Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
1


__ADS_3

...Teruntuk kamu yang kurindu, ...


...namun tak sempat bertemu, ...


...maaf,...


...dan sampai bertemu. ...


...♔...


Rashi Anuja tergesa memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah dua tingkat sisi paling dalam lorong tersebut.


Dengan tangan bergetar dan tenaga yang sejujurnya hampir terkuras, gadis itu menarik rem tangan sebelum bergegas turun dari mobil kakaknya yang ia pinjam. Sepatu hak tinggi mungkin jadi salah satu penyebab Rashi merasa akan jatuh, tapi matanya yang bengkak tertuju lurus ke depan, berlari mendekati teras rumah.


Ada dua orang yang berjaga di depan pintu kayu jati bercat cokelat itu. Mereka melihat Rashi ragu-ragu, haruskah menghentikan atau tidak, meski pada akhirnya mereka diam, membiarkannya mendorong pintu untuk masuk tanpa izin.


Gadis berkaus putih ketat yang menonjolkan dada bulat besarnya itu kesayangan pimpinan dari pemimpin mereka, jadi tak ada yang berani melarang sekalipun ada perintah tidak membiarkan seseorang mengganggu rapat besar organisasi. Kedua pemuda yang bertugas menjaga itu sempat mengintip, melihat Rashi berjalan terburu-buru menaiki tangga hingga sepasang kaki sintalnya berlenggok indah dibalut celana jeans biru tua.


Sementara itu, Rashi sedang tak bisa memedulikan sekitar.


Ia terus berjalan menuju satu tempat yang telah ia rekam dalam ingatannya beberapa tahun lalu. Rumah batu berdesain sederhana ini dibangun bukan untuk ditinggali seseorang, melainkan khusus sebagai lokasi rapat, terutama jika para eksekutif dari setiap kota berkumpul. Cat temboknya putih bersih, tanpa ada hiasan ataupun tambahan perabotan seperti meja, kursi pun lukisan. Semua sisinya kosong, jadi Rashi tahu, meja dan kursi rapat di ujung lantai dua masih belum dipindahkan ke ruangan lain.


Tak ada yang berjaga di depan pintu itu, karena memang dianggap tak diperlukan.


Air matanya mulai menggenang lagi, berlomba-lomba membasahi pipi padahal sudah seminggu ini ia terus menangis. Rashi tahu ia tak boleh menerobos masuk. Dirinya bukan sosok yang pantas mengganggu pekerjaan orang itu ketika ia hanya menjadi boneka barbie kesayangannya. Namun Rashi tak bisa memikirkan arah lain selain tempat orang itu berada.


Maka tangannya yang gemetar mendorong pintu, disapa oleh kebisingan suara entah dari siapa di antara sebelas laki-laki dan satu perempuan di ruangan itu.


Detik berikutnya, hening menyapa.


Sebelas pemuda yang duduk di kursi menoleh ke arah pintu, mengecek siapa anak tak tahu diri yang berani menerobos pertemuan penting kesepuluh preman dari sepuluh kota di pulau ini. Pemimpin dari kesepuluh orang tersebut, orang kesebelas, satu-satunya yang duduk di sisi lebar meja, langsung terkaget.


Dan sebelum dia bicara, sekretarisnya maju dengan wajah terganggu.


"Lo enggak boleh masuk ke sini. Keluar." Amel namanya. Perempuan cantik bertubuh molek yang sejak awal mengenal Rashi, sudah memberi aura permusuhan kuat.


Rashi menggeleng pada gadis itu, menatap Mahesa Mahardika di sana. "Ini penting. Gue perlu ngomong sama Mahesa sekarang."


"Penting buat lo enggak ada pentingnya buat kita. Keluar!"


"Sa." Rashi melewati Amel. Sekuat tenaga menarik tangannya saat gadis itu coba menahan. Air matanya banjir lagi. Langsung jatuh ke pangkuan Mahesa untuk menangis kencang di depan sepuluh laki-laki lainnya.


Tentu saja Mahesa terheran.


