Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
4


__ADS_3

...Teruntuk rindu yang coba kulepaskan, ...


...tidak bisakah kamu saja yang melepaskan diri duluan? ...


...♔...


Inilah yang paling Rashi tunggu dengan penuh ketakutan.


Ketika dirinya saja belum pulih dari kehilangan yang merobek jiwanya, Yatha menyadari seseorang yang sering bersama mereka telah hilang.


Rasya bukan orang yang akan Yatha cari, sebab dia pun tak banyak berinteraksi dengan kakaknya. Tapi Ayah, dia selalu ada bersama Rashi. Mungkin Yatha sempat teralihkan, meski begitu, cepat atau lambat dia akan tahu Ayah mereka hilang.


Setelah sebulan berlalu, Rashi sudah bisa menggendong Yatha.


Sambil menahan nyeri.


Diusap wajah anak itu dengan tangannya yang sempat dibersihkan, menempelkan kening mereka. "Kangen Ayah, yah?"


"Yatha mau Ayah." Dia mulai menangis. "Ayah kok pelgi? Yatha enggak mau Papa. Maunya Ayah."


Harus apa Rashi?


Berkata langsung bahwa Ayah sudah meninggal?


Atau berbohong mengatakan Ayah cuma pergi sebentar, sampai setidaknya Yatha cukup besar untuk paham sendiri?


Atau ia buat kiasan Ayah pergi ke surga?


Mana pun, berat untuk Rashi menjawab. Ia yang sudah dewasa pun masih mau bertanya dan butuh jawaban, ke mana sandaran hatinya pergi?


Belum ada satupun hal yang Rashi lakukan agar Ayah bangga. Belum ada. Saat Ibu masih ada, Rashi berpaling cuek, lalu ditampar oleh kenyataan dan menyesal hingga nyaris bunuh diri. Setelah bangkit, ia berjanji akan membahagiakan Ayah, namun berakhir pada fakta dirinya berbohong dan terus berbohong. Berbohong jadi putrinya yang baik, padahal di belakang jadi boneka seksnya Mahesa. Berbohong bahwa ia bertumbuh dewasa, padahal di belakang ia cuma tumbuh atas keinginan Mahesa.


Ayah menatapnya seolah Rashi adalah perempuan suci, ketika nyatanya ia anak yang kotor dan hina.


Rashi masih mau bertanya, apakah benar tidak ada kesempatan dirinya tampil sebagai putri baik-baik tanpa harus berbohong? Bahkan saat kematian Ayah, masih Mahesa yang ia cari dan ia andalkan.


Tidak ada jawaban Rashi untuk Yatha, hanya mengelus, coba menidurkannya tapi tak berhasil.


Dia rindu berat pada Ayah. Menangis pilu sampai Rashi jadi ikut menangis tanpa suara.


Yatha bukan tipe anak yang terbiasa mengamuk—Rashi dari kecil mengajarinya (atas ajaran Mahesa dan parenting yang ia dapat dari buku rekomendasi Mahesa) agar dia tak kenal apa itu mengamuk. Yatha cuma terisak-isak, terus minta ayahnya dikembalikan karena dia mau bermain.


Alhasil, Rashi tak punya kesempatan memasak. Belum membuat apa pun untuk Rasya ketika kakaknya kembali hampir pukul tujuh.


Datang disambut tangisan Yatha, tentu saja Rasya lelah.


"Ada apa? Kenapa nangis?"


Rashi mengelus-elus kepala anak itu. "Kangen Ayah."


Sebagai sesama anak yang baru ditinggal, Rasya cukup mengerti pedihnya. Dia berjongkok di depan Rashi agar bisa melihat jelas Yatha, lalu mengambilnya untuk digendong.


"Enggak mau Papa! Mau Ayah! Mau Ayah!"


"Sssshhh." Rasya menahan pemberontakannya. "Ayah pergi ke tempat Ibu, Nak. Ayah nemenin Ibu di sana biar enggak sendiri. Kamu kan punya Rashi. Jangan nangis terus. Kasian Rashi."


Mana Yatha paham soal perasaan orang.


Dia menangis sepuasnya dan Rasya terus membujuk mengatakan Ayah pergi ke tempat Ibu. Tapi mungkin dia juga butuh jawaban. Karena berbeda dari tadi, Yatha perlahan diam.


Seolah menerima alasan Ayah pergi menemani Ibu.


"Mama."


Rasya memindahkan Yatha ke pelukan Rashi. "Mending kalian tidur. Atau belum makan?"


Jangankan makan, masak saja belum. "Maaf." Rashi menjangkau Rasya agar memeluk mereka. "Aku enggak sempet masak. Papa laper?"


