
Linda mondar-mandir kesana kemari karena sudah malam tetapi Dimas belum pulang. Ia sudah menelepon beberapa kali namun tak juga tersambung.
Sementara itu, beberapa orang polisi sedang mengecek tempat kejadian kecelakaan Dimas. Terlihat polisi sedang berbicara dengan beberapa orang yang tinggal di sekitar tempat itu. Mereka memberikan keterangan kalau mendengar suara tabrakan yang sangat kuat. Saat mereka berlari keluar, hanya sebuah mobil yang tampak sudah hancur dan terguling.
Di sisi lain, Roby tersenyum puas karena berhasil mencelakai Dimas. "Ini adalah teguran pertama untuk kamu, Mas. Jika kamu masih hidup pun aku akan dengan sangat mudah membunuhmu. Karena kecelakaan itu begitu hebat. Nggak mungkin kamu bisa bertahan di dalam mobil itu." Tersenyum licik.
Roby masih ingat saat Dimas baru saja pulang dari rumahnya. Ia langsung menelepon orang suruhannya untuk menabrak Dimas dengan truk besar.
"Kamu apain Dimas?" tanya Yulia dengan tatapan Dimas.
"Aku mencelakainya. Mau apa kamu? Mau lapor polisi? Silakan. Dan setelah itu kamu akan melihat video pel*curan kamu selama ini tersebar di sosial media," ancam Roby dengan sorot mata tajam.
"Jahat kamu, Mas. Aku nyesel pernah kenal sama kamu!" Yulia pergi ke kamarnya.
"Jangan lupa sebentar lagi kamu ada tamu. Layani dengan baik ya, sayaaaang," teriak Roby.
Yulia terus berjalan tanpa mengindahkan perkataan Roby. Ia mengumpat dalam hati. Menyumpahi Roby dengan puluhan sumpah serapah.
Roby pergi ke ruang tamu sambil memainkan ponselnya sembari menunggu pelanggan datang. Ia berselancar di media sosial untuk mencari berita soal kecelakaan Dimas. Barangkali ada yang membuat video siaran langsung di salah satu sosial media berlogo F dan berwarna biru. Namun, setelah lama berselancar, ia tak kunjung menemukan berita soal Dimas.
"Ah, mungkin saja memang belum ada yang mempostingnya," gumam Roby.
__ADS_1
Roby merasakan tubuhnya mulai lelah. "Kenapa ya akhir-akhir ini aku sering cepat kelelahan. Aku juga sering demam. Ah mungkin saja karena keseringan bergadang."
Roby meletakkan punggung tangannya di kening guna merasakan suhu tubuhnya yang memang sejak beberapa hari ini panas namun ia enggak memeriksakan kesehatannya karena menurutnya itu boros uang.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu. Roby pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu guna membukakan pintu untuk tamunya yang ia yakin adalah pelanggan Yulia.
"Halo, selamat malam. Silakan masuk." Begitulah Roby mempersilakan tamunya itu masuk.
"Baiklah, dimana wanitanya?" tanya sang tamu saat mereka sudah dudukĀ di ruang tamu.
"Sebentar, saya panggilkan dulu." Roby pun berjalan menuju kamar Yulia untuk memanggilnya.
Tanpa menjawab, Yulia pun turun dengan perlahan. Saat ia menuruni anak tangga, tamunya langsung terpesona melihat kecantikannya.
"Wah, cantik sekali. Pantas saja tarifnya mahal." Sang tamu berdecak kagum.
"Ya begitulah, Pak. Ada rupa ada harga," sahut Roby dengan senyum yang melebar hingga membuat Yulia dan author merasa eneg dan ingin muntah.
"Jadi, berapa jam Bapak membawanya? Kalau tarif kencan dikenai biaya tambahan perjamnya," ujar Roby.
__ADS_1
"Hanya dua jam. Kami akan berjalan-jalan dulu sebentar agar membangkitkan hasrat bercinta saya." Tamu itu tersenyum pada Yulia dan dibalas dengan senyuman paksaan dari Yulia.
"Baiklah, saya minta uang dimuka seratus persen, ya, Pak," ujar Roby.
Tamu tersebut langsung mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan sesuatu lalu menunjukkannya pada Roby. "Ini, sudah saya kirim. Sekarang saya bisa bawa di pergi, 'kan?" tanya sang tamu.
Roby mengangguk sembari tersenyum puas. Setelah mereka berdua pergi, Roby memilih Ke kamar untuk istirahat.
Namun, baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Roby segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Tadinya ia berpikir bahwa yang datang adalah sang tamu dan Yulia. Namun ternyata yang datang adalah dua orang berbadan tegap.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Roby dengan heran.
"Anda saudara Roby?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar." Roby mengangguk.
"Saudara Roby, Anda kami tahan terkait rencana pembunuhan kepada saudara Dimas." Polisi menunjukkan surat izin penangkapan untuk Roby.
"Apa? Saya nggak melakukan apa-apa. Mana buktinya?"
"Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi dan jelaskan di sana."
__ADS_1
Kedua polisi itu pun membawa Roby dengan paksa. Roby ingin berontak namun tubuhnya amat sangat lelah dan panas tubuhnya semakin tinggi saja.