Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Perubahan Rasa Tanpa Dirasa


__ADS_3

"Kadang kita tidak dapat memahami perasaan yang ada di dalam dada, sering kali kita menganggapnya adalah sebuah benci yang mendera namun seolah namanya terus hadir di dalam benak kita"

__ADS_1


seperti biasa Nindy pergi ke sekolah menggunakan motornya, dan hari-hari pun berjalan sebagaimana mestinya, Nindya pun tambah penasaran dengan sosok Natan yang menurutnya ada hal-hal luar biasa yang ada di dalam dirinya, "Hay Nin, mau balik ya?" tanya Toni yang menghampiri Nindy yang sedang di parkiran yang akan pulang sekolah, (Toni merupakan anak IPA 2 yang mana akhir-akhir ini dia agak mulai mencari perhatian dari Nindy), "Menurut Lo?" tanya Nindy dengan nada kesalnya, karena dia amat tidak menyukai basa-basi oleh Toni, "Galak amat sih, nanti cantiknya hilang loh, " ucap Toni yang mencoba merayu Nindy, "Terus gue harus bilang wow begitu, " balas Nindy masih dengan nada judesnya, "Gue mau ngajakin Lo makan siang bersama sebelum pulang, kebetulan gue tahu restoran yang lagi hitz sekarang, nanti gue yang traktir Lo deh, bagaimana?" ucap Toni mencoba mengajak Nindy, "maaf gue masih bisa beli makanan sendiri, kebetulan gue belum kehabisan duit, jadi gue tidak butuh traktiran lo, kalau Lo mau traktir orang, banyak ko orang yang tidak mampu mendingan Lo traktir mereka saja biar duit Lo bermanfaat, " jawab Nindy yang menolak ajakan dari Toni, "tetapi gue maunya sama Lo, " ucap Toni yang mencoba memaksa Nindy, "tetapi gue nya tidak, udah ah minggir gue mau balik dahulu, " jawab Nindy yang kemudian menghidupkan motornya, "tetapi Nin. . .." belum sempat Toni melanjutkan perkataannya Nindy pun sudah menjalankan motornya meninggalkan Toni di parkiran, (sementara Siska dan Nurul memang sudah balik lebih awal tadi sebelum kedatangan Toni)."Ciee ada yang di kacangin nih, " ejek Bagas yang sedang menghampiri Toni, yang di ikuti oleh indra, "Iya nih, rupanya ada yang jadi kacang nih, " tambah indra, "Pasti gue bakalan dapatin hatinya Nindy, ini hanyalah persolan waktu saja, nanti kalian liat saja nantinya, " balas Toni yang kemudian mereka bertiga meninggalkan parkiran, (Toni, Bagas dan indra merupakan anak kelas X IPA 2, yang mana Toni menyukai Nindy).