Rasya mengecup puncak kepalanya cukup lama. Tak menjawab apa-apa, justru mengacak rambut Yatha. "Jangan nangis lagi. Anak cowok harus kuat."

__ADS_1


"Yatha sama Papa dulu, yah. Mama buatin makan dulu."


Dia tak mau. "Sama Mama."


"Yatha enggak laper? Mama laper, loh."


Penolakannya diselingi suara merengek yang menandakan dia tak mau.


Tangan Rasya kembali membelai kepala adik mereka. "Kamu mandiin Yatha aja. Biar aku yang masak."


"Tapi Papa kan capek."


"Udah sana. Nanti turun lagi makan."


Rashi cuma bisa mengangguk.


...*...


"Mau mandi sama Mama."


Ini sudah kesekian kali Yatha meminta mandi bersama seperti kebiasaan mereka sejak masih kecil.


Sejak Yatha sudah tak butuh kolam khusus, suhu air khusus, dan tubuhnya sudah mulai kuat dibanding bayi kecil tak berdaya, memang sudah sering Rashi membawanya mandi bersama.


Yatha tak pernah mandi dengan orang lain kecuali Rashi. Pun Rashi menanamkan dalam adiknya untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain.


Ketika orang lain cenderung senang membiarkan anak kecil mereka ramah dan tidak rewel siapa pun yang menyentuh mereka, Mahesa justru mengajari Rashi agar Yatha membatasi diri. Dia harus tahu kepada siapa dia boleh bermanja-manja, kepada siapa dia menahan diri.


Makanya, bahkan ditemani mandi oleh Ayah pun Yatha tak mau.


Terakhir kali Rasya yang tidak tahu ingin bantu memandikan Yatha, dia langsung membuka bajunya di ruang tengah. Yatha spontan lari, sebab Rashi bilang membuka baju hanya boleh di kamar.


Rashi mempertimbangkan sejenak permintaan Yatha, sebelum pasrah menganggukkan kepala. Tak apalah, daripada dia menangis. Bukannya Rashi tak mau, melainkan karena ia memikirkan bekas jahitan di perutnya.


Ketika Yatha melihat itu, adiknya langsung berhenti bermain busa, mendongak sampai Rashi masuk ke dalam bathtub.


"Perut Mama kenapa?"


Yatha suka cara seperti ini. Jika diberitahu bisik-bisik seperti tengah menjalankan misi rahasia, dia akan semangat melaksanakannya dan senang hati menerima itu.


"Mama sama Yatha aja yang tau. Papa enggak usah."


Yatha memeluknya sambil ikut berbisik padahal Rasya jauh di bawah sana, terhalang tembok dan pintu-pintu. "Mama kenapa?"


"Enggak apa-apa. Itu biar Mama sehat. Yatha enggak mau Mama sakit, kan?"


Dia menggeleng kuat. "Mama enggak boleh sakit."


"Iya dong. Makanya rahasia. Rahasia, oke?"


"Oke."


"Promise Mama."


Tanda janji yang biasanya Rashi lakukan pada Yatha adalah mengecup ujung hidungnya. Siapa pun di antara mereka yang berjanji, maka mereka akan mengecup ujung hidungnya sebagai ganti kaitan jari kelingking.


Saat Yatha melakukan itu, Rashi terpejam menahan sesak.


Lagi, ia ingat bayinya.


Ada sesuatu yang mulai berbeda di kepala Rashi sejak tahu keberadaan bayi itu. Ia seperti tak bisa berhenti memikirkannya. Hanya sejenak bisa teralihkan oleh pekerjaan lain, kemudian jika selesai, dia akan muncul menghantui pikiran Rashi.


Rasa rindu, sayang, cinta, bersalah dan penyesalan selalu menggunung.


"Mama."


Tapi Rashi juga tahu ia tak bisa seenaknya menangis terus.


Keadaan mendesaknya untuk tahan banting.

__ADS_1


Lebih tahan banting justru saat ia sudah sangat hancur berantakan.


Setiap bisikan Yatha memanggilnya seperti isyarat bagi Rashi untuk lebih pandai menyembunyikan emosi itu. Rashi menarik napas dalam, buka mata untuk menghadapi kembali tanggung jawabnya.


Sesosok alasan ia harus bertahan sekalipun jiwanya dipelintir oleh masalah. "Apa, Sayang?"


"Om Esa kenapa enggak dateng?"


Jantungnya yang sudah berdarah, dibuat lebih berdarah lagi.


Yatha tahu soal Mahesa. Karena kadang Rashi membawanya ketika mereka bertemu.


Mereka berdua akrab, dan Mahesa membuat Yatha berjanji dengan cara Rashi tadi untuk tidak memberitahukan pada siapa pun soal dirinya.


Nama pun tak Mahesa biarkan dia tahu.


