
...“My feet is my only courage.”...
...♔...
Candra bergegas masuk untuk membeli apa yang ia tahu disukai perempuan. Dua batang cokelat almond dan mede, satu cup es krim stoberi dan satu cone es krim cokelat. Plus Candra menambahnya dengan yoghurt dan wafer cokelat. Dirinya yang seumur-umur sebagai cowok brengsek pemotek hati kaum hawa, antri di kasir membelikan sesuatu untuk perempuan—menggunakan uang jajannya sendiri—bahkan tanpa diminta.
Sejak awal, Candra tahu Rashi memang istimewa. Dia tidak seperti perempuan lain yang bisa seenaknya Candra beri sikap dingin. Kenapa? Karena dia lebih cantik dari semua perempuan itu—dan yeah, karena mereka sepupu. Candra bisa dibunuh oleh Rasya dan Abah kalau menelantarkan Rashi.
Candra juga kasihan melihat dia menyimpan kesedihan dan rasa sakitnya dalam diam, apalagi sekarang Rashi yatim tanpa orang tua sama sekali. Walau memang biasanya Candra bodo amat pada orang, kalau itu sepupunya, mustahil ia tak peduli.
Segera Candra kembali menenteng kantong belanjaan itu. Didapati lagi bibir Rashi bergetar, menggumamkan sesuatu sambil mengusap-usap kepala Yatha di dadanya.
Dia menahannya untuk Yatha.
"Udah?" bisik dia.
Perasaan Candra seperti ditusuk mendengar suara super halus Rashi bertanya. "Lo bawa obat? Ini gue beliin air buat lo."
Rashi mengangguk lemah. Benar-benar seperti orang sekarat yang ... entahlah, Candra takut sendiri menjabarkannya. Dia menunjuk tasnya yang memang diletakkan di belakang, lalu saat Candra menyerahkan itu, Rashi berbisik, "Bisa bantuin gue? Gue enggak bisa gerak."
Benar juga. Ada Yatha di pangkuannya. Candra mau mengambil anak itu agar Rashi leluasa minum obat, tapi ternyata bukan itu maksud dia.
"Jangan. Bantuin gue minum aja. Tolong."
Wah.
Butuh sebuah kesabaran yang terbangun secara instan—sebab Candra tidak sabaran—ketika menerima permintaan itu. Candra membuka tas Rashi yang mengatakan obatnya ada di dalam kantong kecil berwarna hijau. Tanpa sengaja Candra melihat ponselnya, menampilkan panggilan dari orang bernama Rail.
Hanya beberapa detik sebelum layar berubah menampilkan notifikasi panggilan tak terjawab menumpuk.
Semuanya dari Rail.
Siapa Rail?
Jangan bilang dia yang Rasya maksud?
Candra menelan rasa tak relanya sambil terus bergerak. Ia tak mengucapkan apa pun soal panggilan itu, mengingat Rashi memang sakit.
Ada beberapa jenis ternyata obat, membuat Candra ingin berdecak mengetahui menstruasi ternyata masalah serius.
Diambil masing-masing satu butir sesuai instruksi Rashi, kemudian berpindah meraih tengkuknya untuk memudahkan dia menerima obat. Dari jarak sedekat itu, mudah bagi Candra melihat betapa fitnah cantik sepupunya ini.
Apa dia benar-benar Rashi Anuja?
Sepertinya dulu dia tidak begini. Candra bahkan lupa padanya.
Sumpah, pubertas menakutkan.
Maksud Candra, alisnya yang tipis namun tersusun rapi saja sudah menawan. Bulu matanya cukup panjang, lebat dan lentik menggoda ketika terpejam. Rashi tidak termasuk gadis berpipi tirus, karena sebenarnya dia montok berisi. Tidak dalam artian gendut, lebih seperti daging kenyal berkumpul di paha dan lengannya, jadi dia tidak termasuk gadis bertubuh kurus kecil.
Dia mungkin memang tidak ditakdirkan jadi gadis innocent, karena bentuk bibirnya tebal mengundang.
Sedikit Candra salah fokus, melirik ke bawah di mana Yatha bersandar. Rashi secara sengaja membuka dua kancing seragamnya hingga dapat terlihat kulit putih mulus di dadanya. Ada kalung putih mewah berbentuk mahkota di sana.
Tampak cocok, bagi Candra yang memang rela jadi budak demi Rashi.
Dia memang ratu.
"Thanks, Cand." Rashi sempat-sempatnya tersenyum sampai Candra butuh kontrol ekstra agar tidak mengecup bibir itu. "Sori, ngerepotin lo."
"Aam." Candra terpaksa mundur menjauh padahal sudah betah melihat dia dari dekat, memegang tengkuknya yang indah. "Sori juga."
__ADS_1
"Hm?" Rashi malah menatapnya sayu. Makin mengacaukan perasaan Candra. "Kenapa? Lo kan enggak salah."
