Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Rasa dan Kecewa


__ADS_3

"Cinta tanpa sebab adalah sebuah kelemahan hati, sebab ketika kita menentukan sebuah, pilihan maka haruslah dengan pertimbangan"


* * * * * * * * * * * * * * * *

__ADS_1


Di perjalan pulang Nindy menyempatkan diri untuk singgah di salah satu minimarket yang terletak di jalan pulang yang dia lalui, Nindy pun masuk ke dalam minimarket tersebut berniat untuk membeli beberapa snack ringan yang mana di rumahnya stok snacknya sudah menipis, "Totalnya berpa mbak?" tanya Nindy sambil menyodorkan beberapa bungkus Snack ukuran besar kepada kasir minimarket tersebut "Totalnya 300 ribu kak" jawab Sang kasir dengan sopannya, "Nih uangnya, " sahut Nindy sambil menyodorkan 3 lembar uang seratus ribu, "Makasih kak, " jawab kasir tersebut sambil memberikan belanjaan Nindy yang sudah dibungkus dengan kantongan, yang di jawab anggukan oleh Nindy yang kemudian mengambil belanjaannya dan pergi meninggalkan minimarketnya, namun sebelum dia menaiki motornya dia melihat gerobak ibu-ibu yang tengah berjalan sendiri karena jalanan yang terbilang sedikit menurun, dan terlihat juga ibu-ibu tersebut sedang mengejar gerobaknya, maka tanpa pikir panjang lagi Nindy langsung menendang gerobak tersebut karena hampir menabrak anak kecil yang ada di depannya, yang mana kejadian tersebut tengah disaksikan oleh Natan yang kebetulan sedang bekerja mengantar koran, Natan pun langsung menghampiri tempat kejadian, yang mana di sana ada Nindy dan ibu yang memiliki gerobak tersebut beserta gerobak baksonya yang isinya sudah tumpah ke jalan, "Lo kalau tidak ada niatan mau nolongin, jangan rusakin, " marah Natan kepada Nindy yang mana menurutnya tindakan yang diambil oleh Nindy bukanlah perbuatan yang tepat, "Lo tidak liat ya tadi itu gerobaknya hampir nabrak. .."belum sempat Nindy melanjutkan penjelasannya, orang-orang sudah berkumpul guna membantu sang ibu, maka Nindy pun tidak meneruskan penjelasannya, "Bu ini saya ganti semua keruggian ibu" ucap Nindy kepada ibu tersebut sambil memberikan sejumlah uang seratus ribu yang terbilang cukup untuk mengganti kerugian sang ibu, "Makasih banyak ya neng, udah cantik baik lagi, " jawab sang ibu, yang mana ibu tersebut tahu alasan mengapa Nindy melakukan hal tersebut. Setelah memberikan uang tersebut Nindy pun berlalu dari sana menuju motornya, sementara Natan yang melihat hal tersebut langsung menemui Nindy yang sedang berjalan menuju motornya, "memang kalau orang kaya begitu, segala sesuatu dianggapnya gampangan asal ada uang" sarkas Natan yang tidak suka dengan tindakan yang dilakukan oleh Nindy, "Lo tidak tahu yang sebenarnya, jadi jangan sembarangan kalau ngomong, " balas Nindy yang merasa tidak terimah dengan perkataan Natan, "tidak tahu bagaimana, jelas-jelas gue liat pake mata kepa gue Lo nendang gerobak ibu-ibu tadi setelah itu Lo rasa urusannya hanya membayarnya dengan uang, " jawab Natan dengan marahnya, "Kalau Lo tidak tahu apa-apa lebih baik Lo diam, " bentak Nindy yang tidak terimah dengan tuduhan yang diberikan oleh Natan "Apa, Lo mau tutup mulut gue pake uang Lo? sory, tidak semua orang tergila-gila dengan uang Lo, " balas Natan yang kemudian berlalu meninggalkan Nindy, Nindy pun sangat kesal dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Natan "Tu manusia ngeselin bangat sih, " gerutu Nindy yang kemudian menyalakan mesin motornya dan segera menuju rumahnya, "memang dasar tu orang pembawa sial, setiap bertemu dia bawaannya sial mulu" gumam Nindy yang sudah berada di dalam kamarnya dan sedang berganti pakaian


"Sayang, makan siang dahulu yuk" panggil Sintia yang berada di depan kamar anaknya, "Iya MA, nanti Nindy nyusul" sahut Nindy dari dalam kamar, Sintia yang mendengar jawaban Nindy pun pergi ke meja makan, dan tidak berselang lama Nindy pun menuruni anak tangga menuju ke meja makan, "MA papa ke mana, " tanya Nindy yang tidak mendapati papanya di meja makan, "Mama ada meting dengan klien, " jawab Sintia "ooh, " sahut Nindy yang kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di meja makan, "bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Sintia kepada anaknya, "tidak bagaimana-bagaimana sih mam, lancar-lancar saja" jawab Sintia, "Kamu sudah punya pacar?" tanya Sintia kepada putrinya (yang mana Sintia dan Johan merupakan orang tua milenial 😅, Nindy pun cukup terbuka kepada kedua orangtuanya), "Belum juga setahun masuk SMA masa yang dicari lebih dahulu pacar, mama ada-ada saja, " sahut Nindy yang memang belum tertarik kepada siapa-siapa di sekolahnya, "Kan mama cuman tanya, kalau ada ya di kenalkan sama mama, " jawab Sintia dengan nada menggoda anaknya, "Ah mama, Nindy kan masih pingin punya banyak waktu sama mama, " sahut Nindy yang masih mengunyah makanan di dalam mulutnya, "Iya, iya lanjutin dahulu makannya" perintah Sintia kepada putrinya, yang dijawab dengan anggukan dan Nindy pun pokus dengan makanan yang ada di depannya.

