
Setelah kepergian Nindy dan teman-temannya tadi, tersisa Natan sendiri yang berada di dalam kelas tersebut, kemudian masuklah Toni beserta dengan indra dan Bagas di belakangnya, "Lo masih tidak sadar diri ya?" ucap Toni dengan nada merendahkan kepada Natan, yang tidak dijawab oleh Natan karena Natan malas berdebat dengan Toni, "Woy gue lagi ngomong sama Lo, " ucap Toni sambil menggebrak meja yang ada di depan Natan, "Terus Lo maunya apa?" tanya Natan, "Gue mau Lo jauhi Nindy, " jawab Toni, "Kalau gue tidak mau?" ucap Natan yang tidak suka di atur oleh orang lain tentang dirinya, "Lo bakalan tahu sendiri akibatnya, " ucap Toni dengan nada mengancam, akan tetapi tidak di tanggapi oleh Natan, karena sebenarnya Natan juga sudah merasa nyaman dengan Nindy, kemudian setelah mengatakan hal tersebut maka Toni beserta teman-temannya pergi meninggalkan kelasnya Natan.
__ADS_1
Sementara Itu Nindy dan teman-temannya yang sedang berada di kantin membicarakan tentang siapa sebenarnya dalang atas musibah yang menimpah Natan kemarin, "Kalian masih penasaran tidak sama persoalan yang menimpah Natan kemarin?" tanya Siska yang setelah itu kembali memakan bakso yang dia pesan tadi, "Iya, karena setahu gue Natan itu seperti tidak ada musuh, lagian dia tidak ikut geng-geng, maupun tauran, kok aneh ya, apa dia punya musuh rahasia ya?" tambah Nurul yang sama penasaran dengan Siska, "Iya juga ya, kan setiap hari dia hanya nganterin koran, kok ada musuh ya?" jawab Nindy dengan spontan, "Lo tahu dari mana Nin, " tanya Siska penasaran dengan yang dikatakan oleh sahabatnya, "Iya Nin, kok lu kayak udah dekat sangat begitu sama Natan, " tambah Nurul yang menaruh tatapan curiga kepada Nindy, yang seketika Nindy menyadari bahwa dia keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya dia tidak katakan, "Eh itu, gue hanya sempat liat doang sih, " jawab Nindy dengan gugup karena takut ketahuan
__ADS_1
Setelah bel pulang berbunyi Siska dan Nurul segera pulang meninggalkan Nindy di parkiran, "Kita duluan ya Nin, " ucap Nurul yang duduk di samping kemudi, kemudian Siska segera menjalankan mobil mereka keluar dari sekolah, "Hay Nin, pulang bersama yuk, " ajak Toni yang nyamperin Nindy di parkiran ketika Siska dan Nurul sudah pergi, "Gue masih bisa pulang sendiri ko, " jawab Nindy dengan ketusnya, dan segera menaiki motornya berniat untuk meninggalkan Toni, tetapi Toni terus menghalangi motornya Nindy, "Gue tidak bakalan izinin Lo pulang kalau tidak bersama sama gue, " ucap Toni memaksa, sementara itu Natan yang melihat dari belakang segera mendekat ke arah Nindy, "Nin Lo belum balik, " tanya Natan seolah-olah menganggap di sana hanya ada Nindy sendiri tanpa menghiraukan Toni yang sedang berada di sana, "Lo tidak liat, Nindy pulangnya sama gue, " ucap Toni dengan bangganya, "Idih pede sangat Lo, siapa sih yang mau pulang sama Lo, " ucap Nindy yang tidak menyukai keberadaan Toni di sana, "Ayo balik!" ucap Natan yang kemudian menyuruh Nindy untuk mundur, dan diapun segera menaiki motornya Nindy dan segera pergi dari sana meninggalkan Toni sendiri di parkiran, sementara itu Nindy yang jantung nya makin kencang berdegup hanya bisa terdiam di atas motor, sampai agak jauh dari gerbang sekolah Natan memberhentikan motor, "Turun dahulu, " ucap Natan kepada Nindy yang hanya