Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 32 - Resmi Menikah


__ADS_3

Waktu yang telah dinanti pun tiba. Dimas dan Linda akhirnya resmi menikah. Tampak wajah-wajah bahagia menghiasi acara sakral tersebut.


Tak terkecuali keluarga dari ayah Linda yang datang untuk menjadi wali nikah sekaligus tamu mereka.


"Lin, kamu 'kan dapat orang kaya. Kasih dong bibi dan paman kamu yang datang jauh-jauh kesini," ucap Bi Marni yang merupakan istri dari paman Linda.


"Bukannya paman dan bibi udah dapat harta warisan yang sempat jadi sengketa?" sindir Linda.


"Ya namanya juga dibagi-bagi, ya habislah."


"Maaf, Bi. Linda nggak bisa kasih uang ke Bibi. Apalagi setelah apa yang Bibi lakukan sama aku setelah orang tua aku meninggal. Apa Bibi masih ingat? Bibi ngusir aku dari rumah orang tuaku sendiri tepat setelah tiga hari meninggalnya mereka." Linda menatap Marni dengan sinis. Bayangan pengusiran itu masih membekas.


"Pergi kamu anak sialan! Rumah ini jadi milik kami karena hutang orang tua kamu sangat banyak. Jangan injakkan kakimu di rumah ini lagi!"


Kalimat-kalimat pedih itu masih membekas diingatan Linda.


"Kamu itu kok jadi pendendam 'sih, Lin. Yang lalu biarin lah berlalu ngapain diungkit lagi."

__ADS_1


"Benar kata pepatah, saudara yang miskin selalu dihina. Sedangkan saudara kaya selalu dipuji-puji."


"Ya ngapain juga bersaudara sama orang miskin. Jadinya nanti nyusahin. Mending bersaudara sama orang kaya biar kecipratan duitnya."


"Kalau Bibi udah selesai, Bibi dan Paman boleh pulang. Maaf Linda nggak bisa kasih uang. Yang kaya suami Linda, bukan Linda."


"Kamu itu sombong banget, ya Lin. Baru punya suami kaya aja belagu. Inget roda itu berputar, jangan takabur kamu."


"Iya, Linda tau. Kan Bibi udah ngalamin. Dulu kaya hasil rampas harta orang, sekarang kere kena karma." Linda bersungut-sungut.


"Dasar kamu keponakan sialan. Sia-sia kami kesini taunya malah begini. Nyesel banget kami merestui pernikahan kalian."


"Apa? Surat apa?"


"Kalian bilang hutang tapi nggak ada bukti. Jadi sekarang saatnya Linda memperkarakan kembali rumah itu. Bukan soal uang, itu rumah peninggalan nenek dan kakek yang udah dibeli ayah dan ibu dengan teganya kalian rampas dan jual gitu aja."


"Lin kamu kok jadi gini, 'sih. Bibi minta maaf, Lin tadi ngatain kamu." Marni memegang tangan Linda dan memohon.

__ADS_1


"Kalau Bibi udah selesai, segera pulang. Berdoa aja semoga aku berubah pikiran."


Dengan segera Marni mendatangi suaminya yang sedang makan dan menariknya begitu saja. Tanpa pamit, mereka pun pulang bersama piring yang masih dipegang paman Linda.


"Mereka kok buru-buru 'sih sayang?" tanya Dimas.


"Aku kerjain biar mulutnya nggak kebiasaan menghina orang."


"Kamu ini masih aja, ya. Kan aku udah bilang nggak perlu kamu perkarakan. Rumah itu udah aku beli dan akan menjadi panti asuhan sesuai keinginan kamu."


"Makasih, ya Mas. Seenggaknya rumah itu akan menjadi amal jariyah buat ayah, ibu, kakek, dan nenek."


"Ayo kita pulang. Terus siap-siap ke luar kota." Dimas mengedipkan matanya.


Linda memperhatikan tempat sudah mulai sepi. Hanya tinggal keluarga mereka saja. "Pasti aku akan kangen banget sama Dela dan Dion."


"Ngapain sedih? Mereka bakalan jalan-jalan juga kok."

__ADS_1


"Hah? Mereka ikut kita?"


__ADS_2