
...“Knowledge speaks, but wisdom listens.”...
...♔...
Baru setelah jauh dari tempat itu, Rashi mencari wajah Yatha lagi.
Mendaratkan kecupan di kedua matanya yang bengkak.
"Yatha sedih yah, dijahatin Kakaknya?"
"Yatha enggak salah. Yatha main aja nunggu Mama, telus meleka dolong Yatha." Bersimbah lagi air matanya.
"Gitu, yah. Kakaknya belum kenal Yatha berarti."
"Yatha enggak mau temenan sama meleka. Yatha enggak suka orang jahat."
Rashi terkekeh. Menggunakan satu tangannya untuk mengusap wajah Yatha yang basah sambil mereka mulai kembali masuk gedung sekolah. "Yatha mainnya sama yang baik aja, oke? Nanti kalau Yatha digangguin lagi, Yatha langsung pergi."
"Enggak mau lagi ke sana. Sama Mama aja."
"Iya, kan Mama di sini. Nih, kan Mama jemput Yatha juga. Kita makan siang sama-sama. Di sini ada chicken katsu kan yah, Mas Ervan?"
Ervan yang melongo, tersentak tiba-tiba ditanya. "Hng?"
Pandangan Yatha kini teralihkan pada Ervan.
"Ini temen baru Mama, namanya Mas Ervan. Dia nganterin Mama jemput Yatha."
"Abang Canda di mana?"
"Lagi bobo Abang Candra di kelas."
"Kok bobo? Kan belum jam dua belas."
Waktu tidur siang Yatha memang jam dua belas.
Rashi tersenyum saja membelainya, senang karena dia sudah teralihkan dari rasa sedih tadi. Secepat itu dia pulih. Langsung menceritakan kejadian menghiburnya tadi di playgroup sebelum dirusak oleh anak nakal.
"Lo mau gue temenin ke kantin?"
Rashi menoleh, menyadari Ervan mulai bingung harus apa. "Iya, kalau boleh. Gue janjian sama Sara, sih. Gabung aja, yuk."
"Okelah, diajakin cewek cakep soalnya."
Mereka tiba di kantin dan Rashi menjadi pusat perhatian lebih banyak lagi akibat kehadiran Yatha.
Anak itu tak mau turun dari gendongannya, sibuk membaringkan pipi di bahu Rashi. Diam-diam, Rashi merasa perutnya mulai sakit lagi. Buru-buru mencari Sara yang melambaikan tangan ke arahnya agar mendekat.
"Rashiiii! Yathaaa!"
Rashi langsung mendekat diikuti Ervan. "Itu Kakak Sara, Sayang. Wah, udah beliin Yatha katsu ternyata."
Mungkin karena merasa kenal di antara orang asing itu, Yatha mau mengangkat muka dan turun dari gendongan Rashi. Langsung saja Sara memangkunya, mencium-ciumi pipi Yatha. "Iiiihhh, kok bengkak gini matanya? Siapa yang kasih nangis sayangnya Kakak?"
Lalu Yatha curhat soal si anak nakal di playgroup tadi. Sesuai dugaan, respons Sara menggebu-gebu. "Anak nakal emang. Yatha kalau digituin langsung dorong balik. Jagoannya Kakak enggak boleh kalah. Kalau Yatha ngelawan, nanti mereka takut."
"Anaknya Bu Linda tuh tadi." Ervan mengonfirmasi. "Emang paling galak di sana. Anak-anak diperbudak semua macem ibunya."
"Ohya?" Rashi mengangkat alis tertarik. "Padahal Miss Linda baik, loh."
"Hih, Rashi! Lo ketemu jelmaan siapa?!" Sara bergidik. "Miss Linda tuh yang paling ... enggak ngerti deh harus digambarin pake kata apa. Udah kayak Medusa. Kena lirik langsung dikutuk jadi batu."
Tampangnya memang begitu, Rashi akui. Dan sikapnya sinis. Tapi Miss Linda yang dia temui cukup tahu membedakan sikap. Yah, mungkin karena Sara memang tipe yang tidak bisa dipelototi, makanya anti dengan orang bermuka judes.
"Mama, makannya sama Mama aja."
"Sama Kakak aja!"
Yatha tetap memberontak sampai Sara melepaskannya dan dia pindah ke pangkuan Rashi.
"Aaah, Yatha, bikin Kakak sedih, ah."
Ervan menaikkan alis pada Rashi yang seolah terbiasa akan hal itu. "Adek lo kok manggil lo Mama, sih? Bukan Kakak?"
"Belum liat aja kalau sama Bang Rasya. Manggilnya Papa. Udah kayak suami istri punya anak bayi."
