Rasa Yang Tak Tepat

Rasa Yang Tak Tepat
Chapter 36 - Tak Peduli


__ADS_3

"Cepatlah, Yul! Kita udah terlambat, nih!" teriak Roby memanggil-manggil Yulia.


"Mas, aku nggak bisa ikut. Perut aku sakit banget, Mas!" Yulia meringis sambil memegangi perutnya.


"Halah! Banyak alasan banget kamu. Kalau nggak bisa bilang dong dari tadi!" sungut Roby.


"Mas, tolong anterin aku ke dokter, ya. Kamu nanti aja kesananya."


"Apa? Nganterin kamu? Enak aja! Ya kamu pergi sendiri sana. Emangnya aku supir kamu!" Roby mengambil jasnya dan segera memakainya.


"Mas, tolong! Perut aku sakit banget!" Yulia menahan tangan Roby agar ia tidak pergi.


"Lepasin, ah! Apa-apaan sih, kamu!" Roby menepis tangan Yulia dengan kasar. Membuat wanita muda itu menitihkan air mata.


"Mass!! Sakit banget, Mas!!!" Yulia pun beteriak.


"Ngerepotin banget sih, kamu! Ya udah ayo!" Roby menarik tangan Yulia dengan kasar menuju mobil.


Sepanjang perjalanan, ia terus saja mengumpat dan memaki Yulia. "Dasar istri sialan! Ngerepotin aja! Jijik banget sama kamu!"

__ADS_1


Umpatan Roby yang sangat menyakitkan itu membuat rasa sakit Yulia semakin jadi saja. Sudah perutnya sakit, sekarang malah hatinya juga ikut sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Yulia langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Sementara Roby, bukannya menunggu, kini ia malah pergi menuju lokasi acara pelantikan manger baru.


*****


"Kamu udah siap?" tanya Linda pada Dimas yang saat ini berada di salah satu ruangan gedung pelantikan itu. Dimas terlihat sangat gagah dengan setelah jas mahal. Sedangkan Linda tampak anggun dengan balutan dress yang juga tak kalah mahalnya. Sementara Dion dan Dela dipakaikan pakain yang serupa dengan Dimas dan Linda.


"Lihatlah bidadari kecil ayah. Cantik banget!" Dimas menggendong Dela yang memakai gaun seperti putri raja.


Dela hanya tertawa girang, sedangkan Dion terus menatap dirinya di depan cermin.


"Iya, dong. Kamu 'kan anak Ayah." Dimas mengusap kepala Dion dengan lembut.


"Ya udah, ayo kita berbaur dengan para tamu," ajak Linda.


Dimas pun mengangguk dan mereka berbaur dengan para tamu yang ada termasuk Pak Jalal yang merupakan ayah Yulia dan juga Roby sudah ada disana. Melihat hal itu, Linda langsung berbaur dengan tamu-tamu yang lain.


"Dateng juga, kalian. Aku pikir tamu yang ada disini cuma dari kalangan orang-orang atas. Ternyata orang rendahan seperti kalian juga diundang. Dan parahnya malah memakai baju resmi seperti petinggi perusahaan aja. Aku dong yang cocok dengan setelan jas," ucap Roby dengan bangganya.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu diam saja dan ikuti acaranya. Siapa tahu setelah ini kamu akan naik jabatan," sahut Dimas dengan tenang.


"Ya jelas dong. Posisi aku kan sudah ada di atas, sedangkan kalian masih berada dibawah. Kasihan sekali kamu Dimas. Sudah cuma karyawan biasa, istri seorang janda dan kamu juga harus mengurus dua orang anak yang bukan darah daging mu. Malang sekali nasibmu!"


"Aku bahagia bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Nggak ada namanya anak pembawa beban. Yang ada adalah anak pembawa rezeki. Yang menganggap anak dan istri adalah beban, berarti dia orang yang paling nggak berguna di dunia ini. Dikasih rezeki anak malah menolak, bodoh banget." Dimas menatap Roby dengan tatapan mengejek.


"Sombong banget kamu! Kamu itu dapat bekas. Dulu dia jelek dan Kumal kayak pembantu, tapi kamu masih mau aja."


"Jangan pernah menghina istriku. Dia itu dulu seperti itu karena suaminya nggak memberi dia nafkah. Suaminya terlalu miskin untuk modali dia dandan. Kamu lihat sekarang. Linda begitu cantik dan anggun. Karena siapa? Karena aku, memperlakukan dia dengan baik. Aku biayai kebutuhannya dan aku juga nggak membatasi uang belanjanya. Jadilah dia seperti bidadari." Dimas tersenyum melihat ekspresi Roby yang terlihat kesal.


Kemudian ia melanjutkan. "Dan kamu lihat disana. Dion dan Dela. Kamu nggak kangen sama darah daging mu sendiri? Coba kamu lihat? Mereka memakai pakaian bagus dan wajahnya terlihat sangat bahagia. Karena apa? Karena aku memperhatikan mereka, aku memberi kasih sayang pada mereka layaknya seorang Ayah. Aku selalu mengajak mereka jalan-jalan setiap akhir pekan meski hanya berkeliling. Kasihan mereka, selama ini nggak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Karena apa? Karena Ayahnya nggak peduli sama mereka." Dimas menatap Roby dengan datar.


"Pinter banget kamu ngomong, ya. Mau menggurui aku, kamu? Sok banget, baru membahagiakan keluarga aja udah sombong."


"Ya jelas lah aku sombong. Aku telah melakukan kewajiban ku sebagai seorang suami. Uang bisa memang penting. Tapi kebahagiaan, itu yang paling utama. Kamu punya prestasi apa? Uang nggak bisa ngasih, kebahagiaan apa lagi." Dimas menggelengkan kepalanya sembari tersenyum mengejek.


"Awas aja kamu, ya. Aku akan membuat kamu dipecat!" ancam Roby.


"Aku tunggu." Dimas tersenyum lalu pergi menghampiri Linda dan kedua anaknya. Mereka tampak begitu harmonis. Linda yang memang ramah, membuatnya mudah bergaul dengan orang-orang yang baru saja ia temui.

__ADS_1


__ADS_2