Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Kalila dilema


__ADS_3

"Kau tidak menginap?" tanya Kalila pada suaminya yang sedang mengunyah makanan.


Mereka sedang makan malam berdua, pria itu tampak lahap karena sudah lama tidak makan masakan Kalila selama beberapa hari terakhir.


Anggara menghentikan aktivitas makannya, ia meraih tangan istrinya dengan lembut lalu menggeleng kepala pelan. "Maaf, aku masih harus pulang ke rumah Mama. Sampai Mama membaik aku akan pulang kemari, apa kau marah?"


Kalila segera menggeleng, "Tidak aku sama sekali tidak marah, sudah seharusnya kau memberi perhatian pada Mama mu selama beliau sakit. Aku baik-baik saja, lagi pula kau akan kemari disiang hari," jawab Kalila berdusta, meski dalam hatinya ia merasa sedih tidak bisa tidur bersama pria itu sepanjang malam seperti sebelumnya.


Namun satu hal yang membuatnya janggal, Anggara mengatakan sang Mama masih sakit dan butuh perawatan, sedang saja tadi pagi ia mendapat pesan dari adiknya Kania soal kedatangan mertuanya ke rumah Ibunya tadi malam dan mereka terlibat suatu percakapan yang dingin yang menakutkan namun Kania tidak berani ikut campur.


Kalila mulai berpikir bahwa mungkin saja ini bagian dari rencana mertuanya menjauhkan Anggara darinya seperti perkataan Nyonya kaya itu tempo hari. Tapi ia tidak melihat gelagat Anggara tahu semua tentang rahasianya selama ini.


"Apa Nyonya Hana belum memberitahu Anggara soal aku dan Tuan Harun?" gumam Kalila dalam hati, matanya masih menatap suaminya yang sedang makan tanpa hal mencurigakan.


"Sayang?"


"Hmmm," Kalila segera membuyarkan lamunannya saat Anggara menyentuh pipinya.


"Aku akan pergi setelah ini, jaga diri baik-baik. Aku akan kemari lagi besok, maaf kau harus tinggal seorang diri beberapa hari lagi, aku akan ke rumah sakit menemani Mama ke dokter, aku harap pengertian mu. Mama cukup terguncang karena kepergian Papa hingga sakit-sakitan, akulah satu-satunya anak lelaki yang akan menggantikan posisi Papa untuk Mama dalam segala hal, maafkan aku Kalila," ucap Anggara pelan sambil terus membelai pipi Kalila.

__ADS_1


"Bukan masalah, aku mengerti Anggara..... Mengerti sekali," sahut Kalila penuh arti. Ia semakin ragu sekarang tentang mertuanya yang mengaku sakit sedang semalam saja bisa mendatangi Ibunya.


Mereka berpelukan dan berciuman sebelum berpisah, setelah Anggara pergi Kalila segera mengambil ponsel lalu menghubungi Ibunya.


Namun belum juga sang Ibunda menyahut di seberang telepon ia harus kembali ke pintu karena merasa ada orang yang masuk. Kalila mengira suaminya yang kembali.


"Sayang, apa ada yang tertinggal?" teriak Kalila dari ruang tengah, ia berjalan cepat menuju suara langkah kaki.


Kalila terkejut, bukan Anggara melainkan senyum miring dari sosok yang melahirkan pria itu yang sedang berhadapan dengannya sekarang. Lagi lagi Nyonya Hana masuk tanpa permisi, meski ia juga punya kartu akses untuk masuk.


"Ny- Nyonya?"


"Kenapa terkejut? Aku tidak harus permisi untuk masuk ke tempat tinggal milik putraku bukan?" Sindir wanita paruh baya yang tampak baik-baik saja itu.


"Tentu Nyonya, anda bebas melakukan apapun," sahut Kalila mencoba tidak gugup.


Nyonya cantik itu hanya tersenyum tajam sambil melewati Kalila, lalu ia duduk di sofa tamu. Kalila semula mematung namun segera mendekat saat ibu mertuanya itu memberi perintah agar ikut duduk.


"Aku melihat Nyonya tampak sehat!"

__ADS_1


"Apa kau menyumpahi aku sakit dan mati hingga kau bebas menguasai putraku?"


Kalila menggeleng, "Tidak Nyonya, tentu saja aku ikut mendoakan agar anda segera sehat seperti harapan putramu," jawab Kalila mulai berani.


"Ck, aku rasa kau tahu alasan kenapa aku berpura sakit? Seharusnya kau sadar diri soal itu, putraku lebih memilihku daripada kau yang tidak berharga sama sekali!"


"Aku rasa tidak seperti itu, berharga atau tidak yang pasti putramu juga milikku sekarang!"


"Kurang ajar kau!!! Kau mulai berani rupanya. Aku tahu niatmu mendekati Anggara hanya soal uang saja, jadi ini aku tawarkan kau harga yang sama dengan apa yang diberikan Harun! 1 Milyar."


Nyonya Hana mengeluarkan sebuah cek dengan tulisan nominal uang 1 Milyar di atas meja, lalu menyodorkan pada menantu simpanannya itu.


Kalila melihat cek itu dengan perasaan marah sekaligus sedih, namun ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, seharusnya ia sudah menduga tidak mudah berada dalam lingkaran orang-orang ini pikir Kalila.


"Kenapa? Kurang? Cih, aku tidak memberitahu Anggara soal kau dan Harun karena aku tidak ingin putraku kecewa karena telah ditipu, kau boleh angkat kaki dari kehidupannya tanpa merasa bersalah, aku menjamin rahasiamu dengan syarat tinggalkan putraku, karena dia dan Diana akan tetap menikah."


"Aku mencintai Anggara," jawab Kalila berani.


"Ketahuilah Kalila, aku tidak suka berbasa basi! Kau tidak akan pernah bisa masuk dalam kehidupan ku, jadi mengertilah bawa uang ini dan tinggalkan Anggara untuk kembali pada Diana. Harun memperalatmu untuk menyingkirkan putraku. Kau butuh uang bukan? Itu uangmu! Aku tidak ingin putraku hancur karena Harun licik itu. Jika kau beralasan cinta, bukankah sudah jelas jika kau tidak akan memperburuk keadaan putraku? Jika dia tidak menikahi Diana, maka perusahaan suamiku akan jatuh pada Harun licik itu."

__ADS_1


Kalila terdiam, ia melirik cek tersebut dengan perasaan dilema, ia membenarkan dalam hati tentang Anggara dan Harun yang sedang memperebutkan suatu posisi dalam perusahaan, meski ia tidak mengerti namun sudah jelas sekali ini mempengaruhi kehidupan Anggara nantinya seperti yang sudah diingatkan oleh Don betapa bahayanya seorang Tuan Harun.


Nyonya Hana mengingatkan bahwa meski Kalila tidak pergi namun Anggara akan tetap menikahi Diana nantinya, jika tidak ingin kecewa sebaiknya pergi dari sekarang. Kalila lagi-lagi diam, mematung sampai Nyonya Hana pergi dari sana.


__ADS_2