Tangan Rashi sibuk menyuapi Yatha yang mendadak mau makan dipangku, sambil disuap. "Manggil doang Mama. Tau kok dia, gue kakaknya. Cuma pas kecil gue biasain aja kayak gitu." Tatapan Rashi berpindah ke nampan satu lagi berisi dua roti isi. Ia lantas menggesernya pada Ervan. "Buat lo aja, Van."
"Enggak usah."
"Enggak pa-pa. Gue enggak makan roti. Sara lupa, yah?"
Sara meringis. "Iya. Gue baru inget pas udah beli. Jadi yaudah, kirain tadi lo sama Abang."
Mereka bertiga mengobrol seperti teman lama yang akrab. Ervan yang pada dasarnya tidak memiliki banyak kecanggungan masuk saja pada pembicaraan, terutama ketika Sara lagi-lagi menghujat abangnya yang tidur di kelas.
Sepanjang istirahat itu, Rashi tahu, kebanyakan mata berulang kali menatap dan meliriknya.
...*...
Pulang sekolah, Rashi mendapati Candra ternyata masih tidur di meja.
__ADS_1
Itu seharusnya diluar toleransi, Candra dibiarkan tidur sepanjang kelas, namun nyatanya memang tidak ada guru yang menegur sekalipun ada beberapa yang coba memanggil nama. Teman-teman di sekitar Candra juga tidak peduli, seakan memang sudah jadi kebiasaan pemuda itu tidur seperti orang mati.
Berbeda dari jam istirahat, Rashi tak bisa membiarkan Candra begitu saja. Disentuh pelan punggung Candra sambil memanggilnya, tapi Candra tetap tidur pulas tanpa bergerak.
"Tampol aja, Neng. Atau sirem air sekalian biar sadar."
Rashi tertawa mendengar saran Ervan. "Jangan dong. Orang tidur kok digangguin." Tepukannya berubah jadi usapan, tak tega harus membangunkan Candra secara paksa.
Kalau tidurnya begini, kemungkinan tadi malam dia kurang tidur. Terlepas dari salah atau tidak, Rashi membiarkan saja dulu dia tenang.
"Enggak usah dibangunin, yah. Biarin aja di sini. Gue jemput Yatha dulu."
"Mau dianterin pulang enggak?"
"Masa ninggalin Abang sendiri. Tapi makasih loh, Van. Repot-repot."
Ervan mengedip. "Repot kok sama cewek cantik. My pleasure, Princess."
Dasar usil.
Rashi meninggalkan kelas untuk pergi menjemput adiknya. Ia ingat tadi Yatha sempat susah disuruh kembali ke playgroup karena tak mau diganggu lagi oleh anaknya Miss Linda, meski kemudian Rashi berhasil meyakinkannya untuk berani datang dan menjanjikan hadiah sebagai pendorong jiwanya.
Kebetulan, Xena juga berjalan ke arah yang sama sendirian, jadi Rashi menyusul ke sisinya.
Ada sesuatu dari diri Xena yang Rashi dibuat tertarik.
Matanya.
Itu tak menunjukkan ketertarikan akan kecantikan, popularitas, kepintaran atau apa pun tentang diri Rashi sebagaimana kebanyakan teman sekelas lain melihatnya.
Orang-orang seperti dia selalu menarik di mata Rashi. Terutama ketika tahu, ternyata Xena orangnya ekslusif. Rashi tak melihat dia bergabung dengan kelompok mana pun.
Dia selalu sendiri.
"Lo enggak bangunin Candra?"
"Kasian." Rashi merapatkan jaket saat merasa dingin. Sakit di perutnya mulai lagi. Tadi Rashi tak sempat minum pain killer sebab Yatha tak mau lepas dan ada Sara serta Ervan di sekitarnya. Agak lumayan bisa ditahan ketika di kelas, namun berjalan mulai terasa sangat sakit. "Mungkin kemarin main game sampe jam berapa. Biarin dulu tidur."
"Lo pulang bareng Candra emang?"
"Rencananya. Nunggu dia bangun dulu tapi."
"Nebeng gue aja kalau mau. Cowok gue rela pasti nganterin cewek cakep."
Jawabannya membuat Rashi mengernyit geli.
Di tengah percakapan, tiba-tiba seorang pemuda datang memeluk Xena dari belakang. Tubuhnya tinggi, berperawakan kurus namun tak masuk kategori ceking, justru gagah. Wajahnya lumayan tampan lengkap bersama senyum-senyum brengsek.
Pasti tipe suka ceplas-ceplos, mesum dan bebas.