diikuti oleh Nindy tanpa adanya pertanyaan tambahan, "Udah kok, kayaknya dia tidak ngikutin loh kok, " ucap Natan sambil melihat ke arah sekolah yang memang Toni tidak mengikuti mereka, sementara itu Nindy yang dari tadi hanya melamun sambil menatap Natan tidak mendengar apa yang di katakan oleh Natan, sampai Natan memanggil namanya lagi, "Nin, " ucap Natan sambil mengeraskan suaranya, "Eh iya, mengapa?" tanya Nindy yang dari tadi tidak fokus, "Lo tidak mau balik?" tanya Natan, "Emangnya rumah Lo sudah pindah ke sini?" tanya Nindy yang bingung, setahu nya rumah Natan masih lumayan jauh dari sini, "Udah Lo balik saja, nanti gue gampang lah, " ucap Natan menjawab pertanyaan Nindy, "tidak boleh begitu, lagian kita searah kan jadi gue anterin Lo saja, " ucap Nindy terus memaksa hingga akhirnya Natan pun setuju untuk di antar oleh Nindy, "Lo yang bawa motornya atau gue?" tanya Nindy kepada Natan, "Gue saja, " ucap Natan sambil menaiki motornya Nindy dan Nindy pun membonceng di belakang Natan, kemudian Natan menjalankan motornya Nindy menuju ke arah rumah mereka, "Nat singgah bentar di penjual bakso itu, " ucap Nindy ketika melihat penjual bakso di pinggir jalan, yang kemudian Natan meminggirkan motor di dekat penjual bakso yang kebetulan sedang sepi tersebut, "Ayo Nat, " ajak Nindy kepada Natan yang hanya berdiam di atas motor, "Lo saja, " ucap Natan yang kepada Nindy, "Udah sini gue yang traktir Lo, hitung-hitungan hadiah buat Lo karena tadi udah nolongin gue, sambil menarik tangan Natan yang masih duduk di atas motor, "tidak usah, " jawab Natan singkat, akan tetapi Nindy terus memaksanya hingga Natan pun mau tidak mau mengikuti ajakan Nindy, "Nat Lo cita-citanya mau jadi apa sih?" tanya Nidy memecah keheningan ketika mereka sedang memakan bakso yang mereka pesan tadi, "Kalau gue sih dulunya inggin jadi hakim, tetapi gue ya harus sadar sama apa yang gue punya, jadi sekarang gue asalkan bisa bekerja saja terserah tuhan mau arahkan gue ke mana, " jawab Natan seadanya yang hanya di tanggapi anggukan oleh Nindy, "Eh ngomong-ngomong Lo perwakilan sekolah kita dalam turnamen silat antar sekolah kan?" tanya Natan kepada Nindy, "Iya, " jawab Nindy singkat, "Tuan rumahnya sekolah kita kan?" tanya Natan lagi, "Iya, " jawab Nindy, "Keren sih Lo, " ucap Natan, "Biasa saja kok, " jawab Nindy, kemudian mereka fokus dengan makanan mereka masing-masing, setelah selesai Nindy segera membayar makanan tersebut dan segera menuju Natan yang sudah menunggu di motor, "Ayok, " ucap Nindy ketika sudah menaiki motor, kemudian Natan segera mengendarai motornya Nindy hingga tiba di pertigaan jalan yang mana rumah Natan tidak jauh dari situ akan tetapi berbeda arah dengan Nindy, Natan segera menghentikan motornya Nindy tersebut, "Kok berhenti di sini sih?" tanya Nindy kepada Natan, "Udah lagian rumah gue juga udah dekat, " jawab Natan kepada Nindy, "tetapi kan belum sampai, " ucap Nindy memaksa Natan, akan tetapi Natan terus menolaknya, "Kalau begitu gue balik dahulu ya, " ucap Nindy sambil menaiki kembali motornya, "Iya hati-hati lo, " ucap Natan kepada Nindy yang kemudian di balas anggukan oleh Nindy, Nindy pun segera menghidupkan motornya dan segera pergi menuju ke rumahnya, setelah Nindy pergi Natan pun pulang ke rumahnya dengan senyum yang terbit di wajahnya.
__ADS_1