Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Bab 40. Tak sengaja melihat


__ADS_3

"Lin, udah siap belum, sayang?" panggil Dimas yang sedang menunggu Linda berdandan.


"Ayah, ibu kok lama?" keluh Dion yang sejak tadi memang sudah tidak sabar untuk pergi ke acara ulang tahun.


"Nggak tau, tuh. Mungkin ibu pake baju sepuluh lapis," sahut Dimas.


Dion terkekeh mendengarnya.


"Hayo, siapa yang lagi nyeritain ibu." Linda menghampiri mereka dan mengusap kepala Dion.


"Kata Ayah, ibu pakai baju sepuluh lapis makanya lama," ucap Dion.


"Dasar Ayah." Linda mencolek tangan Dimas.


"Pantesan lama, ternyata dandannya maksimal, ya." Dimas memperhatikan penampilan Linda dari atas ke bawah.


"Iya, Ibu cantik banget," sambung Dion.

__ADS_1


"Ibu siapa dulu, dong." Linda membanggakan diri.


"Udah, ayo. Ibu kalau udah dipuji langsung melayang," cibir Dimas.


"Apaan, sih." Linda menyenggol lengan Dimas dengan sikunya sembari tersenyum geli.


"Ya udah, ayo berangkat!!" Dimas pun memimpin pasukan keluarga itu ke dalam mobil mewah miliknya. Mereka akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun seorang anak dari rekan kerja Dimas. Lokasinya ada di sebuah hotel yang terletak di tengah kota.


*****


"Udah sampai, ayo turun." Dimas menggendong Dela sembari menurunkan Dion dengan sebelah tangannya. Sedangkan Linda turun dengan sangat anggun. Dimas mengerti jika Linda harus hati-hati jika turun agar gaun dan rambutnya tidak berantakan.


"Loh, Mas, itu bukannya Yulia dan Roby?" tanya Linda saat melihat Yulia turun dari mobil bersama Roby.


"Wah kayaknya sekarang hidup mereka tambah senang. Mungkin Roby mendapatkan pekerjaan lain di perusahaan lain. Dan mungkin saja mereka datang kesini untuk menghadiri pesta ulang tahun anak rekan bisnis kita." Dimas berpendapat.


"Oh mungkin saja. Ya udah ayo, kita masuk. Tapi jangan barengan, ya. Kita di belakang aja," pinta Linda.

__ADS_1


Dimas mengangguk sembari tersenyum pada Linda.


Mereka masih berjalan di belakang Roby dan Yulia. Linda merasa senang karena penampilan Yulia yang sudah kembali cantik. Setidaknya Yulia tidak lama merasakan hal yang ia rasakan dulu.


Namun, langkah mereka berhenti mendadak saat melihat mereka bertemu dengan seorang yang Dimas kenali. Dialah Herdi, rekan kerjanya yang memang terkenal di dunia bisnis bawha ia suka bermain perempuan.


Roby memperkenalkan Yulia pada Herdi yang notabenenya berusia dua kali lipat dari umur mereka.


Linda dan Dimas sangat terkejut saat melihat Herdi merangkul Yulia dengan mesra dan membawanya ke dalam. Sedangkan Roby menunggu di kursi yang disediakan disana.


"Lho, Mas. Kenapa Yulia mau dirangkul kayak gitu? Dan kenapa Roby nggak marah?" Linda masih keheranan dengan apa yang terjadi. Namun Dimas tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Yulia. Dari yang ia lihat, dapat disimpulkan bahwa Roby menjual istrinya pada pria hidung belang.


"Udahlah, kita ada acara penting. Kita bahas itu di rumah, ya." Dimas kembali mengajak Linda masuk.


Saat melewati Roby, mereka beradu pandangan. Roby langsung gugup dan membuang muka. Berpura-pura menelepon seseorang padahal terlihat jelas ponselnya terbalik.


Dimas juga membuang muka. Ia akan memberi pelajaran pada Roby nanti. Memang, Yulia turut andil dalam penderitaan Linda selama ini. Namun, jika dilihat dari segi kemanusiaan, Dimas memang harus menolong Yulia. Semenderitanya Linda, lebih menderita lagi Yulia saat ini.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke lokasi pesta yang terletak di aula hotel.


__ADS_2