
"Ethan apa boleh kami menjenguk ayahnya Maura." ucap mamah Olivia.
"gimana yah mah, lebih baik mamah menjenguknya besok aja, takut menganggu ayah mertua yang masih memulihkan kondisinya."
"baiklah, lalu apa kamu sudah makan." ucap Mama Olivia.
"aku sudah makan mah begitu juga dengan istriku."
"Sekarang kamu kasih ponsel kamu ke menantu mamah, mamah ingin bicara dengannya."
Ethan kemudian menyerahkan ponselnya pada Maura.
"Halo mah?" ucap Maura.
"Halo sayang, bagaimana keadaan ayah kamu." ucapnya.
"ayahku baik-baik saja mah, dia sudah berhasil melakukan operasinya."
"kamu baik-baik saja kan."
"aku baik-baik saja mah."
"mamah khawatir kamu sedih, jadi mamah langsung meminta Ethan untuk memberikan ponselnya ke kamu."
"aku baik-baik saja mah terimakasih telah mengkhawatirkan aku."
"mamah besok akan datang ke rumah sakit lalu bagaimana dengan kalian apa kalian tidak akan pulang."
"aku dan suamiku akan berada disini menjaga ayah."
"baiklah, nanti aku suruh supir untuk membawa baju ganti untuk kalian."
"Terimakasih mah." ucap Maura lalu mereka berdua menutup telfonnya. Maura lalu memberikan ponselnya kembali ke Ethan.
__ADS_1
"apa kamu merasa senang, kamu bisa bertemu ayahmu kembali?"
"aku sangat senang huby akhirnya aku bisa bertemu dengan ayahku lagi walaupun ada rasa kecewa di hatiku tapi tidak menutup hatiku bahwa aku sangat merindukan sosok seorang ayah."
"aku bisa lihat dari wajahnya bahwa dia telah mengusir kamu dari rumah, aku yakin dia pasti benar-benar sangat menyesal." ucap Ethan sambil mengusap rambut istrinya yang sangat lembut.
Maura kemudian memeluk suaminya dia membenamkan wajahnya di dada suaminya lalu tak terasa dia meneteskan air matanya.
"huby kamu tahu saat ayah melakukan operasi tadi aku takut, aku takut operasinya gagal tapi aku terus berdoa agar ayah bisa berhasil dalam melakukan operasi jantungnya." ucap Maura sambil terisak.
Ethan menggenggam tangan Maura dengan penuh kelembutan. Matanya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam, tetapi ia berusaha memberikan dukungan sepenuh hati.
"Sayangku, aku mengerti betapa takutnya kamu. Operasi jantung memang memiliki risiko, tetapi kita harus tetap berharap dan berdoa agar semuanya berjalan lancar," ucap Ethan dengan suara lembut, mencoba menenangkan hati Maura yang sedang hancur.
Maura menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya yang meledak-ledak. "Aku menyayangi ayah, Ethan. Setelah semua yang telah terjadi, aku tidak ingin kehilangannya lagi. Dia adalah ayahku, meskipun perasaanku bertentangan saat ini, tetapi di lubuk hatiku, aku tetap menyayanginya."
Ethan mengusap lembut pipi Maura yang basah oleh air mata. "Aku tahu, Sayang. Rasa sayangmu terhadap ayahmu adalah hal yang alami. Kita semua butuh waktu untuk menyembuhkan luka, dan penting bagi kita untuk mendukung satu sama lain." ucap Ethan sambil memeluk istrinya.
"aku lebih bahagia bisa menjadi suami kamu, Sayang." ucap Ethan sambil mempererat pelukannya.
Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba datang seorang pria paruh baya menghampiri Ethan dan Maura.
"Tuan muda, Nona muda, maaf saya datang terlambat." ucap Supir pribadi keluarga Cristhoper yang baru saja datang ke rumah sakit.
"tidak terlambat paman, bagaimana dengan baju gantinya apa paman membawanya?" tanya Ethan.
"Tuan muda saya sudah membawa bajunya dan ini ada makanan dari mamah katanya buat Nona Maura."
"Baik, Terimakasih Paman." ucap Maura dan Ethan.