Tak pernah Rashi begini. Menangis di depan satu orang asing haram baginya, Mahesa sudah sering mengajari dia cara mengontrol emosi. Tapi bukan cuma menangis, Rashi memeluknya, duduk di pangkuan Mahesa seperti bocah kecil yang ketakutan akan dunia.


"It's okay." Mahesa mencegah Amel yang mau menyeret Rashi pergi. Membalas pelukan gadis itu ditonton oleh seluruh anak buahnya.


Seorang pria bertindik dengan tato elang di lengannya mengernyit, sangat amat tidak menyukai gangguan yang diberikan gadis berkaus putih sama dengannya. Di seberang meja, pemuda berwajah tampan yang memakai hoodie bertuliskan 'Buaya' justru tersenyum, sangat amat menikmati perkembangan tak terduga dari salah satu gadis kesayangan Mahesa itu. Di sebelahnya pula pemuda berambut jabrik mengamati dengan ekspresi terdistorsi.


Lainnya melakukan hal sama, sesuai dengan emosi dan perasaan mereka masing-masing.


"Hey, Pretty." Mahesa menangkup wajah Rashi setelah beberapa saat membiarkannya menangis. Sentuhan lembutnya mengarahkan wajah cantik gadis itu agar berhenti bersembunyi, menatap langsung kehangatan Mahesa. "What's going on? Why you're crying?"


Isakan Rashi menguat. Wajahnya benar-benar tampak menyedihkan dan jika itu ditampilkan di luar, niscaya sekelompok kaum adam akan berbondong-bondong datang untuk memberantas masalah sialan yang membuat gadis secantik ini terisak-isak.


"Rashi, answer me. What's going on? What happened? Baby?" Mahesa memeluk bokong sintalnya, menarik Rashi lebih dekat lalu mendaratkan kecupan di dekat telinganya.


Mahesa tak suka memperlihatkan kemesraan yang intim di depan orang lain, tapi bagi Mahesa yang mengenal Rashi, tidak mungkin gadis peliharaan tersayangnya ini menangis terisak-isak, datang langsung menerobos rapat kecuali ada hal besar.


"Soal bokap lo? Lo kangen dia?"


Kesepuluh lelaki itu tahu apa cerita dibalik kata ayah pada kalimat Mahesa.


Satu minggu yang lalu, di tempat yang sama, untuk membahas masalah sama pula, ponsel Mahesa mendadak berbunyi dan ada telepon masuk dari Rashi. Ayahnya meninggal dunia hingga Mahesa terpaksa menghentikan rapat yang baru dimulai untuk datang ke lokasi, bantu menginstruksikan apa saja yang perlu dilakukan.


Setelah seminggu, di hari yang sama pula mereka berkumpul lagi untuk menyelesaikan masalah. Lagi-lagi Rashi datang membawa masalah.


Sebagian besar dari mereka tak senang. Dan cuma satu, yang mulai terlihat murung.


Rashi berusaha menghentikan tangisannya sebab ia tak datang untuk ini. Sesak di dadanya naik sampai ke kepala hingga Rashi merasa tercekik di ruang yang begitu bebas ini. Wajahnya pun menjauh dari leher Mahesa.


Samar-samar, hidungnya masih bisa menghidu wangi kasturi dari tubuh kekar Mahesa yang dibalut kemeja formal. Matanya sempat beralih ke belakang, menemukan gambar seorang gadis kurus tampak sedang berjalan di antara keramaian stasiun kereta. Gadis itu langsing dan kurus, beda dari Rashi yang tebal oleh daging sekal. Wajahnya cukup cantik, percampuran antara Asia Kaukasia yang membuatnya jadi setengah bule.


Tahu ke mana Rashi memandang, Mahesa tersenyum menyentuh dagunya. "Dia pimpinan kelompok yang nyuri uang gue dua bulan ini. Gimana menurut lo?"


Bukan jawaban yang Rashi berikan, melainkan tatapan yang bergulir ke meja rapat.


Pada ruangan luas yang hanya berisi satu meja besar dan kursi-kursi, Rashi menemukan sepuluh wajah pemuda menatapnya.


