
"Waktu adalah hal yang paling nyata dalam mengubah segalanya, sehingga sangat memungkinkan bahwa benci menjadi cinta hanya karena perjalan dari waktu ke waktu, "
"Eh Lo berdua jadi nengokin Natan ke rumah sakit?" tanya Nindy kepada kedua sahabatnya ketika bel pulang sudah berbunyi dan gurupun sudah meninggalkan kelas, "Ekhem, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih, " ucap Siska yang sedang menggoda Nindy, "Betul tuh, kayaknya ada yang sedang mulai timbul perhatian dan rasa kangen dari dalam hatinya, " tambah Nurul dengan ekspresinya yang sedang menggoda Nindy, "Apaan sih Lo berdua, siapa yang sedang kasmaran sih, kan tadi memang rencana awalnya pulang sekolah kita mau nengokin Natan ke rumah sakit, " ucap Nindy dengan nada jengkelnya karena kedua sahabatnya yang tengah menggodanya, "tetapi kayaknya otak sama hati Lo berbeda sih Nin, " ucap Siska yang kemudian di ikuti tawa dari Siska dan Nurul, "Kan tadinya gue cuman nanya doang, kalau Lo berdua tidak jadi pergi ya kita tidak jadi ke sana, " sahut Nindy dengan ekspresi wajahnya yang makin manyunnya, "Iya kita berdua ikut ko, tetapi wajahnya tidak usah di buat begitu juga kali, " jawab Siska yang disusul anggukan oleh Nurul. Akhirnya merekapun memutuskan untuk menuju ke rumah sakit tempat Natan di rawat, yang mana tadi sudah diberi tahu oleh Winda lengkap dengan nomor kamarnya, sebelum pergi ke ruangan Natan, Nindy terlebih dahulu menuju ke resepsionis dan segera membayar biaya berobatnya Natan, kemudian dia dan teman-temannya pun pergi menuju ke kamar tempat Natan di rawat, "Assalamualaikum, " ucap Nindy ketika memasuki kamar yang menjadi tempat rawat Natan, "Waalaikumsalam, " jawab Natan yang kaget dengan kehadiran Nindy dan teman-temannya, "Kalian mau ngapain?" tanya Natan yang masih kaget dengan kehadiran Nindy dengan teman-temannya, "Masa Lo masih nanya sih, ya mau jenguk Lo lah, masa kita mau ke sini mau arisan, " jawab Nurul yang merasa aneh dengan pertanyaan yang diberikan oleh Natan, "Iya, tahu Nih si Natan, orang mau jenguk malah ditanya mau ngapain, " tambah Siska karena dia sepemikiran dengan Nurul, yang kemudian Natan hanya bisa tersenyum kaku, "Udah-udah Lo berdua main nyerocos saja, " ucap Nindy kepada teman-temannya, "Lo udah baikan Nat, " tanya Nindy yang yang tengah berada di samping ranjangnya Natan, sementara Siska dan Nurul mengambil tempat di samping Nindy, "Lumayan lah, udah agak mendingan kok, " jawab Natan seadanya, "Lagian Lo mengapa bisa kayak begini kok Nat?" tanya Siska yang penasaran mengapa dan siapa yang membuat Natan menjadi seperti ini, "Ya seperti itulah, " jawab Natan singkat, "Ya seperti itu bagaimana, " paksa Siska, yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Nindy, "Kalau Natan nya tidak mau kasih tahu jangan di paksa Siska, " ucap Nindy mengingatkan sahabatnya tersebut, "Ya kan Siska tidak maksa Natan Nin, jadi tidak ada salahnya kan Siska bertanya, siapa tahu saja Natan mau ngasih tahu?" tambah Nurul mendukung keputusan Siska untuk bertanya kepada Natan, karena dirinya juga sebetulnya penasaran atas apa yang menimpah Natan tersebut, "tetapi kan Natan nya tidak mau ngasih tahu, tetapi terus di desak oleh Siska, " balas Nindy yang tidak setuju dengan perlakuan sahabatnya tersebut, sementara Natan hanya tersenyum melihat perdebatan yang menurut Natan adalah hal yang sepele, "Udah tidak usah pada berdebat, ini rumah sakit bukan forum diskusi, " ucap Natan kepada tiga sahabat yang sedang berdebat tersebut, seketika ketiga sahabat tersebut sontak saja merasa malu karena bersikap seperti anak kecil yaitu memperdebatkan hal sepele, kemudian mereka pun berbincang-bincang hingga pintu terbuka yang menampakan seorang perempuan yang tak lain adalah Winda, "Eh Lo pada udah di sini ya, udah lama tidak?" tanya Winda kepada Nindy dan teman-temannya, "Lumayan sih, " jawab Nurul atas pertanyaan Winda tersebut, "maaf ya gue baru datang, soalnya tadi gue