasa telah menodai ku."
Anggara menggeleng, ia menyatukan keningnya dengan kening gadis itu lalu berkata dengan nada terdalam, "Bukan hanya itu, tapi juga telah jatuh cinta padamu. Aku mulai mencintaimu Kalila, aku tidak suka bermain hati dengan perempuan manapun, aku akan serius pada perasaanku padamu."
"Meski aku telah menyakiti Diana, tapi percayalah aku sudah mengakhirinya dengan baik, kami sudah berpisah secara baik-baik. Aku rasa dia akan mengerti."
__ADS_1
Kalila terdiam, Anggara benar-benar polos. Diana bahkan menaruh dendam padanya, tentu Diana tidak akan menyerah begitu mudah.
Disisi lain, Kania adiknya Kalila tengah menangis ketakutan. Ia baru saja diganggu dan ingin dilecehkan oleh beberapa orang pria berandalan yang mengaku akan menodainya sebagai akibat dari perbuatan kakaknya yang berani merebut tunangan orang lain.
Beruntung, Vino teman sekelasnya melewati jalan yang sama dengan Kania yang pulang dari rumah teman habis mengerjakan tugas kelompok. Vino menyelamatkan Kania hingga tidak sampai mengalami pelecehan.
Mendengar itu membuat Kalila menangis, ia baru saja pulang dari Puncak, mendapati Kania yang merasa trauma diganggu pria jahat yang berniat menodainya hanya karena perbuatan kakaknya. Tentu mereka adalah orang suruhan Diana dan Ibunya Rani.
Kania menggeleng, ia memeluk erat kakaknya yang meminta maaf. "Tidak, Kakak benar memang ada harga diri yang harus dikorbankan demi yang 1 Milyar itu, aku akan lebih berhati-hati lagi setelah ini, meski aku tidak tahu kapan hidup kita akan normal lagi. Semuanya sudah terjadi, dan aku tahu sekarang mungkin Kak Kalila lebih berat menjalaninya. Aku akan baik-baik saja, jangan meminta maaf, ini sudah resiko kita yang telah berhutang besar."
Mendengar dua anaknya, Ibu Citra semakin merasa bersalah, sebab kesalahannya, kebutaan hatinya yang ingin cepat kaya waktu itu hingga kena tipu, namun putrinya yang harus menerima semua dampaknya, hutang besar yang diselamatkan oleh hutang yang bahkan lebih besar serta pengorbanan Kalila demi menyelamatkannya dari jerat rentenir.
Ia menangis tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, hanya Kalila dan Kania yang ia punya. Hanya larut dalam penyesalan yang merenggut kebahagiaan dua putrinya.
Kalila merenung seorang diri dalam kamarnya, Ibunya dipandang rendah oleh tetangga setelah kedatangan Diana waktu itu, melabrak dengan kata kasar yang menjatuhkan harga diri keluarganya yang dicap perusak hubungan orang lain.
Kania yang hampir dilecehkan oleh orang suruhan Diana, membuat Kalila berpikir untuk segera mengakhiri semua ini, ia ingin hidup bebas seperti dulu, bebas dari tekanan dari siapapun, hidup normal dengan Ibu dan adiknya yang akan lulus sekolah. Posisi ini tidak nyaman, ia tidak mau keluarganya diganggu lebih jahat dari ini lagi.
Kalila menghubungi Tuan Harun.
Mereka bertemu di salah satu restoran. Kalila memohon pada pria itu untuk melepaskannya dan membiarkannya hidup normal lagi.
Tuan Harun menatapnya dengan senyum yang menakutkan.
"Kau bilang apa tadi? Anggara jatuh cinta padamu?"
Kalila mengangguk, "Iya, dia bahkan berniat menikahiku, bukankah ini sudah jelas sekali bahwa Anggara sudah benar-benar berpaling dari Diana, mereka tidak akan berbaikan lagi. Aku yakin itu."
"Woooow.... Kau benar-benar hebat Kalila, tidak ada wanita manapun yang bisa menaklukkan Anggara sejauh yang kau bisa, bahkan Diana tidak bisa meniduri Anggara selama ini tapi kau, bahkan kalian sudah seperti suami istri. Ha ha ha, kau pantas diacungi jempol!!" seringai Tuan Harun tertawa puas sambil mengangkat jempolnya pada Kalila.
"Jadi tolong, lepaskan aku. Biarkan aku hidup normal lagi lepas dari semua ini, aku tidak bisa membawa keluarga ku lebih jauh menerima dampaknya, aku mohon Tuan."
__ADS_1
Tuan Harun tersenyum miring, ia berpikir sejenak lalu mengangguk dengan raut penuh arti menatap Kalila, Kalila yang duduk tepat di hadapannya.