Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
18


__ADS_3

Rashi merasa nyaman Yatha bergaul dengan Hendra dan Ervan di sana.


Anak itu mungkin melihat keduanya sebagai Candra, hingga dia oke-oke saja berceloteh walau sempat malu beberapa saat.


Mereka duduk di rerumputan dekat kolam karena Yatha ingin makan salad buah—Rashi paling pantang membiarkan adiknya makan sambil lari. Dia terbiasa duduk setiap kali ingin makan atau minum hingga tubuhnya tak tahu cara makan sambil jalan. Ervan tengah berceloteh soal Kapten Amerika yang disukai Yatha, sedangkan Hendra usil menyuruhnya pindah saja menyukai Iron Man.


Katanya, baju Kapten Amerika itu norak, sementara Iron Man lebih simpel. Lalu Yatha yang maunya Kapten Amerika jadi ngotot mendebat Hendra dan pemuda itu malah tertawa-tawa membantah.


Bagi Rashi, membiarkan Yatha bergaul dengan orang dewasa itu penting. Anak kecil sangat suka meniru sesuatu yang dia lihat dan dia dengar. Karena itu anak kecil yang temannya lebih banyak orang dewasa akan tumbuh lebih dewasa pula.


Butuh kedewasaan menghadapi dunia. Rashi tidak menyukai konsep anak kecil hidupnya memang untuk main. Ia lebih suka konsep bermain dan belajar. Keduanya tak boleh dipisah. Terutama untuk anak laki-laki.


"Apaan sih, si Riska? Nyebarin isu enggak jelas soal lo di grup. Ngiri enggak gitu juga kali!"


Rashi menoleh, tiba-tiba Sara marah pada ponselnya. "Kan gue udah bilang, cuekin aja, Ra. Biarin aja dia ngomong apa."


"Tapi masa dia bilang lo sama Bang Rasya inses."


Oke, itu mulai terlalu jauh.


Hendra dan Ervan bahkan menoleh. Mau tak mau mereka berkumpul melihat apa yang sebenarnya Sara bicarakan.


"Tuh liat. Katanya 'masa sih cuma sodaraan manggilnya Papa Mama?'. Terus dia bilang, lo katanya sengaja narik cowok supaya suka sama lo pake badan lo. Apaan, sih? Mentang-mentang tepos."


"Is that true?" Hendra menatapnya. "Kalian manggil Papa Mama?"


"Yah. Gue manggil Rasya Papa, tapi dia manggil gue Rashi. Any problem?"


Xena menjatuhkan kepalanya ke belakang saat mendongak ke bentangan langit biru. "Lo serius mau diem aja? Digosipin apa pun?"


Kata Mahesa, ada dua cara menghentikan gosip. Satu, klarifikasi, dua, diam saja. Dan diam, adalah cara paling no-drama.


Mahesa bahkan pernah bilang, jika saja bukan karena permainan politik, dia ogah memanipulasi gosip tentangnya. Karena klarifikasi itu buang-buang waktu, tenaga, bahkan sampai biaya.


Rashi bukan Mahesa yang punya kepentingan politik dalam kedudukan. Ini hanya bangku sekolah. Hanya masalah popularitas di sekolah.


Ambil saja kalau Riska mau.


Dengan Candra dan seksinya sekalian.


"Let me ask you. Apa gosip otomatis ilang kalau gue bilang 'itu enggak'?" Rashi tersenyum main-main. "Sekalipun gue bilang enggak, gosip udah terlanjur nyebar. Cara paling gampang dan enggak ngambil banyak tenaga, itu diem. Menurut gue. Karena lama-kelamaan mereka bakal bingung sendiri mana yang bener."


"Tapi sebelum itu, gosip soal lo bakal lebih liar lagi. Makin banyak yang tau, makin kreatif mereka ngebungkus." Xena mengedik. "Baru tadi pagi, sekarang udah sampe gosip lo sama kakak lo inses. Padahal kakak lo muncul aja belum."


"Gimana kalau mereka nyimpulin itu bener?" tanya Ervan.


"Ada bukti?" Rashi tertawa kecil menggelitik dagu Yatha yang memeluk pahanya. "Yatha jadi adek Mama, anak Mama, mana aja bisa, kan? Yatha tetep sayangnya Mama."


