
Sementara itu Aldi yang tadi memperhatikan Natan dan Nindy yang terlihat sangat dekat, terus mengikuti mereka berdua hingga tiba di rumahnya Natan, setelah Nindy pergi Aldi segera mendekati Natan, "Hey bro, Nama Lo Natan ya, " ucap Aldi ketika sudah berada di dekatnya Natan, Natan pun menoleh ke arah sumber suara, "Iya, Lo kan murid baru di kelas gue, " tanya Natan memperjelas, "Iya, dan satu lagi yang mungkin belum Lo ketahui, gue adalah mantannya Nindy, " ucap Aldi membanggakan statusnya yang pernah mengisi hatinya Nindy, "Terus apa hubungannya sama gue?" tanya Natan yang sudah tahu akan hal tersebut, "Gue liat-liat Lo dekat sama Nindy, " ucap Aldi, "Terus?" tanya Natan yang belum paham dengan maksud Aldi, "Sebaiknya Lo jauh-jauh dari Nindy, karena bentar lagi gue bakalan balik lagi dengan Nindy dan kalau gue udah balik sama Nindy gue tidak bakalan izinin Nindy buat berteman sama orang seperti Lo, " ucap Aldi dengan nada sombongnya, seketika ucapan Aldi seolah menimbulkan kembali rasa tidak percaya dirinya Natan, "Lebih baik Lo segera jauhi Nindy saja ya bro, " ucap Aldi sambil menepuk pundaknya Natan dan segera pergi meninggalkan Natan.
__ADS_1
Setelah Aldi pergi meninggalkannya tadi Natan sibuk sendiri dengan pikirannya, "Apa gue memang tidak pantas ya sama Nindy, " gumam Natan sambil membuka pintu rumahnya dan memasuki rumahnya, "Apalagi dia kan punya segalanya, sementara gue tidak punya apa-apa, " tambah Natan yang kemudian memasuki kamarnya, kemudian segera berganti pakaian dan akan melakukan pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya, Natan pun segera mengganti baju seragamnya dengan baju rumahan dan segera menuju ke pangkalan untuk mengambil koran dan segera mengantarkannya ke rumah-rumah. Setelah selesai mengantarkan koran Natan beristirahat sebentar di sebuah pohon yang tidak jauh dari rumahnya, "Hey Nat, " safa Winda yang tidak sengaja melihat Natan dan segera menghampirinya, Natan pun melihat ke arah sumber suara, "Udah selesai Nat?" tanya Winda yang kemudian mengambil tempat duduk di samping Natan, "Iya udah kok, " jawab Natan, sementara itu Winda yang melihat wajah Natan tidak yang penuh keringat dengan gerakan refleksnya Winda menyekanya dengan tisu yang di bawah olehnya, sementara itu Nindy yang hendak akan menemui Natan di rumahnya melihat hal tersebut, membuat hati Nindy menjadi sangat terluka dan diapun tidak melanjutkan niatnya untuk menemui Natan, iapun langsung pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat sedih dan air mata yang sudah sangat membasahi pipi tanpa di ketahui dan disadari oleh Natan, "Eh maaf Nat, " ucap Winda yang mana Natan langsung menjauhkan wajahnya, "Iya tidak apa-apa kok, makasih ya, " ucap Natan sambil mengambil tisu yang ada di tangannya Nindy dan segera menyeka keringatnya sendiri, "Lo dari mana Win?" tanya Natan kepada Winda, "Abis dari depan situ tadi, terus gue liat Lo di sini makanya gue samperin, " jawab Winda, kemudian mereka berbincang-bincang dan tidak lama Natan harus segera pulang dan akan bekerja di tokoh pada sore hari nanti, "Gue balik dahulu ya Win, mau ke toko soalnya, " pamit Natan sambil berdiri, "Oh iya, lagian gue juga mau balik ke rumah juga, ayo bersama, " ucap Winda yang mana rumahnya dan Natan memang searah dan tetanggaan, "Ayo, " jawab Natan, kemudian mereka berdua berjalan menuju ke arah rumah mereka.
__ADS_1
sementara itu di sisi lain Nindy yang sangat sedih terus menjalankan motornya hingga tiba di rumahnya, kemudian dia segera memasuki rumah dan menuju ke kamarnya, di dalam kamar dia menumpahkan segala kesedihannya bahkan sampai menangis tersedu-sedu, "mengapa sesakit ini ya?" tanya Nindy kepada dirinya sendiri sambil terus menangis, "Apa begini ya rasa cemburu, padahal cuman kayak begitu doang, kok kayak sakit sangat sih di hati, " tambah Nindy yang mana air matanya tidak bisa dia bendung dan tetap mengalir membasahi matanya, setelah cukup lama menangis Nindy pun akhirnya tertidur dalam keadaan yang sangat kacau.
__ADS_1
Di perjalanan pulang Natan bertemu dengan Toni dan kawan-kawan yang memang sengaja menunggu Natan, "Lo udah gue ingatin berapa kali, jangan dekati Nindy, " ucap Toni dengan suara keras kepada Natan, tetapi seolah tidak didengar oleh Natan dan memilih untuk terus berjalan melewati mereka, namun dia d tahan oleh teman-temannya Toni dan segera mendorongnya hingga terjatuh, "Lo tidak sadar diri ya, Lo itu siapa Nindy itu siapa, " teriak salah seorang temannya Toni, "Iya, betul tidak ada malu Lo ya, " ucap temannya yang lain menghina Natan, "Lo itu sama dia bagaikan langit dan bumi, Lo tahu sendiri dia punya segalanya, sementara Lo, Lo itu miskin yang ada entar Nindy kalau sama Lo yang ada hanya jadi beban lo nya, " tambah Toni dengan nada yang seolah merendahkan Natan, akan tetapi Natan tidak menyahuti segala perkataan dari Toni dan teman-temannya tersebut, "Ini merupakan peringatan terakhir dari kita, jadi gue harap Lo jauhi Nindy, jangan sampai Lo menyesal pada akhirnya, " ucap Toni yang kemudian segera meninggalkan Natan sambil menepuk Pelang bahunya dan kemudian di ikuti oleh teman-temannya, sementara itu Natan yang memang dari tadi memikirkan tentang hal apa yang dikatakan oleh Toni makin tambah di buat kepikiran, sambil terus berjalan menuju ke rumahnya Natan terus memikirkan hal tersebut, hingga tiba di rumahnya dan segera bersi bersi bersiap untuk tidur, "Apa benar ya apa yang mereka katakan?" tanya Natan kepada dirinya yang tengah berada di dalam kamarnya, "Apa gue mesti jauhi Nindy ya?" tambah Natan yang memang sedang sangat pikiran, "daripada gue pusing mikirin itu, mending gue belajar dahulu, " ucap Natan sambil bangkit dan mengambil buku pelajarannya, dan mempelajari materi yang telah di berikan, setelah kurang lebih satu jam tiga puluh menit lamanya akhirnya Natan pun mulai merasakan kantuk dan diapun memilih mengakhiri belajarnya dan segera bersiap untuk tidur, tidak butuh waktu lama akhirnya Nindy pun terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1