Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
2


__ADS_3

Tak sulit melakukan aborsi tanpa harus mengikuti serentetan prosedur selama nama Mahesa Mahardika terlibat.


Kurang dari satu jam—yang sepuluh menitnya adalah operasi—bayi yang belum bernapas bahkan dalam perut Rashi itu pun lenyap.


Dalam ruangan tempat ia dibiarkan beristirahat, Rashi berbaring dengan air mata tak berhenti bercucuran.


Sakit dadanya mengakui bahwa memang tak ada harapan untuk anak itu ada.


Rashi sudah tak peduli siapa Mahesa Mahardika itu. Pebisnis sukses yang diakui genius oleh dunia, terjun dalam dunia bisnis saat usianya masih sepuluh tahun.


Rashi tak peduli sejarah mencatat perusahaan pertama yang dibangun Mahesa saat berusia dua belas tahun kini telah beranak-pinak dan dia adalah pemuda super kaya dari keluarga yang juga super duper kaya.


Rashi secuilpun tak peduli, Mahesa punya bapak seorang mentri koordinat, pun tak peduli bapaknya itu punya tiga puluh perusahaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.


Yang Rashi mau cuma anaknya.


Sedikitpun ia tak minta pertanggung jawaban, terutama dari Mahesa yang sejak awal memang tak bisa melakukannya. Dia bergelut dalam dunia politik dan memiliki mimpi yang terlalu tinggi untuk diimbangi perempuan biasa—terlalu biasa jika dibandingkan dengan Mahesa—seperti Rashi.


Cuma satu.


Biarkan anak itu lahir dan seumur hidup tak akan pernah Rashi membiarkan dia tahu ayahnya adalah Mahesa, yang mungkin suatu saat akan berdiri menyaingi Bill Gates, atau siapa pun yang mau dia saingi.


Rashi muak dengan Mahesa dan dunianya. Dia dan mimpi-mimpinya yang tak akan pernah mau Rashi kejar.


Pintu ruangan VIP itu diketuk, namun tak sedikitpun mengambil perhatian Rashi yang melamun memandangi tembok putih. Semburan hawa dingin dari air conditioner tak mampu membekukan genangan air matanya.


Karena tak dihiraukan, pintu itu akhirnya terbuka sendiri.


Menampilkan sosok Lilan, pelaku yang bertanggung jawab mengurus prosedur aborsi Rashi kurang dari satu jam lalu. Bukan hanya pemuda Chinese manis berwajah dingin itu, dia ditemani oleh seorang gadis berambut panjang, berpakaian kasual kebesaran yang langsung menatap Rashi dengan ekspresi rumit.


“Hei.” Raina, nama gadis itu, duduk menarik kursi dan coba memegang tangan Rashi yang dingin. “Rashi. Gue tau lo sedih. Gue enggak tau harus ngomong apa but I'm so sorry about all that happened to you.”


Rashi menatap Lilan.


Kali ini bukan cuma matanya yang bergetar, namun juga bibirnya. Seraut wajah sedih yang dapat melukai siapa jika melihatnya, ditujukan baik-baik untuk orang itu.


Mendapati gadis itu menangis padanya, Lilan bingung harus bagaimana.


Satu sisi, dia mau berpaling tak peduli, tapi pada dasarnya dia manusia yang belum kehilangan hati nurani. Rashi mungkin tak melihat itu, tapi Raina tahu Lilan menyesali apa yang terjadi pada Rashi.


“Salah gue apa?” Rashi mengusap air matanya, menangis seperti anak kecil yang tak memiliki tempat untuk mengadu. Dokter berpesan untuk tidak stres dan coba mengontrol pikiran, yang Rashi bahkan tak bisa ingat bagaimana cara mengontrol diri akibat tumpukan kesedihan ini. “Lo dari dulu benci gue. Salah gue apa sama lo, Lilan?”


Padahal, Lilan tidak salah.


Dia juga terpaksa.


Itu perintah atasannya, yang meski dia benci Mahesa, tetap harus dia patuhi demi dirinya.


Tak semua orang bisa seperti Rainal, berani menerjang risiko membantah Mahesa secara langsung. Jika Lilan bisa memilih, dia bahkan tak ingin hidup di dunia Mahesa hidup.


Tapi Lilan hidup di sini, terjebak dalam belenggu Mahesa. Ia harus memilih dan prioritasnya bukanlah kehidupan Rashi yang hancur lebur.