Anak itu tertawa manja. "Kalau ada yang jahatin Mama, Yatha yang lawan."


"Ohya? Aman dong Mama sekarang. Ada superhero kayak Yatha."


"Kakak juga dijagain, yah?"


Mereka ramai menanggapi ucapan Yatha, tapi Rashi diam-diam merasa Hendra menatapnya agak terlalu dalam.


Itu mengganggu. Karena bagaimanapun, dia kekasihnya Xena.


Yang tidak Rashi mengerti, ia merasa itu bukan tatapan suka seperti Candra, atau Ervan yang kagum akan fisiknya.


Ada makna tertentu dari cara pandangnya dan itu seolah menguliti Rashi hidup-hidup.


Rashi merasa sesuatu makin tidak beres ketika Hendra berbisik ke telinga Xena. Setelah itu, ia sadar Xena melihatnya, lalu tiba-tiba beranjak menggendong Yatha.


"Kamu mau ikut Kakak sebentar enggak? Di sana ada ayunan, loh. Ayo, Ra."


Untuk apa dia membawa Yatha dan Sara menjauh? "Hati-hati, Sayang."


Rashi mempertahankan sikap tak tahu apa pun dan melambai pada mereka. Ayunan yang Xena maksud tak jauh, karena memang cuma beberapa puluh dari mereka, berada di salah satu sisi taman, tepatnya di bawah sebuah pohon beringin besar.


"You know what, Princess?" Hendra duduk di sampingnya, melipat kaki sementara Ervan di sisi lain, bersandar penuh rasa penasaran. "Gue pengen ngomong dua hal."


"Sepenting apa sampe ngusir Xena?"


"Gue cuma enggak mau mereka denger itu, terutama Sara." Hendra mengedip genit. Tapi matanya tidak memperlihatkan permainan apa pun. "Lo mau tau yang pertama atau yang kedua dulu?"


"Apa bedanya yang pertama sama kedua?" Rashi melipat tangan.


"Hmmmmm, yang pertama itu cantik, yang kedua seksi."

__ADS_1


Ini menggelisahkan.


Rashi tidak bisa menebak apa.


Gerakan spontan yang Rashi lakukan adalah memegang kalungnya, meskipun tetap terlihat alami.


"Okay, yang pertama dulu. What is that?"


"I love you."


Hm, apa dia sedang bercanda? Rashi mengangkat alis ketika Ervan terkekeh-kekeh. Sempat Rashi berpikir dia tahu sesuatu soal sikap Hendra, tapi Ervan tidak terlihat tahu apa pun.


"Gue jadi saksi bisu perselingkuhan. Princess, jangan mau sama dia. Mending lo sama gue aja."


"Sama kalian berdua juga gue bisa."


Mereka berdua tertawa menikmati.


"Jadi, bagian mana dari gue yang lo cinta itu, Hen?"


"Your mentality." Hendra mengulurkan tangan, terang-terangan meraih sejumput anak rambut di dekat telinga Rashi dan menyelipkannya ke belakang. Gestur dia benar-benar halus menggambarkan kebiasaan melakukannya. Dia tipe pria penggoda, tapi ada ketulusan dari matanya saat melakukan sesuatu. "Bukan cuma itu, sih. Cara lo ngeliat, cara lo senyum, cara lo jalan, cara lo ngelakuin sesuatu, itu kayak diatur baik-baik. Jarang gue liat cewek kayak lo, terutama dari keluarga yang enggak punya keharusan soal etiket."


"Okay, maksudnya?"


"Kedua," Hendra menyentuh ringan ujung hidungnya dengan telunjuk, "gue benci sifat lo."


Untuk pertama kali, Rashi dibuat terheyak.


Jujur berkata, ia tak terbiasa menerima ucapan kebencian terutama dari mereka yang sudah ia anggap teman.


Riska dan Hendra berbeda. Sejak awal, Rashi membatasi dia sebagai orang yang membencinya, sementara Hendra ... dia tak pernah terlihat benci.


Tapi dia sungguhan benci saat mengatakannya.


Matanya dingin.


"Wes, bro, the ****?" Ervan menyentuh bahu Rashi dengan sikap defensif. "Kasian Rashi digituin."