Ia bertemu pandang dengan Karya, pemuda berkulit putih kekar, pendek namun menyeramkan saat mendelik. Pemimpin divisi Taka itu tidak suka Rashi menginterupsi rapat mereka. Lain hal dengan Alby, dia justru tersenyum-senyum penuh ketertarikan.


Ketika matanya menemukan Rainal, pemuda itu langsung mengalihkan mata.


Mahesa sebenarnya benci buang-buang waktu. Kendati ia tahu Rashi bukan gadis bodoh, masih ada kemungkinan dia hilang akal akibat ayahnya yang mati. Diarahkan kembali wajah Rashi padanya, berusaha tetap mengurai senyum hangat. "Bilang sama gue ada apa. Lo mau apa?"


Bibir Rashi bergerak. Matanya terpejam dan itu tak menghalau air mata berjatuhan dari kelopaknya. Secara mandiri Rashi menggerakan wajah, membuat tangan Mahesa seperti sedang mengusap pipinya. "Mahesa," panggilnya dengan suara tercekik.


"What is it? What do you want, Princess?"


Gadis itu menggeleng. "Gue hamil."


Yang pertama kali tercengang adalah Amel.

__ADS_1


Perempuan itu melotot dengan mulut setengah terbuka, langsung menatap Mahesa yang perlahan terdiam kaku. Alby agak kehilangan senyum untuk sejenak, sebelum dia menutup mulut, menyembunyikan seringai di bibirnya.


Karya tak berekspresi, tapi Rainal tampak lupa cara bernapas.


Sisanya mengamati jelas bagaimana Mahesa yang selalu bisa mengontrol sesuatu—ingin mengendalikan segala sesuatu—kini terdiam bisu.


Senyum sok mesranya hilang. Sentuhannya lepas bahkan dari bokong Rashi. Wajah pangeran itu mengerut sangat dalam, seolah-olah problema ini jauh lebih rumit dan sulit daripada pembicaraan tentang sekelompok pencuri yang berhasil meraih koper-koper uang berisi ratusan juta mereka.


"Lo bilang apa?" Mahesa tak lagi menggunakan nada halus. Itu pertanyaan tegas yang membutuhkan jawaban sangat jelas.


Rashi tak pernah mendapat nada itu dari Mahesa hampir lima tahun mereka bersama. Ia menggeleng, tersekat sendiri saat mulai merasa ragu dan takut. "Gue—"


"Jawab, Rashi. Lo apa tadi?"


Isakan Rashi menguat. "Gue hamil." Pegangannya pada bahu Mahesa pun mengerat. Stres yang menumpuk di kepalanya menciptakan sakit, mengalir ke setiap sudut tubuhnya untuk menyiksa Rashi. "Gue hamil," ulangnya sumbang.


Mahesa menemukan akal sehat pada penegasan itu. Matanya melirik wajah di kursi-kursi lain, di mana mereka langsung terlihat seperti tidak dengar, tidak peduli, dan tidak pernah tahu.


Ini berbahaya, pikir Mahesa dan anak buahnya, tapi memiliki arti berbeda.


Bahaya, pikir mereka semua, karena Mahesa paling benci diendus kelemahannya.


Bahaya, pikir Mahesa, karena semua orang ini kini melihat ia memiliki celah.


Harus segera diselesaikan, dan meninggalkan bekas bahwa ucapan barusan bukanlah kelemahan.


"Panggil Lilan," instruksinya pada Amel.


"Sa." Rashi mengguncang bahu Mahesa. Sungguh ia berharap Mahesa tetap tersenyum dan memeluknya seperti tadi. "Lo janji semuanya bakal baik, kan? Lo janji enggak nyakitin gue, kan?"


Senyum Mahesa merekah lagi. Seolah dia tak pernah menatap dingin Rashi, pria itu memeluknya erat. "Absolutely, Rashi. Enggak pernah ada alasan gue nyakitin lo."


"Lo janji? Lo janji, kan?"


"Cukup sekali gue janji, Sayang. Itu enggak pernah berubah."


Rashi menemukan sedikit harapan. Ia memegang tengkuk Mahesa agar lurus menatapnya. "Sa, ini—"


"Bakal ilang."