"Maksud gue, tadi, di kelas." Candra tahu ia salah dan berjanji tidak akan membuat Rashi menunggu lagi. "Sori, gue ketiduran."
Bukan cuma senyum, Rashi menyentuh pipinya. Selembut dan seringan dia menyentuh pipi Yatha untuk diusap. "Enggak pa-pa, Cand. Lo lebih tau lo harus apa."
Menyesal dan bersumpah atas nama Tuhan, Uma-Abah dan dirinya bahwa hal itu tidak akan pernah Candra biarkan terjadi.
Candra dibuat menggigil. Ragu namun tetap menyentuh tangan Rashi yang setia di pipinya.
Bodo, lah.
Suka kan memang ada untuk ditunjukkan. Sudah takdirnya dia disukai. Untuk apa disembunyikan?
Candra bukan tipe pemalu. Maka ketika belenggu lepas dari hatinya, ia mencondongkan tubuh, merealisasikan apa yang sudah ingin ia lakukan sejak melihat Rashi menangis di samping jenazah ayahnya.
Dan Candra bersumpah, tidak ada sesuatu yang lebih ia senangi melebihi Rashi membalas kecupannya.
...*...
Rashi membiarkan Candra yang menggendong Yatha sementara dirinya berusaha menutupi bagian mencetak dari luka di perutnya. Karena Yatha tidur di kamarnya sejak masih bayi, Candra ikut masuk ke kamar bernuansa ungu putih itu. Dia meletakkan Yatha di kasur yang berada di bagian tengah sisi kanan kamar. Hati-hati menyusun bantal di sisi anak itu agar tak jatuh seandainya bergerak dalam tidur.
Untuk sebentar, Rashi menghilang ke kamar mandi, buru-buru melepas pakaiannya untuk melihat bekas jahitan melintang di perut bawahnya. Ada sesuatu seperti nanah bercampur darah yang keluar, padahal sudah hampir dua bulan berlalu sejak hari itu. Seharusnya luka ini sudah kering dua minggu atau paling lambat sebulan, tapi seringkali Rashi memaksakan diri terutama jika Yatha sudah minta gendong.
Anak itu memang terbiasa manja sekalipun Rashi sedang masak. Ia tak suka memarahinya karena dia masih kecil. Wataknya manja. Lebih lagi dia tak terlalu suka bersama Rasya. Dia sukanya Ayah.
Dokter selalu menyuruhnya untuk tidak melakukan kegiatan yang menyebabkan kontraksi perut, dan setiap kali bertemu lagi, maka dokter perlu mengulang nasehat yang sama karena Rashi melanggar.
Jujur, kadang-kadang Rashi sengaja membiarkan itu.
Rasa sakit di perutnya yang luar biasa, baik di dalam atau di luar membuat perasaan buruk Rashi sedikit mati.
Hatinya berbisik, pantas mendapat hal ini karena membiarkan bayinya pergi. Otaknya masih suka memutar-mutar memori menyakitkan ketika dia direnggut.
Menghapus aliran air mata di wajahnya bersama guyuran shower, Rashi bergegas mengambil jubah mandi. Tak lupa ia membungkus kembali lukanya dengan perban—sengaja hanya lilitan tanpa obat—membuatnya cukup tebal sebelum keluar melihat Candra.
Dia masih di sana, duduk di kursi belajar Rashi, membuka-buka album foto yang memang cuma Rashi letakkan di rak dekat meja. Tidak banyak privasi di kamar Rashi, sebab ia punya Yatha. Jadi semua foto yang dirasa sangat rahasia, tidak akan pernah Rashi letakkan dalam album, apalagi yang bisa terlihat orang.
Cuma ada sedikit foto koleksi Rashi bersama orang-orang di sekitarnya. Ayah dan Ibu bukan tipe yang suka mengoleksi kenangan.
"Ini foto waktu Kak Alvin nikah, kan?" Rashi menyentuh punggungnya, menunjuk salah satu foto yang ada Candra di sana. Isinya konyol. Karena Candra terlihat sangat polos di sana, sementara Rashi ... entahlah, sebenarnya Rashi hampir tak kenal dia siapa saking bedanya. "Ya ampun, Bang Cand. Gue malu lo ngeliat itu terus."
Candra mendesah berat. "Gimana ceritanya lo yang di sini," dia memutar kepala, menatap Rashi lurus-lurus, "berubah jadi kayak gini."
"Kurang ajar." Rashi tertawa. Menyentil kening Candra yang langsung sok mengaduh. "Lo juga kali. Gimana bisa cowok cebol berubah jadi kayak gini?"
"Kalau persoalan cebol, itu karena dulu gue masih bocah. Yang penting sama-sama ganteng." Candra kembali melihat album itu, membuka-bukanya sampai pada foto terakhir. Bukan di halaman terakhir, sebab masih ada beberapa lembar tak terisi di sana. "Ini di mana?"
