Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 27 - Melamar


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Akta cerai sudah didapatkan. Masa Iddah Linda pun sudah selesai. Kini Linda resmi menyandang status janda dengan dua anak.


"Lin, sekarang aku mau ngomong serius sama kamu," ucap Dimas saat ia sedang berada di rumah kontrakan Linda.


Linda menatap Dimas dengan tatapan serius.


"Aku ingin melamar kamu." Dimas menggenggam tangan Linda.


"Mas, aku nggak merasa pantas untuk kamu. Aku ini janda dengan dua anak. Aku nggak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Apa mungkin orang tua kamu mau menerima aku?"


"Kamu bersiaplah. Malam ini aku akan memperkenalkan kamu pada orang tuaku."


"Apa? Itu terlalu cepat, Mas. Aku nggak bisa. Aku terlalu takut untuk itu. Aku takut mereka nggak menerima aku, Mas."


"Kamu jangan pesimis dong, Lin. Aku yakin mereka pasti menerima kamu."


"Aku nggak yakin, Mas."


"Lin, aku mohon. Hanya kamu yang aku cintai."


Melihat ketulusan dan kesungguhan Dimas, akhirnya Linda mengangguk setuju. "Baiklah, aku mau. Meski mereka menolakku, aku akan menerimanya, Mas. Aku memang pantas untuk ditolak."


"Kamu jangan begitu. Yakinlah kalau kamu memang pantas bahagia. Aku akan jemput kamu jam tujuh malam ini. Dion dan Dela biar diasuh tetangga aja."


Linda mengangguk setuju. Hingga saat jam yang ditentukan, Linda pun dijemput dan dibawa ke rumah Dimas.


Saat sudah sampai di rumah Dimas, alangkah terkejutnya Linda saat melihat betapa megahnya rumah Dimas.

__ADS_1


"Mas, ini beneran rumah kamu?" tanya Linda masih dengan tatapan heran.


"Iya, nanti aku jelasin. Kamu jangan banyak tanya dulu. Ayo, kita ke dalam." Dimas membimbing Linda masuk ke dalam rumah megah itu.


"Assalamualaikum," ucap mereka berdua bersamaan.


"Waalaikumsalam." Seorang pria separuh baya datang menghampiri mereka dan tersenyum ramah.


"Lin, kenalin, ini papaku." Dimas memperkenalkan papanya pada Linda.


Linda yang mengetahui siapa papa Dimas, semakim terbengong. "Mas, bukannya beliau pemilik perusahaan tempat kamu kerja?" bisik Linda.


"Jangan banyak tanya dulu."


"Salam kenal, Om. Saya Linda." Linda menyalim tangan Rahadi, yang merupakan ayah Dimas.


"Mama mana, Pa?" tanya Dimas setengah berbisik.


"Divan sedang membujuk Mama supaya turun. Kamu tahu 'kan, Mama masih belum bisa menerima keputusan kamu," balas Rahadi yang juga setengah berbisik.


"Lin, mana anak-anak kamu?" tanya Rahadi.


"Di rumah, Pak. Dijaga sama tetangga," sahut Linda.


"Kalau keluarga kamu?"


"Adik-adik Alm ayah saya ada di daerah kota B, Pak."

__ADS_1


"Apa pendidikan terkahir kamu?"


"Pa, udah dong. Kok nanyanya kayak lagi menginterview orang, 'sih," bisik Dimas.


"Pendidikan terkahir saya SMA, Om.


"Tapi saya dengar kamu pernah kuliah ya, dan IPK mu lumayan tinggi."


"Saya putus kuliah, Om." Linda menunduk, rasa sedih dan sesalnya kembali menyeruak.


"Wah sayang sekali, ya. Om sebenarnya setuju dengan pilihan Dimas asalkan dia bahagia. Tapi Mama Dimas masih belum bisa menerima."


Mendengar ucapan Rahadi, Linda tidak terkejut dan marah karena ia sudah mendunganya.


"Linda mengerti, Om. Pasti sangat sulit menerima seorang janda beranak dua."


"Tapi jika kamu mau memberikan anak kamu ke keluarga ayah kamu, mungkin Tante mau menerimanya. Ya, kita bisa mengirimkan uang setiap bulan untuk kebutuhan mereka."


"Pa!" Dimas menatap Rahadi dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Papa hanya memberikan pilihan. Sekarang tergantung Linda mau atau tidak."


"Maaf, Om. Bagi Linda anak-anak adalah segalanya. Mereka hidup Linda. Jika Tante nggak bisa menerima, Linda akan mundur." Linda menatap dengan tatapan sendu. Ia menunjukkan seulas senyuman di bibirnya.


"Lin!" Dimas menatap Linda tak kalah kecewanya.


"Maafin aku, Mas. Masih banyak wanita di luaran sana yang lebih pantas untuk kamu. Mungkin kita memang nggak jodoh. Jangan bantah keputusan mama kamu. Karena seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya." Linda memberi pengertian kepada Dimas.

__ADS_1


__ADS_2