“Itu elo yang salah.” Lilan memilih tidak menampakkan rasa kasihannya, sebab itu tidak berguna. “Kenapa lo mohon-mohon kalau lo tau Mahesa enggak mungkin terima?”


“Terus gue harus apa?”


“Lo bisa berenti sama Mahesa dari awal, Rashi.” Lilan melirik Raina. “Lo yang milih biarpun lo tau Mahesa bajingan. Sekarang lo nyalahin gue yang jalanin hidup gue kayak biasanya? Omong kosong.”


“Junior.” Raina menggeleng, isyarat agar Lilan berhenti.


Tapi, Lilan tak mau mematuhinya.


“Mau lo lari dan diem-diem besarin anak lo pun Mahesa bakal tetep ngejar lo buat bunuh anaknya. Lo harusnya terima itu.”


“Lilan Nahra, shut your fucking mouth.”


“Kenapa? Dia nyalahin gue. Salah gue bela diri?”


Raina beranjak, gerah mendengar pernyataan Lilan yang tak kenal sikon. Buru-buru ditarik tangan pemuda itu menepi, berbisik kesal di depan wajahnya. "Lo enggak perlu sampe segitunya sama Rashi. Bukan waktunya bahas ini itu salah, Nahra. So please stop talking about that, can't you?"


"Gue enggak salah."


"Lilan—"


"Gue enggak salah, Senior. Ini perintah Mahesa. Gue bisa apa? Lo pikir gue mau jadi orang yang bawa dia ke rumah sakit buat gugurin bayinya? Dia harus tau bukan gue yang salah. Bukan gue."


Saat itu justru Raina sadar, bahwa Lilan merasa sangat bersalah. Dia ingin Rashi mengatakan dia tak bersalah agar penyesalannya sedikit berkurang—walau hanya sedikit.


Ini memang bukan salahnya.


Lilan hanya patuh menuruti perintah, sebab ada hal yang harus dia jaga dan Rashi bukan siapa-siapa baginya.


Jika Lilan bersalah, maka Raina penyebab dia salah. Karena Raina yang jadi alasan Lilan mengibaskan ekor untuk Mahesa Mahardika.


Gadis itu meninggalkan Lilan di dekat sofa merah bata, tengah tertunduk memandang kesal pada vas bunga besar yang diisi tanaman aglonema raksasa. Raina kembali duduk di samping ranjang Rashi, membasahi bibirnya penuh keragu-raguan.


Rashi tahu, Raina coba untuk simpati.


Sebagai sesama gadisnya Mahesa—walau terdapat cukup banyak perbedaan di antara mereka, yang salah satunya adalah Raina bekerja untuk kepentingan rencana Mahesa, sementara Rashi cuma berstatus sebagai kekasih tersayang—sedikit banyak dia mengerti bagaimana rasanya batin mereka berperang melawan keputusan Mahesa. Raina juga punya luka. Dia menyukai Mahesa seperti seorang maniak yang kecanduan. Rasa sukanya membuat Raina merasa tak bisa hidup jika bukan di lingkungan Mahesa. Merasa tidak berguna dan lebih baik mati jika Mahesa tak ada. Sekalipun ada Lilan yang sudah seperti adik protektif di hidupnya, rela menjadi anjing peliharaan Mahesa demi menemani Raina terkurung dalam sangkar, Raina terus saja berlari mengejar bayangan Mahesa.


Tapi, dia tak pernah menjangkaunya.


Mahesa tak pernah memberi kesempatan Raina berhasil menjangkaunya.


Sebab menurut Mahesa, posisi terbaik untuk Raina adalah ini; berada di antara ketidakpastian, sebatas belenggu agar Lilan yang menggonggong tidak bisa melarikan diri.


Semua gadis Mahesa mungkin mengalami hal sama. Bentrok terhadap mimpi dan sudut pandang Mahesa yang terlalu beda dari mereka.


Meski begitu, apa dia bisa mengerti, rasa sakit tak terlukis yang membuat Rashi tak lagi ingin bangkit? Baru seminggu Ayah pergi. Rashi bahkan baru bisa bernapas lebih lega menggunakan hidungnya yang tersumbat berhari-hari. Lalu mendadak ia menemukan dirinya hamil, diberitahu oleh dokter hampir memasuki usia dua bulan.


