Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Bukan Tentang Apa Tapi Siapa


__ADS_3

Keesokan harinya Nindy bersama dengan kedua sahabatnya pergi ke sekolah menggunakan satu mobil karena Nindy lagi malas mengendarai motor, "Ma,pa kita pamit dulu ya," pamit Nindy kepada mama dan papanya setelah selesai sarapan yang diikuti oleh kedua sahabatnya, "Iya hati-hati," jawab mama Nindy yang sedang bersama dengan suaminya di meja makan, kemudian Nindy dan teman-temannya pun pergi ka parkiran mobil dan segera memasuki mobil, setelah menghidupkan mesin mobil merekapun berangkat ke sekolah, di jalan menuju sekolah Nindy melihat Natan yang sedang jalan kaki ke sekolah, Nindy pun menyuruh kepada Nurul yang sedang mengendarai mobil untuk menepikan sedikit mobilnya, "Hay Nat, berangkat bareng yuk," ajak Nindy setelah keluar dari mobil dan mendekati Natan, "Nggak usah, gue biasa jalan kaki kok," tolak Natan dengan halus, "Nggak apa-apa kok, lagian kita juga searah kan," ucap Nindy yang tetap memaksa Natan, "Nggak usah Nin, nggak enak di lihatin orang," ucap Natan yang tetap menolak ajakan dari Nindy, "Kan nggak perlu dengerin apa kata orang, lagian sejak kapan Lo peduli sama omongan orang," ucap Nindy dengan nada memaksa akan tetapi Natan terus menolak ajakan dari Nindy, "Ya sudah kalau Lo nggak mau," ucap Nindy yang berjalan ke arah mobil dan tidak lama kemudian mobil yang ditumpanginya Siska dan Nurul pun bergerak menuju kampus, sementara Nindy berjalan ke arah Natan, Natan yang melihat hal tersebut menjadi bingung, "Ayok, nanti telat," ucap Nindy ketika sudah berada di dekat Natan, "Lo kenapa nggak bareng mereka aja?" tanya Natan yang bingung dengan perbuatan Nindy yang membiarkan sahabatnya pergi, "Nggak apa-apa kok, gue biasa jalan kayak gini," ucap Nindy menirukan ucap Natan tadi, "Ayok nanti telat," ucap Nindy sambil menarik tangan Natan yang kemudian segera berjalan sejajar dengan Nindy, "Lo kenapa?' tanya Natan kepada Nindy, "Nggak kenapa-kenapa kok," jawab Nindy tanpa melihat ke arah Natan dan fokus ke jalan, "Ya udah gue minta maaf," ucap Natan yang mengira bahwa Nindy marah kepadanya karena tidak mau di ajak bareng tadi, kemudian Nindy melihat ke arah Natan dan langsung tertawa ketika melihat ekspresi Natan yang seolah penuh penyesalan, "Nggak kok, gue nggak marah sama Lo, lagi pula itu hak Lo lah mau ikut atau tidak," ucap Nindy menjelaskan, "Lo nggak apa-apa jalan kayak gini?" tanya Natan kepada Nindy, "Emang Lo pikir gue cewek lemah gitu?, sory ya Nindy itu cewek kuat," ucap Nindy dengan bangganya, yang kemudian membuat Natan menarik sudut bibirnya membentuk senyum di wajahnya, entar kenapa ia sangat menyukai melihat wajah Nindy seperti itu, "Iya, iya gue tau kok, Lo kan atlet," ucap Natan membalas perkataan dari Nindy yang ditanggapi senyuman oleh Nindy, "Eh ngomong-ngomong kapan Lo tanding silatnya?" tanya Natan kepada Nindy yang mengingat bahwa turnamen silat antar sekolah tersebut akan diadakan di sekolahnya, "Turnamennya mulai lusa, hanya jadwal tandingnya belum ada," jawab Nindy seadanya, "Lo hebat Nin, udah pintar, baik, jago silat lagi," ucap Natan memuji Nindy, yang seketika membuat pipi Nindy merona karena malu, " Lo bisa aja Nat, Lo juga hebat kok," ucap Nindy yang juga memuji Natan, kemudian lewatlah Aldi yang juga melihat Nindy yang sedang jalan kaki bersama dengan Natan, Aldi pun memberhentikan motornya di dekat Nindy dan Natan, "Nin ayo ke sekolah," tawar Aldi kepada Nindy, "Lo pergi aja ke sekolah, gue nggak butuh tumpangan dari Lo," ucap Nindy kepada Aldi dengan Nada tidak sukanya, sementara Natan hanya diam saja melihat percakapan Nindy dan Aldi