Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
5


__ADS_3

...Kalau ada bidadari nyasar di bumi, ...


...fix itu dia. ...


...♔...


Hari minggu ini Rashi bersiap-siap untuk pergi mengunjungi rumah saudara Ayah, Om Wasa dan Tante Dahlia yang lebih akrab disapa Abah dan Uma. Mereka orang tua Candra dan Sara, dua sepupunya yang berada di sekitar usia Rashi—Sara setahun lebih muda, Candra dua bulan lebih tua.


Ia mulai harus bergerak merealisasikan rencananya pindah ke Maespati, jadi Rashi berencana mengatakannya pada Abah, berhubung dua anaknya bersekolah di sana juga.


Jelas saja, pangeran kecilnya juga akan ikut bersama.


Rashi selesai mengenakan setelan tunik putih bercorak bunga-bunga. Membiarkan rambut panjangnya terjepit jatuh ke belakang, memilih tak berdadan khusus selain mengoles liptint ke bibir, dan memakai sedikit eyeliner di mata.


Melihatnya memakai baju putih, Yatha minta dipasangkan kaus putih juga. Buru-buru menarik Rashi agar mereka bisa langsung berangkat.


Dia suka Uma, walaupun ketika Uma ingin mengambil alih pengasuhan Yatha sementara waktu, anak itu pun menolak keras seperti Rashi.


"Mama, Mama, gendong." Padahal cuma mau masuk mobil.


Sebelum Rashi mengiyakan, Rasya menyela. "Capek Rashi kamu minta gendong terus, Yatha. Kamu kan udah besar."


Pantas saja Yatha bete.


Rashi tertawa saja, mengambil anak itu ke gendongannya sebelum dia merajuk pada Rasya. Sayangnya, Yatha terlanjur tak mau melihat Rasya hingga untuk membujuknya, Rashi mencium kedua pipi dan kening adiknya itu. "Enggak pa-pa yah, anaknya Ibu mau sayang Mamanya."


"Kamu manjain begitu terus nanti kamu capek, loh. Nanti ke sekolah dia nangis-nangis nyariin kamu."


Rashi menatap sayang mata adiknya. Yang sedang berkaca-kaca seakan takut Rashi bilang dia merepotkan. "Enggak pa-pa, kok. Yatha sayang Mama banget makanya dicariin terus. Iya, kan?"


"Iya."


"Kesayangan Mama juga." Rashi menghadiahinya kembali ciuman sayang, lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti tengah duduk di kursi goyang sambil mendekap erat Yatha.


Ia tahu memang terlalu memanjakan. Tapi salahkah Rashi kalau ia sudah sangat takut kehabisan waktu?


Ayah pergi tanpa pamit. Ibu pergi tiba-tiba. Sekarang cuma Rasya dan Yatha yang tersisa. Meskipun Rashi berdoa agar perpisahan mereka tak terjadi secepat itu, ia tetap tak mau kehabisan waktu lalu menyesal dikemudian hari.


Segala yang bisa ia berikan akan ia berikan.


"Mama."


"Hm?"


"Kalau Mama sekolah lagi, nanti Yatha sama Uma lagi?"


Alasan Yatha dekat dengan Uma adalah karena selama ini, jika Rashi ke sekolah dan Ayah bekerja, Yatha akan dititipkan di rumah Uma. Uma akan mengantarnya pulang saat Rashi sudah pulang atau kalau kebetulan Rashi ada tugas kelompok, Ayah akan menjemput Yatha sepulang kerja.


"Enggak, Sayang." Rashi menepuk-nepuk punggung Yatha, menyadari dia tak suka mereka pisah. Kadang-kadang, karena tidak mengerti, Yatha sampai menangis terisak-isak minta Rashi berhenti sekolah saja agar mereka terus main bersama. "Yatha nanti ikut sekolah sama Mama."


Rasya menghela napas. "Kamu serius soal itu?"


Kemarin Rashi membicarakan itu.


Alasan utama mengapa ia mau pindah ke Maespati bukan karena ingin lepas dari sekolahnya Mahesa. Rashi mengincar playgroup khusus untuk anak-anak staf guru di Maespati yang dibuatkan dalam sekolah mereka. Fasilitas itu menarik minat Rashi, sebab ia tak tahu sekolah lain yang memilikinya selain tempat Candra dan Sara bersekolah.


