
Yulia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Air matanya pun kembali mengalir. Ia masih ingat bagaimana saat pertama kali Roby menjualnya dengan cara menjebaknya. Menipunya agar mau menuruti perintahnya.
Flashback On
Beberapa minggu yang lalu.
"Yul, masa nifas kamu udah selesai, kan?" tanya Roby dengan suara lembut dan senyuman teduh.
"Sudah, Mas. Kamu mau minta jatah, ya." Yulia tersenyum malu.
"Iya, tapi jangan disini, ya. Ayo ke hotel. Aku ingin menghabiskan malam bersama kamu disana. Itu hotel temen aku. Jadi dapat diskon gede. Ayo, kapan lagi kita nginep di hotel."
Yulia langsung mengangguk.
"Kamu pakai baju yang seksi, ya." Roby memainkan mata menggoda Yulia.
Yulia kembali mengangguk dan tersenyum. Ia merasa sangat bersyukur Roby sudah berubah. Sejak kepulangannya dari rumah sakit paskah keguguran, Roby memperlakukannya dengan sangat baik. Ia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, menyuapi Yulia makan, membantu Yulia mandi, dan selalu ada di samping Yulia.
Yulia merasa bahagia dengan perubahan sikap Roby. Terlebih lagi saat Roby membelikannya banyak banyak baju seksi, make up, parfum mahal, serta skin care dan lotion terkenal, membuat Yulia semakin mencintai Roby dan memaafkan semua kesalahannya terdahulu.
__ADS_1
"Mas, aku udah siap." Yulia menemui Roby dengan pakaian yang sangat seksi.
Roby tersenyum. Ia pun menggandeng tangan Yulia menuju mobil mereka yang cicilannya tentu sudah dibayar dari uang muka yang diberikan kliennya seminggu yang lalu sebagai tanda jadi.
Sampailah mereka di hotel yang dimaksud Roby tadi. Tanpa menaruh curiga, Yulia masuk kedalam bersama Roby.
Pintu kamar dibuka. Mereka pun segera masuk.
"Wah, kamarnya bagus banget, Mas." Yulia berdecak kagum.
"Wah cantik sekali!" seru seorang pria separuh baya bertubuh pendek, berkepala botak, dan perut buncit yang muncul dari balik kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.
"Lho, memangnya suami kamu nggak cerita, ya."
"Yulia! Layani orang ini," ucap Roby dengan datar.
"Apa? Apa-apaan kamu, Mas!" teriak Yulia.
"Ini sebagai balasan atas semua perlakuanku selama ini. Memangnya darimana uang yang aku keluarkan untuk kebutuhan mu. Jika kamu menolak, kembalikan uang itu sekarang juga. Atau kamu bisa menggantinya dengan ginjal mu."
__ADS_1
"Jangan! Pak, saya mohon beri saya waktu untuk melunasi hutang saya." Yulia menatap pria separuh baya itu.
Pria itu menatap Roby sebagai tanda ia harus pergi. Roby pun pergi lalu mengunci pintu dari luar sembari menunggu Yulia selesai melayani pria itu.
"Pak, saya mohon jangan." Yulia melangkah mundur saat pria itu mulai berjalan mendekat.
"Semakin kamu berontak, semakin saya bergairah." Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menerkam tubuh Yulia. Menindihnya di atas ranjang empuk. Dengan lihai, ia menanggalkan semua pakaian Yulia. Tampak luka bekas jahitan diperutnya yang sudah mengering.
Yulia terus meronta untuk dilepaskan, namun tenaga pria tambun itu lebih kuat. Hingga akhirnya, pria itu berhasil menguasai tubuh Yulia.
Yulia terus berteriak, namun ruangan itu kedap suara dan hanya mereka saja yang dapat mendengarnya.
******* pria itu sangat jelas terdengar. Ia begitu menikmati tubuh Yulia yang sekarang memang sudah langsung kembali. Yulia yang sudah kehabisan tenaga hanya mampu terdiam dan menangis.
Setelah semuanya usai, pria itu keluar. Memberikan sisa uang kepada Roby. Ia pun masuk ke dalam menemui Yulia yang masih memakai selimut dengan tubuh acak-acakan dan make up yang luntur karena air matanya.
"Jahat kamu, Mas!" Yulia menatap Roby penuh kebencian.
"Nggak ada yang gratis di dunia ini, termasuk kebaikanku. Jangan kamu kira ini sudah berakhir. Besok kamu sudah mulai bekerja di club' malam. Jangan kamu pikir kamu bisa kabur. Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun!" Roby pun pergi meninggalkan Yulia yang masih menangis terisak. Menyisakan luka yang cukup lebar di hatinya.
__ADS_1
Flashback Off