Dia menatap Rashi penuh rasa kagum terang-terangan padahal ada masker menutup wajahnya.
"Jadi ini bidadari sekolah yang katanya ngalahin cantik si Widya? Boleh kenalan, Cantik? Nama gue Hendra."
Rashi menatap Xena. Ingin tahu reaksinya bagaimana. Saat didapati gadis itu cuma mendengkus tenang, Rashi mengerti harus bersikap apa. "Halo. Lo pacarnya Xena, yah?"
"Iya, lo pacarnya siapa?"
"Yang jelas bukan lo, sih."
Hendra terkekeh. "Sayang gue cuma ini," sekali lagi, dia mencium kepala Xena, "tapi kalau mau jadi selingkuhan boleh, lah."
"Boleh deh kalau DP-nya semiliar."
"Cuma semiliar, nih? Enggak mau mambah?"
"Realistis dulu, lah. Kalau udah keliatan nanti nego ulang."
Xena memutar mata. "Udah gue duga bakal cocok."
Jadi begitu.
Pacarnya Xena tipe orang yang santai. Dia kelihatan brengsek, sekilas, tapi hawa keberadaannya mengingatkan Rashi pada Ervan yang easy going. Orang-orang seperti mereka selalu jadi lawan yang mudah bagi Rashi.
Mereka mengobrol sampai kemudian berpisah karena beda arah. Xena dan Hendra menuju ke parkiran bawah tanah, sementara Rashi sekali lagi menuju playgroup menjemput Yatha.
Untungnya, kali ini Rashi tak perlu menemukan Yatha menangis. Anak itu memegang tasnya dan duduk tenang di bangku panjang teras bangunan kotak tadi, lalu melompat untuk berlari saat melihatnya.
"Mama!"
Sakitnya luar biasa ketika Rashi harus membungkuk. "Hmmm, udah hebat sayangnya Mama. Temenan sama kakak-kakak di dalem, kan?"
"Iya, Mama. Kan Yatha udah janji."
"Berarti nanti Mama buatin puding buah-nya, yah. Sekarang kita ke kelas Mama dulu, yuk. Abang Candra masih di sana." Rashi merasa tak bisa menggendong Yatha dengan perutnya yang sakit begini.
Ia terlalu cepat memaksa perutnya berkontraksi padahal sudah disarankan berhati-hati. Sedikit Rashi khawatir cairan lagi-lagi keluar di bekas jahitannya seperti di awal-awal.
"Yatha jalan depan Mama. Biar nanti hafal jalannya ke kelas Mama."
"Kalau Yatha hafal, Yatha boleh samperin Mama, kan?"
__ADS_1
"Boleh. Yang penting datengnya jam istirahat, yah? Udah janji sama Papa, kan?"
Lagi-lagi rasa sesak menyelimuti hatinya ketika Yatha berjalan riang menembus kerumunan murid Maespati. Dia jadi pusat perhatian karena menjadi satu-satunya bocah mungil yang melawan arus menuju ke gedung sekolah, memegang tas merah kecilnya sambil sesekali berlari agar cepat sampai.
Rashi selalu merasa ingin jatuh tiap kali perasaan 'andai anaknya lahir, suatu saat dia akan seperti itu' muncul mencekiknya.
Tapi Rashi tahu ia tak boleh bersedih, terutama di tengah keramaian seperti ini.
Buru-buru ditepis sedih itu sebelum dia menggunung dan memaksakan terisak tanpa kendali. Rashi berusaha mengejar Yatha yang terlampau jauh di depan sana. Sedihnya teralihkan jadi khawatir sekaligus sakit di perutnya berjalan cepat, takut Yatha bisa saja jatuh.
Dan benar. Dia terjatuh menabrak kaki seorang perempuan yang memanggul tas gitar di pundaknya.
"Yatha!"
"Ups!" Perempuan itu mengerjap linglung, kendatipun langsung membungkuk, membantu Yatha berdiri. "Halo, Jagoan. Enggak sakit, kan?"
Rashi terpaksa berjongkok untuk mengecek tubuh adiknya. "Lari-lari, ih. Minta maaf sama kakaknya, Sayang. Yatha nabrak kakinya."
"Maaf, Kakak."
Gadis itu tertawa. "Santai aja. Eh, lo Rashi, kan? Anak baru kelas 11-1?"
Rashi mau bangkit. Tapi sakit di perutnya sudah terlampau besar dan diluar toleransi hingga kakinya lemas, hampir tersungkur duduk jika tubuhnya tak ditahan seseorang.
Ringisan Rashi lolos keluar.
Pasalnya cara orang itu menahan justru menekan perutnya terlipat ke dalam.