Awalnya Rashi tersekat, tak dapat menemukan apa pun selain rasa khawatir dan takut di hatinya.


Kelas dua SMA, tanpa pacar sama sekali—sebab jelas hubungannya dengan Mahesa Mahardika harus menjadi rahasia—satu minggu setelah kematian ayahnya.


Rashi sempat jatuh lemas. Tapi dengan sekuat tenaga memaksakan diri bangkit untuk menghadapi masalah sebenar.


Masalah yang ia pikir bisa selesai jika memohon seperti biasa pada Mahesa.


"Lo tau," Raina menyentuh tangannya lagi, "gue enggak tau lo mau denger ini sekarang atau enggak tapi ... Rashi, gimana yah ... tenangin diri lo. Lo enggak bisa punya anak sekarang, apalagi anaknya Mahesa. Jadi, tolong, tenangin diri lo."

__ADS_1


Rashi tahu.


Lalu, salahkan dirinya jika menangis untuk bayi itu? Salah dirinya merasa terluka anaknya direnggut?


Pada akhirnya, Raina memang tak mengerti.


Atas usaha Raina menghiburnya itu, Rashi cuma diam, sesekali mengangguk.


"Gue tunggu lo di luar, kalau lo mau pulang," ucapnya kemudian, menyampaikan alasan sebenar mengapa dia datang ke sini. Mahesa mungkin menyuruhnya mengantar Rashi pulang sebab ia tak akan mau bersama Lilan, setidaknya sekarang. "Ah, sama, gue enggak tau harus banget sekarang ngasih tau lo atau enggak. Tapi Elmira minta kontak lo. Ada yang mau dia omongin. Kalau bisa hubungin dia sebelum hari Minggu."


Rashi masih butuh waktu untuk memikirkan hal lain apa pun itu. Ia diam saja membiarkan Raina keluar dari ruang rawat, meninggalkannya menangis sendirian lagi.


Malam mungkin sudah menjelang, Rashi tak bisa mengetahuinya sebab jendela ditutup rapat oleh tirai yang tebal. Entah berapa lama ia sendirian, pintu lagi-lagi diketuk.


Mungkin Raina lagi, pikir Rashi, karena ia sadar sudah membuatnya menunggu sangat lama.


Tapi ternyata, itu bukan Raina, melainkan Rainal.


Hidung Rashi masih merah saat mendongak, menemukan wajah pemuda itu diwarnai lebam bekas pukulan. Seketika Rashi sadar ia penyebab Rainal mendapat hukuman. Pun Rashi ingat, dia satu-satunya yang memberi Rashi belas kasihan ketika semua orang seolah tak peduli perasaannya terhadap anak itu.


Sebelum Rainal duduk, Rashi lebih dulu menarik dan memeluknya. Kembali menangis terisak-isak sekalipun itu membuat jahitan di perutnya terasa sakit.


"Maaf." Rainal bergumam di puncak kepalanya. Mendekap lembut tubuh rapuh Rashi. "Ini salah gue. Maaf."


Mengapa itu jadi salahnya ketika dia bahkan berusaha, meski tahu tidak berguna? Rashi menggeleng, menolak permintaan maaf Rainal.


Mereka orang asing.


Bahkan sebenarnya, Rainal tak perlu susah menolak perintah Mahesa hanya karena kasihan Rashi menangis.


Dia tak perlu merasa bersalah, merasa berbuat sebuah dosa besar karena pada akhirnya, mereka berada di posisi tak mampu menentang perintah Mahesa Mahardika.


Cukup lama Rashi menangis, sampai ponsel yang tergeletak di atas meja berbunyi. Rainal mengambilnya untuk Rashi, menemukan itu panggilan dari Rasya.


Rashi ingat, ia cuma izin keluar sebentar jalan-jalan.


Ini baru seminggu sejak kematian Ayah. Tidak terlalu aneh jika Rashi mengeluarkan suara sumbang sehabis menangis meski ia tak mau Rasya khawatir.


"Halo?"


Ada hening sebentar Rasya mendengarnya. "Kamu di mana?" tanya dia kemudian, dengan nada yang halus tanpa keinginan mengintimidasi.


"A-aku ...." Rashi tersekat oleh tangisannya lagi. Kesedihan soal Ayah bahkan belum hilang dan sekarang ia harus hidup dalam kenyataan bayinya pergi.