"kalau begitu paman pamit undur diri, Tuan Ethan." ucap Paman John supir pribadi keluarga.
"Terimakasih Paman John." ucap Ethan.
__ADS_1
Hari sudah semakin malam mereka sudah mandi dan berganti pakaian selama di rumah sakit Ethan terus memejamkan matanya sementara itu Ethan menyuruh Maura untuk tidur, biarkan saja dirinya yang menjaga ayah mertuanya.
Ethan membantu Maura merapikan tempat tidur di rumah sakit dan menyediakan segala kebutuhannya. Dia memberikan ciuman lembut di dahi Maura dan mengatakan, "Istirahatlah dengan tenang, Sayang. Aku di sini untuk menjaga ayahmu."
Maura tersenyum lembut, merasakan kehangatan dalam kata-kata Ethan. "Terima kasih, Sayang. Aku tahu ayahku akan baik-baik saja jika kamu yang menjaganya. Tolong beritahu aku jika ada yang aku bisa lakukan."
Ethan mengangguk, menenangkan Maura. "Aku akan menjaga ayahmu dengan baik. Kalian berdua adalah orang-orang yang paling berarti dalam hidupku, dan aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padanya."
Maura menatap Ethan dengan penuh cinta yang dalam. Dia tahu betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti Ethan yang begitu peduli dan setia. Setelah memberikan senyuman hangat, Maura merangkulkan tubuhnya di atas tempat tidur rumah sakit, memejamkan matanya dengan perasaan tenteram.
Sementara itu, Ethan terus memejamkan matanya sambil menjaga ayah mertuanya yang masih lemah akibat operasi jantungnya. Dia memperhatikan nafas ayah Maura yang tenang dan teratur, merasa lega bahwa operasi telah berhasil.
Dalam keheningan malam, Ethan mengawasi ayah Maura yang sedang tidur dengan tenang. Dia merenung tentang arti keluarga, tentang bagaimana cinta dan dukungan dapat menyatukan orang-orang dan memberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan hidup.
Waktu berlalu, dan malam berubah menjadi pagi yang cerah. Maura bangun dengan hati yang penuh kasih sayang dan rasa syukur. Dia melihat Ethan yang masih duduk di samping ayahnya, wajahnya penuh perhatian.
Maura menghampiri mereka berdua dengan langkah lembut. Dia memberikan ciuman lembut di pipi Ethan dan merangkul ayahnya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah menjaga ayahku semalaman."
Ethan tersenyum dan mencium kening Maura. "Aku akan selalu ada di sampingmu, Sayang. Ayahmu akan pulih dengan baik, aku sangat yakin sekali.
"Sayang, jika kamu lelah lebih baik kamu tidur saja giliran aku yang menjaga ayah." ucap Maura.
Maura melihat wajah lelah Ethan, yang begitu bersemangat menjaga ayahnya semalaman. Dia ingin memberikan istirahat yang layak bagi suaminya yang penuh perhatian. Dengan penuh cinta, dia mengusap lembut lengan Ethan.
"Kamu juga perlu beristirahat, Sayang. Aku akan menjaga ayahku sekarang. Kamu bisa tidur sebentar dan aku akan membangunkanmu jika ada yang perlu," kata Maura dengan penuh kelembutan.
Ethan menatap Maura dengan penuh perhatian. Dia merasakan cinta dan perhatian yang meluap dari istrinya. "Terima kasih, Sayang. Aku sangat menghargai perhatianmu. Aku akan tidur sebentar, tapi jangan ragu untuk membangunkanku jika ada apa pun."
Maura mengangguk, memberikan senyuman lembut. Dia membantu Ethan berbaring di tempat tidur rumah sakit yang tersedia, menutup matanya dengan lembut. Setelah meyakinkan bahwa Ethan nyaman, Maura bergerak mendekati tempat ayahnya.
lalu Maura kemudian masuk ke dalam ruangan ayahnya dia melihat ayahnya masih tertidur dengan sangat pulas. Maura kemudian mendekati ayahnya dan mengelus lembut wajah ayahnya.
"Semoga ayah bisa cepat pulih dan kita bisa berkumpul lagi." ucap Maura.
__ADS_1