Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
19


__ADS_3

“No one cares how much you know, until they know how much you care.”



Sepertinya, itu akan jadi kebiasaan Yatha tidur sepulang sekolah. Baterainya selalu low hingga jatuh tidur tanpa usaha apa pun.


Rashi tak kesakitan seperti kemarin sekalipun badannya panas, jadi ia mengusap-usap teratur kepala Yatha berharap dia mimpi indah entah apa di dimensinya. Seperti kemarin juga, Candra menurunkan Sara duluan agar ada ruang di antara mereka.


Rashi setuju, karena ia tak ingin Sara tahu soal hubungan lain selain sepupu diantara mereka. Dia akan cemburu. Sangat-sangat cemburu sampai pada tahap, mungkin melukai perasaannya.


"Ervan nembak lo juga, Rashi?" Dalam keheningan, Candra melontarkan pertanyaan yang agak mengejutkan.


"Enggak. Kok gitu mikirnya?"


"Gue liat kalian peluk-pelukan."


"Hmm, di mana? Perasaan enggak pernah," Rashi mengerutkan kening, coba mengingat apa benar mereka pelukan, "kecuali tadi di taman, gue megang leher belakangnya."


"Ya, itu."


"Itu bukan pelukan, Bang Cand."


"Sama aja."


Tunggu, dia cemburu?


Seorang Candra Wasa?


Rashi menggembungkan pipinya menyembunyikan keinginan mau tertawa.


Karena itulah bahaya Sara tahu perasaan abangnya pada Rashi ini. Dia benar-benar akan marah melihat perilaku Candra berbeda dari apa yang biasa dia dapatkan. Sara sangat sensitif. Dia mau kalau abangnya perhatian pada cewek lain, maka Candra harus lebih perhatian padanya dulu.


"Ervan enggak akan pernah nembak gue, Abang."


"Itu ngerendah atau mau ngelak?"


"Ervan sukanya muka gue." Rashi mengulurkan tangan, menarik lembut pipi Candra agar dia menoleh sekilas. "Let's say, buat sekarang dia enggak ngeliat gue kayak cewek yang mau dipacarin. Dia cuma ngeliat gue sebagai cewek yang pantes dikagumin, karena gue cantik buat dia. Atau Ervan ngomong sesuatu di belakang, soal mau macarin gue atau sesuatu?"


Tidak.


Rashi yakin tidak, karena tatapan mata pemuda itu jelas. Dia menyukai Rashi, bukan mencintai Rashi. Dia mengakui Rashi cantik, tapi sebatas itu saja. Hampir sama dengan Hendra. Orang itu jelas melihat Rashi terbuka dan bertingkah agak murahan, namun Hendra menatapnya sebatas ... 'oh, cantiknya dirimu, duhai sahabatku, tetap pertahankan itu karena kamu objek cuci mataku'.


Caranya berbeda dari menatap Xena. Rashi menebak selera pasangan Hendra memang yang seperti Xena, terlihat innocent namun tidak se-innocent Sara. Ervan mungkin juga sama. Menyukai gadis seksi meski dia punya tipe pasangan sendiri.


Semua orang mengagumi dan menyukai Rashi, memang, tetapi tidak berarti semua mau memacari Rashi.


Candra menahan tangan Rashi di depan bibirnya sebentar, lantas mengubahnya jadi genggaman di atas paha. Itu lucu melihat Candra agak cemberut karena salah paham.


"Lo enggak mau pacaran sekarang?" Candra menekan-nekan ibu jarinya di telapak tangan Rashi. "Maksud gue, lo enggak ada niat punya pacar, siapa pun, sekarang?"


Tidak.


Mungkin tidak lagi, selamanya.


Oh, oke, tidak begitu juga tapi, butuh waktu sangat lama, sangat-sangat lama untuk Rashi berani melakukan hal itu. "Enggak. Sekarang belum. Yatha masih kecil."


"Ah." Candra mengerjap seolah ingat sesuatu. Lalu, mendadak dia meringis. "Gue lupa Rasya bilang sesuatu. Emang bener, yah?"


"Apa?"


"Bokap lo, ngasih wasiat jangan pacaran, nikah aja."


Rashi tercengang, bersumpah seumur hidup jadi anak Ayah, tak pernah sekalipun ia dengar hal itu.


Apa maksudnya? "Rasya yang bilang?"

__ADS_1


"Lah, lo enggak tau?"


"Enggak. Sama sekali." Rashi mengerutkan kening sebelum keras-keras menghela napas. "Astaga Ayah. Enggak pernah sekalipun Ayah ngomongin cowok depan gue. Tapi Ayah ternyata ngomong gitu ke Rasya?"


