
Hari-hari pun berjalan sebagaimana biasanya, yang membuat Nindy dan Natan makin dekat dan mereka mulai menyadari bahwa bahwa rasa yang tumbuh di dalam hati adalah cinta yang sejatinya dari awal selalu mereka pungkiri. Hanya saja keduanya takut akan ekspetasi mereka yang terlalu tinggi, Natan takut mencintai Nindy karena kekayaan yang Nindy miliki sementara Nindy selalu bertanya² apakah Natan memang memiliki rasa sama seperti dirinya? , atau hanya ialah yang terlalu berlebihan mengharapkan Natan agar menjadi kekasihnya, karena mereka berdua tidak ada yang berani menyampaikan rasa yang sebenarnya telah lama tumbuh di dalam hati.
__ADS_1
"Eh Nat, sebenarnya Lo sekarang ada pacar tidak?" tanya Nindy ketika dia dan Natan sedang duduk di bangku taman setelah Natan selesai mengantarkan koran seperti hari-hari biasanya, "tidak ada kok, " jawab Natan seadanya, "Kalau cewek yang Lo suka ada tidak?" tanya Nindy, "Ada sih, " jawab Natan ragu, "memang siapa, " tanya Nindy yang berharap bahwa yang di sukai Natan adalah dirinya, "Nanti pasti Lo kenal, " ucap Natan, namun justru kata yang diucapkan oleh Natan tersebut membuat hati Nindy begitu kecewa, Nindy mengartikan kata yang di ucapkan Natan bahwa Natan memiliki wanita yang dia sukai, namun yang membuat hatinya sakit adalah dia beranggapan bahwa bukan dialah orang yang Natan cintai, "Kalau Lo sendiri udah punya cowok belum, " tanya Natan, "Belum, " jawab Nindy singkat, "Kalau cowok yang Lo sukai ada tidak?" tanya Natan, "Enggak ada, " jawab Nindy berbohong karena hatinya sudah telanjur sakit ketika mengetahui bahwa cintanya beredar sebelah tangan, setelah obrolan tersebut, Natan juga mulai beranggapan bahwa Nindy memang tidak menyukainya, kedekatan mereka dan momen yang mereka jalani selama ini hanyalah sebatas hubungan teman biasa. Setelah percakapan tadi, maka antar Natan dan Nindy tidak terjadi percakapan antara keduanya hingga beberapa menit."Eh Nat, gue balik dahulu ya, " ucap Nindy dengan ekspresi dan nada bicaranya yang datar tidak seperti biasanya, mungkin karena saat ini hatinya sedang terluka, "Eh iya hati-hati lo, " ucap Natan yang sebenarnya ingin menyatakan perasaannya kepada Nindy, namun setelah mengetahui bahwa Nindy tidak mempunyai perasaan kepada siapa-siapa termasuk dirinya, Natan pun mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan rasa tersebut kepada Nindy, kemudian Nindy segera pergi meninggalkan Natan tanpa menoleh kepadanya tidak seperti biasanya, ditambah dengan matanya yang sudah berkaca-kaca ingin mencurahkan segala kesedihannya, namun hal tersebut tidak diperhatikan oleh Natan, karena Natan sendiri sedang fokus menatap kembali hatinya yang mana rencana hatinya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi, akhirnya Nindy segera mengendarai motornya menuju ke rumahnya, sementara itu Natan juga berlalu menuju rumahnya.
