Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Mempelai yang hilang


__ADS_3

Agar pernikahan berjalan lancar, semua akses Kalila untuk bertemu Anggara ditutup oleh sang mertua.


Anggara benar-benar patuh pada Ibunya yang mengaku belum pulih benar pasca operasi minggu lalu, pernikahan harus segera dilakukan agar Harun gagal naik tahta di perusahaan dan tentu Anggara juga tidak ingin kondisi Ibunya semakin memburuk jika ia terus berdebat dan membantah meski ia ingin sekali lari dari kenyataan saat ini menyakiti Kalila.


Hingga Anggara memberi kepercayaan pada Don untuk menjaga Kalila selama ia terlibat urusan pernikahan. Kalila lagi-lagi harus menelan sebuah kemarahan, karena terbatasnya akses membuatnya sulit bertemu Anggara sampai prosesi pernikahan telah dilaksanakan.


Malam ini puncak resepsi yang digelar mewah di Hotel Mahardika Luxury. Semua tamu harus menggunakan barcode untuk mendapatkan akses masuk, benar-benar ketat bahkan semua pintu masuk dijaga oleh petugas yang telah diberitahu wajah Kalila hingga wanita itu benar-benar tidak bisa masuk ke sana.


"Jangan keras kepala Kalila, aku tahu kau terluka hari ini. Maka dari itu menyerahlah, Anggara telah menikah dan Nyonya Hana tidak akan menerima mu dalam keluarga mereka, jadi apa yang kau tunggu? Meski aku tahu Tuan Anggara tidak ingin menyakiti mu namun semua yang terjadi sudah jelas adanya, jangan bodoh," tutur Don memberi nasihat, ia tidak ingin Kalila terus berada dalam nasib yang tidak jelas.


Don benar-benar bersimpati pada nasib perempuan itu, diam-diam Don menyukai Kalila.


Kalila tersenyum penuh arti, matanya masih menatap jauh jalanan di hadapan. Mereka tengah berada dalam mobil, Don mengantar Kalila untuk pulang ke rumah orangtuanya.


"Kau kasihan padaku?"


"Lebih dari itu, aku tidak ingin kau dipermainkan. Kenapa tidak menyerah saja, kalian hanya menikah diam-diam, tidak ada artinya Kalila. Tinggalkan Anggara dan lihat pria lain. Ada banyak pria yang bisa membahagiakan mu dalam pernikahan yang sesungguhnya."


Don memelankan laju mobil saat berkata demikian.


"Aku memikirkan hal yang sama, kau benar. Untuk apa bertahan pada status yang tidak jelas ini. Untuk itulah aku pulang pada Ibuku malam ini."


"Benarkah?" Don menepikan mobilnya, ia menatap Kalila dengan serius.


Kalila mengangguk, "Namun sebelum itu, bisakah kau membantuku?"


"Apa itu?"


"Aku mohon pertemukan aku dengan Anggara, kami harus bicara. Ini adalah pernikahan, aku tidak berniat mempermainkannya jadi jika memang harus berakhir, tentu ada kata perpisahan diantara kami. Aku harus bertemu Anggara untuk terakhir kalinya."


Don terdiam, mana mungkin ingin bertemu sedang malam ini adalah acara resepsi yang mungkin akan dimulai sebentar lagi.


"Maaf Kalila, aku tidak bisa membantu. Kau tidak punya akses untuk bertemu Anggara."


"Don, aku mohon. Kaulah satu-satunya harapanku untuk bertemu Anggara malam ini, setelah itu aku janji, aku akan pergi darinya. Membiarkan mereka hidup bahagia dan aku akan melanjutkan hidupku. Ayolah, hanya kau yang bisa mempertemukan ku dengan suamiku untuk terakhir kalinya."


Don masih terdiam, ia terus mengelak namun Kalila membujuknya dengan wajah memohon.


"Tidak bisa Kalila. Maafkan aku. Setidaknya tidak bisa malam ini, tapi jika pernikahan telah usai aku mungkin bisa membantu. Malam ini tidak bisa. Tentu kau tidak berniat menggangu acara bukan?"


"Aku mohon Don, kita sudah berteman. Aku percaya padamu, aku harus bertemu sebentar saja ada hal yang ingin aku katakan. Terakhir kalinya."


Dengan wajah yang mengiba akhirnya Don luluh juga. Ia memutar arah kembali ke hotel tempat resepsi akan dimulai.

__ADS_1


Don masuk ke kamar ganti mempelai pria. Ia menatap wajah Anggara yang tampak datar dengan tatapan kosong saat dipakaikan tuxedo oleh seorang desainer dengan dasi kupu-kupu menghiasi lehernya.


"Bos."


Anggara tahu Don yang datang.


"Hmmm."


"Bos tampan dengan tuxedo itu."


Anggara hanya tersenyum tipis, ia tahu Don sedang menyindirnya sekarang.


"Apa kau menyindir ku?"


"Bos, ada yang ingin aku katakan."


"Katakanlah!"


"Maksudku ini penting dan tidak boleh ada yang dengar."


Anggara sejenak terdiam, ia tahu ini pasti soal Kalila. Maka darinya ia memerintahkan dua orang desainer yang mendandaninya untuk keluar sebentar.


"Apa itu soal Kalila?" tanya Anggara cepat setelah mereka hanya tinggal berdua.


