Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Antara Rasa dan Kecewa


__ADS_3

"Kadang kita tidak dapat mengetahui kapan rasa itu akan datang dan kapan rasa itu akan pergi."

__ADS_1


Setelah pulang dari rumah sakit tadi, Nindy pun langsung bergegas menuju kamarnya, dan segera bersih-bersih "Natan ama Winda itu punya hubungan yang spesial tidak sih, kok kayak dekat sangat, " gumam Nindy yang sedang berada di dalam kamarnya, yang mana Nindy merasa bahwa Natan dan Winda mempunyai hubungan khusus karena kedekatan Natan dengan Winda yang diperlihatkan di hadapan Nindy beserta teman-temannya, "Ya kalau mereka punya hubungan kan tidak ada yang larang juga, lagian mereka bukan saudara, " gumam Nindy yang mana pikirannya sedang sangat kacau dengan persoalan Natan dan Winda, "Lah mengapa gue jadi mikirin mereka, mau mereka pacaran atau tidak itu tidak ada urusannya sama gue, " timpal Nindy yang makin bingung dengan dirinya sendiri, "Mending gue belajar saja buat besok, " ucap Nindy yang kemudian segera mengambil bukunya dan mempelajari materi besok, namun pikiran dan hatinya berkata lain, karena dia tidak bisa fokus dengan pelajaran tersebut, pikirannya terus dipenuhi dengan persoalan Natan, "aaah, kok gue jadi kayak begini sih, " ucap Nindy sambil mengacak rambutnya, "Apa gue suka ya sama Natan?" tanya Nindy kepada dirinya sendiri, "tidak-tidak, ini mungkin hanya perkara gue penasaran saja dengan hubungan Natan sama Winda saja kok, " sambung Nindy yang mencoba meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak menyukai Natan, yang mana sebenarnya Nindy belum menyadari rasa yang tumbuh di hatinya, tidak lama terdengar suara ketukan pintu, "Sayang ayok makan, " Ajak Sintia dari balik pintu kamar Nindy, "Iya MA, nanti Nindy nyusul, " yang kemudian Sintia meninggalkan kamar putrinya tersebut, setelah itu Nindy segera merapikan buku-bukunya yang kemudian menyusul mamanya yang sudah lebih dahulu menuju ke meja makan, "Kamu mengapa sayang?" tanya Sintia yang melihat Nindy dengan wajah murungnya, yang membuat Johan yang juga berada di meja makan tersebut melihat ke arah Nindy, "tidak mengapa-mengapa ko MA, " sahut Nindy yang mencoba menyembunyikan rasa yang ada di hatinya, "Kalau tidak mengapa-mengapa kok mukanya ditekuk kayak begitu sih?" tanya Sintia dengan tatapan yang sedang mencari kebenaran, yang mana Sintia tahu bahwa putrinya pasti punya masalah, "Nindy tidak mengapa-mengapa kok MA, ini lihat Nindy senyum, " jawab Nindy sambil membuat senyum diwajahnya, yang kemudian Nindy mendudukkan dirinya di kursi yang ada di meja makan, dan kemudian segera mengambil makanan sambil menghindari tatapan mata mamanya yang seolah bertanya tentang apa yang terjadi kepada Nindy, namun setelah beberapa waktu Sintia mulai mengalihkan pandangannya karena dia tidak ingin memaksa Nindy jika Nindy tidak ingin menceritakan masalahnya, proses makan malam pada saat itupun berlangsung dengan hening, semua pada fokus dengan makanannya masing-masing, hingga selesai, "MA, Pa, Nindy ke kamar dahulu ya, " pamit Nindy yang dijawab anggukan oleh orang tuanya, setelah itu Nindy pun meninggalkan meja makan kemudian menuju ke arah kamarnya, "Kok gue jadi tidak bisa fokus begini ya, " ucap Nindy yang memutuskan membaca buka karena dirinya belum bisa tertidur, akan tetapi ketika dia membaca buku dia pun tidak bisa fokus yang mana pikirannya hanya terpenuhi dengan persolan Natan dan Winda, "Kalau kayak begini harusnya tadi gue tidak jengukin Natan tadi di rumah sakit, " kemudian Nindy segera menyimpan bukunya dan kemudian menidurkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya dan memejamkan matanya mencoba untuk terlelap, yang pada akhirnya setelah lama memejamkan mata akhirnya Nindy pun sudah mulai kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


