
...“Never interrupt your enemy when he is making a mistake.”...
...♔...
Kalau kata Candra, berkhayal itu boleh-boleh saja. Karena selain gratis, itu juga memberi kebahagiaan untuk diri sendiri. Macam dirinya sekarang, duduk anteng memandangi Rashi berkutat dapur sana-sini.
Dari belakang, samping, depan, atas, dia terlihat seperti perempuan yang siap dinikahi untuk melepaskan dopamin secara halal lewat restu semesta.
Hah, susah memang kalau cantik.
Candra senyum-senyum diantara bunyi peralatan yang digunakan. Mulai dari suara pisau menghantam permukaan meja saat dia memotong sayuran, bunyi panci yang dibuka, air mendidih, kulkas dibuka, air mengalir; semua membawa Candra pada khayalan bagaimana jika nanti mereka bersama.
Ini aneh untuk Candra.
Sangat aneh.
Sebab ia tak pernah mau berpikir terlalu jauh tentang perempuan. Mungkin Sara dan semua orang benar, bahwa dirinya tak lebih dari bajingan brengsek.
Bagi Candra, perempuan cuma segar kalau dipakai sekali. Kedua apalagi ketiga itu terasa membosankan dan entahlah, tidak seharusnya terjadi.
Tapi Rashi terlalu sulit ditolak, apalagi dibayangkan sebagai tisu sekali pakai.
Candra mendengkus saat kepalanya makin kreatif memikirkan mereka akan terus sarapan bersama, makan malam bersama, lalu mengobrolkan tentang masalah harian mereka untuk saling berbagi pengalaman.
Khayalan yang indah, sepertinya.
"Rashi." Sekarang Candra sadar. Memanggil namanya sangat nyaman.
Matanya tak mau lepas, bibirnya senang tersenyum untuk dia, ketika jantungnya pun asik berdisko di dalam.
Ia jatuh cinta, tidak diragukan lagi.
"Hmmmm?" Padahal bergumam, tapi terdengar nyaman sampai ke jiwa.
"Lo enggak kontakan lagi sama Jenardi?"
"Mas Jenar? Emang kenapa?"
Karena Jenar bercerai dengan istrinya.
Itu tidak bisa ditolong ketika Candra langsung merasa Jenar saingan. Bukan berarti ia benci sepupunya mendadak, tapi Candra jadi memikirkan itu. Kalau Rashi secantik ini dan Jenar sudah tak punya pawang, bisa jadi dia kembali, kan?
Apalagi kalau benar dulu mereka tidak jadi bersama karena umur Rashi.
"Tipe cowok lo kayak gimana, sih?"
Rashi malah tertawa. "Mau berusaha menyesuaikan, yah?"
Sikapnya menularkan kedamaian pada Candra. "Iyalah. Buat apa lagi gue naksir lo kalau enggak ngarep dibales?"
"Hmmmmm, tipe, yah?" Rashi tetap asik memasak walau suaranya penuh perhatian untuk Candra.
Makin dan semakin Candra sayang. Ia bahkan tak butuh waktu sehari untuk rela mati asal perempuannya itu Rashi.
Ssshhh, bahayanya bikin ngilu.
"Definisi tipenya kayak apa dulu sih, Cand. Kalau maksud lo, tipe cowok yang bisa jadi pacar gue, misal, gue enggak matokin tipe."
"Kenapa?"
"Boys will be boys, menurut gue. Semua cowok sama aja. Dalam arti, secara umum, mereka semua cowok. Enggak ada sesuatu yang dari diri mereka sebeda itu untuk dikotak-kotakin dan dipisahin. Tapi, bukan berarti maksudnya satu cowok jahat berarti semua cowok jahat. Bukan itu maksud gue. Maksud gue tuh, kalian cowok hipotalamusnya sama aja. Korpus colosumnya sama aja. Secara anatomi sama aja. Dan yang bedain kalian cuma watak, watak sebagian besar juga nentuin sifat. Entah lo koleris, sanguinis, plegmatis, melankolis, itu tetep aja sama, karena semua itu masuknya juga watak."
"...."
"Tapi," Rashi menoleh sekilas, "kalau bahas masalah tipe cowok yang gue mau, beda yah, Cand. Intinya yang menurut gue ideal banget untuk dimilikin, yah, tapi enggak berarti harus itu ...."
Candra pasang kuping.
"Jangan ketawa, yah."
"Enggak. Apa?" Candra akan berusaha jadi ideal baginya agar Rashi tak butuh orang lain lagi.
__ADS_1
"Karena ideal, gue blak-blakan aja. Gue suka cowok ganteng. Ganteng banget, sampe ngeliat dia tuh enggak pernah bosen."
Candra juga, suka cewek cantik. Macam Rashi.
