
...Duhai bidadari, ...
...apa gerangan yang mematahkan sayap-sayapmu? ...
...♔...
Ternyata Uma sedang pergi bersama Sara.
Salah Rashi datang tidak memberitahu, jadi ia menunggu sambil menyaksikan Yatha berinteraksi dengan Candra.
Ini bisa dibilang pertemuan pertama setelah sekian tahun. Terakhir kali Rashi melihat Candra itu mungkin di hari kematian Ibu. Itupun Rashi tak fokus, jadi ia agak lupa.
Mulai dari sana, Candra sudah tak pernah ikut-ikutan acara keluarga. Mulai asik dengan dunia sebagai remaja dan tidak peduli soal urusan kumpul-kumpul keluarga yang didominasi perempuan serta orang dewasa. Hari kematian Ayah memang Rashi melihatnya muncul lagi, tapi saat itu Rashi masih terlalu sibuk menangis meratap.
Candra banyak berubah. Sekalipun Rashi sudah sering melihat Candra dari foto-foto di galerinya Sara. Ia juga dengar banyak keluhan Sara soal kakaknya yang membuat Rashi bahkan hafal kebiasaan Candra. Tapi melihat langsung agak pangling juga.
Masih terkenang di kepala Rashi masa-masa mereka pergi mancing bersama. Ia dan sepupu-sepupu nakal lainnya termasuk Candra suka menjaili sepupu mereka yang cengeng, lalu tertawa-tawa puas jika mereka sudah menangis. Meski kemudian mereka akan dimarahi oleh om, diam-diam pergi lagi merencanakan kejailan serupa.
Ternyata Candra dan Yatha akrab.
Justru seakan Yatha lebih suka Candra ketimbang Rasya. Mungkin karena Candra menanggapinya lebih santai—bicara gue elo bahkan—sementara Rasya memang sudah terlalu dewasa, dan selisihnya dua puluh tahunan dari Yatha.
"Nanti Yatha juga ikut sekolah sama Mama!"
"Lo nih masih bocil. Sekolah apaan bawa-bawa bocil kayak lo?"
"Mama bilang gitu! Kan, Mama? Yatha boleh ikut, kan?"
Karena masih tak nyaman bicara gue elo di depan adiknya, apalagi dengan Candra, Rashi mengakali ucapannya. Bicara pada Yatha tapi untuk memberitahu Candra. "Bilang sama Abang, Mama mau pindah ke sekolahnya."
Tentu saja, tak perlu menunggu Yatha mengulang untuk Candra merespons. "Hah? Yang bener?!"
"Iya."
"Abang, Abang, nanti Abang sama Mama pelgi sekolah baleng. Beltiga sama Yatha. Oh, Kakak Sala juga. Jadi ... jadi ... belempat!"
Candra tak memedulikan Yatha mengoceh. Menatap Rashi dengan kening berkerut. "Serius? Mendadak?"
"Iya. Ini baru mau diomongin sama Abah."
"Wah."
"Kenapa?" Rasya menanggapi respons Candra. "Enggak seneng lo Rashi pindah?"
"Overthinking lo udah kayak cewek PMS, Sat."
"Ngomong sembarangan lo depan adek gue!"
"Sat doang, elah. Ribet amat. Enggak lengkap bangsat."
"Cand." Rashi menggeleng. "Hati-hati ngomongnya."
Candra cengengesan. "Sori, sori." Lalu dia menunduk pada Yatha. "Oi, Cil, lo bangunin Abah sana. Buruan."
"Siap!"
Kening Rashi cuma bisa berkerut aneh menyaksikan adiknya meluncur patuh, naik tangga pelan-pelan untuk melaksanakan perintah.
Baru ia tahu ternyata Yatha sangat menyukai Candra sampai mau jadi babu begitu.
Yah, mungkin karena sesama anak laki-laki.
"Lo serius mau pindah?' Candra bertanya ulang. "Kebetulan banget, anjir. Ada sekelas gue yang baru pindah. Ada satu tuh lowongan di kelas gue."
Rashi spontan memikirkan satu nama.
Mahesa.