besok harinya berlalu seperti biasa Nindy pergi ke sekolah, bertemu dengan teman-temannya dan lain sebagainya, yang berbeda adalah hati Nindy yang terasa sepi di sekolah, karena tidak adanya sosok Natan. Hingga tiba pulang sekolah yang mana pada saat itu Natan pun sudah di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit oleh dokter, "Lo tunggu di sini dahulu, gue mau selesaikan administrasi Lo dahulu sebelum keluar, " perintah Winda kepada Natan yang tengah duduk di kursi berada di depan kamar rawatnya, "Entar gue ganti uang Lo, gue masih punya duit kok!" jawab Natan yang memang saat ini dia tidak memiliki uang, akan tetapi dia memiliki simpanan di rumahnya, Winda pun segera pergi ke bagian resepsionis, belum lama pergi Winda kembali lagi kepada Natan, "mengapa?" tanya Natan bingung dengan Winda yang pergi hanya sebentar, "Udah ada orang yang bayarin, " jawab Winda seadanya, "Siapa?" tanya Natan penasaran dengan siapa yang telah membayar tersebut, "Nindy, " jawab Winda singkat, sontak saja Natan kaget dan kata-kata Toni mengenai Natan yang mendekati Nindy karena uangnya seketika terngiang-ngiang dipikiran Natan, "Lo mikirin apa?" tanya Winda yang bingung dengan ekspresi wajah Natan, "tidak kok, " sahut Natan atas pertanyaan Winda tadi, "Kalau begitu yuk balik, " ajak Winda kepada Natan, (Natan memang bisa berjalan, karena yang sakit hanya wajah dan tangannya), yang kemudian Natan segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari rumah sakit ini, yang kemudian mereka pun segera pulang menggunakan taksi. Sementara itu Nindy yang tadi sepulang sekolah pergi ke restoran bersama teman-temannya pun berniat untuk menjenguk Natan di rumah sakit, "Ayok, udah lama kita di sini, " ucap Nindy yang memang sedari tadi ingin mengunjungi Natan di rumah sakit, tetapi karena perdebatan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya maka mereka pun makin lama di restoran tersebut, "Ayok, " jawab kedua sahabatnya tersebut secara bersamaan dan kemudian meninggalkan restoran tersebut menuju ke rumah sakit tempat Natan di rawat. Setelah mereka tiba di kamar rawatnya Natan, Nindy dan teman-temannya tidak menemukan Natan yang berada di sana, merekapun bertanya kepada salah seorang perawat yang sedang melintas, "Sus, pasien yang di kamar ini di mana ya?" tanya Nindy kepada perawat tersebut, "Pasien yang di kamar itu tadi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, jadi kemungkinan sudah pulang" jawab suster tersebut dengan sopannya, "Ooh udah pulang ya, makasih banyak sus, " ucap Nindy, "dia sama-sama, " yang kemudian suster tersebut meninggalkan Nindy dan teman-temannya, "Ini semua gara-gara Lo Sis, kalau saja Lo tadi tidak rese pasti kita tidak bakalan jadi kayak begini, " ucap Nurul yang menyalahkan Siska atas keterlambatan mereka, "Enak saja Lo, masa Lo yang salah bilangnya gue, itu namanya Lo lempar batu sembunyi tangan tahu, " balas Siska yang tak terimah disalahkan oleh Nurul perihal keterlambatan mereka, "Udah-udah, Lo berdua tidak ada bosan-bosannya ya dari tadi, ini semua salah Lo berdua, " ucap Nindy melerai perdebatan kedua sahabatnya tersebut, "Bukan gue lah Nindy, coba tadi saja Siska tidak rese tidak mungkin kita terlambat ke sini, " ucap Nurul yang terusmenerus menyalahkan Siska, yang kemudian dijawab oleh Siska dan terjadilah perdebatan di antar kedua sahabat tersebut, "Lo berdua debat saja terus di situ, bila perlu sampai subuh saja sekalian, gue mau pergi dahulu, " ucap Nindy sambil berjalan menuju pintu keluar, yang kemudian Siska dan Nurul yang tadi berdebat terdiam dan segera mengikut ke arah Nindy dan menyejajarkan langkah mereka, "Jadi Lo mau ke mana Nin?" tanya Siska ketika mereka sedang berjalan menuju pintu keluar, "Gue mau pulang lah, " jawab Nindy entengnya, "Terus begitu doang usaha Lo?" tanya Nindy dengan wajah meremehkan Nindy, "Usaha apa sih, lah gue orangnya tidak ngapa-ngapain, " sahut Nindy yang tidak paham dengan perkataan dari sahabatnya tersebut, "Masa begitu doang Lo tidak paham sih Nin, maksud Siska usaha Lo buat nemuin Natan lah, " tambah Nurul yang seketika dia dan Siska saling mendukung satu sama lain dan tidak berbeda pendapat, "Lah Natan nya udah pulang terus mau temuin bagaimana?" tanya Nidy kepada kedua sahabatnya tersebut, "Ya Lo usaha begitu, samperin ke rumahnya kek, atau bagaimana begitu, " jawab Nurul menimpali pertanyaan dari Nindy tadi, "Lo berdua tahu tidak rumahnya Natan?" tanya Nindy yang sebenarnya dia sudah di beri gambaran oleh Natan tentang letak rumahnya, namun Nindy sedikit merasa kesal karena menurut prediksinya bahwa Natan keluar dari rumah sakit dengan Winda, "tidak sih, " jawab kedua sahabatnya tersebut sambil cengengesan, "Ya udah kalau begitu ayok balik, " ucap Nindy ketika mereka sudah berada di parkiran rumah sakit tempat mereka memarkirkan kendaraan mereka, yang kemudian di jawab anggukan oleh kedua sahabatnya tersebut, "Gue balik dahulu ya gaes, " pamit Nindy kepada kedua temannya setelah menghidupkan mesin motornya, "Iya, hati-hati lo, jangan ngebut-ngebut bawa motornya, ingat Lo belum nikah Nin, " ingat Nurul kepada Nindy yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh Nindy, kemudian Nindy menjalankan motornya meninggalkan rumah sakit tersebut, yang kemudian Siska dan Nurul pun pergi meninggalkan rumah sakit tersebut menuju ke rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2