__ADS_1
Sementara itu Nindy yang tiba di rumahnya langsung masuk dan menuju ke kamarnya tanpa memperhatikan sekitarnya, yang mana dia melewati mamanya yang sedang berada di ruang tamu dan melihat Nindy yang masuk dengan wajah murungnya, Nindy yang sudah di dalam kamar, langsung tengkurap di atas ranjangnya tanpa mengganti pakaian sekolahnya, tanpa terasa butiran air mulai membanjiri permukaan pipinya, seiring dengan hatinya yang makin terasa sangat sulit untuk menerima kenyataannya, "Ko bisa se sakit ini ya, " ucap Nindy yang mana air matanya makin deras membasahi pipinya, dan cukup lama Nindy menangis sampai terdengar ketukan pintu kamarnya, "Sayang buka dong pintunya ada yang mau mama omongin, " ucap Sintia dari luar kamar putrinya, sementara itu Nindy yang sedang berada di dalam segera menyeka air matanya dan kemudian membuka pintu kamarnya, akan tetapi keadaannya tidak dapat menutupi rasa sakit yang dia rasakan, "Kamu mengapa sayang? , kalau ada masalah cerita sama mama, " ucap Sintia sambil memeluk putri kesayangannya tersebut, seketika emosi yang Nindy tahan-tahan tadi segera keluar, Nindy pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ibunya, sementara Sintia terus memeluk putri tersebut sampai tangis Nindy mulai mereda, "memang ada masalah apa sayang, kok sampai nangis segala, " tanya Sintia kepada putrinya, sementara Nindy yang tidak sanggup menahan rasa sedih ini hendak akan menceritakan kisahnya kepada mamanya tersebut, "MA, memang kalau jatuh cinta memang sesakit ini ya?" tanya Nindy yang memang bersikap terbuka kepada mamanya, "lah ini kok jatuh cinta malah sakit? , setau mama jatuh cinta itu indah, " jawab Sintia, "Iya, Nindy tahu kok jatuh cinta itu indah, tetapi ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita kok rasanya sakit bangat ya MA" ucap Nindy kepada mamanya, "memang sih, jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintai kita itu rasanya sakit si, tetapi kita yang harus menyembuhkannya sendiri, jangan membenci orang tersebut karena dia tidak mencintai kita, itu justru akan menambah beban di hati kita, sebaiknya kita ikhlaskan saja, mungkin memang itu bukan jodohnya kita ka, " jelas Sintia kepada Nindy, "Memang sih MA seperti itu akan lebih mudah, tetapi mengikhlaskan dan membiarkan orang yang kita cintai mencintai orang lain adalah permasalahan yang sangat sulit MA, " jawab Nindy yang mengadu kepada mamanya yang tetap setia mendengarkan curhatannya, "Iya memang sulit sih, tetapi seimbang dengan kebahagiaan yang di tawarkan jika kita dapat melaksanakannya, memang tidak semua yang kita inginkan dapat kita miliki, kadang yang lain hanya sebagai ujian dan cobaan yang di berikan kepada kita untuk dapat bertahan dengan kehidupan ini, lagian jika kita dan dia berjodoh sejauh apa dia akan melangkah tetap pada akhirnya akan kembali kepada kita, " terang Sintia kepada putrinya yang sedang sedih tersebut, "Entar kalau tidak jodoh ya tidak kembali ke kita ya MA?" tanya Nindy, "Ya kalau tidak jodoh ya ikhlasin, mau marang tidak bolehkan, mau nyalahin yang kita cintai justru membuat hati kita makin sakit, mau nyalahin tuhan apalagi, mungkin saja skenario yang Tuhan buat adalah skenario terindah dalam mempertemukan kita dengan jodoh kita, " terang Sintia kepada putrinya yang hanya di tanggapi anggukan oleh Nindy, "memang anaknya mama lagi patah hati nih?" tanya sintia kepada putrinya tersebut dengan Nada menggoda, "Coba cerita sama mama ada masalah apa, kali saja mama bisa bantu begitu, " ucap Nindy kepada putrinya tersebut, "Nindy lagi suka sama teman Nindy yang satu kelas, kita udah dekat sejak beberapa bulan ini MA, terus tadi Nindy tanya kalau dia udah ada atau belum perempuan yang dia sukai, katanya dia ada dan pasti Nindy akan tahu ko, jadi cowok yang Nindy sukai itu sudah mencintai perempuan lain selain Nindy, " ucap Nindy yang menceritakan sumber kesedihan yang dialaminya saat ini, "Kan bisa saja yang dia sukai itu kan kamu sayang, cuman kosa katanya saja yang berubah, " jelas Sintia kepada Nindy, "Kalau belum ada kejelasan dari yang bersangkutan jangan dahulu mengambil kesimpulan sayang supaya hati kita tidak terlalu sering terluka, " kelas Sintia kepada putrinya tersebut yang hanya di tanggapi anggukan oleh Nindy, "Udah ah, mama kembali ke kamar dahulu ya, " ucap Sintia, "iya MA, makasih atas nasehatnya, " ucap Nindy, yang di jawab dengan senyuman oleh mamanya, kemudian mamanya Nindy pergi meninggalkan kamar Nindy, sementara itu Nindy terus memikirkan apa yang dikatakan oleh mamanya tadi sebagai bahan pertimbangan.
__ADS_1