Demi Tuhan, mengapa Rashi tidak bisa bebas darinya?
...*...
Rasa dingin itu menusuk hingga ke tulang-tulang Rashi.
Ia coba untuk mengerjap, mendapati dirinya berada di sebuah ruang yang begitu tenang namun berhawa dingin. Rashi kembali coba untuk bangkit. Ingin mencari sesuatu untuk menghangatkan dirinya ketika dibuat sadar oleh sesuatu.
Perutnya terasa berat.
Spontan Rashi menunduk, kaget menemukan sesuatu menonjol besar dari gaunnya. Dengan perasaan bingung Rashi menyentuh itu, tersekat saat menyadari perutnya membesar seolah tengah mengandung bayi.
Mulutnya terbuka, lupa cara berbicara mendapatkan kenyataan yang ia rasa berbeda dan tidak nyata ini.
Rashi tak mengerti. Di mana dirinya?
"You cold, babe?"
Sebuah selimut tiba-tiba terpasang di tubuh Rashi, menghilangkan seluruh rasa dingin tak masuk akal yang ia rasakan barusan. Tentu saja ia menoleh, didapati Mahesa Mahardika berbaring miring di sampingnya.
Tahu-tahu ada bantal di sana, dan entah bagaimana Rashi mulai sadar mereka berada di kasur yang seempuk awan, menyandar pada bantal yang lembut menghangatkan punggungnya.
Ada bagian dari diri Rashi yang menyadari semua ini aneh. Tapi ia tak mampu berpikir ada apa dan mananya yang aneh. Seperti pikirannya dibatasi oleh sesuatu. Alih-alih, Rashi bergeser. Mendekat untuk masuk ke pelukan hangat Mahesa agar rasa dingin menusuk tadi semakin jauh.
"Dingin," adunya manja.
Mahesa langsung mengambil kedua tangan Rashi, meniupkan udara panas yang benar-benar memusnahkan seluruh perasaan tak nyaman dalam diri Rashi. Rashi pun bergerak mencari posisi semakin nyaman, mendongak untuk bisa bertemu sepasang iris cokelat yang nyaris berwarna hitam itu.
Mahesa tersenyum menatapnya. Pandangan sayang dan penuh kasih yang selalu dia berikan untuk Rashi dalam situasi apa pun. Perlahan pria itu menunduk, meletakkan tangan di antara pipi dan telinga Rashi saat bibir mereka mengecup. Rashi membuka mulut menantikan. Terpejam menikmati ciuman hangat yang lembut dan manis di hatinya.
Sejenak Rashi tetap terpejam. Mengisyaratkan dia melakukan itu sebanyak mungkin sampai Rashi puas, lalu membuka mata pada Mahesa yang masih tersenyum.
Tiba-tiba, Mahesa meletakkan tangan di perutnya. Membelai halus namun mengguncang perasaan Rashi sampai ke jiwa.
Itu menyenangkan.
Tak tahu kenapa, ia menyukainya.
__ADS_1
Paling menyukai di antara semua usapan Mahesa di tubuhnya.
Padahal cuma perut, terbatasi oleh gaun sutra putih.
"Dia perempuan," bisik Mahesa di mulutnya.
Rashi melebarkan mata. Lalu sayu menunggu ciuman selanjutnya. "Siapa namanya?"
"Dias."
"Dias?"
"Dari nama Dianthus Caryophyllus."
Mata Rashi terpejam saat ciuman Mahesa justru mendarat di antara alisnya. "Itu nama anyelir, kan?"
"Hm." ******* napas Mahesa lembut menenangkannya. "Karena ibunya selalu cantik kayak anyelir."
"Jadi Dias?"
"Mau yang lain?"
Rashi tertawa. Menggeleng karena puas akan penamaan itu. "Dias. Dias Anuja. Enggak, enggak cocok. Dias Mahardika. Kayak nama cowok."
"Then she's the first."
"For what?"
"Yang namanya kayak cowok, tapi ternyata cantik ngalahin semua cewek." Mahesa menyatukan kening mereka. Menatap lembut dengan bisikan sehalus bulu di bibirnya. "Dia bakal cantik kayak lo, Rashi. Terlalu cantik sampe enggak ada lagi yang lebih cantik dari dia."
