Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Dendam Kalila


__ADS_3

"Aku akan menikah."


Suara Anggara terdengar berat, matanya menatap kosong ke wajah Kalila. Perempuan yang menjadi istri simpanannya itu tampak tersenyum getir.


"Aku tahu," jawab Kalila pelan.


"Aku pria yang payah!"


Kalila meraih tangan suaminya seraya menggeleng. "Aku mengerti posisi mu, aku akan baik-baik saja. Sudah seharusnya aku menyadari betapa tidak pantasnya aku masuk dalam kehidupan mu," ucap Kalila menahan air mata.


"Aku mencintaimu, aku hanya tidak punya pilihan. Perusahaan mendesakku segera mengambil alih sebelum Paman Harun, dan syarat konyolnya harus menikahi Diana. Menyebalkan tapi harus ku lakukan demi Mama," tukas Anggara.


"Iya, aku tahu. Tenanglah, aku baik-baik saja. Sekarang keputusan ada di tanganmu, bagaimana kelanjutan hubungan kita?"


Anggara membawa Kalila dalam dekapannya, "Percaya padaku, aku tidak ingin kita berakhir sama sekali tidak. Aku juga bingung, untuk saat ini maukah kau bertahan di sisiku?"


Kalila tersenyum, ia mendongak lalu mencium bibir pria itu dengan lembut hingga mereka terlibat gairah karenanya, Kalila tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan sebuah belaian yang membuat Anggara kian tidak tega meninggalkannya.


...****************...


Satu minggu berikutnya. Persiapan pernikahan Anggara dan Diana sudah hampir rampung, pernikahan yang akan terjadi dalam hitungan hari.


Dina berbisik pada Tuan Harun di sela pekerjaan mereka. Pria itu menghentikan aktivitasnya di meja kerja lalu berdiri dengan wajah muram dan tampak kesal.


"Jadi seperti itu permainan mu Hana? Baiklah, sepertinya kau telah menantangku dalam hal ini," ucap Tuan Harun mengepalkan tangannya geram.


Dina yang melihat itu menjadi takut sendiri. "Temui Kalila, bawa dia menghadap ku hari ini juga." Dina segera mengangguk dengan cepat, "Baik Tuan."


Satu minggu perasaan Kalila seolah digantung, Anggara dilanda kebingungan namun ia tidak berani mendesak keputusan akan akhir dari hubungan mereka. Perempuan ini mencoba menerima semua rencana pernikahan suaminya dengan Diana.


Kalila akhirnya memutuskan untuk menerima nasibnya yang akan berbagi dengan perempuan lain. Tidak ada jalan lain, ia sungguh bergantung pada uang suaminya saat ini, adiknya akan kuliah butuh biaya yang besar. Belum lagi kehidupan Ibunya yang juga harus ia topang, jika ia melepaskan diri dari Anggara tentu akan lebih sulit keuangannya nanti.


Terlebih saat memikirkan betapa liciknya Mama Anggara yang menggunakan sakitnya untuk memaksa Anggara menikah dengan Diana, menyingkirkannya dengan memberi uang 1 Milyar. Tidak semudah itu pikir Kalila, Anggara adalah miliknya juga, mereka menikah bukan untuk permainan.


Kalila menyobek cek 1 Milyar pemberian dari Nyonya Hana tempo hari, menjadi kepingan kertas kecil yang tidak berguna sama sekali. Lalu matanya melihat ponselnya bergetar ternyata di layar terdapat nama pemanggil yaitu Dina, sekretaris Tuan Harun.

__ADS_1


Matanya membesar saat mendengar bahwa adiknya Kania hampir saja dikerjai beberapa orang pemuda suruhan Diana dalam keadaan pingsan, jika tidak ditolong oleh Dina dan Tuan Harun yang kebetulan lewat.


Dadanya bergemuruh, matanya merah ternyata Diana masih saja mengganggu adiknya tanpa ia sadari. Dengan cepat ia berganti pakaian dan pergi ke tempat dimana Tuan Harun dan Dina menunggunya untuk bertemu.


Di sebuah apartemen.


Dina mempersilakan Kalila masuk ke salah satu kamar, perempuan itu berlari mengikuti arah lalu ia berhenti dan mematung sejenak saat melihat dan mendengar adiknya menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut.


"Kania?"


Kania menoleh, ia segera beranjak dari ranjang sambil berlari memeluk kakaknya di ambang pintu.


"Kakak," lirih Kania disela tangisannya. Kalila mengusap punggung adiknya dengan sayang, matanya telah pula ikut menangis.