tersebut, perdebatan pun terjadi dan pada akhirnya Aldi memutuskan untuk pergi, sementara itu Natan dan Nindy melanjutkan langkahnya menuju ke sekolah, "Ternyata asik juga ya ke sekolah jalan kaki," ucap Nindy kepada Natan ketika mereka sudah memasuki gerbang sekolah dan menuju ke kelasnya, "Adik dari mananya, kebanyakan orang kan sukanya ke sekolah itu Naik mobil," ucap Natan sesuai dengan fakta yang terjadi, "Tapi nggak semua orang, ada orang yang nggak suka kok," ucap Nindy mengemukakan pendapatnya, "Dan Lo salah satunya?" tanya Natan kepada Nindy, "Iya dong," jawab Nindy dengan Nada sombong, yang kemudian di tanggapi senyuman oleh Natan. Setelah itu mereka berdua pun melangkahkan kaki menuju ke ruang kelas dan belum lama setelah mereka memasuki kelas bel masuk pun berbunyi dan semua siswa sudah masuk ke kelas masing-masing, guru mata pelajaran pun mulai memasuki kelas dan pembelajaran pun dimulai hingga bel istirahat berbunyi dan para siswa mulai meninggalkan kelas termasuk dengan Natan yang juga melaksanakan aktivitas hariannya jika jam istirahat, setelah melakukan pekerjaannya Natan pun kembali ke kelas yang masih sepi karena para siswa sedang berada di luar kelas, kemudian Aldi pun memasuki kelas yang mana hanya ada Natan di dalam, "Hey bro, Lo masih dekati Nindy ya," ucap Aldi yang seolah bertanya padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya, sementara Natan tetap diam dan tidak menanggapi perkataan dari Aldi tersebut, "Lo nggak kasihan sama Nindy?" tanya Aldi yang di tanggapi dengan raut wajah bingung yang di tunjukan Natan sambil melihat ke arah Aldi meminta penjelasan atas perkataannya barusan, "Lo tahu sendiri Nindy yang hidupnya dari kecil segalanya terpenuhi, dia nggak pernah merasakan kesusahan, terus kalau sama Lo yang ada nantinya Nindy," ucap Aldi tertahan, "Tadi aja Lo ajak Nindy ke sekolah dengan jalan kaki, padahal papanya aja sediain mobil buat Nindy, jadi gue mohon sama Lo, Lo sadar diri aja lah, atau minimal jika Lo memang cinta sama Nindy Lo tahukan mana yang buat Nindy bahagia dan mana yang buat Nindy hanya menderita saja," ucap Aldi kepada Natan berusaha untuk membuat Natan menjauhi Nindy, "Jadi gue pikir Lo tahukah mana yang terbaik," ucap Aldi kepada Natan sambil menepuk bahunya Natan dan kembali ke tempatnya karena bel masuk sudah berbunyi dan terlihat beberapa siswa sudah memasuki kelas, sementara itu Natan menjadi kepikiran dengan perkataan dari Aldi tersebut, apalagi mengingat bahwa setiap mereka jalan atau makan bareng tetap Nindy yang bayar, "Mungkin gue emang harus lupain Nindy, yang ada kalau gue sama Nindy gue malah numpang hidup lagi sama Nindy," gumam Natan dalam hatinya, dan kemudian setelah itu semua murid pun sudah memasuki kelas begitu juga dengan guru mata pelajaran dan pembelajaran pun di mulai, "Baik hari ini ibu kasih tugas kalian untuk membuat kerajinan tangan, dan ini merupakan tugas kelompok dan satu kelompok dua orang," ucap Guru seni budaya tersebut dan kemudian membacakan nama-nama kelompok yang mana Natan dan Nindy menjadi satu kelompok, sementara Siska dan Aldi juga menjadi satu kelompok dan Nurul mendapat teman kelompok Fadel yang merupakan teman sekelas mereka, Aldi yang mendengar hal tersebut mendengus kesal karena ia tidak sekelompok dengan Nindy, "Malas banget gue sekelompok sama tu anak," ucap Siska mengeluh kepada Nindy karena sekelompok dengan Aldi, "Ya udah, nggak usah ngeluh, jalanin aja sambil sabar," ucap Nindy dengan Nada menggodanya yang setelah itu guru mata pelajaran tersebut pamit diikuti dengan bel pulang yang berbunyi dan semua murid mulai meninggalkan kelas satu persatu.


__ADS_2