
"Apa kabar, Dimas. Lama tidak bertemu. Sekarang kamu terlihat semakin hebat." Seorang pria separuh baya bernama Jeremy menjabat tangan Dimas.
"Baik, Om. Om apa kabar?" Dimas balik bertanya.
"Ya seperti yang kamu lihat sekarang."
"Maaf ya, Om. Saya jadi ganggu waktu Om siang-siang gini."
"Nggak papa, Om juga nggak ada jadwal meeting hari ini jadi bisa temui kamu disini."
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Memang, Dimas meminta bertemu dengan Jeremy di sebuah restoran sekaligus makan siang.
"Oh ya, Om. Gimana kabar Brian. Udah lama nggak ketemu?" tanya Dimas berbasa-basi.
"Dia semakin sibuk aja, Mas. Apalagi sekarang dia sedang menjalankan misi," ucap Jeremy setengah berbisik.
"Misi apa, Om?" Dimas juga berbisik.
"Kalau kamu ketemu dia pakai pakaian bartender, pura-pura aja nggak tau. Jangan panggil nama dia." Jeremy masih berbicara setengah berbisik.
"Oh, jadi dia lagi nyamar ya, Om? Hebat banget, padahal bartender itu 'kan banyak berbicara sama pemesan minuman. Sedangkan Brian sendiri orangnya males ngomong."
"Dia pura-pura jadi orang bisu," ucap Jeremy.
"Hah?" Dimas terkejut mendengar perkataan Jeremy. "Wah, totalitas banget ya, Om."
"Dia bilang daripada penyamarannya ketahuan, dia lebih memilih jadi orang bisu. Dan lagi, penampilannya sekarang beda, Mas. Rambutnya gondrong, pakai kacamata lagi."
"Om, kalau boleh tahu, dia kerja dimana? Maksud saya, dia di club' mana?"
"Di jl. Lidah mertua."
__ADS_1
"Emmm Brian tadi nelepon Om, ya? Kok Om gamblang banget ceritain misi dia yang seharusnya nggak Om ceritain ke siapapun. Bukannya itu rahasia dia?" Dimas menatap ragu.
"Kamu memang pintar, Dimas. Ya, pagi tadi Brian nelepon Om. Katanya Om boleh ceritain ini ke kamu. Soalnya dari sekian banyak orang, cuma kamu yang bisa kenalin dia meski dari jarak jauh."
"Saya cuma kebetulan inget aja, Om." Dimas terkekeh.
"Tapi sebaiknya kamu jumpai dia di rumah kostnya aja. Kalau di tempat kerjanya akan menimbulkan kecurigaan orang-orang," ujar Jeremy.
"Iya, Om. Alamat rumah kostnya dimana ya, Om?"
"Tadi yang Om bilang. Jl. Lidah mertua. Itu alamat rumah kostnya."
"Oh, saya kira alamat club' nya, Om."
"Katanya dia nunggu kamu nanti sore jam lima. Katanya juga jangan bawa orang lain," bisik Jeremy.
"Oke, Om." Dimas mengacungkan jempolnya.
"Halo, sayang. Aku pulang telat, ya. Soalnya ada urusan penting."
"Iya ini soal Yulia. Kamu diem aja di rumah, ya."
"Iya, nanti aku beliin. Ya udah, aku lagi nyetir. Udah dulu, ya." Dimas mematikan panggilan tersebut.
Saat ini ia sedang dalam perjalanan ke rumah Brian. Sangat aneh karena Brian seperti sudah membaca gerak-geriknya.
Tokkk tokk tokk.
Dimas mengetuk pintu sebuah rumah kost yang tadi beritahu Jeremy. Tak berselang lama, pintu terbuka dengan sosok yang dilihat Dimas pagi tadi.
"Oh, hai Bri,,,,,,"
__ADS_1
Belum selesai Dimas berucap, Brian sudah menariknya ke dalam.
"Apa nggak bisa lebih lembut lagi menyambut tamu agung?" tanya Dimas dengan wajah kesal.
Brian tampak mengintip dari balik tirai jendela. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti Dimas.
"Duduk!" Brian menunjuk sofa.
"Nyuruh duduk aja ngegas banget, Bri."
"Panggil aku Diki, bukan Brian."
"Oh, iya, Diki nama samaran kamu, ya." Dimas mengangguk mengerti.
"Ini yang kamu cari?" tanya Brian sambil memperlihatkan sebuah foto Yulia saat meneguk anggur di club' tempat Brian bekerja.
"Lho! Kamu kok tau?" tanya Dimas dengan heran.
"Aku ini polisi. Jabatanku bisa tinggi karena instingku kuat dan selalu benar. Sejak kamu hampir membongkar penyamaran ku tadi, aku langsung menyelidiki datamu dan orang-orang di sekitarmu. Ternyata Yulia ini adalah istri mantan suami istrimu, 'kan?"
"Benar. Wah hebat kamu, Bri. Jadi, kamu tau aku mau membebaskan Yulia dari suaminya?"
"Ya, tapi sebaiknya kamu nggak usah turun tangan. Sebenarnya aku juga akan menyelamatkan Yulia dari sana. Tapi aku masih butuh waktu. Misiku sebenarnya adalah membongkar kejahatan si pemilik club' karena dia dicurigai sebagai bandar narkoba. Jika aku membebaskan Yulia sekarang, maka misiku akan sia-sia. Sebaiknya kamu membebaskannya dengan caramu dulu, Mas. Aku yakin kamu pasti bisa."
Dimas terdiam. "Baiklah." Tapi jika caraku nggak berhasil, maka kamu yang harus menolongnya."
"Aku berjanji akan menolongnya jika misiku sudah ku jalankan. Aku hanya tinggal menunggu pemilik club' melakukan transaksi dan menangkapnya."
"Apa kamu tau alamat rumahnya?"
Brian berjalan ke arah laci lemari kemarnya. Ia mengambil secarik kertas lalu memberikannya pada Dimas.
__ADS_1
"Makasih, Bri, eh maksudku Diki. Ya sudah, aku pulang, ya."