Inilah alasan terbesar Rashi menangis. "Sa, please. Kasih gue kesempatan. Dia enggak bakal—"


"Sssttt." Mahesa masih menatap halus, tapi tekanan dari auranya mencekik. "Gue enggak nyangka lo hamil, itu salah gue. Itu enggak boleh ada, Pretty. Lo tau itu."


"Tapi lo janji." Rashi tak peduli semenyedihkan apa dirinya memohon. Tak peduli ia disaksikan banyak orang, Rashi mengguncang bahu Mahesa lagi. "Lo janji ngasih yang gue mau. Biarin gue jaga dia. Gue enggak minta apa-apa. Please. Lupain gue atau tinggalin gue, tapi jangan dia."


Ia tak butuh pemuda yang memperlakukannya sebagai boneka barbie hiasan, asal bayinya tak direbut. Satu persetujuan dan kalau dia mau Rashi menghilang dari hidupnya, maka Rashi akan melakukan itu.


Ia tak datang minta dinikahi, karena sejak awal Rashi tahu Mahesa tidak mengincar pernikahan.


Kejar mimpinya jadi pebisnis, orang terkaya di dunia atau mungkin jadi Tuhan, tapi tolong, jangan renggut janin ini darinya.


"Lo tau bukan itu masalahnya." Mahesa menyentuh perut Rashi dan sumpah, ia membuatnya merasa sangat takut. "Enggak ada satupun cewek gue yang boleh hamil, apalagi anak gue. Buang dia. Mau enggak mau."


"Mahesa." Rashi mencoba membuat wajah lebih melas lagi.


"Sayang, dengerin gue. Lo enggak butuh ini. Lo masih SMA, lo punya mimpi, lo punya kakak lo. Jangan gegabah cuma karena lo pikir ini anak lo. Bakal cepet. Lo ikut sama Lilan nanti."


"Gue enggak mau." Rashi merintih. "Gue enggak mau. Ini anak gue, Sa."


"No need worries. Enggak bakal sakit."


"Sa, jangan anak gue."


Mahesa tertawa. "Rashi, ini bukan anak. Belum jadi anak. Nurut sama gue, oke? Buang dia."


Menit demi menit berlalu Rashi memohon. Mahesa tetap hanya tersenyum mengatakan harus membuangnya.


Tangisan Rashi tak memiliki pengaruh apa pun selain mengoyak udara. Hampir dua puluh menit berlalu dan suaranya mulai habis merintih, pintu ruangan terbuka lagi, menampilkan sosok Lilan.


"Sa, please. Please. Jangan kayak gini. Cuma ini yang gue punya sekarang, Sa. Please."


"Itu enggak bener, Sayang." Mahesa beranjak, mengangkatnya sebelum memaksa Rashi untuk berdiri secara mandiri. "Lo masih punya Rasya dan lo punya gue. Sekarang pergi sama Lilan."


Lilan tak banyak bicara, menyentuh lengan Rashi seolah mau menariknya. Hal itu membuat Rashi tersentak panik, ketakutan memeluk Mahesa. "Please. Please. Buang gue yang jauh. Lupain gue atau ambil apa pun asal jangan ini. Tolong, Sa. Tolong. Gue mohon."


"Rashi, jangan bikin gue marah."


"Enggak masalah." Rashi menolak disentuh oleh Lilan. Berputar agar Mahesa saja yang berada di dekatnya, sambil terus memohon. "Marah sama gue. Pukul gue atau apa pun. Tapi please. Jangan bayinya."


"Kenapa gue harus mukul lo?" Mahesa menyentuh lembut wajah Rashi. "Gue tau cewek gue pinter. Sekarang ikut sama Lilan. Jangan bawa sesuatu yang ngancurin hidup lo sendiri."


"Sa, gue enggak mau."


Penolakan Rashi memicu kekesalan Mahesa. Tak lagi menggunakan lidahnya untuk membujuk, Mahesa mengulurkan tangan untuk suntik bius yang dipersiapkan oleh Lilan.


