Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 23 - Pertengkaran hebat


__ADS_3

"Tenang banget kamu bicara. Siapa yang udah memengaruhi kamu?"


"Sejak kejadian tadi siang, saat kamu melukai Dela dan nggak peduli padanya, saat itulah aku sadar kalau kamu bukan ayah yang baik untuknya. Nggak ada ayah yang tega menyakiti anaknya sendiri kecuali ayah yang tidak menyayangi keluarganya." Linda berterus terang.


"Ya udah, kamu kemasi pakaian kamu dan pergi dari sini!"


"Tapi ingat, Mas. Kedua anakmu masih tanggung jawabmu. Kamu harus menafkahi mereka."


"Enak aja. Mereka itu urusan kamu! Aku nggak sudih ngasih para beban hidup itu uang!"


Mendengar ucapan Roby, tangan Linda mengepal erat. "Beban kamu bilang? Kalau nggak mau punya beban, jangan tiduri aku! Jangan hamili aku! Kamu tau! Menikah dengan kamu membuat hidupku hancur. Aku yang dulu primadona kampus, menjadi Upik abu karena kamu! Suami nggak bertanggung jawab! Laki-laki nggak berguna kamu! Kamu yang menjadi beban hidupku!" Linda mendorong tubuh Roby hingga mundur ke belakang.


Akhirnya, setelah sekian lama, Linda berhasil mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Berengsek! Berani banget kamu dorong aku, perempuan sialan!" Roby melayangkan sebuah tamparan di pipi Linda hingga membuat bibirnya berdarah.


"Roby! Apa-apaan kamu! Kenapa kamu tampar Linda!" Ririn yang baru saja datang terkejut melihat apa yang dilakukan Roby.

__ADS_1


"Dia bukan istriku lagi, Mbak. Dia sudah aku ceraikan!"


"Apa? Kenapa kamu ceraikan? Terus yang beresin rumah siapa? Yang masak siapa? Yang jaga anak aku siapa?"


"Itu bukan urusanku! Dengar ya, Mbak. Malam ini juga aku angkat kaki dari rumah ini. Aku akan tinggal dengan pacarku sampai aku resmi bercerai. Jadi, Mbak urus keluarga Mbak sendiri. Kalau mau makan, suruh Mas Galuh kerja! Jangan taunya di kamar aja!"


"Apa? Rob, jangan gitu dong. Nanti kami makan apa?"


"Itu bukan urusanku! Kalau Mas Galuh mau kerja, aku akan menghubungi kalian setelah aku naik jabatan jadi manager!"


"Ya, setelah aku menikah dengan Yulia, aku akan menjadi manager dan posisiku bisa ditempati Mas Galuh. Tapi kalau dia nggak mau, maka berpuasalah!"


"Iya, Rob. Mbak akan paksa Mas Galuh buat kerja. Tapi kamu tinggalin Mbak uang dong. Mbak nggak punya pegangan lagi."


Roby mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang sejumlah dua juta pada Ririn.


"Sisa uangnya Mbak minta sama perempuan sialan ini. Dia yang pegang sisa uang aku."

__ADS_1


Linda mengeluarkan dompetnya dan memberikan pada Ririn. "Aku juga nggak sudih megang uang kamu!"


"Sekarang kamu bisa tenang. Lihat nanti setelah aku jadi manager sedangkan kamu dan anak-anak kamu menggelandang di jalanan seperti anjing liar."


Tanpa menjawab, Linda pergi ke kamar. Membereskan semua pakaiannya juga anak-anaknya.


"Ibu, kita mau kemana?" tanya Dion dengan air mata yang sudah membasahi pipinya karena ia mendengar keributan tadi.


"Kita pergi dari sini, Nak. Kamu mau 'kan ikut ibu." Linda menatap Dion dengan mata berkaca-kaca.


Dion mengangguk mengerti. Ia turut membantu ibunya menata baju ke dalam tas.


Setelah selesai, Linda menggendong Dela yang masih tidur. Menuntun Dion sambil membawa tas minggat miliknya.


"Ingat ya, perempuan sialan! Kamu akan menderita setelah meninggalkan aku." Sebuah ucapan yang sepertinya bermakna ketidakrelaan ditinggalkan.


"Aku mengerti, Mas. Sampai jumpa di pengadilan." Linda pun pergi keluar. Ia menyusuri jalanan yang mulai gelap menuju halte.

__ADS_1


__ADS_2