
"Iya, Pa. Makasih, ya, Pa." Dimas tersenyum pada Rahadi.
"Ya sudah, berarti sudah diputuskan Dimas dan Linda menikah dua minggu lagi. Besok kalian beli cincin, ya. Sisanya biar Mama dan Papa yang urus."
"Tante, anak Linda nggak dikasih ke keluarga Linda, 'kan?"
"Mereka akan tetap bersama kaluarga kamu."
Sontak semuanya terdiam saling bertatap.
"Kok diem? Keluarga kamu kan, kita semua. Enak aja mau ngasih cucu Tante ke keluarga orang tua kamu yang serakah itu."
Mereka langsung tertawa mendengar ucapan Vani yang ternyata hanya ingin mengerjai mereka saja.
*****
Linda dan Dimas sudah sampai di kontrakan Linda.
__ADS_1
"Aku lega banget, Mas. Akhirnya kita mendapat restu." Linda mendudukkan dirinya di atas sofa empuk. Sedangkan Dion dan Dela sudah tertidur dan yang menjaga juga sudah pulang.
"Dan karena misiku udah selesai, aku nggak butuh penyamaran ini lagi." Dimas melepas kacamata, serta membuka wignya. Ternyata selama ini, rambut berbelah tengah itu hanyalah wig. Sedangkan rambut asli Dimas sangat rapi dengan potongan model masa kini. Dan kini, terlihat lah wajah Dimas yang sangat tampan itu. Linda sampai ternganga melihatnya.
"Udah dong, aku tau aku ganteng. Tapi jangan gitu banget liatinnya."
"Kamu terlalu banyak rahasia, Mas."
"Demi misi. Sekarang aku udah mendapatkan bukti ayah Yulia melakukan pelanggaran-pelanggaran di perusahaan termasuk menaikkan jabatan Roby ke posisi mangaer tanpa prosedur perusahaan."
"Kamu akan apakan mereka, Mas?" tanya Linda tak sabar. Rasanya ia masih menyimpan dendam pada Roby.
"Iya, Mas." Linda mengangguk.
"Aku akan memberi kejutan pada mereka saat pesta pernikahan dan kenaikan jabatanku. Biarlah mereka menikmati saat-saat terkahir kejayaan mereka." Dimas menatap tajam ke sembarang arah.
"Sejak kedatangan kamu, hidup aku menjadi lebih baik, Mas. Sedikitpun nggak pernah kamu buat aku sedih. Makasih, ya Mas. Aku sangat mencintai kamu." Linda memegang tangan Dimas.
__ADS_1
Dimas mendekatkan wajahnya ke Linda hendak mencium bibirnya.
"Jangan! Tahan sebentar, ya. Dua minggu lagi, ingat!" Linda menahan bibir Dimas dengan jarinya.
Dimas tertunduk malu sambil menggaruk belakang kepalanya. "Ya udah aku pulang dulu ya,,,,,,sayang."
Dimas pu. Pulang dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya.
*****
"Mas, kok kamu cuma ngasih aku setengah dari gaji kamu. Setengah lagi mana?" tagih Yulia pada Roby.
"Aku pakai buat beli hp baru, baju, tas, sepatu, dan buat aku nongkrong."
"Loh, nggak bisa gitu dong, Mas. Harusnya kamu kasih semuanya ke aku. Masa kamu lebih mementingkan kebutuhan pribadi kamu daripada aku. Aku kan harus beli kebutuhan dapur, susu hamil, baju hamil, perawatan ke salon, sepatu, belum lagi bayar cicilan mobil."
"Itu udah jadi urusan kamu. Kamu harus pinter-pinter menghemat pengeluaran. Dulu aja Linda aku kasih satu juta perbulan, dia bisa kok mencukupi kebutuhan lain. Jadi buruh cuci. Masa kamu enggak?"
__ADS_1
"Ya kamu jangan sama-samain aku sama dia, dong. Masa kamu suruh aku kerja. Kamu harusnya bersyukur, Mas. Berkat Papaku, kamu bisa jadi manager. Dari gaji lima juta jadi tiga belas juta perbulan. Tapi masih aja kamu nilep uangnya."
"Udah ah, berisik kamu. Pusing aku!" Roby pergi meninggalkan Yulia dengan perasaan kesal. Seperti biasa, dia pergi dengan mobil, menembus jalanan, menuju tempat tongkrongannya bersama teman-teman barunya, yaitu di tempat karaoke dengan ditemani wanita-wanita cantik.