"Hei? Are you okay?" Cewek tadi langsung panik.
"Mama?! Mama sakif?!"
"MAMA?!"
Rashi terpaksa harus tertawa, bergegas berdiri. "It's okay. It's just the way he calls me. He's my brother and he completely know about that." Lalu Rashi berpaling, dalam diam tersentak menemukan sepasang mata mata ketus memandangnya datar. Itu agak mengejutkan karena orang yang menolongnya punya wajah khas Timur Indonesia dengan kulit cokelat gelap. "Thanks."
"Mama." Yatha menarik ujung roknya sambil mendongak khawatir. "Mama kenapa? Mama sakit apa?"
"Enggak, Sayang. Mama cuma kaget tadi."
"Lo yakin?" Perempuan tadi jelas bukan Yatha yang bisa dibohongi, sebab Rashi meringis sangat sakit.
"Iya. Gue cuma mens. Biasalah."
"Ah, I see it. By the way, I'm Mela. Melati Sukma Dewi, yang punya klub musik Maespati. Yang nolongin lo ini, yang tampangnya setan, budak gue. Namanya Hara."
"Oh, hay. Pleasure to meet you, Mela. Dan thanks sekali lagi, Hara. Salam kenal."
Melati punya wajah menarik yang terkesan maskulin. Benar-benar cocok dengan gelarnya sebagai ketua sebuah klub ekstrakurikuler sekolah bergengsi ini. Hawa keberadaannya sedikit mengingatkan Rashi pada Mahesa, karena Melati tampak punya kepercayaan diri yang cukup tinggi pada diri sendiri, dan merasa sangat-sangat bisa menguasai segala situasi.
Itu terbukti dari bagaimana dia mengamati Yatha penasaran, lalu begitu santai berkata, "Jadi lo beneran bawa bocah ke sekolah. Don't get me wrong, lo udah jadi seleb di sini. Everyone's talking about you. Cewek yang katanya ngalahin cantiknya Widya. I saw you earlier and trust me, you should be a goddess."
Rashi tertawa. "And so you are."
"You're welcome, Rashi. And it's so nice to meet you, um?"
"Yatha." Rashi mengusap kepala adiknya. "Namanya Yatha."
"Ah, oke. Yatha. Gimme your hand."
Karena Yatha cukup paham maksudnya, dia mengulurkan tangan—tak takut sebab Rashi bicara santai pada Melati—meski terkejut karena gadis itu menepukkan telapak tangan mereka.
"Now we're friend. Oke, Jagoan?"
"Oke."
"Cool. Ngomong-ngomong, lo kenapa mau masuk gedung lagi?"
"Candra masih di dalem."
"Dear God, lo beneran sepupunya Candra?"
"Is that a bad thing?" Rashi mengerutkan kening. "Sorry, I mean, everyone's like 'lo sepupunya Candra?' hari ini."
"Not exactly, seriously, but yeah, you know ... dia enggak punya reputasi baik di sekolah. Don't mind it." Melati mengangkat bahu. "Hey, gue masih mau ngajak lo ngobrol but I shudda go. Tapiiii kalau lo butuh sesuatu, especially about music, or you wanna join my club, langsung aja dateng ke klub gue. Terbuka buat umum, terkhusus buat lo. Okay?"
"Okay." Rashi tertawa. Merasa sedikit aneh dengan sikap Melati itu sekalipun baginya tetap biasa. Dia menyeret Hara pergi sampai-sampai Rashi lupa akan sakit di perutnya.
Dia gadis yang menyenangkan. Terlihat jelas di mata Rashi ada niat dibalik sikap baiknya. Tapi ... siapa pemuda di samping Melati itu?
Rashi sedikit suka melihat wajahnya. Padahal tidak tampan. Tidak. Dia mungkin keturunan Papua—atau yang mendekati itu karena kulitnya tidak hitam gelap juga, cuma cokelat gelap khas. Anehnya, dia manis. Dan tatapan dinginnya, itu memancing senyum di bibir Rashi.
Hara, yah?
Kelas berapa dia?
"Mama?"
Rashi menunduk, tersenyum pada Yatha, mengajaknya lanjut masuk gedung sekolah. Mereka langsung bertemu Sara yang baru saja turun dari lantai dua, mencak-mencak mengatakan Candra sudah beristirahat dengan tenang di atas sana.
"Udah dibilang sama Uma jangan tidur! Masih aja tidur!"
__ADS_1
"Ra, udah, yah." Rashi mengusap rambut Sara sekaligus mengajaknya naik lagi. "Ayok. Percuma marah-marah. Nanti bangun sendiri kok Candra. Tenang aja."
...*...