Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Rasa Adalah Anugerah


__ADS_3

"Kadang kita merasa sangat senang dengan anugerah terindah yaitu rasa cinta, tetapi kadang kita merasa sangat terpuruk jika cinta kita berjumpa dengan kecewa, ".


Nindy pun tiba di rumahnya dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, "Assalamualaikum, " ucap Nindy ketika memasuki rumahnya, "Waalaikumsalam, dari mana saja sayang kok baru balik?" tanya Sintia kepada putrinya yang sedang menyalami tangannya, "Tadi habis main sama teman MA, " jawab Nindy yang kemudian di balas anggukan oleh Sintia, "Nindy ke atas dahulu ya mam, " pamit Nindy yang kemudian berlalu menuju kamarnya, setelah di dalam kamar Nindy pun segera mandi dan kemudian mengganti pakaiannya, yang kemudian mengeluarkan buku tugasnya dan kemudian mengerjakan tugas sekolahnya, tanpa terasa haripun sudah gelap, "Sayang ayo makan dahulu, " ucap Sintia yang sedang berada di depan kamar putrinya tersebut, "Iya MA, " jawab Nindy yang telah selesai mengerjakan tugas sekolahnya yang kemudian menutup bukunya dan segera pergi ke meja makan, yang mana di sana sudah ada mama dan papanya (Nindy merupakan anak tunggal), "Hay pa, MA safa Nindy yang baru saja sampai di meja makan, "Ayo makan sayang, " ajak Sintia kepada anaknya yang kemudian di tanggapi anggukan oleh Nindy dan segera mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di meja makan tersebut, lalu mulai mengambil makanan dan mulai menyantapnya, "bagaimana sekolah kamu sayang?" tanya Johan kepada putrinya tersebut, "Lancar-lancar saja pak, " jawab Nindy seadanya, "Oh ya lomba silat yang kamu bilang waktu itu udah mulai?" tanya Johan yang mana dia sempat mengingat bahwa putrinya sempat mengatakan akan mengikuti lomba silat antar sekolah, "Minggu depan pa, kebetulan yang jadi tuan rumahnya itu sekolah Nindy, " jawab Nindy yang memang tadi kepala sekolah mengatakan kepadanya bahwa lomba silat antar sekolah itu akan di laksanakan minggu depan dan akan di laksanakan di sekolahnya, jadi kepala sekolah menyuruh kepada Nindy agar kiranya mempersiapkan diri mengikuti lomba tersebut, yang kemudian di tanggapi anggukan oleh sang ayah, setelahnya merekapun fokus dengan acara makannya masing-masing hingga selesai, "MA, pa Nindy ke kamar dahulu ya, " ucap Nindy yang kemudian meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Hay Nin, " safa Toni yang melihat Nindy yang tengah memarkirkan motornya di parkiran sekolah, yang kemudian Nindy tidak menanggapi sapaan dari Toni tersebut, "Cuek amat sih, " tambah Toni yang mana sapaannya tidak di tanggapi oleh Toni, "Hay Nat, " safa Nindy ketika melihat Natan yang sedang menuju kelas, dan Nindy segera berjalan kearah Natan tanpa memedulikan Toni yang sedang berbicara kepadanya, "Sialan tuh anak, " gumam Toni dengan marahnya karena sebab Natan Nindy malah pergi meninggalkan Toni, "Awas saja Lo, " sambung Toni dan segera pergi dari sana.


sementara itu Natan segera melihat kearah sumber suara yang sedang memanggilnya, dan mendapati sosok Nindy yang sedang menuju ke arahnya, "Hay Nin, " jawab Natan menimpali sapaan dari Nindy, "Mau ke kelas?" tanya Nindy yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Natan, "Ayo bersama saja, " ajak Nindy, yang kemudian merekapun menuju ke kalas bersama-sama, dan mereka pun memasuki kelas mereka yang mana di sana sudah ada Siska dan Nurul yang tampak kaget dengan kehadiran Nindy bersama dengan Natan memasuki kelas, "Serius, " tanya Siska kepada Nindy dengan ekspresi kagetnya, , "Apa, " tanya Nindy yang bingung dengan sikap kedua sahabatnya tersebut, "Jadi Lo sama Natan udah baikan?" tanya Nurul yang penasaran, "Lah kita tidak marahan, " jawab Nindy seenaknya yang kemudian percakapan mereka terhenti setelah guru mata pelajaran mulai memasuki kelas, hari-hari pen berjalan sebagaimana biasanya yang tanpa disadari Nindy dan Natan pun makin dekat.