"Apa dia butuh sesuatu? Apa dia marah padaku? Katakan padaku?"


Don menarik napas dalam, ia dapat melihat wajah Anggara yang benar-benar terpaksa.


"Dia menunggu mu di kamar 501. Dia ada hal yang harus dikatakan, ini penting dan mungkin tidak akan terulang lagi."


Don berkata dengan suara yang berat, ia tahu ini sangat berisiko dimana malam ini mata-mata Nyonya Hana menyebar di seluruh Hotel.


Anggara menajamkan pendengarannya, ia melangkah mendekat.


"Kalila ada disini?"


Don mengangguk lagi.


Anggara mengusap wajahnya sejenak kemudian senyumnya mengembang, tanpa bertanya lebih lagi pria itu langsung melepaskan tuxedo yang baru saja melekat pada tubuhnya, ia juga melepaskan dasi kupu-kupu di lehernya.


Entah apa yang dipikirkan Anggara saat mendengar istrinya ada di hotel itu. Ia menghilang sekejap mata setelah mengambil topi dari Don dan memakainya agar wajahnya tidak terlihat, Anggara menepuk pundak sekretaris kepercayaannya itu dengan bangga sebelum benar-benar pergi dari kamar ganti.


Anggara terdiam, ia tahu ia telah berbuat salah malam ini. Mungkin Nyonya Hana akan mencarinya setelah ini.

__ADS_1


Di kamar 501.


Anggara memeluk Kalila penuh kerinduan, satu minggu tidak bertemu dan dilarang oleh Mamanya, membuat Kalila merasa sesak akan dekapan erat tersebut.


"Sayang, maafkan aku!"


Kalila tersenyum di sela pelukan mereka, ia bahkan tidak mengira Anggara bisa menemuinya secepat ini.


"Lepaskan aku, aku sulit bernapas."


Anggara terkekeh lalu melepaskan perempuan itu, ia menatap wajah Kalila lalu mereguk manisnya bibir yang satu minggu absen berciuman dengannya.


"Apa aku mengganggu acaramu?" tanya Kalila setelah puas berpagutan.


"Kau menyindir?"


Kalila terkekeh, ia menggeleng lalu menyembunyikan wajahnya di dada milik pria berkemeja putih itu.


"Aku merindukan mu." Suara rengekan nan manja itu membuat Anggara ingin gila oleh keadaan, betapa ia menjadi pria jahat telah menyakiti perempuan sepolos Kalila.


"Maafkan aku Kalila, aku menyakitimu!"


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku datang ingin menyelamati pernikahan kalian, tapi sayang sekali Mamamu tidak memberi kesempatan untuk itu."


Perempuan itu memainkan jarinya di dada sang mempelai yang seharusnya berada di pesta saat ini.


"Iya, dan ternyata aku memang sudah menikah dengan Diana. Aku benar-benar minta maaf, percaya padaku meski begitu aku sama sekali tidak akan meninggalkan mu."


Kalila tersenyum dan mengangguk lagi. Mereka saling memandang, akhirnya saling meraih dalam sebuah gairah yang Kalila ciptakan, dalam otak perempuan itu akan membuat Anggara bertekuk lutut padanya malam ini hingga melupakan pesta bahkan melewati malam pengantin yang seharusnya milik Diana malam ini.


Di tengah pesta yang telah mulai, Diana dengan anggun masuk ke ballroom dimana pestanya berada, ia melangkah pasti dengan gaun mewah nan gemerlap bersama sang ayah menuju pelaminan.


Namun yang membuatnya aneh adalah orang-orang memandangnya aneh saat menuju ke pelaminan kosong tanpa mempelai pria yang menunggunya di sana.


Senyumnya memudar saat sang mertua menghampiri mengatakan mempelai prianya hilang sebelum pesta, hatinya menggeram bagaimana Anggara tega membiarkannya bersanding seorang diri malam ini?


"Tidak ada yang tahu Anggara kemana, tetap tersenyum dan kita pastikan pesta ini tidak akan hancur. Akan ku buat pengumuman bahwa Anggara sedang sakit sekarang, jangan bersedih sayang, Mama bersama mu! Kita akan membalas semua ini jika memang perempuan ****** itu yang telah menyusup kemari!!!" ucap Nyonya Hana yang sedari tadi kehilangan akal mencari putranya, ia yakin mereka telah kecolongan malam ini.


Matanya menatap Harun dengan amarah yang tertahan, sebab Iparnya itu memberi kode seolah mengejek akan hal memalukan ini, ia tahu Harun mungkin menjadi dalangnya kali ini.


Diana menahan laju air matanya saat menatap gaun yang berkilau namun sungguh tidak bermakna saat sang mempelai prianya tidak ikut bersanding malam ini.


Di sisi lain, Anggara mulai terlena dalam dekapan dada Kalila. Matanya lelah hingga terpejam setelah puas bercinta. Kalila tersenyum puas bahwa pria miliknya itu memutuskan untuk tidak peduli pada pesta yang berlangsung.

__ADS_1


Anggara berada dalam genggamannya sekarang, membiarkan Diana melewati pesta hingga malam pertama seorang diri adalah niat utamanya malam ini dimana awal dari pembalasan untuk mereka yang telah mengusik kehidupan Ibu dan adiknya yang tidak bersalah.


__ADS_2