Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Diam-diam


__ADS_3

Kalila menolak panggilan dari Anggara, ia berencana membawa Ibu dan Adiknya pindah dari kontrakan mereka saat ini menuju daerah lain yang bisa membawa mereka pada angin segar lari dari permasalahan ini.


Berbekal uang bonus dari Tuan Harun tempo hari, Kalila selalu menolak pemberian dari Anggara selama mereka bersama, ia tidak mengambil satu keuntungan pun dari lelaki itu meski ia bisa mendapatkan segala hal darinya.


Anggara menjadi heran sendiri, tidak biasanya Kalila menghilang seperti hari ini. Moodnya mulai memburuk karena sejak tadi Kalila sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Don, kau urus semuanya. Aku tidak jadi pergi!" perintah Anggara pada pria yang menjadi sekretarisnya itu.


"Tapi Bos, ini penting."


"Kau urus saja semuanya!"


Anggara berjalan meninggalkan Don yang terpaku, ia bingung ada apa dengan Bosnya pagi ini hingga membatalkan semua agenda penting pertemuan dengan beberapa kolega.


Anggara tidak menghiraukan Don, ia terus berjalan menuju lift, ia berniat keluar dan menuruni gedung tinggi yang menjadi pusat perkantoran perusahaan Mahardika Group.


Anggara berhenti saat tidak sengaja bertemu Pamannya Harun sebelum mencapai lift.


"Anggara?"


"Paman," sapa Anggara yang terpaksa berhenti untuk berbasa basi pada Paman yang tidak disukai Ibunya itu, Ibunya sangat membenci adik Ayahnya ini karena berbagai alasan. Meski Anggara juga tidak suka, ia tetap menghormati Pamannya.


"Kenapa kau buru-buru? Ada apa? Bukankah kita ada rapat penting pagi ini?"


"Aku ada urusan lain. Aku tidak bisa hadir!"


"Kenapa seperti itu?"


"Ada urusan lain, aku rasa Paman tidak perlu tahu."


"Benarkah?" Paman Harun menatap Anggara sambil terkekeh. "Apa karena perempuan itu?" Anggara mengernyitkan dahi, darimana Pamannya tahu tentang ia sedang memikirkan seorang perempuan.


"Namanya Kalila bukan?"


"Darimana Paman tahu?"


"Santai boy, aku sering melihat kau bersamanya. Dan kau harus tahu, Kalila adalah teman akrab Dina, benar kan Dina?" kata Paman Harun pada Dina yang segera mengangguk di sampingnya.


Anggara menatap Dina tidak percaya, benarkah Kalila berteman dengan perempuan itu.


"Benar sekali Tuan Anggara, kami berteman sejak kecil, rumah kami juga berdekatan," sahut Dina berdusta.


"Benarkah? Apa kau tahu kabarnya hari ini?"

__ADS_1


Mendengar itu membuat Paman Harun tersenyum sinis, benar perkataan Kalila kemarin bahwa Anggara benar-benar jatuh pada wanita rendahan itu.


"Oh, Tuan tidak tahukah? Kalila pindah hari ini, dia tidak mengatakan akan pindah ke mana. Tapi ku lihat keluarganya sedang berkemas pagi ini. Katanya dia akan pindah jauh, aku bertemu dengannya kemarin. Dia juga mengatakan sudah tidak nyaman tinggal di kontrakan sekarang karena beberapa hari terakhir dia dan adiknya suka diganggu lelaki hidung belang."


Perkataan Dina membuat Anggara mendadak kesal dan ingin marah, kenapa Kalila pindah tidak memberitahu, Kalila juga tidak bercerita bahwa ia diganggu lelaki.


"Maaf Dina, boleh aku tahu dimana alamatnya?"


"Kau tidak tahu alamatnya?" tanya Paman Harun heran.


"Dia tidak mau memberitahu selama ini."


"Oh mungkin karena dia malu, malu jika hanya seorang rendahan mungkin!" sindir Paman Harun memanasi.


"Kenapa Paman bicara seperti itu?"


"Aku benar bukan?"


"Aku tidak memandang hal itu. Dina kau boleh share lokasi alamat Kalila ke ponselku! Aku akan pergi sekarang!"


"Baik Tuan." Dina mengangguk hormat sebelum Anggara meninggalkan mereka tanpa basa basi lagi pada Pamannya. Dina dan Tuan Harun saling memandang dengan senyuman penuh arti.


