
Aku pun memberanikan diri untuk bercerita. Dimas mendengarkan dengan serius. Sesekali wajahnya terlihat kesal saat aku menceritakan hal yang dilakukan Mas Roby hingga Dela bisa seperti ini.
"Lin, bahkan induk hewan pun nggak akan tega melukai anaknya sendiri. Keterlaluan Roby!" ucapnya sambil mengepal kedua tangannya.
"Ini salahku, Mas. Harusnya dulu aku nggak terbujuk rayuan dia. Harusnya aku dengar nasihat orang tuaku."
"Masih ada waktu untuk memutuskan sekarang, Lin." Dimas menatapku dengan serius.
"Maksud kamu bercerai? Aku nggak bisa membiarkan anakku hidup di jalanan, Mas."
"Lin, aku akan menolong kamu. Aku akan mencarikan kamu tempat tinggal. Lebih baik kamu bercerai daripada mengorbankan anak-anak mu seperti ini. Mungkin jika dia nggak peduli sama kamu, aku bisa tahan. Tapi ini anaknya sendiri, Lin. Darah dagingnya sendiri. Dia nggak pantas disebut sebagai ayah."
__ADS_1
Aku terdiam. Yang dikatakan Dimas memang benar. Sekarang saja Mas Roby tega menyakiti Dela. Bagaimanakah kalau suatu saat dia malah membunuh Dela? Tidak, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Kenapa kamu sangat peduli sama aku, Mas."
"Aku juga manusia, Lin. Aku juga makhluk sosial yang punya hati. Mana mungkin aku tega melihat anak-anak sekecil mereka mendapat kekerasan fisik dan mental. Roby ayah mereka, namun dia nggak menyayangi anak-anaknya. Mana bisa kamu hidup seperti itu, Lin. Aku janji, aku akan membantu semua proses perceraian kamu. Aku akan meminta rekaman CCTV di cafe tadi agar itu menjadi bukti supaya kamu dengan mudah bercerai dengan dia."
"Tapi aku nggak bisa menjadi beban kamu selamanya, Mas."
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Dimas ingin melamar ku?
"Mas, kamu jangan bercanda."
__ADS_1
"Aku serius, Lin. Maafin aku. Sebenarnya sudah sejak kuliah aku suka sama kamu. Tetapi karena aku pikir Roby bisa membahagiakan kamu, makanya aku merelakan kamu bersama dia."
"Tapi aku nggak pantas buat kamu, Mas. Aku ibu dengan dua anak. Aku akan jadi beban untukmu."
"Aku mencintai kamu dan menerima anak-anak kamu. Mereka harus mendapatkan kasih sayang utuh dari orang tuanya. Jika Roby nggak mau, maka izinkan aku memberikan cinta kasih seorang ayah pada mereka. Aku mohon Lin, demi anak-anak. Maafin aku, karena seperti seorang yang memanfaatkan keadaan kamu. Tapi memang Inilah yang terbaik untuk kamu dan anak-anak." Dimas menatapku dengan serius.
"Aku akan bercerai dengan Mas Roby. Tapi soal tawaran kamu,,,,,,maaf, Mas. Aku belum bisa memutuskan. Rasanya nggak pantas jika seorang istri yang masih bersuami membicarakan hal itu." Aku merasa tak pantas bagi Dimas. Melihat diriku sendiri saja aku merasa malu.
"Aku mengerti, Lin. Aku akan selalu membantu kamu. Jangan sungkan meminta bantuan ku, ya. Sekarang aku mau bayar admistrasi dulu. Kamu tunggu disini." Dimas pergi keluar meninggalkan aku dan Dion.
Aku tidak menyangka, ternyata Dimas memendam perasaan padaku selama ini? Ya Allah, apa yang terjadi. Disaat aku putus asa seperti tadi, kedatangan Dimas seperti malaikat penolong yang Engkau kirimkan untukku. Dimas, aku akan mempertimbangkan tawaramu. Terima kasih, telah memberi seberkas cahaya di kehidupan ku. Kamu membuat aku bisa memutuskan jalan yang terbaik untuk pernikahan ku yang sangat menyiksa ini.
__ADS_1