
Acara pun dimulai. Host mulai membacakan tata tertib acara. Semua pun berjalan lancar. Hingga saat pelantikan pimpinan baru perusahaan, suasana pun menjadi riuh. Bagaimana tidak?
"Baiklah, hadirin sekalian, tanpa berlama-lama mari kita sambut pimpinan terbaru kita. Dimas Adi Wijaya!" seru seorang host sambil menunjuk Dimas yang tengah berdiri ditengah-tengah kerumunan.
Ia pun serta merta menuju panggung bersama Linda dan kedua anaknya.
Sontak para hadirin yang ada disana pun terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Dimas yang selama ini menjadi pegawai biasa ternyata adalah anak pemilik perusahaan tersebut.
Apalagi Roby. Ia sangat syok mengetahui kebenaran yang baru saja terkuak. Jadi selama ini Dimas menyamar? Begitu pikir Roby. Matanya langsung menyapu ruangan mencari keberadaan Jalal, ayah mertuanya yang ternyata sudah meninggalkan tempat itu. Mungkin ia tahu bahwa kariernya akan berakhir sampai disini karena Dimas sudah mengetahui kecurangan yang ia lakukan di perusahaan tersebut.
Roby tampak semakin cemas. Apalagi pidato Dimas yang mengatakan, " Saya akan menghapuskan tindak kecurangan yang ada di perusahaan. Selama ini saya menyamar sebagai karyawan biasa untuk menyelidiki kecurangan yang ada di perusahaan. Dan dilantiknya saya sebagai pimpinan yang baru, artinya penyelidikan saya sudah menemui babak akhir. Maka, saya umumkan malam ini, jika kalian merasa melakukan kecurangan selama ini, temui saya besok di ruangan saya. Aku dan tanggungjawabi apa yang telah kalian lakukan. Jika mencoba untuk kabur, maka saya akan menggunakan jalur hukum. Sekian dan terima kasih."
Itulah isi pidato singkat Dimas yang mampu menggucang hati para pelaku kecurangan yang ada di perusahaannya.
Roby pun pergi dari tempat itu. Sepanjang jalan, ia terus mengutuk dirinya sendiri. "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya aku tertipu oleh temanku sendiri!" Roby terus memukul setang kemudi.
"Gimana ini! Kalau aku minta maaf, pasti hanya akan meruntuhkan harga diriku dan jabatanku akan diturunkan. Tapi kalau aku nggak minta maaf, maka dia akan memecatku. Ah bingung!" Roby menarik rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
Kringggg.
Ponsel Roby berdering. Ternyata itu dari Yulia.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
"Mas, kamu dimana? Datang ke rumah sakit, ya."
Tanpa menjawab Roby langsung mematikan panggilannya. Ia langsung menuju ke rumah sakit guna menjemput Yulia agar biaya perawatannya tidak semakin banyak.
"Mas, aku keguguran!" Tangis Yulia pecah saat melihat kedatangan Roby.
"Oh jadi anak itu nggak selamat? Baguslah, jadi dia nggak akan jadi beban hidupku!" Roby menatap Yulia dengan tatapan dingin.
"Mas, kamu kok ngomongnya gitu, sih." Yulia semakin menangis mengetahui tanggapan suaminya seperti itu.
"Asal kamu tau, ya. Aku udah berakhir! Ternyata Dimas adalah pimpinan perusahaan yang baru. Dan papa kamu pasti saat ini udah kabur. Karena Dimas pasti melaporkan papamu ke polisi." Roby mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Ya Allah, jadi bagaimana nasib kita, Mas? Rumah yang kita tempati dan mobil juga masih nyicil."
Roby tampak berpikir keras. Namun, tiba-tiba ia teringat ucapan Dewi saat Reuni waktu itu.
"Kamu jangan khawatir, sayang. Kita pasti bisa membayar itu semua meski aku nggak kerja." Roby mengusap kepala Yulia dengan lembut. Mengecup keningnya dan menghapus air matanya.
"Mas, kamu udah sadar. Akhirnya kamu berubah, Mas." Yulia memeluk Roby.
"Iya, sayang. Aku sudah sadar." Roby mengusap pipi Yulia dengan lembut.
"Dengan cara apa kita mendapatkan uang, Mas?" tanya Yulia yang kini merasa penasaran.
"Kamu jangan banyak berpikir dulu. Sekarang kamu banyakin istirahat agar kamu cepat sembuh. Aku Mei temui dokter dulu. Maafin aku tadi ngomong nggak baik sama kamu. Aku cuma lagi emosi aja. Dan anak kita, aku turut bersedih, tapi nggak ada yang bisa kita lakukan. Kamu mengerti, kan?"
Yulia mengangguk mengerti. Roby tersenyum lalu meninggalkan Yulia sendirian.
Ia pun pergi ke ruang dokter guna menanyakan kapan Yulia bisa diajak berhubungan badan. Setelah mendapat jawaban dokter, Roby langsung menelpon seseorang. Entah apa yang ia katakan, yang pasti setelah panggilan telepon itu berakhir, ia pun tersenyum puas.
__ADS_1