Rasa Dan Cinta

Rasa Dan Cinta
Pikiran dan Hati


__ADS_3

"Gue yang salah atau bagaimana ya?" gumam

__ADS_1


Nindya ketika sedang berada di dalam kamar memikirkan apa yang sahabatnya katakan tadi di sekolah, "Apa gue minta maaf saja ya, ? tetapi kan dianya juga salah tadi, masa langsung memvonis orang bersalah tanpa mengetahui kebenarannya, " ucap Nindy yang merasa bahwa dirinya tidak bersalah kepada Natan, " mengapa gue jadi mikirin tu anak, kayak gak ada kerjaan lain saja, " yang kemudian Nindy pun menidurkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya, tidak lama kemudian Nindy sudah berkelana di alam mimpi.

__ADS_1


POV Natan

__ADS_1


"Assalamualaikum", ucap Pak Haji ketika memasuki sebuah rumah yang terbilang cukup besar, "Waalaikumsalam, aba udah pulang, " sahut seorang perempuan cantik yang usianya sebaya dengan Natan sambil menyalami tangan Pak Haji, " Ini siapa bah?"tanya Fatma ketika melihat Abahnya bersama dengan seseorang yang tidak dia kenal (Fatmah merupakan anak dari Pak Haji Udin, Fatma memiliki wajah yang cantik apalagi ditambah balutan hijabnya yang membuat dia lebih istimewa, dengan akhlak dan pengetahuan Ilmu agama yang cukup dalam. Fatma sedang sekolah di salah satu pesantren yang ada di kotanya, dan sekarang sementara berlibur jadi dia sedang berada di rumah Abahnya), "Ini karyawan aba di tokoh, ayah sengaja ngajakin makan malam bersama kita, " jawab Pak Haji yang dibalas anggukan oleh sang anak, "Mari emas, masuk" tawar Fatma kepada Natan kemudian pergi ke dapur untuk membantu ibunya, Natan dan Pak Haji pun duduk di ruang tamu sambil menunggu makanannya siap, "Umi di depan ada karyawannya aba dari tokoh, kata aba mau makan malam bersama kita juga, " beritahu Fatma kepada Ibunya yang tengah memasak lauk untuk makan malam, "Kalau begitu tambahin piring satu lagi di meja makan, " perintah Aina kepada putrinya (Aina merupakan nama dari istri Pak Haji), Fatma pun mengambil piring dan alat makan lainnya di atas meja makan, setelah beberapa menit berkutat di dapur, akhirnya makan malam pun siap, "aba ayok makanannya udah siap, " ucap Fatma kepada Abahnya yang sedang bersama Natan di ruang tamu, "Ayo Nat, " ajak Pak Haji sambil berdiri dan berjalan menuju meja makan yang di ikuti oleh Natan, "Ayo duduk, " ucap Pak Haji sambil menari salah satu kursi yang ada di sampingnya, "Makasih pak, " jawab Natan sopan, mereka pun mulai mengambil makanan yang tersedia di atas meja dan mulai melahapnya, "Fatma Jadi, tujuan aba ngundang Natan kemari adalah mau aba kasih kenal sama kamu, " ujar Pak Haji kepada Fatma yang ada di depannya bersama dengan ibunya, seketika Fatma pun tersedak karena kaget dengan apa yang diucapkan oleh Abahnya, "Maksudnya kenalin bagaimana bah?"tanya Fatma yang masih tidak mengerti dengan maksud yang disampaikan oleh Abahnya, "tidak ada maksud apa-apa, siapa tahu saja kalian dapat bertema, " jawab Pak Haji atas pertanyaan yang disampaikan oleh anaknya, seketika semua pun terdiam tidak ada percakapan yang terjadi di meja makan tersebut hingga selesai makan, "Saya pamit dahulu Pak Haji, makasih banyak atas makanannya, " pamit Natan yang hendak akan pulang karena malam sudah mulai larut, "Iya hati-hati ya, sahut Pak Haji yang hanya dibalas anggukan oleh Natan yang kemudian berlalu meninggalkan rumah Pak Haji." Kok aba tiba-tiba ngundang Natan pake acara mau kenalin ke anak kita lagi, "tanya Aina ketika Natan sudah meninggalkan rumah mereka dan Fatma sudah masuk ke dalam kamarnya, "Sebenarnya aba berharap punya menantu seperti Natan!"jawab Pak Haji atas pertanyaan sang istri, " Jadi cerita aba mau jodohkan Natan sama anak kita?" tanya Aina memperjelas, "Iya, tetapi aba tidak mau memaksa Fatma, kalau dianya mau ya Alhamdulillah, kalau dianya tidak mau aba tidak mau maksain keputusan, lagian juga masih jauh, umur Fatma sekarang saja belum genap 17 tahun kan?" tanya Pak Haji kepada Istrinya, "Iya bah, aku juga setuju dengan rencana aba, cuman jangan memaksa Fatma ya, kasihan Fatmanya, "ucap Aina mengingatkan suaminya yang dibalas dengan anggukan oleh suaminya, dan kemudian mereka berduapun berjalan menuju kamar mereka untuk bersiap-siap tidur. Sementara itu, Natan yang tengah bersiap tidur setelah menyelesaikan tugas sekolahnya dia terus kepikiran dengan perilaku Nindy tadi siang, "mengapa gue jadi mikirin tu orang kaya sombong, mending gue tidur saja sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur dan kemudian memejamkan matanya, tidak butuh waktu lama iapun sudah berkelana di dunia mimpi karena kelelahan seharian bekerja.

__ADS_1


"Lo pada masih penasaran tidak sama kegiatan Natan pada jam istirahat, " ucap Sintia setengah berbisik kepada kedua sahabatnya sambil melirik ke arah Natan yang sedang asyik dengan bukunya, "bagaimana kalau kita ikutin dia pas jam istirahat?" sambung Sintia, "Gue sih yes, " jawab Nurul, "Lo bagaimana Nin?" tanya Sintia, "Gue sih tidak, gabut bangat gue mikirin tuh anak, " jawab Nindy yang masih kesal dengan sikap Natan, "Lo tidak setia kawan Nin, masa teman kayak begini, " paksa Sintia yang mana Nurul pun ikut-ikut memaksa Nindy, "oklah, kalau begitu tidak usah nanya kalau malah maksa begini, " sahut Nindy sambil menghempaskan napas pasrah, tak lama kemudian guru mata pelajaran pun masuk dan seluruh siswa mengikuti pembelajaran tanpa menggeluarkan sepatah katapun, hingga bel istirahat pun berbunyi dan guru pun meninggalkan kelas beserta murid-murid lainnya yang keluar kelas, tinggal beberapa orang murid di dalam kelas, termasuk Natan beserta Nindy dan sahabatnya, dan tak lama kemudian Natan pun mulai melangkahkan kakinya keluar kelas, "Itu target kita sudah bergerak, " ucap Nurul kepada kedua sahabatnya, kemudian merekapun mengikuti langkah kaki Natan hingga mereka berada di kantin, namun mengikuti jalur belakang kantin

__ADS_1


__ADS_2