Tawa terus mengalir di bibir Rashi. "Lo sayang dia, Sa?"
"Siapa yang bisa gue sayang selain kalian berdua?"
"Ngalahin Deev?"
"Siapa Deev?" Mahesa dengan usil mencolek hidungnya. "Perempuan di hidup gue cuma dua. Satu Rashi, dua Dias."
Bunga-bunga seolah bermekaran di hati Rashi.
Semua terasa hangat hingga ia tak mau beranjak dari sisi Mahesa. Terus memeluknya, mendengar bisik-bisik cinta darinya, membicarakan tentang bagaimana putri tersayang mereka lahir sebentar lagi.
Semua indah.
Terlalu putih dan terlalu bersih sampai pelan-pelan Rashi tertarik oleh kesadaran.
Semendadak khayalan itu datang, semendadak itu pula Rashi membuka mata dan tersadar. Napasnya memburu berat, spontan mendekap Yatha.
Alih-alih terbawa euphoria mimpi indah, justru jantungnya berdebar ketakutan.
Demi Tuhan, apa yang ia pikirkan?
Siapa Dias?
Omong kosong apa yang dibicarakan dua orang dalam mimpinya?! Itu bukan Rashi dan jelas dia bukan Mahesa.
Rashi menarik tubuh Yatha yang tidur di atasnya untuk lebih dekat. Mencium kuat-kuat keningnya sambil berusaha menenangkan diri.
Tidak ada sesuatu seperti putri atau Dias atau bunga anyelir dalam hidupnya. Memikirkan hal semacam itu saat semua sudah hilang adalah tindakan sakit jiwa.
Bayinya bukan Dias. Bayinya belum punya namanya dan dia pergi sebelum Rashi bisa tahu dia perempuan atau laki-laki.
"Mama bakal jagain Yatha." Rashi membungkus protektif tubuh adiknya, sedikit tidak mempertimbangkan dia sesak karena baru bangun. "Mama bakal jagain Yatha. Mama enggak akan pernah ninggalin Yatha. Enggak akan."
Setelah itu Rashi justru terisak, menangis tersedu-sedu di ubun-ubun adiknya tanpa menyadari bahwa mereka masih di rumah Candra, ia tidur di sofa, disaksikan oleh Rasya, Candra dan Abah yang sudah bangun.
...*...
Candra sudah dibuat sibuk menahan diri dari melirik Rashi yang ketiduran di sofa, menunggu Uma dan Sara pulang. Sekarang ia cuma bisa tercengang mendengar tiba-tiba Rashi menangis, tanpa angin tanpa hujan, menggumamkan kalimat 'Mama jagain Yatha, Mama enggak ninggalin Yatha' dengan tubuh gemetaran seolah kalimat itu terlalu menakutkan untuk sekadar diucapkan.
Untuk sejenak, tidak ada yang bergerak karena terkejut.
Pasalnya Abah dan Rasya juga tengah asyik membicarakan peluang ekonomi ketika Rashi tiba-tiba menangis.
Oh, salah. Sebenarnya dia sempat tersenyum sangat cantik dalam tidurnya sampai Candra mau mendekat, mendaratkan kecupan bertubi-tubi agar dia tahu betapa sayangnya Candra pada sang bidadari.
Tapi bukannya tertawa setelah mimpi indah, dia malah menangis.
Tangisan Rashi terdengar menyayat hati sampai ujung kuku Candra ngilu. Ia tak tega melihat gadis itu gemetar menangisi entah apa perih hatinya. Ketika Candra masih berpikir haruskah ia ke sana, Rasya lebih dulu beranjak. Mendekat ke sofa tempat Rashi tidur mendekap Yatha, untuk berlutut memeluk adiknya.
Candra langsung ingat, baru kemarin Om Nawa meninggal.
Tentu saja dia masih terluka.