__ADS_1


Natan yang tengah mengantar koran terus memikirkan apa yang Nindy lakukan tadi, "Memang ya kalau orang kaya segala sesuatu mereka anggap bisa diselesaikan dengan uang. Padahal dia itu cantik, cuman sayangnya mines adab" gumam Natan yang tengah mengantarkan koran di rumah-rumah orang (memang Natan mengantar koran pada pagi dan siang hari), setelah semua selesai Natan pun balik ke rumahnya, bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerja sore ini (Natan bekerja sebaga pesuru di sebuah pasar tradisional yang memang jam operasionalnya itu pada sore hari


"Sayang temani mama ke pasar yuk, " ajak Sintia kepada Nindy yang tengah berada di kamarnya, "mengapa harus di pasar sih MA, kan biasanya juga di supermarket?" tanya Nindy yang mana dia mengetahui bahwa mamanya ataupun asisten rumah tangga mereka kalau belanja pasti mamanya menyuruh untuk belanja di supermarket, "tidak mengapa-mengapa ko sayang, mama lagi ingin saja sekalian kita bisa lihat bagaimana kondisi orang yang mungkin lebih susah dari kita, agar kita selalu bersyukur masih diberikan kenikmatan dari Tuhan!" jelas Sintia kepada putrinya, "Okelah, Nindy ganti baju dahulu, " sahut Nindy "Mama tunggu di depan ya, jangan lama-lama, " ucap Sintia kepada Nindy, "Baik bos" sahut Nindy dengan tangan yang menghormati, Sintiapun hanya tersenyum melihat tingkah putrinya tersebut dan segera meninggalkan kamar Nindy dan menunggunya di depan, sementara Nindy bergegas mengganti pakaiannya dan segera menemui mamanya yang tengah menunggunya, "Kita ke sana naik apa MA?" tanya Nindy, "Kita akan diantar sama kang Agus (kang Agus merupakan sopir dikekuarga Nindy) ", "Kang ayok" panggil Sintia kepada kang Agus (umur kang Agus kurang lebih 45 tahunlah, yang mana sudah bekerja kepada keluarga Nindy sekitar 10 tahun lamanya), "baik nya" jawab kang Agus yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Sintia dan Nindy, dan kemudian duduk di belakang setir kemudi mobil. Setelah menghidupkan mesin, Aguspun menjalankan mobil menuju pasar yang disebutkan oleh sintia tadi, "Kang tunggu di sini saja ya!" perintah Sintia kepada kang Agus ketika mobil mereka sudah berada di parkiran yang tidak jauh dari pasar tersebut, "Baik nya" jawab Agus, "Ayo sayang, " ajak Sintia kepada Nindy sambil turun dari mobil dan melangkahkan kaki menuju pasar tersebut.

__ADS_1


Di pasar tersebut mereka dapat melihat berbagai macam model orang Sintia dan Nindya pun berjalan mencari apa-apa saja yang akan mereka beli, sampai tidak sengaja mata Nindy melihat sosok yang dia kenal, "Tu orang bisa ada di mana-mana ya" gumam Nindy pelan yang masih bisa didengar oleh Sintia, "Siapa?" Tanya Sintia yang mendengar gumaman anaknya tersebut, "Tuh teman sekelas aku, dia itu tadi kerjanya ngantarin koran, sekarang ko bisa ada di pasar sih" jelas Nindy sambil menunjuk kepada Natan, dan Sintia pun melihat arah yang di tunjuk oleh Nindy dan tepatnya seorang laki-laki yang sedang mengangkat beras di salah satu penjual di pasar tersebut, "Itu artinya anaknya pekerjaan keras, kalau dilihat-lihat lumayan ganteng juga tu anak" jawab Sintia dengan nada menggoda putrinya, seketika Nindy mata Nindy pun terbelalak, "Ganteng dari mananya sih, tidak ada sisi ganteng-gantengnya, kalau mama tahu saja orangnya tu nyebelin bangat pake sangat sangat, " jawab Nindy yang merasa kesal dengan kelakuan Natan yang sudah dua kali yang menurutnya sangat nyebelin, "Sayang, cinta dan benci itu bedanya setipis kulit bawang, jadi kalau terlalu cinta bisa jadi benci bisa jadi sayang, " jawab Sintia kepada putrinya, "Ah tahu ah, belanjanya sudah kan, kita balik saja ya mam" ajak Nindy kepada Sintia, " kayaknya udah deh, yok kita balik, " jawab Sintia yang kemudian kedua ibu dan anak tersebut berjalan menuju mobil untuk pulang ke rumah.


__ADS_2