Karakter Rashi membuat dia tahu pasti akan jadi seperti ini.


Rashi mundur menjauh, tersandung hingga nyaris jatuh jika Alby tak sigap mendekap pinggangnya.


Tapi itu juga sebagai penahan agar Rashi tak kabur.


"Mahesa, please." Rashi memberontak dari tangan Mahesa yang menggulung lengan baju ketatnya. Memberi penolakan keras saat kapas alkohol diusapkan pada titik nadi di bawah lipatan siku Rashi. "Sa, jangan."

__ADS_1


Mahesa menahan suntikannya, tapi mengisyaratkan Alby tetap mendekap pinggang Rashi. "Baby, listen to me. Yang lo rasain sekarang cuma khayalan ibu hamil. Okay? Itu cuma dorongan hormon yang bakal nyiksa lo kedepan. Lo enggak butuh anak dan lo tau gue enggak mau punya anak sama siapa pun. Gue janji enggak bakal kayak gini lagi. Lo enggak boleh bikin masalah, kan? Demi Rasya."


Pemberontakan Rashi semakin lemah. Ia tahu memang mustahil merawat anak saat ayahnya baru meninggal dan sekarang ia cuma bersama sang kakak yang bahkan masih canggung bicara pada Rashi.


Hidupnya terlalu kacau untuk punya anak.


Tapi instingnya sebagai ibu menolak bayinya terluka.


"Mahesa." Rashi menangis terisak-isak lagi. Lebih pedih dan lebih menyedihkan. "Gue turutin semua mau lo asal jangan ini. Please. Please. Kasih gue satu aja kesempatan. Enggak ada yang bakal tau ini anak lo."


"Tapi gue tau itu anak gue. Ayolah, Rashi. Jangan kayak anak kecil."


Pegangan Mahesa pada tangannya lembut, jadi bebas Rashi menarik itu. Meskipun pelukan Alby cukup kuat, Rashi masih bisa memutar tubuhnya membebaskan diri.


Ia tak bisa lari keluar melawan tiga belas orang yang lebih terbiasa bertarung, jadi Rashi melakukan hal licik dengan berpindah ke pelukan Rainal. Dia terkejut, tak menyangka Rashi memeluknya. Tapi spontan Rainal memegang bahu Rashi yang terkesan dia menerima.


"Bilang sama Mahesa, jangan." Rashi mengguncang bahu pemuda asing yang ia tahu suka padanya itu. Sejak pertama kali Mahesa memperkenalkan Rashi pada mereka, tatapan Rainal padanya selalu berbeda. "Bilang sama dia, jangan, Rail. Tolongin gue."


Mustahil Rainal dapat membantunya.


Dia mengikuti Mahesa karena tak bisa melawan pria itu.


Alby yang tahu itu, tersenyum geli. Ia berpikir, mungkin kalau Rashi berlindung pada Karya, setidaknya masih masuk akal, walau percuma juga. Namun selain Karya juga takut pada Mahesa, Karya nampaknya tidak menyukai Rashi.


"Lo tau lo enggak bisa ke mana-mana." Mahesa menatap tajam. "Lo dateng minta izin karena tau lo butuh itu. Gue enggak izinin dia ada. Sekarang sini, Rashi. Sebelum gue beneran marah."


"Gue enggak mau." Rashi menarik-narik jaket bergambang gagak, lambang divisi Rainal itu. "Bilang dia gue enggak mau. Ini anak gue. Bilang dia, gue enggak mau."


Amel tak bisa sabar. Dia maju ingin mengambil alih. "Sa, biar gue."


Tapi Mahesa mencegah. Menyuruhnya diam dan mundur tanpa menoleh. "Rashi, gue kasih kesempatan. Lo tau enggak ada bagusnya bikin gue marah, kan?"


"Rail." Rashi memelas padanya. Menyadari Rainal benar-benar tak tega.


Bisakah Mahesa juga merasa begitu? Bisakah dia merasa seperti akan mati jika Rashi terus menangis, jadi dia akan mengabulkan apa pun itu, termasuk anak ini?


"Bilang gue enggak mau. Gue enggak mau. Gue enggak mau."


