
Kalila menelan sebuah pil lalu minum air yang banyak, setelah itu ia simpan sebuah tablet pil kontrasepsi ke dalam kotak peralatan make up.
Sejak mulai berhubungan badan dengan Anggara, Kalila rutin meminum pil kontrasepsi agar terhindar dari kehamilan yang tidak ia inginkan. Hubungan yang semu tidak seharusnya ada anak pikir Kalila, sebab entah itu sekarang atau nanti dapat dipastikan ia akan terbuang juga dari kehidupan Anggara.
Dan anak tidak seharusnya menjadi korban dari perbuatannya sekarang, begitu isi hati Kalila memberi pandangan tentang nasibnya sekarang.
Ponselnya bergetar tanda sebuah pesan masuk. Kalila membukanya, lama ia terpaku dengan pesan WA dari Diana itu. Pesan yang terus mengancam akan membongkar semua kebohongannya pada Anggara, pesan yang beberapa hari ini ia terima sebagai teror agar segera mundur dari kehidupan lelaki yang ia cintai itu.
Bukan hanya ancaman akan dirinya namun juga melibatkan Ibu dan Adiknya Kania, Diana mengancam akan melakukan hal yang lebih buruk pada keluarganya. Satu hal yang Diana tidak ketahui bahwa Ibu dan Adiknya telah pindah.
Kalila gugup saat Anggara muncul dari bayangan cermin, ia segera menjauhkan kotak makeup lalu mematikan ponsel agar suaminya itu tidak curiga. Ia segera berdiri menghampiri Anggara yang baru pulang dari rumah orangtuanya.
Perempuan itu mengembangkan senyum saat mendapat pelukan tiba-tiba.
"Apa kau lama menunggu?"
Kalila menggeleng, "Tidak, lagipula aku belum mengantuk." Kalila menyahut sambil terus bersembunyi di dada suaminya.
Anggara terdiam, ia merasa terganggu saat mengingat Ibunya menginginkan ia segera menikahi Diana seperti rencana awal kehidupannya sebelum bertemu Kalila.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Kalila heran.
"Bukan apa-apa, ayo temani aku menyelesaikan pekerjaan kantor yang tertunda," ajak Anggara langsung menarik tangan Kalila keluar dari kamar.
Di ruang kerja, Kalila menatap Anggara yang fokus pada laptop. Perempuan ini tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dikerjakan, pikirannya menerawang akan ancaman Diana tentang kebohongannya pada Anggara yang polos percaya begitu saja padanya hingga menikah.
"Sayang, bisakah kau mengambilkan ku minum?"
Kalila segera mengangguk sambil tersenyum. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Anggara heran saat Kalila tidak juga beranjak.
"Aku hanya kagum padamu, kau pria pekerja keras," jawab Kalila seraya berdiri.
"Kemarilah!" Anggara mengulurkan tangan agar Kalila mendekat.
Anggara hanya tersenyum, ia menatap Kalila yang telah berada sangat dekat dengannya, mengecup bibir polos tanpa gincu itu dengan lembut lalu saling melempar pandangan dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
"Sayang," ucap Anggara sambil meraih tubuh Kalila agar duduk di pangkuannya.
"Iya, ada apa?" Kalila membelai rahang pria itu.
__ADS_1
"Aku rasa kita perlu bulan madu!"
Kalila tersentak, ia tidak menyangka mendapat ucapan seperti itu dari Anggara, ini hanya pernikahan semu tidaklah perlu yang namanya bulan madu seperti pasangan pengantin resmi yang ia tahu selama ini.
Kalila terdiam, "Kau tidak mau?" tanya Anggara heran.
"Mau, memangnya kau mau mengajakku kemana?"
"Paket bulan madu di kapal pesiar, trip Malaysia-Thailand untuk 4 malam."
"Apa?" Kalila menutup mulut saat Anggara mengeluarkan tiket paket bulan madu dari samping laptopnya.
Kalila memikirkan soal pesan Diana tadi, ia menatap Anggara dan berpikir untuk tidak mengadu soal ini. Apapun yang akan Diana lakukan nanti, sudah menjadi risikonya sebagai orang yang telah merebut Anggara dari wanita itu.
Yang terpenting Anggara percaya padanya saat ini.
Namun dibalik semua sikap manis Anggara, Kalila tidak mengetahui apa yang terjadi antara suaminya dengan Paman Harun di kantor. Suaminya tidak sepolos yang ia kira. Keponakan dan Paman itu terlibat perang dingin soal perebutan kekuasaan di perusahaan.
Anggara mulai tahu dari informasi yang Don dapatkan seperti apa gerak gerik Pamannya di kantor termasuk soal kedekatan Paman Harun dengan sekretaris pribadi, Dina.
__ADS_1
Namun untuk mengeluarkan kedok Pamannya tidaklah semudah yang terlihat, Paman Harun yang licik dan culas itu tidak mudah dijatuhkan. Dibalik sikap Anggara yang tenang tersimpan sebuah sikap tegas pada siapapun yang bertentangan dengan prinsipnya, hanya menunggu bukti yang cukup dan waktu yang tepat untuk menyingkirkan Pamannya yang perlahan diketahui telah banyak berbuat curang dalam perusahaan.
Anggara tentu tidak akan membiarkan posisi Ayahnya jatuh begitu saja pada Paman Harun.