"Ohya? Jadi lo enggak pernah pacaran?"


Rashi diam.


"Pernah? Backstreet berarti?"


Ya, sejak Ibu meninggal sampai Ayah menyusul Ibu.


Rashi mengerjap, menahan perasaan sesak itu lagi. Tidak akan pernah ada yang bisa mengobati rasa bersalahnya, tak berhasil jadi putri yang Ayah inginkan. Rashi selalu jadi Rashi-nya Mahesa. Berbohong pada Ayah karena Mahesa. Ranking satu di kelas karena Mahesa. Jadi anak baik yang manis dan penurut juga karena Mahesa.


"Begitulah." Rashi mengangkat bahu, mengaktifkan mode akting total yang ia yakin berhasil. "Tapi udah putus. Janji jangan bilang Papa yah, Abang."


Candra mendesah malas. "Okelah," katanya dengan mata melirik ogah-ogahan ke jendela. "Jadi lo enggak bakal pacaran?"


Kalau itu wasiat Ayah, Rashi tentu harus membicarakannya dengan Rasya.


Tiba di rumah, Rashi bergegas untuk turun. Tapi sebelum itu, ia menyempatkan diri menarik Candra untuk mengecup bibirnya. "Thank you, Cand."


Dia tersenyum gemas. "Emang minta disayang."


"Lo mesti pulang, oke? Orang nanti curiga ada apa-apa. Minggu nanti gue bikinin pie apel, katanya lo suka itu."


"Oke, Calon Istri."


Rashi tertawa. Melambai sampai mobil Candra benar-benar tak terlihat oleh matanya, baru kemudian berbalik memasuki rumah. Yatha sekali lagi diletakkan di kasurnya agar tidur nyenyak, pergi membersihkan diri di kamar mandi dan keluar untuk menyiapkan makan malam.


Kakaknya kembali sekitar pukul tujuh malam. Dia masuk ke kamarnya dulu untuk bersih-bersih, baru kemudian duduk di kursi makan khusus untuknya. "Yatha mana?"


"Capek kayaknya di sekolah seharian. Kemarin juga tidur di mobil. Tapi tunggu aku bangunin. Dia belum makan." Rashi beranjak pergi membangunkan adiknya.


"Sayang, bangun dulu. Yuk, turun sama Mama."


Kalimat yang menyiratkan mau pergi itu langsung memaksa Yatha bangun. Melingkar erat pada leher Rashi yang menggendongnya. "Mama mau ke mana?"


"Makan dong sama Papa. Yatha enggak laper? Makan dulu, yah. Mama bikin telur gulung, loh."


Yatha menggeliat dan bergumam samar. Tidak banyak mengeluh ketika Rashi mendudukkannya di samping Rasya yang langsung mengusap kepala adik mereka. "Cokelat Yatha mana?" tanya dia, masih setengah mengantuk.


Rashi langsung peka akan perubahan ekspresi Rasya.


Dia lupa.


"Sayang, makan dulu, yah. Cokelatnya nanti sama Mama."


Bersyukur dia mengangguk. Sebagai pengalihan juga, Rashi mengisi keheningan dengan berceloteh soal kegiatan mereka di sekolah. Kemarin ia lupa cerita soal anaknya Miss Linda yang mengganggu Yatha, berlanjut pada cerita Yatha sudah punya teman sendiri di playgroup bernama April dan Arkam. Katanya, Arkam juga nakal, tapi dia tidak memusuhi Yatha, jadi anak itu menyukainya. Apalagi, Arkam juga suka Kapten Amerika dan mereka bermain superhero bersama.


Lepas makan, ternyata Yatha ingat lagi janji Rasya.


"Mama, Yatha mau permen."


"Enggak bisa besok aja? Kan udah malem. Yatha mau tidur dulu."


"Engh, mau cokelat."


"Nanti gigi Yatha sakit loh makan cokelat terus."


Dia merengek-rengek dan menangis hingga Rashi segera menggendongnya. Menepuk-nepuk kepala Yatha sebelum membawanya ke dekat tangga.


"Yaudah, yaudah. Mama beresin piring dulu, Yatha tunggu di atas. Oke?"


"Janji?"

__ADS_1


"Janji dong, Sayang. Yatha naik dulu."


Rasya menghela napas ketika Yatha hilang di lantai dua. "Maaf. Kamu bilang aja aku lupa. Enggak pa-pa."


"Jangan dong, Papa. Nanti dia ngiranya Papa tukang bohong." Rashi mengusap lengannya saat melewati Rasya. "Papa masuk aja istirahat. Aku izin ke minimarket dulu beliin Yatha cokelat."


