
Memang, setelah kasus yang ditangani Brian selesai, ia langsung menemui Yulia untuk melamarnya. Yulia yang masih trauma awalnya ragu, terlebih lagi dia seorang janda. Menurutnya, akan sulit jika polisi menikahi seorang janda. Namun dengan tekad kuat Brian, akhirnya mereka berhasil menikah.
"Pengantin baru kapan bulan madu? Masa baru nikah nggak bulan madu, 'sih," goda Linda.
"Aku sedang mengurus cutiku. Belakangan ini banyak sekali kasus yang harus aku tangani," sahut Brian.
"Nggak apa-apa, Mas. Pekerjaan juga penting." Yulia.
"Ya, tapi kamu jauh lebih penting, sayang." Brian mengusap punggung tangan Yulia sembari tersenyum. Membuat Dimas dan Linda terus menggoda mereka.
"Oh, ya. Kalian udah denger kabarnya Roby?" tanya Brian.
"Emang Roby kenapa, Bri?" tanya Linda dengan tatapan heran.
"Kalian tahu kan, setahun yang lalu dia mengidap penyakit HIV?" tanya Brian lagi.
Mereka kompak mengangguk.
"Tadi pagi aku mendapat laporan kalau dia sudah meninggal karena bunuh diri."
Mendengar perkataan Brian, mereka semua pun terkejut.
"Dangkal banget pikirannya." Dimas.
"Itulah akibat yang harus dia tuai karena perbuatannya dulu. Karma itu nyata, dia udah merasakan penderitaan yang memang harusnya dia rasakan." Yulia menatap dengan datar. Tampak jelas bahwa ia masih sangat membenciku Roby.
"Dan orang tuanya sempat menyalahkan pihak rumah sakit. Mereka mengobrak abrik tempat itu hingga membuat salah satu pasien meninggal. Sekarang keduanya sudah mendekam di penjara," sambung Brian.
"Kenapa bisa setragis itu?" Linda menatap ngeri.
__ADS_1
"Kalian tahu kan kenapa Roby itu egois? Karena turunan dari orang tuanya. Lihat, akibat keegoisan mereka yang selalu meyalahkan orang lain, mereka jadi kena akibatnya." Dimas menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan kakaknya?" tanya Linda.
"Sepertinya Mbak Ririn sudah bercerai dengan Mas Galuh. Karena aku dengar dia sudah menikah dengan Tuan tanah di kampung dan menjadi istri ke-empat," sahut Dimas.
"Ada-ada saja, ya. Kenapa sifat manusia itu nggak ada puasnya?" Linda menghela nafas pelan.
"Udahlah, kenapa jadi nyambung kemana-mana. Harusnya malam ini kita nikmati pestanya," ujar Brian.
"Sayang, bukannya kamu yang tadi membuka pembicaraan?" Yulia mengingatkan.
"Iya, tapi bukan bertujuan melebar kemana-mana. Ayo kita makan, hidangannya sudah datang."
Mereka pun langsung melahap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Kedua pasangan bahagia ini saling bersuap-suapan.
*****
"Iya, kami akan datang." Yulia mengangguk sembari tersenyum.
Dan mereka pun berpisah di halaman restoran itu. Linda dan Dimas pun pulang ke rumah. Mereka langsung disambut Dion dan Dela serta orang tua Dimas.
"Lho, cepat sekali pulangnya?" tanya Vani, mama Dimas.
"Kasihan Linda kalau kelamaan di luar, Ma, Pa," sahut Dimas.
"Oh iya, ya. Kan ada cucu ketiga Mama di dalam sana," menunjuk perut Linda.
"Mama dan Papa bawa Dion sama Dela, ya. Udah lama mereka nggak nginep di rumah," ujar Vani.
__ADS_1
"Ya udah, Ma, Pa," sahut Linda.
"Kok kamu main iya-iya aja, sih Lin. Nggak ah, Ma. Nanti kayak waktu itu, apa yang mereka minta Mama kasih. Ujung-ujungnya malah sakit kebanyakan makan es krim."
"Iya kali ini Mama janji nggak akan kasih mereka es krim banyak-banyak. Ya mau gimana dong, soalnya Mama nggak bisa lihat cucu Mama sedih."
"Ditahan, dong, Ma. Ya udah, boleh dibawa," sahut Dimas dengan nada terpaksa.
"Dion, Dela, jangan nyusahin Oma, ya. Dengerin ucapan Oma," ucap Linda pada kedua anaknya.
"Iya, Bu," sahut Dion. Sedangkan Dela hanya mengangguk sembari tertawa saat Rahadi, papa Dimas menggendongnya.
Mereka pun segera pergi. Rumah kembali sepi.
"Sepi lagi, deh," keluh Dimas.
"Udah ah, yuk ke kamar, ngantuk nih," ajak Linda.
"Ya, jangan tidur dong, Lin. Baru mau aku ajak anu."
"Anu apa?" Linda mengernyitkan dahinya.
"Udah ah, ayo." Dimas yang tak sabar langsung menggendong Linda ke kamar yang sudah berpindah ke lantai bawah sejak Linda hamil.
Di dalam kamar, Dimas mulai melakukan pemanasan dengan suara-suara ******* yang penuh gairah.
Ya, begitulah kisah mereka. Awalnya memendam cinta hingga akhirnya mereka bersatu dalam naungan kebahagiaan.
Dimas memang mencintai istri sahabatnya. Berusaha merebut istri yang disia-siakan suaminya dengan tujuan ingin membahagiakannya. Dimas telah membuktikan bahwa ia layak menjadi suami Linda. Dengan kesabaran dan keikhlasan menerima kekurangan Linda. Mencintainya dengan sepenuh hati, menyayangi anak-anaknya dengan limpahan kasih sayang seorang ayah. Membuat hidup seorang istri yang menderita akibat keegoisan suami menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Dimas, kau berhasil, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu dan keluarga mu selamanya.
__ADS_1
~THE END~