
Setelah bel istirahat berbunyi Natan pun pergi ke tempat biasa yang dia kunjungi ketika jam istirahat, "Assalamualaikum Bu, " safa Natan ketika memasuki salah satu dapur kantin yang ada di sekolahnya, "Waalaikumsalam eh Natan, kebetulan lagi ramai nih lagi banyak piring kotor, " jawab ibu kantin tersebut yang mana memang Natan sering bantu-bantu di kantin tersebut saat jam istirahat, untuk mendapat tambahan uang makan, "Baik Bu, " Natan pun segera mencuci piring yang memang sudah menumpuk.
"Oooh jadi selama in Natan ke sini pas jam istirahat, " ucap Siska yang melihat apa yang dilakukan Natan pada saat jam istirahat, "Iya ya, salut gue sama Natan, udah pintar, ganteng, pekerjaan keras lagi ditambah dia itu apa adanya, " tambah Nurul yang merasa kagum dengan Natan yang pekerja keras dan tak kenal namanya gengsi, "Ayok kita ke kantin saja, lapar nih gue, " ajak Nindy yang sebenarnya juga merasa kagum dengan sosok Natan namun malu untuk sekadar mengakuinya karena masih kesal dengan kejadian yang menimpah dirinya yang melibatkan Natan, akhirnya mereka meninggalkan tempat tersebut menuju ke kantin.
__ADS_1
Sementara itu, Natan setelah selesai melakukan pekerjaannya dia pun berjalan menuju kelas, "Hay Nat, dari mana?" tanya Winda yang merupakan anak kelas X IPA 2 yang juga kebetulan merupakan tetangga rumah Natan, "Habis dari bantu-bantu di kantin, " jawab Natan, yang mana Natan tahu bahwa Winda mengetahui bahwa dia sering melakukan kerja sampingan di kantin pas jam istirahat, "ooh, terus Lo mau ke mana, ?" tanya Winda, "Gue mau ke kelas, " jawab Natan seadanya, "Gue mau ngajakin Lo nonton nanti siang, Lo mau tidak kebetulan ada film keren loh!" ajak Winda, "Lo tahu sendiri lah bagaimana hidup gue, mau makan saja gue mesti kerja keras bagaimana mau foya-foya, " jawab Natan yang memang begitulah keadaannya, "Gue yang bayarin, bagaimana?" tanya Winda dengan tulusnya, "Selagi gue masih punya kaki dan tangan gue tidak mau orang kasihanin, " jawab Natan yang memang walaupun dirinya miskin dia tidak ingin meminta-minta sama orang lain, "Gue bukan bermaksud mengasihani Lo, anggap saja ini sebagai ucapan selamat dari gue, " balas Winda, "Selamat atas apa?" Tanya Natan yang tidak tahu maksud dari Winda, "Ya selamat atas gue yang mendapat nilai 75 ulangan harian matematika, " jawab Winda yang mencoba memaksa Natan, "Lah itu kan nilai standar, " jawab Natan, "tetapi setidaknya Lo harus menghargai usaha gue buat dapat nilai yang tidak merah, " ucap Winda yang terus memaksa Natan, akhirnya mau tidak mau Natan pun mengikuti keinginan Winda, "tetapi nanti pulang sekolah gue ngantarin koran dahulu" ucap Natan yang memberi tahu Winda, "Gue bantuin biar cepat klier, dan tidak ada penolakan, kalau begitu gue ke kelas dahulu, " jawab Winda yang kemudian berlalu meninggalkan Natan dan Natan pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
"bagaimana kalau pulang sekolah kita belanja, kebetulan udah lama kita tidak belanja bersama, " usul Nindy yang memang merasa bosan, "Boleh juga tuh, " sahut Nurul menanggapi ajakan Nindy, "Kayaknya asyik tuh, Lo yang bayarin ya, " jawab Nurul yang menunjuk ke arah Nindy, "Enak saja Lo, bayar masing-masing lah, " jawab Nindy yang tidak terimah semuanya dilimpahkan kepadanya, "Pelit Lo Nin, " sahut Nurul dengan wajah manyunnya, karena tidak mendapatkan belanja gratis, "Bodoh amat, " jawab Nindy yang kemudian mereka pun segera membayar makanan yang telah mereka makan dan bergegas menuju kelas, yang mana bel masuk sudah berbunyi. Di dalam kelas Nindy memperhatikan Natan yang sedang fokus dengan bukunya, "Lagi merhatiin apa sih?" tanya Siska yang mendapati sahabatnya sedang memperhatikan sesuatu, "tidak ko, " jawab Nindy menyangkal (Nindy dan Siska merupakan teman sebangku, sementara Nurul di belakang mereka), "Lo lagi merhatiin Natan?" tanya Siska yang melihat kepada arah yang dilihat oleh Nindy tadi, "Siapa yang ngeliatin tuh anak, " jawab Nindy yang merasa malu karena ketahuan tengah memperhatikan Natan, yang kemudian mendapatkan gelak tawa dari sahabatnya tersebut, "Lo lucu kalau lagi malu Nin, seperti kepiting rebus, " ucap Siska dengan gelak tawanya, yang mana melihat pipi Nindy yang sudah memerah sebab malu, "Mana ada, tidak ada kok, " sahut Nindy yang makin malu, "Udah ah, ngaco Lo" sahut Nindy yang kemudian mengambil buku di tasnya dan mulai fokus dengan buku tersebut tanpa menghiraukan Siska yang terus menggodanya.
