
Dion ikut berbaur dengan anak seusianya, sedangkan Dela masih bersama Dimas dan Linda. Cukup bahaya membiarkan anak berusia satu tahun dua bulan berjalan di tempat yang ramai seperti itu. Apalagi Dela memang baru lancar berjalan.
"Pak Dimas, Bu Linda, ayo dimakan hidangannya." Seorang wanita seumuran mereka mendatangi dan menawarkan makan kepada mereka. Namanya Mila.
"Terima kasih, Bu. Nanti saja sekalian bareng Dion. Dia masih asyik bersama anak ibu," ucap Linda.
"Iya, mereka akur, ya. Anak Bapak dan Ibu sangat mudah bergaul."
"Syukurlah, Bu. Oh, ya, pemilik hotel ini siapa ya, Bu?" tanya Dimas.
"Oh, pemilik hotel ini Pak Herdi, kalian kenal, kan? Yang Duda tapi hobi main perempuan itu lho." Jiwa ghibah Mila pun bangkit.
"Oh, Pak Herdi. Tadi kami sempat melihatnya di lobi. Saya kira beliau akan datang kesini," ucap Dimas pura-pura tidak tahu.
"Katanya dia mau main dulu sama pel*cur yang bayarannya mahal. Katanya bikin penasaran. Parah banget kan itu orang," bisik Mila.
Mendengar ucapan Mila, mata Linda seketika membulat. Ia tahu yang dimaksud pel*cur oleh Mila adalah Yulia.
Linda menarik baju Dimas. Dimas memegang tangannya seraya menggeleng yang artinya jangan bahas disini.
Linda hanya mengangguk pelan.
******
Di kediaman Dimas dan Linda.
"Mas, kenapa Yulia mau dijadikan PSK?" tanya Linda saat mereka berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Menurut kamu itu keinginannya atau nggak?" Dimas balik bertanya.
"Aku lihat wajah Yulia tadi menunjukkan raut kesedihan." Linda mengingat saat mereka bertemu di hotel tadi.
"Dan,,,,?"
"Sepertinya dia dipaksa menjadi PSK sama Roby. Dasar gila! Istri sendiri dijadikan PSK. Mas, kita harus tolong Yulia!"
"Kamu tenang aja, sayang. Aku akan melaporkannya ke polisi."
"Tapi kalau kamu lapor, Yulia bakalan kena juga, Mas."
"Kamu ini selalu aja mementingkan orang lain." Dimas mengusap kepala Linda dengan pelan.
"Aku juga perempuan, Mas. Pasti aku tau apa yang Yulia rasakan sekarang. Udah cukup Roby membuat dua orang menderita. Kita harus segera menghentikannya."
"Iya, Mas. Selametin Yulia, ya. Kasihan dia." Linda menatap penuh harap.
Dimas tersenyum lalu memeluk Linda. "Itulah sebabnya aku sangat mencintai kamu. Kamu itu baik dan berhati mulia."
"Maaf aku terlambat menyadari perasaan kamu, Mas Dimas." Linda memejamkan matanya. Merasakan nyamannya berada di pelukan suami tercintanya itu.
Memang, mereka akan berencana punya anak. Namun saat Dela sudah berusia dua tahun agar tidak terlalu rapat.
*****
Keesokan paginya, Dimas sudah bersiap berangkat bekerja. Seperti biasa. Linda menyiapkan semua menu sarapan di rumah itu. Mereka memang memakai jasa asisten rumah tangga, namun hanya untuk bagian bersih-bersih rumah dan cuci mencuci. Kalau bagian memasak hanya Linda yang mengambil alih. Mungkin soal racik meracik dibantu oleh ART, namun saat memasak hanya dia yang melakukannya.
__ADS_1
Dimas tidak keberatan dengan keinginan Linda. Lagipula Linda itu selalu menyesuaikan tempat. Jika di dapur memang ia selalu dasteran. Namun setelah mandi, ia akan memakai baju yang bagus. Apalagi saat menghadiri acara kondangan, ia bahkan seperti masih gadis muda. Orang-orang tidak akan menyangka jika ia adalah ibu dari dua anak.
Dion juga ikut sarapan karena ia hendak sekolah di salah satu taman kanak-kanak terbaik yang ada di kota itu. Sedangkan Dela masih tidur dengan ditemani babysitter. Dimas memang selalu memanjakan Linda karena rasa cintanya yang amat sangat besar itu.
"Aku udah siap, Yah!" seru Dion saat baru meneguk segelas susu sehabis memakan sepiring nasi goreng.
"Ayah juga udah siap. Ayo, Dion! Kita berangkat." Dimas pun mengajak Dion ke mobil yang sudah dipanaskan supir.
Pertama Dimas mengantar Dion ke sekolah.
"Dion, belajar yang rajin, ya Nak." Dimas mengusap kepala Dion saat anak itu menyalim tangannya.
"Iya, Ayah!" seru Dion. Ia langsung berlari ke dalam sekolahnya dengan disambut guru kelasnya.
Dimas pun kembali melajukan mobilnya. Ia menyusuri jalanan yang penuh dengan kendaraan lainnya.
Saat lampu sedang merah, tiba-tiba Dimas melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan dengan pakaian seorang bartender.
"Brian!!" panggil Dimas yang masih berada di dalam mobil. Membuat pria yang bernama Brian itu terkejut dan langsung berlari.
"Lho Brian!! Kok lari!! Briaaaan!!" Dimas ingin turun dan mengejar Brian namun lampu sudah menjadi hijau. Membuat pengemudi yang ada di belakang langsung membunyikan klakson mereka.
Dimas akhirnya melajukan mobilnya dan tidak jadi mengejar Brian. Ia masih bertanya-tanya kenapa Brian menghindarinya.
"Kenapa, ya? Apa aku punya salah sama dia. Memang, penampilannya berbeda, ya. Pakai kacamata, dan berambut gondrong. Padahal dia itu 'kan polisi. Tapi kenapa memakai baju bartender begitu. Apa dia sudah dipecat dari pekerjaannya? Sebaiknya aku tanyakan papa. Ayah Brian 'kan rekan bisnis papa. Mungkin mereka bisa menjelaskan. Lagipula setelah melihat Brian aku jadi teringat Yulia. Mungkin Brian bisa membantu."
Dimas pun segera menghubungi ayahnya guna bertemu dengan rekan bisnis ayahnya yang merupakan ayah Brian hari ini juga. Semoga saja Brian masih menjadi polisi agar ia lebih mudah menangkap Roby tanpa melibatkan Yulia. Walaupun Yulia dijual, tapi Roby bisa saja memutar balikkan fakta.
__ADS_1