Aneh rasanya. Sebab Rashi tadi tersenyum ceria seolah-olah kesedihan dan kepedihan adalah fana dalam hidupnya. Candra tak bisa menemukan kesedihan atau sesuatu yang menyakitkan dari senyum dan tawa Rashi. Hatinya tentram cuma dengan melihat betapa damai wajah cantik manis seksinya itu.
"Cand." Abah diam-diam memanggil ketika Rasya masih di sana, memeluk Rashi tanpa suara. "Telfon Uma-mu. Suruh pulang sekarang."
Candra juga tak tega. Yang begini-begini, Uma ahlinya. Mereka bertiga mungkin cuma bisa menonton Rashi, sementara Uma bisa mengajaknya bicara, menghibur dengan berbagai cara sebagai seorang ibu.
Buru-buru Candra menepi jauh, menghubungi ibunya yang langsung mengiyakan setelah Candra berkata ada Rashi di rumah.
Sambil menunggu Rashi tenang, Candra pergi bersama Yatha yang dibuat mewek juga melihat Rashi terisak-isak. Bocah itu ia bawa ke sisi lain rumah, pada sebuah taman kecil tempat di mana Uma merawat tanaman sekaligus jadi ruang santai outdoor rumah mereka.
"Yaelah, Cil, jangan nangis juga dong. Kasian Rashi kalau lo nangis juga."
Yatha tersedu-sedu. "Ma-mama na-na-nangis telush."
Malah ngerap. Tapi bukannya Candra tidak mengerti. Seandainya Candra masih kecil, maka ia akan ikut menangis melihat bidadari secantik Rashi nangis.
Memang membikin baper.
"Rashi lagi sedih. Lo kan laki. Nanti kalau Rashi sedih, lo bilang gini 'Mama cantik, bidadari enggak boleh nangis, harus ketawa terus'."
Yatha teralihkan meski masih penuh ingus. "Bidadali itu apa, Bang Canda?"
__ADS_1
"Dibilang nama gue Candra." Candra berdecak. Memperbaiki posisi Yatha di pangkuannya saat melihat tanaman mawar Uma bermekaran di salah satu deretan bunga berwarna sebelah kanan mereka. "Bidadari tuh cewek cakep. Cewek cantik yang cantiknya keterlaluan, kayak Rashi. Rashi cantik, kan? Ngaku lu."
"Iya." Yatha akhirnya berhenti menangis. "Mama Yatha cantik."
Itu mamanya anak-anak gue, Cil. Candra menggeleng menyingkirkan pikiran sablengnya untuk sementara. "Nah, Rashi tuh bidadari. Tuh, kayak bunga itu tuh. Cantik, kan? Kalau diliat adem. Kalau dicium wangi. Harus dirawat hati-hati. Kalau lagi layu harus disiremin."
"Mama disilem?"
"Yaelah, Cil, bukan gitu juga." Candra merasa bodoh sendiri menggunakan bahasa tinggi pada bocah ucrit. "Maksud gue tuh, bunga kalau layu—lo tau layu enggak, sih?"
"Enggak."
Hadeh. "Layu itu kalau bunganya enggak seger, mau patah, jatoh gitu. Kayak daun, tuh. Daun kuning tuh layu, makanya jatoh dari pohonnya. Nah, kalau manusia, layunya pas lagi sedih."
"Mama sedih?"
"Orang nangis kan berarti sedih, Bocah." Kenapa anak-anak selalu bodoh, sih? "Lo kalau liat Rashi sedih, jangan malah ikutan nangis. Hibur, dong. Lo peluk kek, tepuk-tepuk kepalanya kayak Rasya tuh tadi. Kalau lo nangis juga, nanti dia tambah sedih. Lo mau Rashi jatoh kayak daun?"
Mungkin dia sungguhan membayangkan Rashi jadi daun yang tergeletak di rumput itu. Dengan wajah horor Yatha menggeleng, malah mau nangis lagi. "Yatha enggak suka Mama nangis."
"Makanya lo jangan suka nangis."
"Tapi ininya Yatha sakit liat Mama nangis." Yatha menyentuh dadanya sendiri dengan ekspresi polos yang sungguh-sungguh.