"C'mon. Gue cuma bilang benci sikap. Bukan berarti gue benci Rashi. Jangan tersinggung, Sayang."


Rashi tidak tersinggung. Ia sibuk berpikir apa yang membuat Hendra benci.


Mana sikapnya yang salah?


Apa Xena diam-diam merasa Rashi pantas dibenci, lalu dia memberitahu Hendra sesuatu yang membuat cowok ini benci juga?Atau Hendra merasa Rashi memang buruk dalam melakukan sesuatu? Apa dia berpikir Rashi perempuan menyebalkan?


Tapi Rashi sudah sedemikian rupa mengatur—


"Tuh, kan, lo mulai lagi." Hendra memandangnya justru seperti Rashi memandang Yatha. Sayang dan mau menjaga. "My Lady, gue tersinggung kalau lo ngeliat gue kayak lo itu mesin scanner. Harus tau dulu isi pikiran gue apa, sifat gue kayak gimana, ngadepin gue kayak gimana. Gue jadi ngerasa lo bukan mau tememan sama gue, tapi mau manfaatin gue, misalnya?"


Rashi terheyak lagi.


Dia ... tahu?


"Lo itu munafik. Gue yakin penilaian gue enggak berubah biarpun gue kenal lo setahun kemudia. Iya enggak, Van?"


Ervan mengalihkan mata. Berarti dia juga berpikir sama.


"Lo munafik, muka dua. Bukan dalam arti lo pura-pura suka padahal lo benci. Tapi lebih kayak, lo ngebatasin diri lo sendiri dari orang lain. Lo biarin orang nganggep lo sahabat, sementara lo nganggep mereka semua sama. Itu enggak adil. Terutama buat Xena. Gini-gini, gue tuh cowok sejati yang selalu pengen ngabulin kemauan ceweknya."


Hendra tersenyum.


"Cewek gue bilang dia mau jadi sahabat lo."


Mulut Rashi terkatup.


"Jadi bisa lo berenti ngeliat orang seakan-akan mereka semua harus lo kuasain? Gue enggak bilang lo buruk soal itu, tapi Rashi, manusia punya perasaan. Ngalir aja secara alami daripada harus sibuk ngebatasin diri."


"...."


"Atau karena Mahesa?"


Hal selanjutkan yang terjadi tak bisa Rashi tahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, jatuh menimpa Ervan yang langsung berusaha menahannya.


Kegelisahan Rashi meluap bagaikan buih di masakan yang mendidih. Ia tak bisa menyembunyikan tatapan waspadanya dari Hendra, menyebut satu nama yang seharusnya orang tahu itu tak ada hubungan dengan Rashi.


"Rashi?" Ervan sekali lagi tidak mengerti, mendukung baik-baik tubuhnya agar duduk tegak. "Man, the **** you're talking about? Ngapain juga lo ngerusak suasana kayak gini?"


"Rashi mantannya Mahesa Mahardika."

__ADS_1


"Hah?" Ervan melongo.


"Dan dia putus sama Mahesa karena hamil."


Nyawa Rashi sudah berada di ujung tanduk. Ia spontan melihat Yatha, ingin beranjak pergi membawa adiknya sejauh mungkin. Defense systems-nya menyuruh Rashi untuk menjauh dari segala hal yang tidak bisa ia kendalikan.


Menjauh dengan segala hal yang tidak Mahesa kendalikan.


Mustahil seorang Mahesa Mahardika akan mengirim Hendra ke sini hanya untuk menyebarkan berita Rashi hamil. Jika saja bisa, dia akan membunuh semua orang yang tahu kehamilan Rashi agar rahasianya tersimpan rapat di kerak bumi.


Entah dari mana dia tahu, Rashi merasa ia harus lari.


Tapi sebelum itu terjadi, Hendra menahan tangannya. Tak kasar. Sama sekali tak bermaksud buruk. "Easy, Girly. I don't wanna hurt you. Trust me. You can trust me."


Kerongkongan Rashi terasa menelan batu. "Lo tau dari mana?"


"Gimana kalau gue bilang dari Lilan?"


"Lilan?!"


Apa dia berkhianat dari Mahesa sekarang?


Untuk apa dia menyebarkan berita yang pastinya harus disembunyikan itu?


Dan kepada Hendra?