"Enggak usah. Biar aku aja. Aku yang janji."


"Papa kan capek."


"Enggak pa-pa. Beresin piring aja."


Senyum Rashi mengambang. Dibiarkan saja Rasya beranjak keluar meskipun dia kelihatannya sudah malas bergerak, sementara dirinya berkutat di wastafel membersihkan bekas-bekas makan malam. Tak genap sepuluh menit Rasya sudah kembali, karena memang jaraknya dekat dan dia cuma beli cokelat.


"Makasih, Papa."


Rasya mengecek suhu tubuh Rashi setelah tangan mereka bersentuhan. "Kamu nih enggak bisa banget istirahat? Aku kan bilang jangan banyak gerak dulu. Panasmu enggak turun-turun."


"Aku sehat."


"Kalau sehat kenapa panas gini?"


Rashi tak mau membahas itu. Mengelap tangannya sebelum dia bergerak menyusun kembali piring yang telah dicuci. "Ngomong-ngomong, Papa, aku mau nanya."


Terlihat Rasya mau istirahat, tapi dia tetap menarik kursi lagi untuk duduk, menanggapi Rashi. "Soal?"


"Abang bilang Ayah ngomong sesuatu sama Papa, bener?"


Jujur, Rashi tak berani berterus terang menyinggung pacaran.


Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, keluarga ini bisa dibilang harmonis. Mereka semua saling akrab dan hampir tak pernah mempermasalahkan apa pun satu sama lain. Keluarga sempurna, sederhananya. Tapi, kesempurnaan manusia pada akhirnya terbatas. Salah satu yang paling cacat dari keluarga Rashi adalah komunikasi. Mereka terbiasa saling menutup urusan pribadi masing-masing, hingga hal-hal seperti berbagi perasaan itu tabu.


Rashi tak pernah curhat pada Ayah kecuali soal akademisnya. Itupun, paling jauh ia mengeluh bilang capek belajar, atau guru di sekolah menegurnya. Rashi tak pernah seperti orang-orang yang menjadikan orang tau mereka sandaran hati, pelepas gundah gelisah atau apa pun itu, kecuali sedikit.


Itu salah satu alasan mengapa Rashi bergantung pada Mahesa. Ketika Ayah menjadi ATM berjalan—fokus memenuhi kebutuhan finansialnya—Mahesa menjadi pemuas sisi emosional Rashi.


Ketika Ayah seolah melepas Rashi untuk dewasa sendiri, Mahesa ada untuk mengajarinya bertahan hidup, memahami makna-makna tersirat dari masalah hidup, memberinya nasehat tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup.


Tapi, Rashi juga mau memperbaiki itu. Ia sekarang tak punya Mahesa dan cuma punya Rasya.


Mungkin sedikit, mereka bisa saling membuka sekat yang selama ini membatasi perasaan pribadi masing-masing.


"Candra yang bilang?" Rasya juga canggung. Lagi, dia pun tidak terbiasa saling terbuka. Dia berdehem, menarik napas sebelum bisa mengeluarkan suaranya seperti biasa. "Ayah wasiatin kamu jangan pacaran."


"...."


"Tapi aku udah ngomongin sama Abah. Kamu boleh deket sama cowok. Enggak pa-pa. Kenal, deket, enggak pa-pa. Tapi, kenalin sama aku dulu. Maksud aku, aku enggak bermaksud posesif. Aku cuma—"


"Enggak pa-pa." Rashi menyentuh punggung tangan Rasya, menghentikan racauan kikuknya. Mereka berdua sama saja. Tapi lagi, mereka butuh membuka diri. "Papa mau posesif, protektif, apa aja terserah. Aku punya Papa. Papa jagain aku semau Papa."


Karena Rashi pun sama.


Rashi mengerti perasaan tak ingin saudaranya terluka sebab mereka hanya punya satu sama lain.


Tidak ada lagi yang tersisa untuk Rashi selain Rasya dan Yatha. Jadi ia juga posesif dan protektif pada mereka. Sebaliknya, mereka berhak melakukan itu.


Karena mereka pun takut kehilangan.


Rasya menghela napas lemah. Membungkus Rashi dalam pelukan yang sarat akan rahasia. Mungkin jauh di lubuk hatinya, dia seribu kali lebih takut dari Rashi.


"Aku kangen Ayah." Rashi bergumam di bahunya. "Kangen banget."


Meskipun tak menjawab, Rasya mengangguk. Hanya tak bisa jujur bahwa dia merasakan hal sama.


*

__ADS_1


__ADS_2