Yatha cuma diminta memanggilnya Om Esa, dan sebisa mungkin Rashi mengurangi kemungkinan Yatha melihat gambar Mahesa di berita, sosial media atau apa pun.


"Kangen Om Esa yah, Yatha?" Rashi berusaha merespons positif.


"Iya." Yatha mengangguk saat menopang dagunya di lutut Rashi yang tertekuk. "Yatha mau Om Esa aja, enggak usah Papa."


"Papa kan baik sama Yatha. Kok Yatha enggak suka Papa?"


"Papa suka lalang-lalang Yatha ganggu Mama. Om Esa temenin Yatha main."


Itu karena Rasya tidak punya waktu belajar cara menangani anak kecil.


Dia hanya bersikap lembut, tidak tahu bahwa secara kejiwaan, anak kecil tidak menerima kata jangan. Dan pendekatan Rasya pun sulit diterima oleh Yatha yang terbiasa didekati secara halus oleh Rashi.


Ayah sebenarnya juga begitu, tapi tentunya berbeda karena Ayah adalah orang tuanya.


"Om Esa lagi kerja, Sayang." Anak kecil akan cenderung lupa pada seseorang jika lama tak bertemu. Pelan-pelan, Yatha juga akan lupa siapa Mahesa. "Mama suka Papa. Mama sayang Papa. Kalau ada Papa, Mama enggak sedih."


Yatha mengerjap. "Papa siapanya Mama?"


Pertanyaan polos itu memancing Rashi tertawa. "Papa kan kakaknya Mama sama Yatha. Kakak. Sodaranya Mama sama Yatha."


"Kakak?"


"Iya. Yatha panggil Kakak kalau mau."


"Enggak mau." Yatha cemberut. "Kayak Mama aja."


"Yaudah." Rashi mulai membasuh tubuh Yatha dengan jemarinya. "Yatha bersih-bersih sendiri dong. Udah bisa, kan?"


Dia menurut tapi malah bermain. Rashi cuma menyaksikan itu sambil diam-diam termenung memikirkan dirinya.


Ini sudah sebulan Rashi tak melakukan kegiatan apa pun. Tidak mungkin selamanya ia membengkalaikan pendidikan dan kewajiban lainnya.


Belum ada pembicaraan Rashi pada Rasya soal pindah. Itu perlu diurus sebab Maespati adalah sekolah swasta yang juga cukup bergengsi. Ada uang di tabungan Rashi, pemberian dari keluarga yang digabungkan bersama tabungannya. Rashi pernah bekerja di Dvs—kedai kopi milik Mahesa yang sudah bercabang banyak. Namanya diambil dari inisial Deev, Deevana, satu-satunya gadis tersayang Mahesa.


Dia berbeda, harus Rashi tekankan. Sebab ketika semua gadis lain, termasuk Rashi, tunduk di bawah Mahesa, Deev adalah satu-satunya yang membuat Mahesa tunduk. Dia adalah cinta sesungguhnya dari Mahesa Mahardika, dan itu diwujudkan dari mengurung Deev dalam sebuah mansion mewah berkeamanan tingkat tinggi, tangan, kaki, lehernya terbelenggu, menghabiskan hidupnya bermain puzzle, menyusun miniatur kota, bermain catur, sambil mengawasi seluruh pergerakan bisnis Mahesa.


Dia juga ahli strategi yang menjadi kunci dari mimpi besar Mahesa.


Demi Deev, Mahesa mungkin rela memulai perang melawan dunia.


Oke, kenapa kesannya Rashi cemburu? Sial, lupakan saja. Perasaannya pada Mahesa adalah kebodohan terbesar jika dilanjutkan.


Intinya Rashi pernah bekerja di kedai milik Mahesa selama satu tahun sebagai pelayannya. Untuk pekerjaan itu Mahesa memberi gaji—yang sebenarnya tidak setimpal, sebab Rashi cuma jadi pelayan, namun Mahesa memberinya tiga kali lipat—kemudian uang itu dijadikan modal investasi, lalu hasilnya dilipatgandakan untuk Rashi.


Mengapa harus sesusah itu kalau ujungnya Mahesa mau memberi uang? Sebab dia tahu akan ada akhir di mana Rashi mau lepas, atau mungkin memprediksi Rashi menolaknya, jadi Mahesa membuat seakan-akan itu milik Rashi, hasil kerja kerasnya, jadi jangan dikembalikan.


Rashi akan menggunakan uang itu untuk membayar biaya sekolah. Dan karena cepat atau lambat uang warisan Ayah juga akan diberikan, setidaknya Rashi tak perlu membebani Rasya untuk masalah sekolah.


Tapi diam-diam Rashi takut.


Apa bisa ... ia hidup tanpa Mahesa?

__ADS_1


...*...


__ADS_2