Memang dari sejak dulu, Rashi berharap tidak harus pisah dari Yatha sekalipun ia harus ke sekolah menunaikan tugasnya sebagai pelajar.


Dan sekarang ia punya alasan kuat untuk pindah selain Yatha.


Tapi sepertinya Rasya tak setuju. Dia menganggap keputusan Rashi terlalu memanjakan Yatha dan justru mengambil terlalu banyak waktunya. Rasya ingin Rashi memisahkan, kapan mengurus Yatha, kapan mengurus sekolah.


Kakaknya pun sudah memberi saran terakhir jika memang Rashi takut merepotkan Uma, maka mereka sebaiknya menyewa babysitter. Sayangnya Rashi menolak.

__ADS_1


Untuk satu ini saja, tak peduli apa pun, ia akan bersikukuh.


Terima atau ia berhenti sekolah.


Bisa menatap Yatha setiap saat jauh lebih berarti baginya daripada menempuh pendidikan.


Sudah cukup kehilangan yang ia rasakan. Ia setiap saat merasa bisa mati jika harus terus hidup seperti ini.


"Yatha boleh ikut ke sekolah Mama?" Yatha jelas senang. Sebab dari dulu pula dia suka menangis minta ikut jika Rashi sudah pakai seragam. Sampai-sampai setiap kali seragam melekat di tubuh Rashi, maka Yatha akan memeluk kakinya sambil mengemis 'Mama jangan pelgi'.


Itu menyakitkan bagi Rashi sekalipun ia tahu sebenarnya Yatha cuma belum mengerti.


"Iya. Mama enggak bakal ninggalin Yatha lagi."


...*...


Rumah sedang sepi karena Uma menemani Sara ke salon. Hanya ada Abah yang masih tidur di hari libur begini dan Candra terpaksa bangun akibat perutnya meronta-ronta lapar.


Malas sebenarnya Candra, sebab kalau Uma tidak ada, otomatis tidak ada makanan tersaji.


Dasar adik merepotkan. Haruskah tiap minggu ada saja permintaannya yang menjengkelkan? Ke salon-lah, mol-lah, inilah, itulah, membawa Uma ke mana-mana padahal rumah membutuhkan sosok superhero. Dia selalu mengeluh mau tukar tambah abang. Kalau benar ada konter seperti itu di dunia, Candra juga mau tukar tambah adek.


Beri yang sedikit lebih waras, kek.


Mood Candra jelek sewaktu turun tak menemukan satu pun makanan selain biskuit dan lauk sisa kemarin. Hampir-hampir Candra menelepon Uma untuk meninggalkan Botol Sosro itu di tong sampah tukang bakso saja daripada dibawa pulang untuk merepotkan lagi.


Candra coba untuk sabar, duduk menyalakan televisi lalu main game di hp sampai terdengar suara bel berbunyi. Karena mustahil itu Uma, Candra malas bangkit.


Bodolah. Toh, Uma pergi, Abah pun tidur. Siapa pun dia, datang lain kali saja.


"ABANG CANDA!"


Hampir-hampir jantung Candra tergelincir dari tempat macam ponselnya yang mencium lantai. Ia jelas kenal suara cempreng bocah sontoloyo itu, karena sering main dan mengganggunya.


Bukan itu yang membuat Candra mendadak kaku.


Kalau si Bocah Sontoloyo ... jangan-jangan kakaknya juga datang?


Wah.


Candra tak menunggu waktu, langsung ngebirit ke pintu untuk membukakannya.


Sekali lagi, hampir-hampir Candra mati di tempat.


Ckckck.


Dari seluruh ciptaan Tuhan, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, dari yang terbesar dan terluas seperti galaksi, ataupun yang terkecil seperti sel, atom atau entahlah apa lagi, tidak pernah ada yang membuat Candra berpikir 'betapa indah ciptaan-Mu duhai Engkau pemilik segalanya' kecuali satu ini.


Rashi Anuja.


Sepupu bidadari, jodoh masa depannya.


