Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 43 - Ke rumah Roby


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapa Dimas saat baru memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam," sahut Linda dan kedua anaknya.


"Udah pualng, Mas." Linda mencium punggung tangan Dimas.


"Ini ayam goreng buat kalian!" Dimas memberikan bungkusan plastik berisi ayam goreng pesanan Linda tadi. 


Dion kegirangan menerima bungkusan itu.


"Lin, anak-anak kasih ke babysitter dulu, ya. Ada yang mau aku omongin."


"Iya. Sus, jagain anak-anak, ya. Dion kasih sausnya jangan banyak-banyak," ujar Linda pada babysitter nya.


Dimas merangkul bahu Linda. Membimbingnya ke atas menuju kamar.


"Gimana, Mas?" tanya Linda tidak sabar.


Dimas pun mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Brian dan juga misi Brian.


"Jadi gimana dong, Mas? Apa kamu punya sesuatu yang bisa menggertak Roby?" tanya Linda lagi.


Dimas tiba-tiba teringat akan ponsel lamanya. Ia pun berjalan menuju nakas dan membuka laci guna mengambil ponsel lamanya.

__ADS_1


"Itu ponsel kamu 'kan, Mas?"


Dimas mengangguk. Ia mengaktifkan ponsel tersebut lalu melihat isi file video yang berisikan perbuatan mesum Roby dengan selingkuhannya.


"Apa itu, Mas?" Linda ingin melihat namun Dimas menghalangi.


"Kamu nggak perlu tau. Yang pasti, dengan ini aku mungkin dapat mengancam Roby." Dimas menatap Linda dengan penuh keyakinan.


"Lin, aku pergi dulu, ya. Kamu di rumah aja." Dimas pun bergegas pergi tanpa mendengar persetujuan dari Linda.


Ia pun segera menghindupkan mobil lalu pergi menembus jalanan yang sudah gelap menuju rumah Roby berbekal alamat yang diberikan Brian tadi.


Dimas mengetuk pintu rumah yang lumayan besar saat ia sudah sampai di alamat itu.


"Apa Roby dan Yulia ada?" tanya Dimas.


"Siapa, Bi?" teriak Roby dari dalam. Ia berjalan mendekati pintu guna melihat siapa yang datang. Kebetulan sekali tadi ia baru mendapat telepon dari pelanggannya untuk mengajak Yulia kencan namun akan dijemput di rumah.


"Dimas? Ngapain kamu?" tanya Roby dengan raut wajah tidak suka.


"Bisa kita bicara di dalam?" 


"Masuk." Roby pun mengizinkan Dimas masuk.

__ADS_1


"Mau apa kamu?" tanya Roby saat mereka sudah duduk di atas sofa empuk yang mahal.


"Aku tahu kamu sudah menjual Yulia."


Mendengar ucapan Dimas, Roby pun terkejut. "Lalu kamu mau apa? Hukum pun bisa aku beli. Apa kamu pikir gampang?" 


"Aku nggak akan melaporkan kamu ke polisi. Oh ya? Apa nomor kamu masih yang lama?" tanya Dimas.


Roby mengangguk.


Dimas pun langsung mengirimkan rekaman video ke Roby. Roby terkejut melihat isi rekaman video saat ia bercinta dengan selingkuhannya di semak-semak belakang hotel.


"Berengsek!" Roby mengumpat kesal.


"Kalau kamu nggak melepaskan Yulia, aku akan menyebarkan video ini ke dunia maya. Kamu tahu 'kan kalau dunia maya lebih kejam dari hukum."


Roby terdiam. "Oke, aku akan melepaskan Yulia. Sekarang kamu pulanglah. Aku akan menjamin bahwa Yulia akan bebas."


Dimas heran dengan tanggapan Roby yang langsung menyerah, tapi ia senang karena semudah ini membuat Roby menyerah.


Dimas pun pulang dengan perasaan senang. Ia akan menyampaikan kabar baik ini pada Linda. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun tiba-tiba sebuah mobil truk menabrak sisi samping mobilnya saat ia melintas di pertigaan. 


Mobil itu pun terbalik berkali-kali membentur aspal. Jalanan yang sepi membuat tidak ada seorang pun yang menolong. Pengemudi mobil truk itu pun menelepon seseorang. "Bos, kerjaan gue udah kelar. Buruan Lo transfer bayaran gue."

__ADS_1


Setelah itu, pengemudi truk itu pun pergi dari tempat itu. Meninggalkan mobil Dimas yang masih dalam kondisi terbalik. Entah masih hidup atau sudah mati, kita akan mengetahuinya di bab selanjutnya.


__ADS_2