
"Hai, Mam" safa Cindy yang sedang menuruni anak tangga, "Eh anak mama, makin hari makin cantik saja!" ucap Sintia yang sedang berada di meja makan bersama dengan suaminya Johan, "MA, aku mau ikut turnamen silat bulan depan", ucap Sintia yang memberi tahu ibunya, bahwa dia akan mengikuti turnamen silat antar sekolah. (Sintia selain memiliki paras yang cantik, serta otak yang lumayan pintar, bela diri juga merupakan hobi yang sering Cintia tekuni), "Lombanya di mana?" tanya Sintia yang sudah tahu dengan hobi anaknya tersebut, "tidak jauh, palingan cuman di sekitaran-sekitaran sini, untuk tuan rumahnya kegiatan itu belum di tentukan" jelas Cindy, "tetapi kamu jangan lupa sama kewajiban kamu sebagai seorang siswa" ucap Johan mengingatkan putrinya bahwa pendidikan adalah hal yang utama, "Baik pa, " jawab Cindy yang kemudian fokus dengan makanan yang ada di depannya."MA, Pa, Cindy berangkat sekolah dahulu ya" pamit Cindy sambil menyalami tangan kedua orang tuanya, "Hati-hati jangan ngebut-ngebut" ingat Sintia, yang di jawab anggukan oleh Cindy, Cindy pun menuju motor kesayangannya, setelah menyalakan motornya dia pun meninggalkan rumah menuju ke sekolah, (Johan sebenarnya memberikan mobil kepada Cindy untuk dipakai ke sekolah, namun Cindy nya yang tidak mau dengan berbagai alasan, dari repot lah, macet lah, dsb)
Sementara itu. . . ..
__ADS_1
Natan yang hanya tinggal sendiri, sebab orang tuanya meninggal karena kecelakaan ketika dia masih berumur 5 tahun, harus bekerja terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, dia bekerja sebagai tukang antar koran dan kalau pulang sekolah dia sering kerja serabutan, namun Natan mempunyai prinsip jika tangan dan kakinya masih bisa untuk bekerja maka dia tidak akan meminta kepada orang lain. Dan setelah selesai mengantarkan koran Natan bergegas bersiap berangkat sekolah, dia berangkat sekolah dengan jalan kaki, dia juga terbilang adalah murid yang pintar terbukti dia bisa masuk
ke dalam sekolah elite melalui jalur prestasi.
__ADS_1
Tiba-tiba motornya terasa oleng dan iapun menghentikan motornya dan memeriksanya, "Astaga, pake kempes segala lagi" gerutu Cindy yang mana ban depan motornya menginjak sebuah paku. Kebetulan Natan yang sedang berjalan kaki menuju sekolahnya melihat hal tersebut nyamperin Nindy, "Motor lu mengapa?" tanya Natan kepada Nindy, "Lo tidak bisa liat apa ban motor gue kempes?" jawab Nindy dengan nada sebal kepada Nindy, "Lo itu ditanya baik-baik ko malah ngegas?" (Nindy dan Natan memang sudah saling kenal karena mereka berdua merupakan teman sekelas), "Terus lo maunya apa?" tanya nindi dengan nada seperti tadi, "Ni orang belagu bangat, gue tadi niatnya mau nolongin Lo, cuman tidak jadi" ucap Natan sambil berlalu meninggalkan Nindy, "Kalau tidak ada niatan mau nolongin tidak usah sok-sokan punya niat mau nolongin" ucap Nindy yang setengah berteriak agar didengar oleh Natan, namun Natan yang mendengar hal tersebut tetap berjalan tanpa menghiraukan Nindy yang sedang mengoceh.