Tidak. Tenang dulu. Ayo klarifikasi dulu. "Kenapa Lilan ngomong sama lo?"


"Gue enggak mau bilang."


"Kenapa?"


"Karena gue sama kayak lo. Hipokrit. Enggak ngerti apa itu just the way you are." Hendra tersenyum main-main. "Gimana kalau gini? Gue percaya lo udah bukan ceweknya Mahesa, jadi percaya kalau apa pun yang gue umpetin, itu enggak nyakitin lo."


"...."


"Princess. Look at me. Sebagai ceweknya Mahesa yang terbiasa ngatur tindakan dan ngebaca orang-orang seakan lo harus tau semua itu, lo liat niat jahat di mata gue? Ah, bisa jadi enggak keliatan. Gimana kalau lo percaya sama diri lo—diri lo yang dibangun sama Mahesa—liat gue bohong atau enggak."


Tidak.


Rashi menarik tangannya lepas dan perlahan mulai tenang. Hendra tidak memiliki niat jahat bukan hanya di mata, tapi di seluruh tindakannya.


Maka dari itu Rashi bertanya-tanya, jika bukan, lalu apa? Buat apa dia bertindak begini?


"Lo enggak perlu lakuin ini kalau mau percaya sama gue. Tetep simpen itu buat diri lo sendiri sambil ngeliat gue."


"Gue kan belum bilang gue percaya sama lo. Gue cuma bilang gue percaya lo asal lo percaya gue. Lo percaya atau enggak? Kita harus adil. Kalau enggak, enggak bakal gue lakuin."


"Buat apa?"


"Like I said, Xena suka sama lo, dia mau jadi temen lo, jadi gue mau kalian temenan. Tapi gue benci Mahesa. Sampe ke sum-sum tulangnya dia. Bedanya, gue bukan Lilan, yang nyamain lo sama Mahesa cuma karena lo ceweknya Mahesa. Lo tau kenapa Lilan bilang itu? Dia bilang, jangan deketin Rashi. Jauh-jauh dari Rashi karena dia ceweknya Mahesa yang punya hutang sama Mahesa. Gue harus milih, biarin lo sama Xena atau jauhin lo dari Xena. Kasih gue jaminan. Lo serius mau lepas dari Mahesa atau kayak omongan Lilan, ujung-ujungnya lo tetep Marionette-nya Mahesa."


"Wait." Ervan sudah selesai mencerna. "Rashi, lo hamil?"


Sesuatu seperti terbakar di dada Rashi.


Ia memejam ketika Hendra menyentuh pipinya, mencegah sebelum bulir air mata jatuh. Rashi bergumam terima kasih sebelum ia menoleh, menyentuh perutnya sendiri. "Mahesa enggak boleh punya anak," bisiknya pelan. "Mahesa enggak mau punya anak sampe dia mati."


"Gue enggak bilang sama Xena soal itu." Hendra mengusap puncak kepalanya. "Ini rahasia lo sama gue."


"Lo sengaja ngajak Ervan?"


"Lo butuh tekanan buat berubah, Rashi." Hendra menjauhkan diri. "Dia yang tau soal lo sama Mahesa, mau enggak mau bikin lo maksain diri. Gue enggak setuju sama Lilan yang nganggep semua orang di sekitar Mahesa itu budaknya Mahesa, padahal dia sendiri benci sama Mahesa. Tapi dia enggak salah. Orang yang terlanjur terikat sama Mahesa, yang enggak benci sama Mahesa, itu bahaya, seenggaknya buat gue pribadi. Dan gue udah bilang kan, gue suka lo."


Hendra berbalik meninggalkan mereka, berjalan menuju kekasihnya di sana.


"Ah, siap-siap besok kita digosipin selingkuh, Sayang. Nanti gue bilang itu bener. Wokay?"


"Dia enggak waras." Rashi menggeleng. Mengulurkan tangan membelai tengkuk Ervan dan menariknya untuk berbisik, "Jaga buat kita aja, yah? Semua soal Mahesa, atau ... soal anak gue."


Ervan mengerjap, samar mengangguk pelan. "Sori."


"No need to."


"No, I mean it. Sorry about your ... baby."


"Asal lo janji enggak pernah bahas itu lagi. Gue enggak mau sedih, terutama depan orang lain."


*

__ADS_1


__ADS_2