Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 38 - Menderita


__ADS_3

"Aaaaaaaa sakiiiit! Lepaskan!!!" Yulia meronta-ronta saat dua orang berbadan kekar asyik menunggangi tubuhnya secara bergantian. Mereka melakukannya dengan sangat kasar dan dengan kekerasan fisik.


Setengah jam setelah itu, kedua orang yang merupakan preman tersebut keluar. Mereka telah ditunggu oleh Roby tepat di depan pintu kamar itu.


"Barang Lo bagus, lain kali kita booking." Salah satu pria menyerahkan sebuah amplop berisi uang jutaan rupiah kepada Roby. Roby tersenyum senang menerimanya. Ia langsung mencium amlop itu dan meninggalkan tempat itu tanpa melihat keadaan Yulia terlebih dahulu. Ia pergi menemui salah seorang wanita dan mengajaknya bercinta.


Yulia berusaha bangkit dari ranjang. Ia berdiri menatap cermin besar di kamar itu. Memperhatikan tubuhnya yang terdapat banyak luka memar. Bibirnya juga berdarah karena tamparan keras dari kedua pria tadi. Ia memungut pakaiannya lalu kembali memakainya.


Ia melangkah meninggalkan kamar itu dengan langkah pelan dan kaki yang masih gemetaran.


"Kapan aku akan terbebas dari penderitaan ini. Baru dua bulan aku kehilangan anakku, sekarang aku harus menjadi tambang emas Mas Roby dengan menjual tubuhku. Apa sebegitu besar karma yang harus aku terima karena keserakahan ku dulu?" Yulia terus berbicara sendiri sambil menitihkan air mata.


"Setiap aku mencoba untuk kabur, Mas Roby selalu menemukanku. Bahkan polisi pun bisa tutup mulut karena uang yang ia berikan. Kenapa aku harus mengalami semua ini?" Yulia berhenti di sebuah bangku di lokasi yang merupakan club' malam. Ia memesan segelas anggur lalu meminumnya.

__ADS_1


"Kau tau, bartender. Suamiku sendiri menjualku. Dia nggak mau kerja dan hanya mengandalkan tubuhku. Jika dihitung, aku sudah melayani puluhan pria yang berbeda. Bahkan hari ini, aku sudah melayani enam pria." Yulia menatap seorang bartender yang merupakan seorang pria. Pria itu selalu menjadi tempat Yulia menumpahkan keluh kesahnya.


Bukan tanpa alasan, bartender itu adalah seorang tunawicara. Ia tak bisa berbicara dan hanya mendengar saja. Yulia senang berbagi kisah dengannya karena ia tak perlu mendengar jawaban sabar, hanya senyuman tulus dari seorang pria bisu bernama Diki.


"Kamu masih ingat, aku pernah bilang bahwa aku pernah merebut suamiku dari istri sahnya. Sekarang aku menyesal karena telah merebut orang sejahat dia. Sekarang, mantan istri suamiku sudah bahagia menjadi nyonya besar bersama pria yang tepat. Malah nasibku yang seperti ini. Sudah kehilangan harta, anak, dan sekarang aku malah kehilangan harga diri." Yulia meletakkan anggur yang hanya bersisa sedikit.


"Berikan lagi!" pintanya.


"Heh! Siapa kamu yang mengatur hidupku. Untuk apa aku memperdulikan kesehatanku. Aku melakukannya agar aku cepat mati!" Yulia memegang kerah baju Diki dan mendorongnya dengan kasar.


Diki hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ngapain kamu disini! Ayo pulang! Udah nggak ada tamu lagi. Kamu harus tidur cepat malam ini karena besok ada tamu seorang bos perusahaan besar." Roby menarik tangan Yulia dengan kasar. Yulia yang sudah setengah mabuk, berjalan dengan sempoyongan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Roby langsung mengantar Yulia ke dalam kamarnya. Membaringkannya ke ranjang.


"Aku menyesal!" Yulia berteriak sambil menunjuk langit-langit kamar itu.


"Menyesal? Ngapain kamu menyesal? Kan kamu sendiri yang cinta mati sama aku." Roby meliriknya dengan sinis.


"Bukan itu, aku nggak menyesal menikah dengan kamu. Tapi aku menyesal kenapa dari dulu aku nggak membunuh kamu aja, ya. Orang kayak kamu pantasnya mati dan dikubur di dalam tanah. Ah nggak, mungkin bumi pun menolak orang sejahat kamu dikubur." Yulia masih berbaring di ranjang namun tangannya tak lagi menunjuk langit-langit.


"Kalau aja klienku nggak ingin tubuh kamu yang tanpa cacat, pasti udah aku jahit bibir kamu. Aku patahkan kakimu!"


"Jelas nggak bisa dong. Nanti kamu nggak punya uang dan jadi gembel!"


"Diam kamu! Dasar pel*cur!" Roby meninggalkan kamar itu dan pergi ke kamarnya. Sejak menjual Yulia, ia tidak pernah mau tidur apalagi bercinta dengan Yulia. Katanya jijik, takut tertular penyakit berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2