Memang munafik ketika Rashi sebenarnya juga takut memikirkan kesedihan Rasya jika sampai bayi itu ada. Tapi terlepas dari apa pun, Rashi merasa berkali-kali lipat hancur bayinya pergi sebelum bahagia.


Ditenangkan oleh pelukan hangat Rainal, Rashi coba menemukan suaranya untuk bicara. "Maaf. Aku bentar lagi pulang, kok."


"Kamu di mana?" Suara Rasya sarat akan kekhawatiran mendengar ia bersuara parau. "Aku jemput aja. Kamu di mana?"


"Enggak usah, Sya. Aku bisa pulang sendiri. Aku sama temen di sini." Sebelum dia bicara, Rashi lebih dulu mengakhirinya. "Udah, yah. Dah."


Nanti ia akan minta maaf.


Tapi untuk sekarang, Rashi tak punya kekuatan untuk pura-pura.


Ia selalu merasa kuat setelah mendengar nasehat atau saran dari Mahesa. Lalu sekarang, bagaimana jika Mahesa yang justru membuatnya jatuh ke lubang keterpurukan?


Ketika Ibu pergi, dia yang menghibur Rashi, namun kemudian membawanya pada kebohongan tak berujung pada Ayah. Ketika Ayah pergi, Rashi masih saja bergantung dan meminta kehadiran Mahesa untuk menguatkannya, bahkan sebelum ia mencari Rasya untuk memberitahukan kepergian Ayah.


Padahal karena Mahesa, Rashi Anuja hanya terus berpura-pura jadi putri manis baik hati yang di belakang melecehkan kepercayaan Ayah padanya.


Lalu sekarang bayinya.


Kenapa dari dulu sampai sekarang, ia selalu membodohi diri sendiri?


Rashi belum pernah membenci apa pun melebihi ia benci dirinya sendiri.


"Boleh gue jujur?" Rainal tiba-tiba meletakkan tangan di punggung tangannya. "Gue juga pernah punya anak."


Rashi menoleh, terkejut meskipun ia masih sibuk menangis.


"Mantan cewek gue di Bandung, dulu, awal semester gue kuliah; dia hamil. Dan dia enggak tau apa-apa sampe dia sadar hampir dua bulan dia belum haid sama sekali. Begitu dia cek, ternyata positif."


Kasusnya sama seperti Rashi.


"Gue juga sama kayak lo. Bingung, stres, sedih, enggak tau harus gimana. Satu sisi, gue terlalu ancur buat punya sesuatu yang kayak gitu di hidup gue, tapi sisi lain, gue ... enggak mau ngapa-ngapain dia." Rainal mengerutkan kening. Tampak rumit bercerita. "Cuma cewek gue takut. Gue juga enggak bisa ngasih kejelasan, lo mungkin tau hidup gue gimana. Jadi dia gugurin anak itu di bulan ketiga, enggak bilang apa-apa sama gue."


Tidak akan pernah ada yang beres dari hidup eksekutif organisasi Mahesa yang satu itu. Rainal yang terlihat seperti pemuda baik-baik berwajah tampan dengan senyum manis hangatnya pun tidak. Meskipun Rashi tidak tahu banyak soal dia, setidaknya ia mengerti bahwa Rainal terlalu sibuk bergelung di kegelapan untuk berharap masa depan cerah.


"Gue mau bilang kalau," Rainal melipat bibir, ragu untuk sesaat, "jangan nyerah. Maksud gue, lo harus bisa ngelanjutin hidup lo sekalipun lo sedih sekarang. Sori, kalau omongan gue malah nyebelin."


Itu akan, jika dia tak mengucapkannya dengan penuh ketulusan dan kepedulian.


Rashi menarik wajah Rainal ke hadapannya, meninggalkan satu usapan di pipi sebelum tanpa izin mencium bibirnya. Pemuda itu diam, terkejut sampai tidak bereaksi. Tapi karena Rashi tetap menciumnya, beberapa saat kemudian Rainal memejam, membalas kecupan Rashi.


"Maaf." Rainal berbisik saat selesai mencium bibir Rashi. "Maaf."


"Lo enggak salah." Rashi menggeleng.


"Bukan itu."


"Tetep aja. Apa pun itu, lo enggak salah. Mahesa yang salah."


Rainal tersenyum di depan matanya. "Buat satu ini aja, gue yang salah." Ibu jarinya mengusap pelipis Rashi, menunduk mengecup keningnya. "Maaf, udah kurang ajar .... jatuh cinta sama lo."


