Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Malam pengantin


__ADS_3

Diana menangis dan mengamuk di kamar pengantin disaat tahu bahwa ternyata Anggara sedang bersama Kalila saat ini.


Ia menatap nanar dengan mata merah penuh amarah, betapa tidak baru saja pesta berakhir yang mana ia menanggung malu harus bersanding seorang diri di hadapan tamu undangan yang hadir, harus pula bersandiwara bahwa sang mempelai sedang sakit.


Sekarang ia harus menelan pula kekecewaan melewati malam pertama seorang diri, Anggara sama sekali tidak menghubunginya melainkan sebuah pesan berisi foto bahwa suaminya saat ini tengah tertidur lelap dalam dekapan dada seorang wanita yang ingin sekali ia singkirkan.


Foto yang sengaja Kalila kirim sebagai bentuk menertawakan dirinya yang menyedihkan.


"Kau berani bermain-main dengan Kalila!!!!" geram Diana setelah puas menghancurkan seisi kamar yang telah didekor sedemikian rupa agar dinikmati pasangan pengantin itu.


Dadanya naik turun melihat isi pesan tersebut, tangisnya pecah saat ponsel itu ikut ia banting dengan perasaan dipermainkan.


Di ranjang hangat milik Kalila, Anggara terjaga.


"Sayang kau belum tidur?" tanya Anggara sambil merampas ponsel dari tangan istrinya yang sedang tersenyum puas membayangkan sesuatu.


"Kau berkirim pesan dengan siapa di tengah malam?" sambung Anggara dengan raut heran setelah meletakkan ponsel itu di atas nakas.


Kalila tersenyum, "Mengabari istri barumu bahwa suaminya ada bersamaku sekarang," jawab Kalila santai.


Anggara menghela napas, ia terdiam sejenak seolah sadar atas apa yang telah ia lalukan malam ini, sikap yang cukup tidak bertanggung jawab sebagai lelaki yang baru saja menikahi gadis lain.


"Kenapa? Kau menyesal? Maafkan aku jika begitu," ucap Kalila seraya memeluk dada suaminya.


Anggara hanya menggeleng namun tidak menjawab apapun.


"Bagaimana menurut mu tentang kita?" ucap Kalila mulai serius.

__ADS_1


"Aku tidak akan meninggalkan mu, tenanglah!"


"Lalu Diana? Bukankah hanya sebatas syarat untuk mengambil alih perusahaan?" pancing perempuan itu lagi.


Anggara diam.


"Jangan bingung, kau hanya perlu menentukan sikap padaku. Aku juga istrimu, aku punya hak yang sama atas dirimu, ketahuilah aku tidak baik-baik saja sekarang."


"Jika kau bersamanya, aku akan cemburu! Aku tidak bisa berbagi dengan wanita lain, maaf aku seolah tidak tahu diri," rengeknya lagi.


"Aku mengerti perasaanmu," jawab Anggara mengeratkan pelukan mereka.


"Aku hanya ingin kau berada di ranjang ku saja, aku tidak bisa membiarkan mu bersama wanita jahat itu."


Mendengar kata jahat membuat Anggara mengernyitkan dahi.


"Diana sudah mencoba menyakiti Ibu dan adikku!" jawab Kalila tanpa basa basi. Membuat Anggara mendudukkan dirinya, menatap serius wajah Kalila.


"Kalila?"


"Apa kau percaya padaku? Dia dendam, dia dan Ibunya bahkan menyakiti keluarga ku sejak kita terlibat hubungan."


Mata mereka saling beradu, "Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Diana di belakang ku?"


Kalila tersenyum tipis, kembali memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada Anggara sambil ia mengatakan apa yang ia simpan selama ini. Tentang perbuatan tidak menyenangkan yang telah Ibunya dan Kania terima sejak Kalila terlibat asmara dengan Anggara.


Namun entah kenapa Kalila tidak mengatakan tentang kebohongan Nyonya Hana pada anaknya yang polos itu hingga bisa ditipu sejauh ini. Kalila hanya mengatakan semua perbuatan Diana saja.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak menduga Diana bisa sejahat itu." Anggara mengeraskan rahang saat mendengar kalimat demi kalimat yang Kalila utarakan, puncaknya pada kalimat tentang Kania yang hampir dinodai beberapa pria bayaran Diana.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menghasut mu. Tapi ini kebenaran, aku tidak ingin kau bersama perempuan jahat itu. Aku tidak tahu apa yang bisa dia lakukan padaku nanti jika kita tetap dalam hubungan yang diam-diam seperti ini. Apalagi jika kau tidak satu atap dengan ku, aku takut..... Dia bahkan pernah mengancam untuk menyingkirkan ku."


Kalila merengek seolah ketakutan.


"Hei, dia tidak akan berani menyakiti mu. Percaya padaku."


"Tidak ada yang bisa menjamin, kecuali kau selalu bersama ku."


Anggara terdiam.


"Kita akan tinggal bersama." Jawab Anggara mantap.


"Bagaimana dengan Mama mu? Dia tidak menyukai ku."


Anggara tersenyum. "Tidak ada yang bisa melarangku membawamu sekarang!"


"Aku takut," rengek Kalila sambil tersenyum miring, Anggara berhasil ia tundukkan lagi malam ini.


"Siapa yang berani pada wanita milik Anggara Mahardika ini? Aku tidak perlu izin siapapun untuk membawa istriku kemana pun aku mau!"


Anggara menatap Kalila dengan sorot mata yakin. Kalila tersenyum, inilah yang ia inginkan. Ia akan selalu hadir dan membayangi Anggara dengan niat tinggal di rumah mertuanya.


Tentu setelah menikahi Diana, Anggara juga harus tinggal di rumah utama seperti kemauan sang Mama. Dengan ini pula ia yakin untuk membawa Kalila ikut serta, ia tidak bisa membiarkan istri kesayangannya itu tinggal seorang diri seperti sebelumnya.


Kembali saling meraih dalam gairah yang sama, mereguk manisnya malam panjang dengan bercinta sepuasnya hingga lelah. Malam yang seharusnya menjadi milik Diana, tapi Anggara malah lebih memilih ranjang Kalila.

__ADS_1


__ADS_2