
"Bagiku mencintaimu itu tak memerlukan sebuah alasan."
__ADS_1
"Yuk berangkat, Naik mobil gue saja, " ajak Nindy kepada teman-temannya yang mana mereka sedang berada di rumahnya Nindy, "MA, Nindy pergi bersama teman-teman dahulu, " pamit Nindy kepada mamanya yang sedang menonton tv di ruang keluarga, "Iya hati-hati, sama pulangnya jangan terlalu malam, " jawab Sintia, "Oke MA, kalau begitu Nindy sama teman-teman pamit dahulu, " ucap Nindy sambil menyalami tangan mamanya yang diikuti oleh teman-temannya, dan merekapun berjalan kearah mobil Nindy di garasi, "Siapa yang nyetir nih?" tanya Nindy kepada kedua sahabatnya, "Sini biar gue saja, " jawab Nurul kepada sahabat tersebut, kemudian Nindy memberikan kunci mobilnya kepada Nurul yang kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil, Nindy duduk di depan dan Siska duduk di bangku kedua, setelah menghidupkan mesin Nurulpun memulai mengendarai mobil Nindya meninggalkan bagasi menuju sebuah mall.
__ADS_1
Film pun menampilkan adegan romantis antara pemeran laki-laki yang menyatakan cintanya kepada pemeran perempuan, "Alay, " komentar Nindy yang memang dia tidak menyukai genre film yang berbau romantisme, "Itu bukan alay, itu adalah bentuk dari Cinta, " ucap Nurul yang menanggapi komentar Nindy, "tidak sampe segitunya juga kali, " balas Nindy, "Lo nya saja yang kaga tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, " jelas Nurul yang dibuat sedramatis mungkin, "Pasti Lo akan ngerasain bagaimana menjadi bucin ketika sudah jatuh cinta, " ucap Siska yang membantu argumen dari Nurul, sementara Natan hanya bisa diam sambil menyaksikan perdebatan Nindy dan sahabat-sahabatnya, "Eh btw Lo berdua pacaran?" tanya Siska kepada Natan dan Nurul setelah selesai film, yang mana mereka datang berdua untuk nonto, "tidak, " jawab Natan Singkat, "Jadi?" tanya Siska yang belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Natan, "Gue sama Natan tetanggaan, terus gue ajak Natan saja nonton bersama gue, karena kalau nonton sendirian tidak seru, " ucap Winda memperjelas jawaban dari Natan, "ooh, jadi habis ini Lo berdua mau ke mana?" tanya Nurul yang dari tadi memperhatikan percakapan mereka, "palingan langsung pulang, soalx Natan ada kerjaan, " jawab Winda sesuai dengan kenyataan bahwa memang Natan mempunyai pekerjaan, "kami pulang dahulu ya, " pamit Winda kepada Nindy dan teman-temannya, "Iya Lo berdua hati-hati, " jawab Siska, yang kemudian Natan dan Windapun pergi meninggalkan Nindy dan teman-temannya, "Jadi bagaimana nih?" tanya Nurul kepada sahabat-sahabatnya tersebut, "bagaimana kalau kita makan dahulu, gue udah lapar, " ajak Nindy yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan sahabatnya dengan Natan dan Nindy, "iya sih, gue juga udah lapar nih, " sahut Nurul yang kemudian mereka menuju salahn satu tempat makan yang ada di mall tersebut, "Makasih mbak, " ucap Nurul kepada pelayanan yang telah mengantarkan pesanan mereka, dan kemudian mereka segera melahap makanan yang mereka pesan tadi, "Nin Lo masih marahan ya sama Natan?" tanya Siska yang sedang memakan makanannya, "Marahan bagaimana sih, gue tidak ngerti maksud lo, " jawab Nindy, "Gue liat-liat Lo sama Natan diam-diamman bagaimana begitu, " sahut Siska yang merasa bahwa Nindy dan Natan masih marahan, "Mata Lo saja kali yang salah liat, " jawab Nindy mencoba menyangkal, "tidak cuman gue yang merasa, coba Lo tanya saja Nurul, iyakan Nur?" tanya Siska kepada Nurul mencoba meyakinkan, "Iya Nin lo tu sama Natan seperti orang yang tidak saling kenal begitu, tidak saling bicara, tidak saling safa pokoknya seperti orang asing begitu, " ucap Nurul yang memang merasa antara Nindy dan Natan seperti ada permusuhan, "Ya kan sama dia tidak ada yang perlu di bahas, jadi ya tidak ngobrol, orang topik obrolannya saja tidak ada terus mau ngomongin apa, " jawab Nindy yang mana dirinya merasa antara dirinya dan Natan memang tidak ada yang perlu di bicarakan, "Ya tidak begitu juga kali konsepnya Nin, masa saling safa doang perlu topik sih, " ucap Nurul menjawab perkataan Nindy, "Lo masih marah ya sama Natan?" tanya Siska kepada Nindy, "Gue sih bukan marah sama Natan, hanya masih ke ingat kejadian yang melibatkan Natan doang pada hari itu, " jawab Nindy yang sebenarnya merasa bingung dengan perasaannya, pada satu sisi dia merasa sangat kesal dengan perlakuan Natan tetapi di sisi lain dia juga merasa kagum dengan sosok Natan yang pekerja keras, "Tinggal lupain saja apa susahnya si, " ucap Nurul kepada Nindy, "iya, tidak baik marah sama orang lama-lama, ada sebuah statment mengatakan terlalu cinta bisa jadi benci dan terlalu benci bisa jadi cinta, " tambah Siska, "Siapa yang benci sama Natan, kan tadi gue bilangnya gue hanya masih ke ingat bukan gue benci sama Natan, " jawab Nindy mengelak, "Itu sama saja, " sahut Siska yang merasa kesal dengan sahabatnya tersebut, setelah selesai makan merekapun membayarnya dan bergegas meninggalkan tempat makan tersebut menuju tempat belanja, hingga tak terasa haripun sudah makin larut dan mereka memutuskan untuk pulang setelah puas berbelanja.
__ADS_1