__ADS_1


Nindy pun kembali dari rumahnya Siska yang memang berlawanan arah dengan rumahnya, tadi sepulang sekolah Nindy masih pergi ke rumah Siska terlebih dahulu, Nindy pun melewati tempat Natan tergeletak tadi, namun sayangnya Nindy tidak melihat keberadaan Natan yang tengah tergeletak karena memang terhalang sebuah rerumputan, akhirnya Nindy pun terus mengendarai motornya hingga tiba di rumahnya. Sementara itu Winda yang tengah berjalan ke arah rumahnya, sontak sangat terkejut melihat Natan yang tengah tergeletak tak sadarkan diri dangan kondisi wajahnya yang sudah babak belur, Windapun segera meminta pertolongan dan segera membawa Natan ke rumah sakit terdekat.


Sementara itu di dalam kamarnya Nindy ingin menghubungi Natan, namun sayangnya dia tidak memiliki nomornya Natan, dan kemudian dia memutuskan untuk segera tidur dan akan meminta nomor ponsel Natan di sekolah nanti. Esoknya seperti hari-hari sebelumnya, Nindy mengendarai motornya menuju sekolah, "Eh tumben si Natan tidak masuk sekolah, " tanya Siska setelah jam istirahat dan mereka tak melihat Natan dari tadi jam pelajaran, "Iya yah, Lo tahu tidak Nin ke mana si Natan, " tanya Nurul kepada Nindy, yang memang sedari tadi Nindy pun mencari-cari Natan yang memang tidak terlihat, "Gue juga tidak tahu, " jawab Nindy seadanya, "Coba Lo hubungi deh, " ucap Siska kepada Nindy, "Gue tidak punya nomor kontaknya, " jawab Nindy yang kemudian mendapatkan tatapan bingung dari teman-temannya, "Lo sama dia udah kayak orang pacaran, masa Lo tidak punya no handphonenya?" tanya Nurul yang bingung dengan sahabatnya yang terlihat dekat dengan Natan tersebut, "Gue tidak pacaran sama Natan, " jawab Nindy atas tuduhan yang diberikan oleh teman-temannya, " Gue tidak bilang Lo sama dia pacaran, yang gue bilang kayak orang pacaran, " balas Nurul atas sanggahan yang di berikan oleh Nindy, "tahu ah, malas gue ngomong sama Lo berdua, " jawab Nindy yang merasa bahwa jantungnya itu berdetak lebih kencang saat membicarakan tentang Natan, "bagaimana kita tanya saja sama Winda, Winda kan tetangganya, barangkali saja dia tahu, " usul Siska yang sempat mengingat bahwa Natan dan Winda adalah tetanggaan, "Ide bagus juga tuh, " jawab Nurul menanggapi usul dari Siska, yang kemudian merekapun menemui Winda yang sedang berada di kelasnya, "Winda, " panggil Nurul yang sedang berjalan menuju Winda bersama dengan Nindy dan Siska, sontak saja sang pemilik nama pun segera menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, "Ya ada apa?" tanya Winda yang mendapati Nindy dan teman-temannya menghampirinya, "Kita mau tanya nih sama Lo, Lo tahu tidak mengapa Natan tidak masuk sekolah, " tanya Nindy ketika berada di dekat Winda, "Ooh itu, Natan masuk rumah sakit, " jawab Winda sesuai dengan apa yang terjadi, seketika mereka pun terkejut, "Kok bisa?" tanya mereka bertiga bersamaan, dan kemudian Winda menceritakan dia yang menemukan Natan yang tengah tergeletak dengan wajah yang babak belur, Winda juga mengatakan bahwa Natan tidak ingin memberi tahu soal siapa yang melakukan hal tersebut dan sebab sang pelaku melakukan hal tersebut, yang hanya di tanggapi anggukan oleh Nindy dan teman-temannya mendengar cerita yang di sampaikan oleh Winda, "Oke kalau begitu makasih banyak ya Wind, entar pulang sekolah kita bersama Lo mau Lia Natan ya, " ucap Nindy kepada Winda, "oke sip, " ucap Winda, setelahnya Nindy dan teman-temannya pergi meninggalkan kelas Winda.

__ADS_1


__ADS_2