"Mari Tuan...." Dina mempersilakan Tuan Harun untuk berjalan lebih dulu darinya setelah beberapa orang melewati mereka.


Sampai disana Anggara terdiam, menatap seorang gadis sedang menelepon di teras rumah kontrakan kecil yang berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk.


Kenapa baru sekarang ia terniat datang menemui Kalila langsung ke rumahnya, kenapa ia baru datang sekarang pikir Anggara. Pria itu menatap lingkungan sekeliling, sangat jauh dari kelas sosial kehidupannya tinggi.


Banyak anak-anak sedang bermain di lapangan kecil tidak jauh dari gadisnya berada, ada juga anak-anak yang memakai seragam sekolah. Lingkungan yang nyaris tidak pernah ia datangi selama ini, beginikah kehidupan orang bawah?


Anggara hanya tahu keluar rumah naik mobil mewah, turun mobil naik gedung tinggi mahal tempatnya bersekolah sejak SD hingga menempuh pendidikan perguruan tinggi luar negeri, semua hanya kemewahan dan fasilitas yang lengkap baginya tanpa kecuali.


Senyumnya mengembang, hatinya menghangat melihat anak-anak bermain dengan riang tanpa beban.


Matanya beralih pada sosok gadis yang memenuhi mimpinya semalam, Kalila belum menyadari kedatangannya, gadis itu tampak masih mengenakan piyama tidur, rambut bergelombang yang tergerai indah dengan poni digelung memakai rol rambut.


Gadis itu sedang asyik menelepon hingga tidak tahu Anggara sudah berada di belakangnya.


"Baiklah, terimakasih informasinya. Aku pasti akan datang besok!" tutup Kalila pada pembicaraan itu lalu mematikan panggilan.


Namun ketika ia hendak berbalik badan, Kalila terkejut sekali saat wajahnya langsung menabrak dada seseorang.


"Anggara?" Kalila tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendongak melihat wajah pria yang sudah sangat dekat dengannya itu.

__ADS_1


Anggara tersenyum nakal sambil mengedipkan satu matanya.


"Kenapa kau bisa kemari?" Kalila gugup.


"Kenapa tidak menerima panggilan ku?"


"Aku, aku....." Kalila terbata, ia bingung.


"Aku merindukan mu! Kenapa tidak mengatakan apa-apa? Dina bilang kau akan pindah!" Anggara membawa gadis itu dalam dekapannya.


Kalila segera menghindar, "Maafkan aku. Iya, aku akan pindah." Jawabnya dingin.


"Kenapa?"


Belum juga menjawab terdengar suara Ibu Citra memanggil anaknya dari dalam.


"Kalila."


"Iya Bu," sahut Kalila cepat.


"Tidak ingin mengenalkan ku pada Ibumu?"


Kalila menghela napas kasar.


"Aku akan pindah, aku tidak bisa terus bersama mu. Maafkan aku!" Kalila menunduk.


"Kenapa?"


"Kau lihat sendiri? Aku miskin, aku tidak pantas untukmu, aku tahu diri untuk itu. Aku juga tidak bisa terus merasa bersalah telah menghancurkan hubungan pertunangan mu dengan Nona Diana, maafkan aku Anggara, sebaiknya kita berakhir, seperti yang kau katakan, kita tidak bisa terus berada dalam hubungan yang terlarang. Sebaiknya kau pulang, aku akan lanjut berkemas!"


Kalila hendak masuk namun Anggara mencegahnya. "Aku tidak mau! Dan itu sama sekali bukan alasan yang bagus untuk meninggalkan ku," jawab Anggara serius, "Aku kemari ingin marah padamu, kau menerima panggilan dari orang lain tapi panggilan dariku kau tolak berkali-kali. Apa hanya karena ini? Enak saja, kau tidak boleh pergi. Aku sudah menyiapkan semuanya!"


"Menyiapkan? Menyiapkan apa?"


"Pernikahan kita!!!"


"Apa?"


Dan.


Dan benar saja, Anggara membawa Kalila berserta Ibu dan Adiknya pada sebuah prosesi pernikahan yang tersembunyi dari pihak keluarga Anggara.


Pernikahan sederhana, bermakna namun menyiratkan sebuah ketidakadilan dalam sebuah percintaan. Kini Kalila resmi menjadi simpanan, simpanan dalam hubungan yang sah.

__ADS_1


__ADS_2