"Tapi gue enggak suka cowok itu interaksi sama banyak orang, terutama cewek. Gue suka cowok dewasa, yang enggak emosional dan bijak nyelesaiin masalah, tapi gue juga mau cowok itu kekanan, terutama kalau sama gue. Gue suka cowok pinter. Pinter banget, jauh di atas gue, karena gue suka dengerin omongan orang wawasannya luas. Gue suka diajarin. Gue suka cowok disiplin, ngerti ngurus dirinya, dalam arti, dia olahraga karena dia tau badannya butuh itu, dia makan sehat karena dia tau badannya butuh itu, dia belajar karena dia tau otaknya butuh itu. Dia ngurus dirinya sendiri, terutama buat hal-hal yang dia butuh. Terus, gue juga suka cowok bossy, karismatik, agak dingin dikitlah yah, tapi gue enggak mau dia ngasih sikap itu ke gue. Gue suka cowok penyayang. Yang lembut. Yang enggak ngomong kasar. Yang enggak sombong. Yang sempurna."
Candra mengerjap dengan mulut sedikit terbuka.
Sori, itu manusia atau dewa?
Tapi Candra jadi tidak bisa menyeletuk, karena ia mengakui, Rashi memang sekelas dewi.
Tawa Rashi mengalun mendapatinya. "Itu idealnya. Makanya gue misahin antara yang bisa sama gue sama tipe ideal gue. Cuma kalau lo tanya dua-duanya banget, cowok yang gue mau dan bisa sama gue. Yang pasti satu. Gue suka cowok yang terus berusaha jadi lebih baik. Gue bisa toleransi apa pun asal lo bisa itu. Lo agak keras, kasar, bossy, control freak, apa pun itulah sifat jelek, gue bisa toleransi, gue bisa handle, tapi gue selalu harap cowok gue ngerti perbaikin kesalahan. Enggak dalam masalah teknis aja."
"...."
"Misal, dia udah tau dia salah dari sikap, dia berusaha perbaikin itu. Dan gue paling enggak bisa sama cowok yang bilang 'terima gue apa adanya'. Karena gue enggak pernah apa adanya di depan siapa pun, siapa pun."
"...."
"For example, gue enggak suka kekanakan. Gue enggak suka jadi anak kecil, dalam arti manja, kayak Sara yang—bukan menghina yah, karena itu sifatnya dia; gue enggak bisa lenjeh kayak Sara. Tapi di depan Rasya, gue berusaha jadi Sara. Karena gue tau, kakak gue sukanya itu. Dia tenangnya sama itu. Dia ngerasa dia berguna, lebih punya makna, lebih gue andelin, kalau gue manja, enggak berdaya depan dia. Jadi di depan Rasya, sekalipun gue enggak suka, gue bakal ngomong kayak anak kecil, manggil dia Papa pake suara unyu, jalan kayak main-main di awan, karena otaknya cocok sama itu. Dan gue enggak ngerasa gue pura-pura jadi orang lain. Gue berusaha jadi yang terbaik buat dia, karena dia juga berusaha jadi yang terbaik buat gue. Konsep itu bakal selalu berlaku di hidup gue, termasuk buat nyari cowok."
Candra termenung. Mau tak mau memikirkan ucapan Rashi tentang menerima apa adanya.
Dia benar.
Mana ada orang menerima apa adanya.
Orang-orang akan jenuh dan muak semakin lama satu perbuatan tak disukai terus dilakukan. Pertanyaannya, apa Candra sudah cukup baik untuk Rashi?
Pertanyaan itu membawa perasaan sesak dalam diri Candra. Terlalu sesak untuk berkata sesuatu ketika Rashi meninggalkan masakannya karena Yatha berteriak dari atas. Mulut Candra terkunci rapat ketika otaknya terus berpikir sesuatu tentang itu.
Rashi suka cowok yang tahu memperbaiki kesalahan.
Memperbaiki kesalahan.
Dia tak bilang dia suka cowok yang tidak banyak salah, melainkan memperbaiki kesalahan.
Lalu bagaimana kalau Candra nyatanya tidak bisa?
Seperti biasa, dia rese kalau ketemu Candra.
Seakan Candra tidak punya jasa. "Numpang makan. Bilang makasih kek udah gue jagain rumah lo."
Rasya mendengkus saat meletakkan tasnya ke meja. "Yang ada makin bahaya." Lalu dia menatap masakan yang sudah jadi namun belum ditata, mendongak ke lantai dua. "Berlian gue mana?"
"Najis!"
"Itu metafora. Biar lo tau saking mahalnya bisa bikin lo kaya."
"Tai lo."
Rasya mencibir. Pergi membuka kulkas untuk mengeluarkan air es dan duduk di kursi sofa yang berada tepat di belakang punggung Candra.
Pikir Candra, dia mau diam saja, karena buat apa juga cari ribut sepulang kerja? Tapi ternyata, Rasya memberinya sebuah pertanyaan telak.
"Udah ngebucin aja lo sama Rashi?"
Hanya satu kata yang bisa Candra keluarkan. "Hah?"
"Ketauan, Monyet. Pura-pura terhormat lagi."
Masa, sih?!
"Sejak kapan lo yang semaunya mulu, sampe Uma sama Sara curhatin lo lagi, lo mulu, tiba-tiba kesambet jin terus mau jadi babu adek gue? Mata gue nih enggak buta. Adek gue dibilang cakep udah termasuk menghina."
Wah. Sombong juga makhluk ini.
Candra bingung harus apa hingga cuma mengumpat, tak mau menoleh pada Rasya.
