
"Pak, saya nggak bersalah!" Roby berteriak pada seorang polisi yang kini sedang berada di depannya.
"Lalu, apakah Anda kenal dengan orang ini?" tanya polisi sambil menunjuk seseorang yang baru saja datang.
Ia begitu terkejut melihat Joe yang merupakan orang suruhannya sudah dalam kondisi babak belur.
"Saya nggak kenal!" bantah Roby.
"Kalau begitu, apa Anda bisa menjelaskan tentang video ini?" tanya polisi sambil memperlihatkan video yang merupakan rekaman dari kamera tersembunyi.
Dalam video itu, Roby sedang menelepon Joe tepat setelah Dimas pergi. "Halo, Joe. Gue mau lo tabrak Dimas di jalanan sepi dengan truk sampai mobilnya hancur."
Roby terkejut. Ternyata kedatangan Dimas bukanlah untuk mengancamnya, melainkan untuk menaruh kamera pengintai tepat di pinggir sofa rumahnya guna membuktikan kejahatan yang dilakukannya. Isi rekaman itu juga menunjukkan pengakuan Roby saat Yulia menanyainya.
"Dimas! Awas kamu!" Roby mengepalkan kedua tangannya.
"Awas apa?" Tiba-tiba saja Dimas datang dari belakang Joe.
__ADS_1
"Dimas! Kenapa kamu baik-baik aja?" Roby terkejut saat melihat Dimas dalam kondisi tanpa luka sedikitpun.
"Kamu perlu belajar lebih banyak lagi kalau mau mencelakai ku. Kamu kira aku nggak tau pergerakan kamu? Dengar ya, supir bodoh ini sudah dilumpuhkan oleh orang suruhanku setelah dia menabrak mobilku. Dan kamu tau? Saat mobilku lewat, aku sudah turun terlebih dahulu. Aku meletakkan batu di pedal gas mobilku agar mobil itu tetap melaju seolah-olah ada orang di dalamnya. Dan dengan bodohnya orang suruhan mu ini percaya bahwa aku ada di dalam mobil itu." Dimas tersenyum penuh kemenangan.
"Berengsek kamu, Dimas!" Roby menatap tajam ke arah Dimas lalu beralih ke polisi. "Pak, Yulia juga harus ditangkap! Dia itu seorang PSK!"
Roby tak kehabisan akal. Ia menggunakan Yulia agar Dimas tidak terlalu larut dalam kemenangannya.
"Suadara Yulia. Istri yang anda jual, benarkan?" tanya polisi sambil menunjukkan kartu keluarga Roby serta rekaman video saat ia menyerahkan Yulia pada tamu tadi. Dilihat dari pengambilan video, sepertinya kamera itu berasal dari sang tamu.
"Ya, Roby. Orang yang menjadi tamumu adalah orang suruhanku. Aku menyuruhnya menjadi pelanggan mu agar bisa menjebak mu!"
Roby semakin tak berdaya. Ternyata semua ini sudah direncanakan Dimas dengan sangat matang. Ia menyesali kenapa tidak membunuh Dimas saja saat masih di rumahnya tadi.
"Sudahlah, Rob. Untuk apa menyesal? Terimalah semua ini sebagai hukuman untuk kamu. Pertama kamu sudah menelantarkan Linda dan juga anak-anakmu. Lalu kamu menelantarkan Yulia kemudian menjadikannya PSK untuk menghidupi kamu dan gaya hidupmu yang menjijikkan itu." Dimas mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
*****
__ADS_1
"Maaf, kenapa kita kesini?" tanya Yulia saat melihat tempat yang mereka datangi adalah rumah sakit.
"Kita akan memeriksa kesehatan mu," sahut Bima yang merupakan orang suruhan Dimas.
"Memeriksa?" Yulia mengernyitkan dahinya.
"Penderitaanmu berakhir malam ini. Mulai sekarang dan seterusnya kamu bebas. Roby sudah ditangkap polisi. Semua rekaman video kamu sudah dihapus, dan kamu akan segera mendapatkan surat cerai dari dia."
"Apa?" Yulia terkejut mendengar perkataan orang yang seharusnya menjadi tamunya itu.
"Dimas menyuruh ku melakukan semua ini. Karena istrinya tidak ingin kamu menderita lebih lama lagi. Ayo, masuk. Linda ada di dalam. Kamu akan menjalani pemeriksaan untuk memastikan kamu bersih." Bima membukakan pintu untuk Yulia.
Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit. Linda ingin memeluk Yulia, namun dihalangi Bima karena takutnya Yulia mempunyai penyakit berbahaya akibat melakukan **** bebas.
Yulia pun masuk ke dalam ruangan yang disediakan untuk melakukan serangkaian tes. Sedangkan Linda menunggunya di luar bersama Bima.
Ia masih ingat saat Dimas meneleponnya dan menjelaskan semuanya. Perasaan khawatirnya pun menjadi sebuah kelegaan. Dimas tidak apa-apa. Terlebih lagi saat Dimas mengatakan bahwa Roby sudah tertangkap. Itu adalah kabar yang selalu ditunggu Linda.
__ADS_1