Mau tak mau tawa Rashi mengalun. Hanya tawa kecil yang spontan dan masih terdengar menyedihkan, serak dan pilu. Sedikit ia merasa sakit di perutnya lagi, hingga Rashi mengganti tawa dengan senyum tipis saja. "Itu hak lo suka siapa. Termasuk gue."


Namun Rainal menggeleng. Sepasang mata cokelat pekatnya tertuju lurus pada hazel cerah milik Rashi. "You deserve better, Rashi. You're kind, pretty, too good to be true, you're a sweetheart. Terlalu luar biasa buat orang kayak gue. Itu kurang ajar suka sama lo, buat gue."


Ucapannya malah membuat Rashi merasa, Rainal seribu kali lebih baik dari Mahesa Mahardika.


Siapa yang butuh raja dunia ketika orang itu cuma memperlakukan kalian sebagai boneka tak bernyawa?


"Then love me." Rashi meletakkan tangan Rainal di pipinya. "Please, jadi kurang ajar kalau itu bikin lo sayang sama gue."


"Does it make you feel better, Princess?"


"It does."

__ADS_1


"Then I'll always love you."


Itu sungguhan, sebab perasaan Rashi menjadi lebih baik ketika Rainal memeluknya lagi. Lima menit yang lama mungkin berlalu sampai pelukan itu terlepas, dan Rashi berencana untuk pulang sekarang.


"Gue anterin lo pulang. Bahaya nyetir sendirian."


"Okay." Rashi mengangguk setuju daripada ia harus pulang dengan Raina dan Lilan. "Tapi tinggalin gue dulu." Lalu Rashi menyerahkan kunci mobilnya. "Tunggu gue di mobil."


Mungkin dia tahu untuk apa, atau mungkin dia cuma mau membuat Rashi merasa lebih baik. Rainal mengecup keningnya sekali lagi sebelum dia keluar, meninggalkan Rashi dalam keheningan tanpa tangis.


Air matanya sudah tidak mau keluar sekalipun kesedihan belum berkurang di hati Rashi.


Setelah yakin benar-benar cuma dirinya di ruangan itu, Rashi menoleh ke sekitar untuk menemukan di mana CCTV terpasang. "Gue tau lo di sana. Gue mau ngomong."


Hening beberapa detik, sampai tiba-tiba suara dari interkom terdengar. "Lo yakin mau ketemu gue sekarang, Rashi?"


Tidak. "Sini, Sa. Lo bukan penakut, kan?"


Tentu saja.


Hanya butuh sekali kedipan mata, Mahesa tanpa tahu malu atau rasa bersalah muncul.


Dia tak menyinggung Rashi dan Rainal berciuman. Lagipula bukan haknya juga, ketika dia punya seribu gadis selain Rashi untuk dicium, bahkan lebih. Mahesa menarik tempat duduk, menatap Rashi untuk menunggu apa yang mau ia sampaikan.


Ketika Rashi diam, Mahesa pun bicara. "Baby, I know it hurts you so much. But it's the best for you. Gue janji bakal ngasih lo apa pun, apa pun. So let it go."


Rashi menganggukkan kepala. "Gue tau. Gue bukan orang tolol. Tadi gue kebawa perasaan."


"That's my baby. Now tell me what do you want from me. I'll give you everything, no matter what. Just tell me."


"You promise?"


Mahesa malah tertawa. Menarik kursinya lebih dekat, meraih telapak tangan Rashi—bukan punggung tangan yang disentuh oleh Rainal—dikecup dengan mata penuh keyakinan saat melirik ke atas. "I've told you, what my baby wants, always, my baby gets."


".... Ayo putus."


Memang tidak pernah secuil dalam hati Rashi mengharapkan seorang Mahesa Mahardika akan terkejut, apalagi bereaksi keras pada permintaan super mini itu.


Ia cukup tahu, itu bahkan sudah luar biasa ketika Mahesa mengangkat sedikit alisnya.


Dia beranjak. Menyelipkan tangan di pinggang Rashi, menunduk mencari matanya meski tak sampai cukup dekat. Mahesa tidak akan menciumnya sebelum Rashi pergi mandi dan membersihkan seluruh sisa ciuman Rainal. "Baby, are you mad at me?"