"Katakan pada kakak, benarkah kau masih diteror orang suruhan Diana dan Ibunya?"


"Bukan hanya diteror, tapi adikmu hampir diperkosa jika tidak dalam lindungan ku."


Bukan Kania yang menjawab melainkan suara berat dari seorang pria yang telah Kalila kenal. Tuan Harun berdiri di belakangnya saat ini.


Dina mengambil Kania agar kembali ke ranjang dan beristirahat, lalu Tuan Harun mengajak Kalila bicara dan keluar dari kamar dengan bahasa ekor matanya.


"Tuan Harun ingin bicara sesuatu denganmu, Kania biar aku yang urus," ucap Dina memberitahu. Kalila menghela napas, lalu mengikuti langkah Tuan Harun.


Sampai pada sebuah meja makan. "Duduklah!" perintah Tuan Harun yang masih dengan senyum misterius nya.


Kalila duduk.


"Kau tahu suamimu akan menikah?"


"Aku tahu."


"Kau diam saja?"


Kalila tidak menjawab.

__ADS_1


"Kau tahu Mertua mu telah menipu Anggara soal sakit dan operasi?"


"Aku tahu!"


"Dan kau diam saja, tidak memberitahu Anggara?"


"Karena aku tidak ingin ikut campur," jawab Kalila dengan pandangan kosong ke satu arah.


Mendengar itu membuat Tuan Harun tergelak geli.


"Dan karena kau tidak ingin ikut campur, kau mendapatkan adikmu hampir dinodai hari ini. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah dua kali namun Kania masih beruntung. Keberuntungan kali ini ada di tangan ku, aku yang menyelamatkan adikmu."


Kalila terdiam, air matanya menetes lagi.


"Kau ingin diam seolah menerima dan membiarkan seorang wanita jahat yang sudah berniat dan hampir menghancurkan adikmu, menerima wanita itu merebut suamimu? Jangan lupa Kalila, Anggara adalah suamimu, meski diam-diam tapi kalian menikah secara sah."


Segala macam bentuk hasutan yang Tuan Harun katakan, hingga membuat dada Kalila seperti hendak meledak. Semua perkataan Tuan Harun adalah benar, ia bodoh, bodoh telah membiarkan hidupnya dan keluarganya dihancurkan.


Mata Kalila kembali merah berkilat marah. "Apa yang kau ingin aku lakukan sekarang?" tanya Kalila seolah menerima penawaran.


"Semua kebohongan dan permainan mereka tentu saja Anggara tidak akan percaya jika aku yang membongkarnya. Aku dan Anggara tidak akur seperti dulu sebab Ibunya yang mendominasi. Lain hal jika itu kau, Anggara akan percaya padamu, namun sebelum itu mari kita bermain-main dulu pada Diana dan Mertua mu itu."


Tuan Harun menyeringai membayangkan sesuatu.


"Balaskan dendam mu pada Diana yang jahat itu, dia berani ingin menghancurkan adikmu dua kali, dan kau harus membalasnya tiga kali. Pertaruhan keluargamu, adik dan Ibumu tentu sangat berharga, aku tahu kau akan melindungi mereka bukan?"


Kalila tersenyum miring, ia sudah berada dalam akal yang tidak sehat, semua karena keadaan, adiknya hampir dinodai, Ibunya terus dicaci maki oleh Ibu Diana dan Nyonya Hana, lantas sekarang mereka juga mengambil Anggara darinya tanpa pertimbangan apapun.


"Kau bukan wanita lemah Kalila, jika saja kau bisa menaklukkan Anggara dalam waktu singkat waktu itu, kenapa pula kau harus mengalah dan membiarkan dia kembali pada Diana dalam pernikahan impian yang seharusnya kau berada di sana saat ini."


"Soal adik dan Ibumu akan ku suruh orangku menjaga mereka, mereka akan aman dalam pengawasan ku. Tugasmu hanya membalas semua kesakitan yang diterima keluarga mu, rebut Anggara dan bongkar kebohongan Ibunya yang licik itu. Hancurkan pernikahan mereka."


"Aku tahu kau tidak akan diam saja bukan?" sambung Tuan Harun sambil meminum kopinya.


"Tentu saja, karena Anggara adalah milikku. Anggara suamiku, tentu tidak ada wanita yang rela berbagi dengan wanita lain termasuk aku. Dia milikku bukan Diana!!!!" seru Kalila sambil mengepalkan tangannya, matanya merah, bibirnya membentuk lengkungan miring.

__ADS_1


__ADS_2