Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 24 - Talak


__ADS_3

Tak berselang lama, lewat lah Roby dengan motor yang ditumpangi tas besar miliknya. Sepertinya ia akan ke rumah Yulia. Namun saat melewati Linda, ia menggeber motornya hingga membuat Dela yang tidur terkejut dan menangis. "Dasar pelac*r! Perempuan murahan! Jelek seperti Mak lampir! Mampus aja lo!" 


"Astaghfirullahalazim. Sekarang ketahuan siapa yang nggak rela ditinggalkan." Linda mengelus dadanya. Ia memenangkan Dela yang masih menangis.


Tak berselang lama, berhentilah sebuah mobil taksi dan keluarlah Dimas.


"Ayo, Lin, masuk," ujar Dimas.


Linda dan kedua anaknya pun masuk ke mobil. Sedangkan tas minggatnya diletakkan di bagasi mobil.


"Dimas, kamu tau darimana kalau,,,,,," Belum sempat Linda berbicara, Dimas langsung memotongnya.


"Rumah kita dekat, apa yang kalian ributkan tadi tentu aku mendengarnya. Kurang aja Roby. Bisa-bisanya dia menampar kamu sampai seperti ini." Dimas mengepal tangannya dengan erat. Menunjukkan betapa emosi dirinya yang melihat Linda diperlakukan seperti itu. Memangnya siapa yang rela melihat wanita yang dicintai disakiti?


"Om, Dion takut." Dion yang duduk di pangkuan Dimas mengadu dengan sorot mata penuh kesedihan.


"Kamu tenang saja, sayang. Mulai sekarang kalian aman. Kamu jangan takut, ada Om." Dimas mencoba menghibur Dion. "Ini ada susu kotak buat kamu. Ayo minum." Memberikan pada Dion. Dion pun meminumnya dengan perasaan senang, karena minuman seperti ini jarang sekali dia dapatkan.

__ADS_1


Dela masih merengek. Dimas menyentuh pipinya dan mengusapnya perlahan. "Kamu jangan nangis ya, sayang."


Ajaib, Dela langsung diam dan berhenti menangis.


Mereka pun melaju ke sebuah kontrakan yang pastinya itu juga milik Dimas.


Sesampainya di sana, Linda terkejut dengan sapaan para penghuni kontrakan lainnya kepada Dimas.


"Ayo, Lin. Masuk," ajak Dimas.


"Mas ini bagus banget. Pasti mahal. Pindah aja ke yang lebih murah, yuk."


"Nggak papa, Lin. Yang punya kontrakan ini teman aku. Katanya gratis, nggak bayar."


"Beneran, Mas. Bilang makasih ke teman kamu, ya. Pantesan penghuni kontrakan yang lain ramah banget sama kamu."


"Santai aja. Ini uang untuk keperluan sehari-hari kamu. Di kulkas juga udah lengkap sayuran dan daging. Kamu tinggal olah aja."

__ADS_1


"Mas, aku nggak tau gimana caranya aku berterima kasih sama kamu."


"Dengan kamu bercerai dari dia dan hidup tanpa siksaan lagi, itu udah cukup buat aku."


"Aku udah bercerai, tinggal proses ke pengadilan aja."


"Aku akan segera ajukan berkas kamu ke pengadilan. Kamu siapin aja semuanya, biar aku yang kesana."


"Makasih, ya, Mas."


"Ya udah aku pulang dulu. Di kotak obat, ada kotak P3K. Kamu obatin luka kamu, ya. Dan Dion, di kamar ada banyak mainan buat kamu sama Dela biar nggak bosan. Dan minggu depan, Om akan ajak kami jalan-jalan. Biar ibu sama Dela bisa istirahat di rumah."


"Wah, beneran, Om?" Dion bersorak kegirangan.


"Iya." Dimas mengusap kepala Dion.


Setelah itu, ia pun pamit menuju kontrakannya. Namun kini yang ia lihat bukan Linda lagi, melainkan nenek sihir yang telah kehilangan kekuatannya akibat Upik abunya pergi. Mungkin mulai sekarang Dimas akan mendengar perang dunia antara istri dan suami pemalas.

__ADS_1


__ADS_2