"Why should I?" Rashi ingin menangis, tapi ia bisa menahannya dengan tidak menatap mata Mahesa. "Lo Mahesa Mahardika. Lo punya mimpi yang jauh, terlalu jauh buat orang kayak gue bisa ngerti. Lo Mahesa Mahardika, yang semua orang puja-puji seakan lo Tuhan, nabi, atau apa pun itu. Lo emang enggak," lo emang enggak peduli sama gue, lo emang enggak ada urusan sama perasaan gue, lo emang enggak mau tau soal mimpi gue, adalah apa yang mau Rashi katakan, meski ia memangkas semua itu jadi satu, "lo enggak boleh punya anak sekarang."


Dari matanya, Mahesa tahu Rashi menyembunyikan kemarahan itu.


Dia tersenyum, justru berkata, "It is. Habis ini gue janji bakal ngatur jadwal operasi. Gue harus vasektomi biar yang kayak gini enggak keulang lagi. Gue juga yang ceroboh enggak mau pake ****** sama lo. I promise you. It won't happen again."


Rashi mencengkram tangan Mahesa yang menggenggamnya lembut. "Ayo putus."


"...."


"Ayo putus, Sa."


Mahesa menjauh. Menarik tangannya dari pinggang Rashi, kembali duduk layaknya seorang raja di atas tahta mendengar pintaan hambanya. "Alright. You'll get what you want."


"...."


"But promise me one thing." Mahesa memicing dengan senyum yang selalu dia pasang saat merasa tengah menguasai seluruh medan peperangan. "Tetep jadi Rashi Anuja. Bokap lo, atau bayi itu, jangan sampe bikin lo jadi orang lemah yang ngancurin dirinya sendiri."


Tidak perlu melakukan apa-apa selain mengangguk.


Memang itu rencananya.


Justru karena itu, Rashi akan mencoba lepas dari belenggu Mahesa.


Sekalipun ia merasa itu tidak akan berhasil.


"Ah, satu lagi Rashi." Ketika Rashi sudah berjalan pergi meninggalkannya, Mahesa mendadak bicara. "Soal Rainal, dia dipukul bukan karena lo, tapi karena dia nentang perintah. Jangan ngerasa bersalah."


Rashi menoleh. "Lo enggak marah gue sama Rainal?"


"Kenapa harus? Dia udah suka sama lo dari awal gue kenalin lo ke mereka." Mahesa santai menjelaskan. "Lo tau di antara eksekutif yang lain, dia yang paling normal. Itu real cinta buat lo. Seneng-seneng sama dia, kalau lo mau."


Kenapa ketika dia habis berbuat kesalahan besar pun, Mahesa masih tahu bersikap terhormat? Dan kenapa meskipun dia merenggut segalanya, membuat Rashi hancur, masih saja sulit untuk Rashi benci pada orang ini?


Alih-alih, Rashi lebih menbenci dirinya sendiri.


"Mahesa."


"Tell me, Princess."


"Gue mau keluar dari sekolah lo."


Sekarang ini, Rashi bersekolah di sebuah SMA swasta ternama yang dikelola oleh keluarga sahabat baik Mahesa, Narendra. Itu normalnya sekolah yang terlalu mahal untuk Rashi sekalipun ia bukan dari kalangan menengah bawah. Tapi Mahesa mengakalinya, membuat seolah-olah Rashi dapat beasiswa agar Ayah percaya, dan di belakang dialah yang membiayai sekolah Rashi.


Itu bukan sesuatu seperti menjadi beban. Mahesa memang sengaja melakukannya agar Rashi bisa ditempatkan di lingkungan yang dia mau. "Gue mau pindah ke sekolah Candra sama Sara."


"Maespati?" Mahesa mengerutkan kening. "Gue punya saham di sana."


"Jangan ganggu gue lagi."


"...."


"Kita udah putus. Enggak pantes gue sekolah dibayarin lo."


"Fine." Mahesa tersenyum kecil. "Gue yakin Rashi gue enggak bakal pernah ngercewain gue."


Rashi berbalik meninggalkannya tanpa balasan.


Diam-diam tahu ucapan Mahesa itu menandakan kepemilikan.


Mereka putus bukan berarti Rashi berhenti jadi milik Mahesa.


Status tidaklah penting.


Karena selama Rashi menjadi Rashi Anuja, itu akan selalu jadi milik Mahesa Mahardika.


Mau sejauh apa pun ia berlari.

__ADS_1


...*...


__ADS_2