Candra ingin bergumam sama, namun masih cukup waras untuk tidak curhat pasal cinta mendadaknya pada anak kecil. Pokoknya, sekarang Yatha sudah tidak menangis. Lagipula anak ini juga sama seperti Rashi.
Bedanya, dia cuma tidak mengerti.
Dia masih kecil dan sudah kehilangan kedua orang tuanya. Mungkin karena itu juga Rashi membiasakan dia memanggil Mama. Agar setidaknya sekarang dia tidak merasa tak punya Mama.
"Nah, Cil, lo mau main sapi-sapi lagi enggak?"
"Mau! Yatha mau liat sapinya lagi, Abang Canda!"
"Ada syaratnya."
Kepala Yatha memiring heran. "Syayat?"
"Syarat, elah. Lidah lo belepotan mulu. Syarat itu bayarannya. Lo kalau ke minimarket kan beli es krim harus bayar. Liat sapi juga harus bayar."
"Uang Yatha ada di Mama. Lepasin Yatha dulu."
Apa Rashi tidak gila menghadapi bocah yang setiap katanya harus dijelaskan dulu baru dia mengerti?
Ckckck.
Memang sudah cocok jadi ibu dari anak-anak. "Kalau sama gue, bayarnya bukan pake duit, Cil. Lo dengerin gue aja."
"Tapi Yatha dengelin Abang Canda dali tadi."
"Hadeeeehhhh. Depresi gue, Yatha, Yatha." Candra menggosokkan tangannya tak secara kasar juga tak lembut ke wajah Yatha. "Udah, dengerin syaratnya. Satu, nama gue Candra, bukan Canda. Canda tuh joking. Lo tau joking, kan? Canda. Becanda. Nama gue bukan joking. Candra."
"Canda."
"Candra, Cil, Candra."
"Canda."
"Cand—"
"Cand—"
"—ra."
"—la."
"Candra."
"Canda."
Tidak ada yang lebih Candra syukuri dari Uma dan Abah berhenti produksi anak.
Bisa sinting dirinya punya adik kecil begini, menyebut nama yang bisa dia eja saja tidak bisa. "Abang aja, deh. Enggak usah Canda. Abang."
"Abang."
Akhirnya beres. "Syarat kedua, lo mesti janji sama gue."
"Janji?" Yatha mengerjap. Lalu sekonyong-konyong memajukan wajahnya, mencium ujung hidung Candra yang jelas langsung melongo. "Udah."
"Hah?!" Antara geli dan merasa dia konyol, Candra jadi tidak bisa menahan tawa. "Apaan sih, Cil. Disuruh janji malah cium-cium. Geli tau enggak."
"Mama kalau janji begitu!"
Otak kreatif Candra langsung memvisualisasikan bagaimana Rashi mengecup hidungnya, atau Candra mengecup hidung Rashi jika mereka saling berjanji.
Duh, boleh bibir tidak, sih?
"Rashi kalau janji gitu? Lo sering cium-cium Rashi, dong."
"Iya. Mama kan Mamanya Yatha."
Siapa juga yang bilang mamanya Candra? Itu mamanya anak-anak Candra. "Salfok dah, gue. Intinya, Cil, janji sama gue, lo jangan suka bandel lagi. Jangan suka bikin capek Rashi. Jangan suka nangis-nangis kayak orang lemah. Lo suka superhero siapa?"
"Yatha suka Kapten Amelika!"
"Nah, Kapten Amerika kagak suka nangis. Enggak suka mewek-mewek enggak jelas. Terus nanti kalau Rashi nangis lagi, lo cerita sama gue."
"Abang Canda mau peluk Mama?"
"Iyalah." Candra terkekeh-kekeh culas. Tak fokus pada Yatha yang lagi-lagi memanggilnya dengan nama yang salah. "Pokoknya lo lapor aja sama gue. Kalau lo lapor, entar sapinya banyak anak. Paham enggak?"
Yatha yang tidak paham, cuma berseru mengatakan dia berjanji.
"Tapi lo jangan bilang-bilang yah, Cil. Awas lo kalau bilang gue ngomong begini."
__ADS_1
"Iya."
...*...