__ADS_1


Sementara itu di perjalanan pulang lagi dan lagi Nindy melihat Natan yang sedang bekerja sebagai pengantar koran, dan Nindy pun mengikuti Natan hingga Natan istirahat disalah satu tempat duduk yang ada di bawah pohon, "Lo mau gue bantuin tidak?" tanya Nindy kepada Natan ketika dia sudah berada di dekat Natan, "Ngapain Lo?" tanya Natan yang kaget dengan kedatangan Nindy, "Lo tidak dengar ya, tadi gue bilangnya gue mau bantuin Lo, Lo mau tidak?" ucap Nindy mengulangi perkataannya, "Tumben amat Lo baik, " ucap Natan dengan nada datarnya, "tidak perlu kok gue tidak perlu bantuan dari Lo, " sambung Natan yang masih fokus dengan koran-koran yang ada di tangannya, "Lo masih marah ya sama gue, gue minta maaf kalau begitu, " jawab Nindy kepada Natan, "Ngapain gue marah sama Lo, kayak tidak ada kerjaan saja, " balas Natan, "Terus mengapa Lo tidak mau terimah bantuan dari gue?" tanya Nindy kepada Natan, "Gue bisa sendiri, tidak perlu bantuan dari Lo, " singkat Natan, "Kan kalau gue bantuin bisa cepat selesai, " jawab Nindy meyakinkan, "Kalau gue tidak mau bagaimana, " tanya Natan, "Ya gue bakal ngikutin Lo terus sampai selesai, " balas Nindy yang tak menginginkan penolakan, "Terserah Lo saja deh, " balas Natan yang kemudian mulai berdiri dan kembali berjalan mengantarkan koran sambil berjalan kaki, "Terus motor gue bagaimana?" tanya Nindy yang bingung bagaimana dengan motornya, "itu urusan Lo, " jawab Natan tanpa melirik ke arah Nindy, Nindy pun mengikuti Natan dan memutuskan meninggalkan motornya di sana, Nindy pun mulai mengikuti Natan yang terus berjalan dari rumah ke rumah untuk mengantar koran yang di bawahnya, apalagi di tambah pancaran sinar matahari yang menyengat kulit makin menambah kesan perjuangan dalam pekerjaan Natan yang baru di rasakan oleh Nindy, "Lo tiap hari kaya begini, " tanya Nindy kepada Natan ketika mereka selesai mengantar koran, "Iya, " jawab Natan singkat, "Lo tidak capai apa, " tanya Nindy yang merasa sangat lelah dengan kegiatan Natan barusan, "Mau bagaimana lagi, gue bukan orang kaya seperti Lo, kalau gue tidak kerja ya tidak makan tidak sekolah, " jawab Natan seadanya, "Emangnya papa sama Mama Lo ke mana sih?" tanya Nindy yang memang dari awal penasaran dengan latar belakang Natan, "Orang tua gue udah pada meninggalkan karena kecelakaan saat gue umur 5 tahu, " jawab Natan yang kemudian teringat sosok mama dan papanya, "maaf ya, gue udah nanya persolan pribadi Lo, " jawab Nindy yang merasa tidak enak kepada Natan, dan sekaligus Nindy merasa terkejut dengan masa lalu Natan yang amat sulit, masih umur 5 tahun dia sudah hidup sendirian di dunia yang amat luas ini, "tidak apa-apa kok, mau gue marah, sedih, kecewa ataupun putus asa tidak akan mengubah yang telah terjadi, orang tua gue tidak bakalan hidup lagi kok, " jawab Natan, "Gue salut sih sama Lo, " ucap Nindy kepada Natan, yang tidak di tanggapi oleh Natan, "ngomong-ngomong Lo tinggal sendiri?" tanya Nindy kepada Natan, "iya, " jawab Natan singkat, "Rumah Lo di mana?" tanya Nindy, "Tuh di lorong itu belok kanan, tidak jauh dari situ rumah gue, " jelas Natan sambil menuju sebuah lorong yang tak jauh dari mereka, dan merekapun terus mengobrol hal-hal random, kadang mereka terlihat serius kadang mereka tertawa bersama, tanpa terasa haripun sudah sore, Nindy pun berniat untuk pulang ke rumahnya, "Lo itu orangnya asyik ya, " ucap Nindy kepada Natan, "Sama Lo juga, gue kirain Lo orangnya sombong begitu, nyatanya Lo orangnya tidak begitu sih, " yang kemudian di balas dengan senyuman oleh Nindy, "Kalau begitu gue balik dahulu ya, udah sore soalnya, " ucap Nindy yang kemudian berdiri yang kemudian di ikuti oleh Natan, "Ayok, " ucap Natan, "Mau ke mana?" tanya Nindy yang merasa bingung, "Motor Lo kan di tinggal di tempat tadi, ayok ambil motornya dahulu baru balik, " jelas Natan kepada Nindy, "Eh iya ya, gue lupa kalau motor gue gue tinggalin di tempat tadi, " sahut Nindy yang memang dia lupa akan hal tersebut, akhirnya merekapun berjalan menuju ke arah tempat motornya Nindy yang memang lumayan jauh, "Lo itu orangnya baik, terus Lo mengapa nendang gerobak ibu-ibu waktu itu?" tanya Natan kepada Nindy yang mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu yang melibatkan Nindy, "oh yang itu, " jawab Nindy yang kemudian menjelaskan mengapa dia melakukan hal tersebut, "Ooh begitu ya ceritanya, maaf ya gue udah salah sangka sama Lo, maaf juga gue udah nuduh lo yang enggak-enggak, " jawab Natan yang merasa bersalah, "Makanya kalau mau menyimpulkan sesuatu itu di cari tahu dahulu kebenarannya, " jawab Nindy dengan nada seolah menyalakan Natan, "Iya, iya maaf, " jawab Natan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, yang hanya di tanggapi senyum manis oleh Nindy yang membuat Natan yang melihatnya pun menjadi salah tingkah dibuatnya, sampai mereka pun tiba di tempat motornya Nindy tadi, "Gue balik dahulu ya, " pamit Nindy kepada Natan yang kemudian mulai memakai helem nya, "Hati-hati, " jawab Natan yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Nindy, kemudian Nindy pun menghidupkan motornya kemudian pergi meninggalkan Natan dengan senyuman di wajahnya, sementara itu Natan pun balik ke rumahnya

__ADS_1


__ADS_2