Dia membuat Candra mau berlutut mengatakan 'jadilah istriku, ibu anak-anakku, dan penghangat ranjangku'.


Maksud Candra, demi Tuhan, bagaimana bisa seseorang tercipta seindah ini?


Dan itu Rashi!


Rashi Anuja yang sempat Candra lupakan saking tidak menariknya dia dulu!


Rashi Anuja yang ia lebeli 'Not For Romance' saking usangnya dia dulu.


Namun dia kembali dalam wujud bidadari surga, yang turun menangis dengan sayap-sayapnya yang patah di hari kematian Om Nawa.

__ADS_1


Hari itu, Candra resmi jatuh cinta.


"Abang Canda!"


Nah, itu dia masalahnya. Sebenarnya, Candra baru bertemu Rashi di hari kematian Om Nawa itu. Candra yang tak punya hubungan emosional kuat dengan Om Nawa jadi benar-benar salah fokus pada Rashi.


Bukan bermaksud kejam atau dingin, masalahnya akhir-akhir ini—beberapa tahun terakhir sejak Candra mulai remaja—ia bahkan sudah absen hadir di semua, seluruh, pertemuan keluarga sekalipun itu diadakan di rumahnya sendiri. Candra lebih suka mengurung diri di kamar, menikmati hobinya, atau keluar nongkrong bersama teman yang sefrekuensi dengannya.


Bagi Candra, pertemuan keluarga itu tidak menarik, buang-buang waktu dan tidak ada untungnya bagi Candra, jadi ia tak pernah benar-benar peduli.


Baru sekarang Candra menyesal telah melewatkan puluhan kesempatan melihat Rashi yang ternyata cantiknya sudah keterlaluan.


Candra tak berdaya. Tubuhnya lemas duluan dialiri listrik getaran jatuh cinta.


Kalau sepupunya secantik itu, Candra mana mungkin tidak naksir.


"Halo, Bang Cand?"


Duh, suaramu, Neng. Candra berusaha keras terlihat cool padahal merinding disko. "Halo."


Padahal dia yang bilang halo, dia juga yang tersenyum aneh. Tapi bebas. Senyumnya cantik luar biasa.


"Abang Canda!"


Untuk ketiga kali, itu mengusik Candra. Mau tak mau mengalihkan mata dari sang bidadari ke bocahnya yang sontoloyo. "Nama gue Candra, Cil. Candra. Udah dibilangin berapa kali."


Namanya sontoloyo, mana mau dengar kalau diberitahu. "Abang, Abang, Uma sama Kakak di mana? Yatha mau main."


"Main mulu dah lu. Enggak bosen?"


"Yaudah, Yatha main sama Abang Canda aja! Mau main sapi-sapi!"


"Main sapi di sawah, Cil." Duh, bocah ini. Kalau bukan adeknya, sekarang juga Candra sedekahkan. "Lo sendiri?" tanyanya, pada si bidadari.


"Yatha sama Papa." Yang jawab malah si bocil.


"Dih, bapak lo siapa?"


"Kakaknya Mama."


"Mama?!"


Rashi tergelak manis, membikin jantung Candra ketar-ketir. "Sama Mama, yah? Siapa mamanya Yatha?"


"Mama Ashi!"


Bocah ini memanggil Rashi mama?!!


Apa? Jangan mengharapkan Candra tahu.


Tahu umur Yatha saja tidak.


Pokoknya yang ia tahu Yatha sepupunya, bocah sontoloyo yang selalu memaksa Candra main Harvest Moon alias sapi-sapi.


"Kenapa masih di pintu?" Suara lain menyadarkan Candra untuk jaga image. Bahaya kalau perasaannya ketahuan, apalagi di depan Rasya. "Lo nih ada tamu bukannya disuruh masuk, malah diintrogasi depan pintu."


Mengapa Yatha sontoloyo? Sebab kakaknya sontoloyo—jelas bukan bidadari surganya Candra.


Mau Candra mengumpat, tidak jadi sebab Rashi terlihat sangat lovable, minta dicintai sepenuh jiwa raga, disayangi sepenuh hati dan akal.


Hah.


Demi dia, apa sih yang tidak?

__ADS_1


...*...


__ADS_2