Rainal takut Mahesa menganggap ia coba membela Rashi, namun rasa cintanya mendorong untuk bertindak. Setidaknya mengusap punggung gadis itu.


Sekali lagi, Alby menyaksikan semuanya, menahan tawa.


"Kalau Rasya tau lo hamil, lo mau bilang apa sama dia?" Mahesa menembak kelemahannya.


"Tapi gue enggak mau," rengek Rashi parau.


"Enggak ada. Makanya lo ke sini, minta solusi. Gue nolak itu, Rashi. Jadi sini. Jangan buang waktu lagi."


"Ini anak gue." Rashi menangis pedih. Kepalanya pusing, dadanya sesak dan ia hampir tak bertahan jika tak merasa Rainal balas memeluknya. "Ini anak gue."


Kesabaran Mahesa habis. "Bawa dia ke sini."


Rainal menelan ludah.


Itu instruksi untuknya yang sudah merasa terbunuh melihat Rashi terisak-isak.


Tapi Mahesa tak akan mau tahu perasaan Rainal bagaimana. Maka Rainal memaksakan diri melepas pelukan Rashi, berusaha mendorong kakinya melangkah.


Ternyata tak bisa. Rainal tak mau.


Kendati dia sedih Rashi hamil anak Mahesa, ia lebih tak bisa melihat dia menangis dan memohon. Rainal coba menatap Alby, sedikit berharap dia mau berhenti menonton seolah ini komedi agar dia saja yang membawa Rashi pada Mahesa.


Tentu saja mustahil, sebab Alby justru semakin mau melihat Rainal menentang pimpinan mereka.


Rainal menelan ludah. Tak tahu harus apa, dan semakin tak tahu ketika Rashi mendongak, menggeleng penuh permohonan.


Jangan, bisik matanya yang bengkak.


Jangan, rintih wajahnya yang melas.


Dengan penuh kesadaran atas tindakannya, Rainal menatap suntikan bius di tangan Mahesa. "Gue enggak bisa."


Setelah ini, Rainal hanya berharap ia masih hidup.


Alby terlihat sangat puas Rainal sungguhan menentang perintah. Mahesa langsung berwajah datar, mengedik pada Alby untuk menarik Rashi dari pelukan si pengkhianat.


Perintah itu menggerakan Alby. Meraih lengan Rashi secara paksa agar lepas dari Rainal, tak peduli sekeras apa dia memberontak.


"Lepas! Please, please jangan. Lepasin gue! Sa, jangan."


Alby mendorong Rashi hingga menabrak tubuh Mahesa. Kini Lilan dan Amel maju, memegang secara paksa kedua tangan Rashi agar berhenti memberontak dari suntikan Mahesa.


"Gue enggak mau. Gue enggak mau. Gue enggak mau!" Rashi tersedu-sedu. Tapi cuma bisa menangis ketika jarum suntik mulai menusuk kulitnya yang telah dibersihkan oleh cairan alkohol. "Hiks, Sa. Jangan. Jangan kayak gini."


"It's okay, Baby, it's okay." Mahesa membuang jarum suntik itu setelah selesai memasukkan cairannya. Pegangan Lilan dan Amel lepas dari Rashi yang langsung terbungkus pelukannya. "Everything's gonna be alright, soon. Everything. I promise."


"Sa. Jangan."


Ketika obat bius itu mulai bereaksi, Mahesa melepas pelukannya. Memberikan Rashi pada Lilan yang tak perlu intruksi tambahan apa pun. Gadis itu dibawa pergi sambil terus meracau jangan dan tidak mau.


Mahesa tak peduli. Kembali duduk di kursinya untuk menyelesaikan masalah daripada ditunda dan merugi lagi. Tentu saja, tak mungkin jika masalah lain beres.


"Karya."

__ADS_1


Seolah tahu harus apa, Karya berdiri. Berputar dari sisi kiri ke sisi kanan meja. Dalam hitungan detik, pukulan demi pukulan mendarat di wajah Rainal, sebagai hukuman dari penolakannya terhadap perintah Mahesa.


...*...


__ADS_2