Tentu saja, Rasya belum selesai. "Gue sih enggak masalah lo sama Rashi. Untung juga iparan sama lo. Macem-macem bisa gue gasak langsung."
__ADS_1
"Jadi restu, nih?"
"Tapi lo, Monkey," Rasya memandang malas, "udah nolep, enggak ada harapan, enggak cakep-cakep amat, duit enggak punya, ngegembel mulu di kamar. Lo kira lo pantes dapetin Rashi? Sunat lagi lo sana."
Senyum Candra pudar berganti umpatan lebih kasar. Kampret emang Rasya.
"Ya, kalau mau adek gue, lulus cumlaude dulu lah minimal. Oh, jangan kira bisa macarin Rashi. Wasiat bokap jelas. Nikah. Jadi lo mending mulai menata hidup sebelum gue ngasih restu sama cowok yang lebih manusiawi." Rasya tampak puas saat beranjak menuju kamarnya. "Intinya, ganbatte. Besok-besok kalau ketemu gue, sujud dulu tujuh kali."
Candra mendengkus. Dibiarkan Rasya pergi tanpa membalas apa pun. Meskipun semua racauan brengsek Rasya itu nyelekit, ada satu yang paling menusuk Candra.
Lo kira lo pantes dapetin Rashi?
Omongan itu berputar lebih serius dari apa yang Rasya inginkan.
Rashi suka cowok yang mau memperbaiki kesalahan. Sementara Candra bahkan tidak bisa memperbaiki apa pun lagi.
Itu benar.
Memangnya, orang seperti Candra, Candra Wasa yang berlumur maksiat ini, pantas dapat bidadari macam Rashi?
Dirinya bahkan tak pantas hidup.
...*...
"Kamu yakin mau sekolah?"
Rashi mengusap lengan Rasya untuk menenangkannya sebelum keluar dari mobil esok hari, di tempat yang sama. Demamnya naik tadi malam hingga Rasya sempat sulit dibujuk agar tidak memaksanya ke dokter.
Tidak ada yang Rashi butuhkan di rumah sakit, karena ia sudah punya obat, dan sakitnya dikarenakan luka operasi itu.
"Hei." Rasya keluar dari mobil untuk meraih Yatha. Menyerahkan cokelat yang kemarin dibelikan Candra untuknya ke tangan anak itu. "Kamu jagain Rashi. Cowok, kan? Kalo cowok berarti bisa jaga amanat. Nanti pulang aku beliin permen yang banyak. Jangan minta digendong dulu. Rashi lagi sakit. Paham?"
Karena dikasih cokelat, Yatha mengangguk. Mengatakan janji dia tidak akan nakal atau menyusahkan, hingga Rasya bisa pergi meninggalkan mereka.
Anak itu mengangkat cokelatnya, memperlihatkan pada Rashi dengan gembira. "Mama, Mama, Yatha boleh makan cokelat?"
"Makannya yang bersih, oke?"
"Okay!"
"Sekarang Yatha ke playgroup dulu. Ayok."
Mereka lagi dan lagi jadi tontonan orang. Masih terlalu asing melihat murid datang bersama anak kecil yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sekolah. Tidak semua orang sinis, karena beberapa dari mereka, terutama para gadis, berdecak gemas melihat Yatha mengoceh di samping Rashi.
Namanya anak baru empat-lima tahun, dia masih terlalu lucu untuk bisa dilewatkan begitu saja.
Rashi berjalan agak menunduk, memberi Yatha perhatian sekaligus karena tangannya diseret. Hal itu menyebabkan dirinya tak fokus pada apa pun di depannya, hingga ia menabrak sesuatu cukup keras.
"Awww!" Suara pekikan perempuan menyandarkan Rashi.
Spontan, ia mengerjap panik. "Sori, lo enggak pa-pa?"
"Enggak pa-pa gimana?! Lo nabrak orang terus nanya enggak pa-pa?!"
Rashi terdiam sejenak.
Bukan berarti Rashi tidak tahu bahwa orang ini sengaja berdiri di sana agar mereka bertabrakan. Dan reaksi negatifnya ini .... "Maaf, gue yang salah."
"Mama."
Ia menggeleng, meminta Yatha diam dulu.
Jelas gadis ini mau mengajaknya bertengkar, karena dia semakin sinis mendengar panggilan Yatha. Sekilas, Rashi membaca papan nama di dadanya, hampir kelepasan elus dada menemukan di sana tertulis 'Riska Wulandari'.
"Lo kira maaf bisa nyelesaiin masalah?"
Memang apa masalahnya? Dia bahkan tidak terluka.
"Sori. Lo punya hak bales kalau lo mau. Bilang aja gue harus apa."
Sikap merendah Rashi, membuat dia mengangkat dagu. Merasa superior. "So here you are, Rashi Anuja," ucapnya dengan kesan penuh cibiran. Dia menunduk menatap Yatha yang langsung Rashi tarik ke belakangnya. "In the name of God, I can't believe you. How can you bring your illegitimate child to school? Don't you think it's embarrasing?"
__ADS_1
Oke, ini kibaran bendera perang.
...*...