__ADS_1
"Tinggal dikit lagi, " ucap Winda kepada Natan Yang sedang mengantar koran di rumah-rumah, "Iya" jawab Natan seadanya, dan kemudian merekapun terus mengantarkan koran tersebut hingga tak tersisa satu pun, "Gue ganti pakaian dahulu, nanti jam 3 pas Lo datang ke rumah gue, kita nontonnya naik motor gue saja, " ucap Winda yang mana kini mereka sudah berada di depan rumahnya Winda, "Iya, gue pamit dahulu ya, makasih udah bantuin gue, " ucap Natan, "Iya sama-sama, " jawab Winda, yang kemudian Natanpun pergi menuju rumahnya.
setelah tepat jam 3 Natan pun pergi ke rumah Winda, "Assalamualaikum, " ucap Natan yang berada di depan rumah Winda, "Waalaikumsalam, eh ada Natan, mari masuk, " ajak mamanya Winda kepada Natan, yang memang sudah mengenal Natan (Natan dikenal dengan anak yang sopan, ramah dan suka menolong di kompleks rumahnya), "Eh tidak usah tante, Windanya ada tan?" tanya Natan dengan sopannya, "Nin ada Natan nih, " panggil mama Winda kepada Winda, "Iya mam, " jawab Winda kepada mamanya yang tak lama Winda sudah berada di depan rumah, "MA aku jalan sama Natan dahulu ya, " pamit Winda kepada mamanya sambil menyalami tangan mamanya, "Iya, hati-hati sayang jangan ngebut-ngebut, dan pulangnya jangan kelewat malam, " ucap mamanya Winda mengingatkan, "okey mam, " jawab Winda dengan senyuman diwajahnya, "Kami pamit dahulu Tan, " pamit Natan sambil menyalami tangan mamanya Winda, "Hati-hati ya Nat, " jawab mamanya Winda yang di balas anggukan oleh Natan, merekapun berjalan menuju motor Scoopy nya Winda, setelah menghidupkan motor tersebut Natan yang mengendarai motor tersebut dengan Winda yang dibonceng meninggalkan rumahnya Winda menuju ke bioskop."Eh Nat, sebelumnya Lo pernah nonton sama cewek tidak?" tanya Winda ketika mereka berada di atas motor, "tidak pernah, " sahut Natan seadanya, karena memang dirinya belum pernah, "What, jadi gue cewek pertama dong yang nonton bersama lu?" tanya Winda dengan senyum yang terbit di wajahnya, "Emangnya mengapa?" tanya Natan, "tidak mengapa-mengapa sih, memang Lo belum pernah pacaran?" tanya Winda yang penasaran dengan jalan pikiran Natan, "Lo tahu sendiri kan hidup gue kayak bagaimana, bagaimana gue mau pacaran hidup gue saja mesti kerja keras, gue tidak punya waktu buat mikirin hal-hal kayak begitu, " sahut Natan yang memang sesuai dengan kehidupan yang dia jalani, yang hanya di tanggapi anggukan oleh Winda dan setelahnya tidak ada percakapan yang terjadi sampai mereka tiba di tempat yang mereka tuju.
__ADS_1