"Nikahan Mas Jenar. Itu gue masih SMP kelas tiga. Dan lo enggak dateng."
"Dateng enggak dateng, kawinannya Jenar jalan juga."
Dasar makhluk logis. "Tau enggak, gue pernah hampir dinikahin sama Mas Jenar?"
"YANG BENER?!"
Rashi sedikit banyak menduga reaksinya, maka dari itu sengaja berkata demikian. Jenar adalah sepupu mereka, anak dari saudara perempuan Ayah dan Abah, Tante Sasa. Wanita itu ngotot mau menjadikan Rashi menantunya sejak mereka bertemu lagi setelah kematian Ibu, dan kebetulan Jenar sedang dicarikan jodoh. Usia Jenar sudah cukup dewasa, sekitar dua puluh lima waktu itu. Tapi karena Tante Sasa sangat menyukai Rashi, dia masa bodo soal jarak umur mereka asal Rashi jadi menantunya—paling tidak, tunangan dulu, katanya.
Sayang, Rashi saat itu sedang sibuk mencintai Mahesa Mahardika.
"Lo enggak tau, yah? Wajar, sih. Cuek banget kan sama yang kayak begini."
__ADS_1
Ringisannya seolah bicara 'gue bakal kepo kalau tau lo secantik ini'. "Jenardi nolak?"
"Enggak. Mas Jenar mau—"
"Pedofil."
"Sembarangan." Rashi menepuk ringan lengan Candra, tapi membuatnya sok kesakitan lagi. "Coba gue udah SMA dulu, terima kayaknya. Mas Jenar kan baik banget. Duitnya banyak lagi."
"Budak korporat enggak ada yang duitnya banyak, Sayang."
Hening.
Rashi mengulurkan tangan menepuk puncak kepala Candra lembut karena dia diam. Tak mungkin dia atau Rashi lupa apa yang sempat dia—mereka lakukan di mobil tadi.
Jujur, Rashi tak menduganya.
Ia memang sudah melihat Candra bukan tipe peragu. Dia bukan tipe laki-laki yang akan berpikir 'aku menghargaimu jadi sebelum perasaanku terbalas, aku akan menahan diri', melainkan tipe 'karena gue sayang lo, gue mau ngapa-ngapain sama lo'.
Meski begitu, Candra sama sekali tidak ragu. Ibaratnya diberi kayu bakar, sudah cukup baginya menyalakan api besar.
"Lo enggak marah?" Candra diam-diam meraih pinggangnya, menarik Rashi lebih dekat untuk memeluk erat. Dia bertanya soal marah, tapi meletakkan kening di tulang rusuk bawah Rashi, alias dadanya.
"Soal?"
"Ngambil kesempatan." Candra memegang tangannya, mengusap-usap tulang menonjol di sendi jari tersebut. "Disuruh jadi supir lo malah ngelunjak mau yang lain."
Rashi tertawa geli. Kenapa Candra yang orang bicarakan selalu berbeda dari Candra yang ia kenal?
Kata Sara, abangnya dingin. Kata Uma, bocahnya tidak pedulian.
Lalu siapa sebenarnya pemuda manja ini?
"Enggak pa-pa, Bang Cand. Itu hak personal suka sama siapa."
"Jadi boleh?"
"Iyalah."
"Lo mau jadi pacar gue?"
Candra benar-benar to the point. Itu hal bagus seandainya Rashi tak sedang sakit jiwa. Kepalanya ingin pecah dibebani oleh rasa kehilangan Ayah, Mahesa dan bayinya.
Ruang untuk orang baru tidak ada dan ia merasa tak akan lagi ada.
"Jangan dulu, yah, Abang?" Rashi memeluk kepalanya. Mengecup rambut Candra agar dia tak merasa ditolak mentah-mentah. "Gue belum bisa sekarang."
Mungkin dia sadar memang masih sulit—mempertimbangkan dia tahu soal Ayah sekalipun tidak soal Mahesa ataupun bayi. "Okay." Candra mengecup lengannya. Balas memeluk Rashi cukup erat. "Just let me love you. Hm?"
Rashi menarik senyum lebar saat merunduk mengecup ujung hidung Candra. "Always allowed, Cand."
"Itu janji?"
"Kok tau?"
Dia menyeringai, berdiri untuk mencium bibirnya. "Yang polos sama bocah aja. Sama gue kayak gini."
Rashi cuma menggeleng. Mengelus telinganya sekilas sebelum menjauh. "Lo mau makan di sini atau mau pulang?"
"Tadinya mau pulang, sekarang enggak jadi."
"Yaudah, gue telfon Uma. Kalau mau mandi langsung aja ke bawah. Kamar mandinya Rasya ada sabun cowok."
__ADS_1
...*...