ke rumah dahulu, " ucap Winda kepada Nindy dan teman-temannya "Eh Nat Lo belum makan kan?" tanya Winda kepada Natan, yang di jawab dengan anggukan oleh Natan, "Ini gue bawain makanan buat Lo, Lo makan ya, " ucap Winda kepada Natan yang kemudian mendudukkan dirinya di samping ranjangnya Natan setelah membuka rantang yang berisi makanan yang dibawa olehnya dari rumah tadi, kemudian Winda segera menyuapkan makanan yang ada di tangannya kepada Natan, sebenarnya Natan merasa tidak enak hati dengan Nindy, namun dia tidak bisa berbuat banyak karena tangannya yang belum bisa untuk makan sendiri karena tangannya masih terasa sakit jika digerakkan, sementara itu Nindy yang melihat hal tersebut seolah menjadi emosi dan marah tanpa dia tahu apa penyebabnya, yang kemudian tatapannya dia alihkan kepada teman-temannya, sontak saja mata mereka bertemu karena teman-temannya pun tengah menatapnya, "Ngapain Lo pada ngeliatin gue, " ucap Nindy demi menetralkan rasa yang ada di dalam dada dan mengubah mimik wajahnya menjadi datar, "tidak kok, " jawab Siska dan Nurul serentak yang kemudian mengalihkan pandangan mereka dari Nindy, cukup lama mereka terdiam, "Ehem, kalau begitu kita pamit dahulu ya Nat, Win, " pamit Nindy kepada Natan dan Winda, "Kalian udah mau balik ya, kalau begitu hati-hati ya, makasih banyak udah mau jengukkin gue, " ucap Natan kepada Nindy dan teman-temannya, "Kalian semua hati-hati ya pulangnya, " tambah Winda, yang dijawab anggukan oleh Nindy dan teman-temannya, yang mana setelah itu Nindy dan teman-temannya meninggalkan ruangan Natan menuju tempat mereka memarkirkan kendaraan mereka tadi, "Eh menurut Lo berdua Winda sama Natan ada hubungan tidak sih?" tanya Siska ketika mereka sedang berada di lorong rumah sakit, "Iya, mereka seperti dekat sangat begitu, " tambah Nurul yang juga melihat kedekatan antara Natan dan Winda, "kalau menurut Lo bagaimana Nin?" tanya Nurul kepada Nindy sambil melirik kearah sahabatnya tersebut, "lah mengapa nanyanya ke gue, seharusnya ya Lo tanya saja sama Natan atau sama Nindy, " jawab Nindy dengan nada sensinya, yang mana Nindy tidak suka jika harus membicarakan kedekatan Natan dan Winda, sontak saja hal tersebut menimbulkan kecurigaan Siska dan Nurul atas sikap Nindy barusan, "Lo cemburu ya Nin?" tanya Siska yang mana Siska dan Nurul sedang menatap Nindy dengan tatapan penuh kecurigaan, "Enak saja, siapa yang cemburu, gue sama Natan kan tidak ada apa-apa jadi ngapain gue cemburu, " jawab Nindy berbohong, yang mana dia tidak bisa memungkiri bahwa sebenarnya hatinya merasa tidak karuan melihat kedekatan Natan dan Winda tadi, "Walaupun Lo tidak ada hubungan sama Natan, siapa tahu saja Lo suka sama Natan terus Lo cemburu melihat Winda yang begitu dekat dengan Natan, " Sahut Nurul menjawab perkataan yang disampaikan oleh Nindy, "Jangan ngaco deh Lo pada, gue tidak suka sama Natan dan tidak akan pernah suka sama Natan dan satu lagi gue tidak cemburu, mau itu Natan sama Winda atau siapa pun itu, " ucap Nindy mencoba mengelak atas tuduhan yang diberikan kepadanya, padahal Nindy merasa marah, kecewa dan berbagai rasa yang tak karuan, entah itu kepada Natan maupun kedekatan Natan dan Winda, "Lo jangan ngomong begitu Nindy, entar kemakan sama kata-kata sendiri Lo, " ucap Nurul mengingatkan Nindy, yang mana Nindy hanya diam dan mencoba memahami apa yang sebenarnya dia rasakan ini, sampai mereka tiba di parkiran, memang tadi ke rumah sakit Nindy mengendarai motornya sendiri sementara Siska dan Nurul menaiki satu mobil, yaitu mobil Nurul, "Gue balik duluan ya, " pamit Nindy kepada kedua sahabatnya setelah menghidupkan Motornya, "hati-hati lo, " ucap Siska kepada Nindy, yang di jawab anggukan oleh Nindy kemudian setelah itu diapun pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya tersebut menuju rumahnya, dan setelah Nindy pergi, Siska dan Nurul pun meninggalkan rumah sakit tersebut menggunakan mobil yang dikendarai oleh Nurul.