"Lo mengapa si Nin telat, mana keringatan lagi" ucap Siska yang merasa aneh dengan sahabatnya tersebut yang biasanya paling awal datang ke sekolah, "Gue tadi habis ketimpa musibah, dan mirisnya ada tadi orang yang ngelihat gue ketimpa musibah itu, namun sayangnya orangnya tak mempunyai hati nurani sebagai manusia!" ucap Nindy yang sengaja dia keras kan agar Natan yang berada tidak jauh dari mereka dapat mendengar, namun memang tabiat Natan adalah tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya tidak menggubris, (Natan memang sangat bodoh amat dengan lingkungan sekitarnya, karena menurutnya orang kaya selalu sesuka hati dalam segala hal, namun sebenarnya Natan merupakan orang yang suka menolong, hanya saja pada situasi dan kondisi yang dia anggap perlu untuk ditolong)."Siapa sih orangnya, memang tidak berperi kemanusiaan" sahut Nurul, "Iya benar tu, ada ya orang kayak begitu?" sambung Siska yang merasa kesal dengan orang yang Nindy ceritakan walaupun dia belum mengetahui yang sebenarnya terjadi."Ada lah, " sahut Nindy yang mana setelah itu gurupun masuk dan pembelajaran pun di mulai, seluruh murid mengikuti pembelajaran dengan diam sampai bunyi bel pertanda istirahat pun berbunyi dan gurupun menyudahi pembelajaran dan meninggalkan kelas X IPA 1 yang mana merupakan kelas Nindy dan teman-temannya, "Kantin yuk, udah lapar bangat gua" seru Nindy yang mana dia sudah lapar karena mendorong motor tadi, "Ayok gue juga lapar nih", sahut Siska yang mana perutnya juga sudah keroncongan, "Ayolah" jawab Nurul menambahkan, mereka pun berjalan keluar kelas menuju kantin yang telah sekolah sediakan."Eh btw Lo pernah Liat Natan pas jam istirahat tidak?", tanya Nurul yang penasaran dengan keberadaan Natan pada saat jam istirahat "Iya juga ya, ko gue tidak pernah liat dia jam istirahat, di kantin ga ada, di kelas ga ada, tetapi pas jam masuk kelas dia ada di kelas" sahut Siska yang juga merasa bingung dengan Natan yang seolah-olah menghilang pada saat jam istirahat dan muncul kembali pada saat jam pelajaran, "Ngapain mikirin tu anak, paling juga dia main atau makan di luar mungkin" sahut Nindy yang sebenarnya masih kesal dengan tindakan Natan tadi pagi."Lo mau pesan apa biar gue yang pesanin, " tawar siska ketika mereka sudah berada di kantin, "Gue Bakso sama minumnya es teh saja" jawab Nurul, "Lo mau pesan apa Nin?" tanya Siska, "Samain saja" jawab Nindy seadanya, "oke, Lo berdua tunggu di sini biar gue yang pesanin" jawab Siska yang kemudian pergi ke tempat pemesanan, "Eh btw yang Lo ceritain di kelas yang tidak mau nolongin Lo it siapa sih nin?" tanya Nurul penasaran, "Eh iya gue juga penasaran nih, siapa sih orangnya?" sambung Siska setelah memesankan makanan untuk teman-temannya, "Lo mau tahu saja, atau mau tahu bangat" sahut Nindy dengan nada bercandanya, "Lo mah tidak asyik, masa begitu saja pake rahasia-rahasiaan sih!" sahut Siska yang pertanyaannya hanya dibuat lelucon oleh sahabatnya, "iya lo mah tidak asyik" tambah Nurul yang juga merasa penasaran dengan orang yang diceritakan oleh sahabatnya tersebut, "iya, iya gue ceritain, " jawab Nindy sambil menghela napas pasrah, karena teman-temannya yang suka memaksa, "Tadi itu di jalan motor gue bannya bocor, gue berhenti di pinggir jalan lah, kalau di tengah bisa tertabrak mobil gue, " cerita Nindy yang di iringi dengan candaan, "Terus-terus orang yang Lo bilang tidak mau nolongin Lo itu siapa?" tanya Siska yang makin penasaran, "Sabar ini mau gue ceritain, jadi pas ban motor gue bocor lewatlah si Natan yang so cool itu, masa dia Nanya motor gue mengapa yang jelas-jelas bannya kempes masa yang begitu doang perlu di pertanyakan, " sambung Nindy yang merasa sebal dengan sikap Natan yang tadi pagi, "Terus lo jawab apa?" tanya Nurul penasaran, " Ya gue jawab, Lo tidak liat ya ban motor gue kempes!" jawab Nindy dengan nada yang sama dengan apa yang dia ucapkan kepada Natan tadi, "Lah kalau begini ceritanya lo nya yang salah lah, orang nanyanya baik-baik, Lo jawabnya malah ngajak tawuran, " sahut Siska setelah mendengar penuturan dari Nindy, "Iya Nin di sini sebenarnya Lo yang salah, " tambah Nurul, "Lo berdua ko malah belain dia sih, sebenarnya yang temanan sama kalian gue atau dia sih" sahut Nindy, "memang Lo yang salah Nin, " sahut Siska menimpali pernyataan Nindy, "Walaupun Lo sahabat kita, ya kalau Lo salah ya tetap salah, "sambung Siska, "udahlah ngapain bahas dia sih, mending habisin tuh makanan kalian, bentar lagi bel masuk, dan mereka pun fokus kepada makanan masing-masing, dan setelah selesai makan bertepatan deng bel masuk, maka para siswa pun masuk ke dalam kelas dan mengikuti kegiatan pembelajaran sampai jam pulang tiba dan bel pulang berbunyi, guru pun meninggalkan kelas dan masing-masing murid segera merapikan kembali alat tulisnya dan pergi meninggalkan kelas, begitupun dengan Nindy dan teman-temannya, "Lo tidak mau minta maaf nih Nin, kebetulan orangnya belum pulang!" ucap Siska yang mana di dalam kelas hanya tersisa beberapa orang murid, "Ngga mau gue, " jawab Nindy sambil berjalan keluar kelas menuju parkiran, "Lo tidak bisa begitu Nin, Lo harus minta maaf kalau lu salah, ". sahut Nurul yang mana dia sedang mengikuti Nindy menuju parkiran, "Gue tidak salah kok, " jawab Nindy yang sedang menaiki motornya, "tetapi Nin..." belum sempat Siska melanjutkan kalimatnya Nindy sudah memotongnya, "Dah, bay gue balik duluan ya, " ucap Nindy sambil menjalankan motornya dan meninggalkan Siska dan Nurul di parkiran.
__ADS_1